Perintah Dakwah Pertama Kepada Rasulullah

KIBLAT.NET – Sebelum kita membahas detail langkah awal dakwah Rasul, kita ulas sedikit berkenaan dengan beberapa hikmah turunnya wahyu kepada Nabi. Prof DR Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam Sirah Nabawiyah-nya menyebutkan hikmah yang mendalam dan hadirnya sosok penting dalam kehidupan Nabi.

Turunnya wahyu adalah sesuatu yang berat bagi Rasulullah sebagaimana yang dijelaskan dalam nash-nash yang ada. Padahal beliau adalah manusia yang paling berani dan memiliki hati yang paling kuat, sebagaimana yang kita ketahui dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi selama 23 tahun usia dakwahnya. Hal itu karena ini bukan interaksi antara manusia dengan manusia, melainkan antara pembesar malaikat yang membawa firman Allah dengan manusia pilihan Allah yang akan menerimanya, kemudian disampaikan pada seluruh manusia.

Menerima wahyu adalah sebuah situasi luar biasa dan tanggung jawab besar yang tidak bisa ditanggung kecuali oleh orang yang dipilih oleh Allah untuk mengemban dan menyampaikannya.

Juga kehadiran Khadijah sebagai pendamping beliau memiliki peranan yang besar. Sikap Khadijah mencerminkan kekuatan hatinya. Dia tidak mengeluh mendengarkan berita dari suaminya tercinta, justru menerimanya dengan tenang dan sabar.

Ummul Mukminin Khadijah segera memenuhi seruan iman nuraninya dan mengetahui sunnatullah pada hamba-Nya. Ia yakin bahwa suaminya memiliki sifat bawaan yang sempurna, akhlak terpuji yang luar biasa, adab yang tinggi  dan diridai, perilaku yang mulia dan karakter kemanusiaan yang menjamin baginya keunggulan serta mewujudkan untuknya kemenangan dan kesuksesan.

Dari sifatnya inilah, Khadijah yakin bahwa suaminya tidak akan pernah terjatuh dalam kehinaan. Belum pernah terjadi -berdasarkan sunnatullah- di dunia bahwa Allah menghiasi salah seorang hamba-Nya dengan fitrah yang mulia, kemudian Dia campakkan hamba-Nya itu dalam kehinaan.

Khadijah memainkan peran penting dalam kehidupan Nabi, ia memiliki kedudukan terhormat di tengah kaummnya di samping kemampuannya yang luar biasa dalam masalah kejiwaan yang berlandaskan kepada akhlak yang tinggi , seperti penyayang, lembut, bijaksana, kuat, dan berbagai akhlak mulia lainnya. Ini adalah sebuah karunia besar, Allah menyatukan Rasulullah dengan istri yang ideal ini.

Khadijah adalah seorang panutan terbaik dan teladan yang mulia bagi istri-istri para dai. Seorang dai tidak seperti orang-orang biasa yang jauh dari beban dakwah. Kewajiban ini menuntut waktu yang panjang, pengorbanan harta yang ia usahakan, waktu bersama keluarga dan dunia yang banyak didambakan manusia. Maka, dai membutuhkan istri yang memahami apa yang dilakukan suami dan beban yang ditanggungnya, kesulitan yang dia rasakan, sehingga istri mendukungnya dan memudahkan urusannya ; bukan menjadi batu sandungan dan kerikil yang melukai langkah perjuangan.

Perintah Melaksanakan Dakwah kepada Allah dan Materi Dakwah

Nabi mendapat berbagai macam perintah dalam firman Allah:

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ,قُمْ فَأَنْذِرْ,وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ,وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ,وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ,وَلا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ,وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ

“Hai orang yang berselimut, bangunlah lalu berilah peringatan, dan agungkanlah Rabbmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah perbuatan dosa, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak, dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah.” (Al-Muddatstsir: 1-7).

BACA JUGA  Dewan Dakwah Beri Penghargaan Pilot SJI82 Sebagai Pilot Teladan

Ayat yang turun secara beruntun ini memberi isyarat kepada Nabi bahwa masa tidur dan ketenangan telah berlalu. Sejak saat itu di hadapannya terdapat tugas berat yang menuntut untuk selalu terjaga dan siaga serta untuk memberi peringatan. Beliau diperintahkan agar bertahan menanggung beban wahyu, karena wahyu itu adalah sumber risalah yang diembannya dan sumber pertolongan dalam dakwah.

Pada hakikatnya ini mempunyai tujuan yang jauh, berpengaruh kuat, dan nyata, yang dapat dirinci sebagai berikut:

  1. Tujuan sebagai pemberi peringatan, agar siapapun yang menyalahi keridaan Allah di dunia ini diberi peringatan tentang akibatnya yang pedih di kemudian hari, dan pasti akan mendatangkan kegelisahan dan ketakutan di dalam hati.
  2. Tujuan mengagungkan Rabb, agar siapapun yang menyombongkan diri di dunia tidak dibiarkan begitu saja melainkan kekuatannya akan dipunahkan dan keadaannya dibalik total, sehingga tidak ada kebesaran yang menyisa di dunia selain kebesaran Allah.
  3. Tujuan membersihkan pakaian dan meninggalkan perbuatan dosa, agar kebersihan lahir dan batin benar-benar tercapai, begitu pula dalam membersihkan jiwa dari segala noda dan kotoran bisa mencapai titik kesempurnaan, agar jiwa manusia berada di bawah lindungan rahmat Allah, penjagaan, pemeliharaan, hidayah dan cahaya-Nya, sehingga dia menjadi sosok paling ideal di tengah masyarakat manusia. mengundang pesona semua hati dan decak kekaguman.
  4. Tujuan larangan mengharap yang lebih banyak dari apa yang diberikan agar seseorang tidak menganggap perbuatan dan usahanya sesuatu yang besar lagi hebat, agar dia senantiasa berbuat dan berbuat lebih banyak berusaha dan berkorban, lalu melupakannya. Bahkan dengan perasaannya di hadapan Allah, dia tidak merasa telah berbuat dan berkorban.
  5. Dalam ayat yang terakhir terdapat isyarat tentang gangguan. Siksaan, ejekan dan olok-olok yang bakal dilancarkan orang-orang yang menentang, dan bahkan mereka akan berusaha membunuh beliau dan membunuh para sahabat serta menekan setiap orang yang beriman di sekitarnya. Allah memerintahkan agar Nabi bersabar dalam menghadapi semua itu, dengan modal kekuatan dan ketabahan hati, bukan dengan tujuan untuk kepentingan pribadi, tapi karena keridaan Allah semata.

Allahu Akbar! Alangkah sederhananya perintah-perintah ini jika dilihat secara sepintas lalu alangkah lembut sentuhannya. Tetapi, betapa besar dan berat pengamalannya, alangkah besar pengaruh guncangannya terhadap seisi alam dan membiarkan sebagian berbenturan dengan sebagian yang lain. Ayat-ayat ini sendiri mengandung materi-materi dakwah dan tablig. Pemberian peringatan itu sendiri biasanya mengundang berbagai reaksi yang kurang menyenangkan bagi pelakunya. Apalagi semua orang sudah tahu bahwa dunia ini tidak mau tahu apa yang dilakukan manusia dan tidak akan memberi balasan macam apa pun terhadap apa pun yang mereka kerjakan.

Pemberian peringatan menuntut kedatangan suatu hari di luar hari-hari di dunia, yang pada saat itu akan ada pembalasan. Hari itu adalah hari kiamat atau hari pembalasan. Hal ini mengharuskan adanya suatu kehidupan lain yang berbeda dengan kehidupan yang dijalani manusia di dunia.

BACA JUGA  Netanyahu Perintahkan Pembangunan Rumah di Tepi Barat Dilanjutkan

Semua ayat ini menuntut tauhid yang jelas dari manusia, penyerahan urusan kepada Allah, meninggalkan kesenangan diri sendiri dan keridhaan manusia, untuk dipasrahkan kepada keridhaan Allah.

Jadi hal-hal yang terangkum di sini meliputi:

  1. Tauhid.
  2. Iman kepada Hari Akhirat.
  3. Membersihkan jiwa, dengan cara menjauhi kemungkaran dan kekejian, yang kadang-kadang mengakibatkan munculnya hal-hal yang kurang menyenangkan, mencari keutamaan, kesempurnaan dan perbuatan-perbuatan yang baik.
  4. Menyerahkan semua urusan kepada Allah.
  5. Semua itu dilakukan setelah beriman kepada risalah Muhammad, bernaung di bawah kepemimpinan dan bimbingan beliau yang lurus.

Selain itu, permulaan ayat-ayat ini mengandung seruan yang tinggi, sebagai perintah yang ditujukan kepada Nabi , agar beliau bangun dari tidur dan melepas selimut, siap untuk berjihad dan berjuang.

“Hai orang yang berselimut, bangunlah lalu berilah peringatan.”

Seolah-olah dikatakan kepada beliau, “Sesungguhnya orang yang hidup untuk dirinya bisa hidup tenang dan santai. Namun, engkau yang memikul beban besar ini, mengapa tidur-tiduran saja? Mengapa engkau santai-santai saja? Mengapa engkau masih telentang di atas tempat tidur yang nyaman dan tenang-tenang saja?!

Bangunlah untuk menghadapi urusan besar yang sudah menantimu. Beban berat sudah menunggu di hadapanmu. Bangunlah untuk berjihad dan berjuang. Bangunlah, karena waktu tidur dan istirahat sudah habis. Sejak hari ini engkau harus siap untuk lebih banyak berjaga pada malam hari dan perjuangan yang berat lagi panjang. Bangunlah dan bersiaplah untuk semua itu.”

Sungguh, ini merupakan perkataan yang serius dan menakutkan, yang membuat beliau melompat dari tempat tidurnya yang nyaman di rumah yang penuh kedamaian, siap terjun ke kancah, di antara arus dan gelombang, antara yang keras dan yang menarik menurut perasaan manusia, terjun ke kancah kehidupan.

Rasulullah pun bangkit, dan setelah itu selama 25 tahun beliau tidak pernah istirahat dan diam, tidak hidup untuk diri sendiri dan keluarga beliau. Beliau bangkit dan senantiasa bangkit untuk berdakwah kepada Allah, memanggul beban yang berat di atas pundaknya, tidak mengeluh dalam melaksanakan beban amanat yang besar di muka bumi ini, memikul beban kehidupan semua manusia, beban akidah, perjuangan dan jihad di berbagai medan. Beliau pernah hidup di medan peperangan secara terus-menerus dan berkepanjangan selama 20 tahun. Urusan demi urusan tidak pernah lekang selama itu, sejak beliau mendengar seruan yang agung dan mendapat beban kewajiban. Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada beliau dan kepada siapapun.

Redaktur : Dhani El_Ashim

Sumber :

  1. Ar-Rahiq Al-Makhtum Bahtsun fis Siratin Nabawiyyati ‘ala Shahibiha Afdhalush Shalati was Sallam, karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri
  2. Sirah Nabawiyah, karya Prof. Dr Muhammad Ali Ash-Shallabi

 

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat