Syubhat Akhir Zaman: Suara Keras di Bulan Ramadhan

KIBLAT.NET – Kajian dengan tema-tema akhir zaman selalu seru, fakta-fakta yang dihadirkan selalu membelalakkan mata. Salah satu penyampaian kajian akhir zaman yang membuat kaget adalah jika ada dentuman keras di bulan Ramadhan, maka itu adalah awal dari munculnya huru hara. Kemudian hadits itu dikaitkan dengan asteroid yang mendekat ke bumi.

Sebelum mengkaji hadits di atas, kita harus punya kerangka berpikir yang jelas dalam memahami hadits-hadits akhir zaman. Pertama, perkara-perkara hari kiamat adalah bagian iman kepada hal ghaib. Untuk berbicara hal yang ghaib kita harus melandaskannya kepada dalil baik Al-Quran ataupun hadits yang akurat. Maka jika landasannya hadits, seharusnya porsi kajian keshohihan hadits yang berbicara akhir zaman harus mendapat porsi yang besar, karena akan digunakan sebagai landasan utama.

Jika sudah dikaji bahwa haditsnya shohih, maka kerangka berikutnya adalah mengembalikan pemahaman hadits tersebut kepada para ulama, baik dari kalangan sahabat, tabi’in dan tabiut tabiin. hal ini akan lebih selamat dari sisi pemahaman, karena berbicara terhadap hal yang ghaib tanpa dasar ilmu adalah sebuah dosa besar. Karena dikhawatirkan terjatuh kepada mengada-ada atas nama Allah dan rasul-Nya.

Lantas, bagaimana tentang hadits dentuman keras di bulan Ramadhan?

Haditsnya berbuyi :

 عن أبي هريرة قال : قال رسول الله –صلى الله عليه وسلم  يكون في رمضان هدة توقظ النائم ، وتقعد القائم ، وتخرج العواتق من خدورها ، وفي شوال مهمهة ، وفي ذي القعدة تميز القبائل بعضها من بعض ، وفي ذي الحجة تراق الدماء

Artinya, “Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda akan terjadi di bulan Ramadhan ledakan besar yang membangunkan orang tidur, membuat orang yang berdiri terduduk, keluarnya para gadis dari pingitan dan di bulan Syawal akan terjadi huru-hara, di Dzulqo’dah antara kabilah satu sama lain saling berselisih dan di Dzulhijjah akan terjadi pertumpahan darah.”

Al-Uqaili di dalam Adh-Dhuafa’ Al-Kabir berkata, “Hadits ini tidak memiliki sumber dari perawi yang tsiqoh dan tidak ada juga periwayatan dari sumber yang shahih.” (Adh-dhuafa’ Al-Kabir 3/53)

BACA JUGA  Harun Yahya Divonis Penjara 1.075 Tahun

Sedangkan Ibnul Qayim di dalam Al-manarul Munif berkata, “Terdapat  hadits-hadits yang tidak shohih tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa mendatang..” Kemudian Ibnul Qayyim menyebutkan hadits di atas dan hadits yang serupa yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud. (Al-Manarul Munif, Halaman 98)

Sedangkan Ibnul Jauzi di dalam Al-Maudhu’at berkata, “Hadits ini adalah kepalsuan atas nama Rasulullah SAW.” (Al-Maudhu’at 3/191)

Sedangkan hadits lain yang semakna dengan hadits di atas, dinisbatkan periwayatannya kepada sahabat Ibnu Mas’ud.

يَكُونُ فِي رَمَضَانَ صَوْتٌ , قَالُوا: فِي أَوَّلِهِ أَو فِي وَسَطِهِ أَو فِي آخِرِهِ؟ قَالَ : لا ؛ بَلْ فِي النِّصْفِ مِنْ رَمَضَانَ ، إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ؛ يَكُونُ صَوْتٌ مِنَ السَّمَاءِ يُصْعَقُ لَهُ سَبْعُونَ أَلْفاً ، وَيُخْرَسُ سَبْعُونَ أَلْفاً ، وَيُعْمَى سَبْعُونَ أَلْفاً ، وَيُصِمُّ سَبْعُونَ أَلْفاً . قَالُوا: فَمَنِ السَّالِمُ مِنْ أُمَّتِكَ؟ قَالَ : مَنْ لَزِمَ بَيْتَهُ ، وَتَعَوَّذَ بِالسُّجُودِ ، وَجَهَرَ بِالتَّكْبِيرِ لِلَّهِ . ثُمَّ يَتْبَعُهُ صَوْتٌ آخَرُ . وَالصَّوْتُ الأَوَّلُ صَوْتُ جِبْرِيلَ ، وَالثَّانِي صَوْتُ الشَّيْطَانِ. فَالصَّوْتُ فِي رَمَضَانَ ، وَالمَعْمَعَةُ فِي شَوَّالٍ ، وَتُمَيَّزُ الْقَبَائِلُ فِي ذِي الْقَعْدَةِ ، وَيُغَارُ عَلَى الْحُجَّاجِ فِي ذِي الْحِجَّةِ ، وَفِي الْمُحْرِمِ ، وَمَا الْمُحْرَّمُ؟ أَوَّلُهُ بَلاءٌ عَلَى أُمَّتِي ، وَآخِرُهُ فَرَحٌ لأُمَّتِي

Artinya, Dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda “Akan terjadi suara (keras) di ramadhan. mereka berkata, “Di awal di tengah atau di akhirnya? Beliau menjawab, “Tidak, akan tetapi di pertengahan bulan Ramadhan, yaitu apabila pertengahan bulan Ramadhan terjadi pada hari Jumat, maka akan ada suara dari langit, karena suara itu akan tersungkur 70.000 orang, menjadi bisu 70.000 orang, menjadi buta 70.000 orang, menjadi tuli 70.000 orang, mereka bertanya, “Siapa yang selamat dari umatmu? Beliau menjawab, ‘Siapa yang tetap di dalam rumahnya, meminta perlindungan dengan sujud dan mengeraskan ucapan takbir kepada Allah. Kemudian disusul suara lainnya. Suara pertama adalah suara Jibril sedangkan suara kedua adalah suara setan. Dan suara ini terjadi di Ramadhan, di Syawal akan terjadi huru-hara, Dzulqo’dah akan terjadi perselisihan antar kabilah, di Dzulhijjah para Jemaah haji akan diserang, sedangkan di bulan Muharram, tahukah kalian bulan Muharram? Awalnya adalah ujian bagi umatku, akhirnya adalah kebahagiaan bagi umatku…”

BACA JUGA  Komnas HAM: Penembakan Laskar Bukan Pelanggaran HAM Berat

Ibnul Jauzi meriwayatkan hadits ini di dalam Al-Maudhuat (kompilasi hadits palsu) dari jalur periwayatan Abdul Wahhab bin Dohhak, meriwayatkan kepada kami Ismail bin Ayyash dari Auza’I dari Abdah bin Abi Lubabah dari Fairuz Ad-Dailami secara marfu’ (menyambung kepada Rasulullah). Kemudian Ibnul Jauzi berkata, “Hadits ini tidak shahih” (Al-Maudhuat 3/191)

Sedangkan Abdul Wahhab bin Dhohhak (salah satu perawi hadits di atas) bukanlah orang yang dianggap periwayatannya menurut Al-Uqaili. Sedngkan Ibnu Hibban mengatakan bahwa Abdul wahhab mencuri hadits dan tidak boleh berhujjah dengan riwayatnya.

(lihat Silsilah Ahadits Adh-Dhoifah Syaikh Albani nomor 6178 dan 6179)

Syaikh Abdul Azis bin Baz ketika ditanyakan hadits ini kepada beliau, beliau berkata:

فهذا الحديث لا أساس له من الصحة ، بل هو باطل وكذب ، وقد مر على المسلمين أعوام كثيرة صادفت فيها ليلة الجمعة ليلة النصف من رمضان فلم تقع فيها بحمد الله ما ذكره هذا الكذب من الصيحة وغيرها مما ذكر ، وبذلك يعلم كل من يطلع على هذه الكلمة أنه لا يجوز ترويج هذا الحديث الباطل ، بل يجب تمزيق ذلك وإتلافه والتنبيه على بطلانه

Artinya, “Hadits ini (dentuman keras di pertengahan bulan Ramadhan) tidak punya sumber yang shahih bahkan hadits yang batil dan dusta. Kaum muslimin telah melewati bertahun-tahun di mana malam jumat bertepatan dengan pertengahan Ramadhan dan Alhamdulillah tidak terjadi suara keras atau yang lainnya sebagaimana yang disebutkan oleh kedustaan ini. Oleh karena itu siapa saja yang menemukan hadits ini maka tidak boleh dia menyebarkannya hadits yang batil ini, bahkan harus disobek, dihancurkan dan dijelaskan kebatilannya.” (Majmu’ Fatawa Bin Baz 26/341)

Berdasarkan pemaparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa hadits tentang dentuman keras yang terjadi di bulan Ramadhan tidak bisa dijadikan pegangan. Wallahu a’lamu bissowab.

Sumber: Islamqa

Penulis: Miftahul Ihsan

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat