... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Racun Hati dan Penawarnya

Foto: hati yang rusak

KIBLAT.NET – Setelah pembahasan mengenai pembagian hati dan ternyata Allah menyebutkannya pada firman-Nya surat Al-Hajj ayat 52-54, maka selanjutnya perlu kita dalami faktor yang menyebabkan hati itu tidak normal.

Ada dua faktor yang menyebabkan hati tidak normal.

Pertama, karena hati tersebut kering, keras dan tidak berfungsi sebagaimana yang dikehendaki. Ia ibarat tangan yang buntung, lidah yang bisu, hidung yang terkena anosmia dan mata yang buta.

Kedua, penyakit yang menimpanya sehingga menghalanginya untuk berfungsi secara sempurna dan benar.

Hati sehat adalah hati yang menerima, mengutamakan, mencintai kebenaran dan tidak memerlukan sarana lain selain pengetahuan mengenainya. Daya tangkap dan kepatuhannya kepada kebenaran baik dan sempurna.

Hati mati adalah hati yang tidak menerima dan tidak patuh kebenaran. Sedangkan hati sakit adalah hati yang apabila penyakitnya lebih dominan, maka keadaaanya hampir sama dengan hati yang mati dan keras. Tetapi bila kesehatannya lebih dominan, maka keadaanya hampir sama dengan hati yang sehat.

Lafal-lafal yang dibisikkan oleh setan ke telinga dan syubhat yang dibisikkannya ke hati akan menjadi fitnah bagi hati yang mati atau berpenyakit, tetapi justru menjadi penguat bagi hati yang hidup dan sehat. Sebab, hati yang hidup dan sehat akan menolak dan antipati terhadapnya.

Ia tahu bahwa yang benar justru kebalikannya, lantas tunduk kepada kebenaran itu. Ia mengetahui kebatilan apa yang dibisikkan oleh setan, lantas keimanannya kepada kebenaran bertambah sebagaimana bertambah pula penolakan dan kebenciannya kepada kebatilan. Hati yang terkena fitnah, senantiasa dalam keraguan disebabkan oleh bisikan setan, tetapi hati yang sehat tidak akan terkena mudarat darinya.

Hudzaifah Ibnul Yaman berkata bahwa Rasulullah bersabda,

“Fitnah-fitnah dibentangkan dan diletakkan di hati, sebagaimana dibentangkan serat-serat tikar satu persatu. Hati manapun yang dirasukinya, niscaya padanya terbentuk sebuah titik hitam, sedang hati manapun yang menolaknya, niscaya padanya terbentuk sebuah titik putih, sehingga seluruh hati akan menjadi dua macam : Ada hati yang hitam berbintik putih dan seperti kendi yang terbalik. Ia tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak menolak yang munkar. Yang diketahuinya hanyalah hawa nafsu yang dirasukkan kepadanya. Ada pula hati yang putih, ia tidak terkena mudarat fitnah selama ada langit dan bumi.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Beliau menyerupakan pembentangan dan pelekatan fitnah di hati seperti serat tikar yang dibentangkan dan dilekatkan satu persatu. Beliau juga membagi hati,pada saat pembentangan fitnah tersebut, menjadi dua yaitu : Ada hati yang ketika fitnah dibentangkan, terasuki olehnya, sebagaimana bunga karang yang diresapi oleh air. Pada hati tersebut akan timbul sebuah titik hitam. Setiap fitnah yang dibentangkan akan terus meresap padanya, sehingga warnanya menjadi hitam dan posisinya terbalik. Inilah makna sabda Nabi “seperti kendi terbalik”.

Apabila hati menjadi hitam dan terbalik, maka ia terancam oleh dua penyakit berbahaya yang akan mencampakkannya ke dalam kebinasaan.

BACA JUGA  Pasal Sangkar Besi Bagi Aktivis: Suatu Analisis Yuridis

1. Ia akan kabur dalam melihat yang ma’ruf dan munkar. Ia tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak menolak yang munkar. Bisa jadi penyakit ini semakin parah sehingga ia meyakini ma’ruf sebagai kemungkaran dan sebaliknya atau yang sunnah menjadi bid’ah dan bid’ah menjadi sunnah. Serta kebenaran sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai kebenaran.

2. Ia lebih mengutamakan hawa nafsu daripada ajaran Rasul, ia tunduk patuh pada hawa nafsu.

Ada pula hati yang putih. Cahaya dan pelita iman memancar dan menyala didalamnya. Apabila fitnah dibentangkan kepadanya ia menolak, sehingga cahaya, pancaran dan kekuatannya semakin bertambah.

Fitnah-fitnah yang dibentangkan pada hati merupakan penyebab sakitnya. Itulah fitnah syahwat dan syubhat, fitnah al-ghay (penyimpangan) dan adh-dhalal (kesesatan), fitnah maksiat dan bid’ah atau fitnah kezaliman dan kebodohan.

Fitnah pertama merusak maksud dan kehendak sedangkan fitnah kedua merusak ilmu dan keyakinan

Para sahabat membagi hati menjadi empat sebagaimana ucapan yang diriwayatkan secara sahih dari Hudzaifah bin Yaman:

“Hati itu ada empat : Ada hati yang bersih, didalamnya ada pelita yang menyala, itulah hati orang mukmin. Ada hati yang tertutup, itulah hati orang kafir. Ada hati yang terbalik, itulah hati orang munafik yang telah mengetahui tetapi kemudian menolak dan telah melihat tetapi kemudian buta. Ada pula hati yang terdiri dari dua unsur, yaitu unsur keimanan dan kemunafikan. Keadaannya tergantung pada salah satu dari kedua unsur tersebut yang paling dominan.”

Perkataan beliau, “Hati yang bersih”, maksudnya adalah hati yang bersih dari selain Allah dan Rasul-Nya.Jadi, hati tersebut bersih dari selain kebenaran.

“Di dalamnya terdapat pelita yang menyala”, yaitu pelita keimanan. Kebersihannya menyiratkan keselamatannya dari syubhat kebatilan dan syahwat penyimpangan. Sedangkan adanya pelita menyiratkan kecemerlangannya dengan kilauan cahaya ilmu dan iman.

Beliau mengisyaratkan pula bahwa hati yang tertutup adalah hati orang kafir, karena hati tersebut masuk di dalam tutupnya, sehingga cahaya ilmu  dan iman.

Beliau mengisyaratkan pula bhahwa hati yang tertutup adalah hati orang akfir, karena hati tesebut masuk di dalam tutupnya, sehingga cahaya ilmu dan iman tidka bisa mencapainya. Sebagaimana firmannya

BACA JUGA  Surat Terbuka untuk Macron: Abrahah Pun Dulu Meremehkan Kakbah

 وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ

“Dan mereka berkata: “Hati kami tertutup”… “

غُلْفٌ adalah jamak dari اغُلْفٌ yang artinya sesuatu yang masuk di dalam penutupnya. Penutup di sini adalah yang dipasang Allah di hati mereka sebagai hukuman atas penolakan mereka terhadap kebenaran dan kesombongan mereka untuk menerimanya. Ghulf adalah sebutan yang sama  dengan akinnah (penutup-penutup) bagi hati, waqr (penyumbat) bagi  telinga, ‘umy (kebutaan) bagi mata dan hijab mastur (dinding penutup) yang disebutkan dalam firman Allah

Sedangkan Allah berfirman

  وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا,وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَى أَدْبَارِهِمْ نُفُورًا

“Dan apabila kamu membaca Al Qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup. dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Qur’an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya. (QS. Al-Isra: 45-46)

Apabila hati semacam ini diingatkan untuk memurnikan tauhid dan mutaba’ah, para pemiliknya akan berpaling menjauh.

Beliau juga menyebutkan hati yang terbalik sebagai isyarat bagi hati orang munafik. Sebagaimana firman Allah,”Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri?” (QS An-Nisa’ : 88)

Artinya Allah telah membalikkan dan mengembalikan mereka kepada kebatilan semula, disebabkan oleh usaha dan perbuatan yang batil. Ini adalah hati paling buruk. Ia meyakini kebatilan sebagai kebenaran dan mencintai para pelaku kebatilan, sebaliknya menganggap kebenaran sebagai kebatilan dan memusuhi para pelaku kebenaran tersebut.

Sedangkan yang dimaksudkan beliau dengan hati yang memiliki dua unsur adalah hati yang didalamnya terdapat keimanan, akan tetapi pelita keimanan tersebut tidak menyala di dalamnya. Kebenaran yang ada di dalamnya, yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya, tidak murni. Di dalamnya terdapat unsur tersebut dan unsur kebalikannya. Kadang ia lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan, tetapi kadang lebih dekat dengan keimanan daripada kekafiran. Yang menentukan adalah unsur yang paling dominan, kesitulah ia kembali.

Redaktur : Dhani El_Ashim

Diinisiasi dari kitab Ighatsatul Lahfan min Mashadisy Syaithan, karya syaikhul Islam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

News

Negara-negara Arab Tetapkan 1 Ramadhan 1441H Hari Jumat

KIBLAT.NET, Kairo – Mesir, Lebanon, Irak, dan Tunisia mengumumkan bahwa Jumat adalah hari pertama bulan...

Kamis, 23/04/2020 12:58 0

Afrika

Gunakan Senjata Kimia, Tentara Bayaran Rusia Terlibat Konflik Libya

KIBLAT.NET, Tripoli – Kontraktor militer swasta Rusia “Wagner” dicurigai melakukan serangan militer di Libya. Wagner...

Kamis, 23/04/2020 12:36 0

Suriah

Rusia, Turki dan Iran Bahas Situasi Terkini di Idlib

Menteri Luar Negeri Rusia, Turki dan Iran kembali menggelar pembicaraan soal Idlib, Suriah, pada Rabu (22/04/2020).

Kamis, 23/04/2020 12:04 0

Indonesia

Kyai Cholil Nafis: Puasa Saat Pandemi Covid-19 Tidak Bisa Diganti Fidyah

Satgas Covid-19 MUI Pusat, Kyai Cholil Nafis menyatakan bahwa MUI belum pernah menerima pertanyaan atau permintaan fatwa secara resmi dari pihak manapun untuk menetapkan hukum fidyah menggantikan kewajiban puasa Ramadhan karena mewabahnya Pandemi Covid-19.

Kamis, 23/04/2020 10:22 0

Indonesia

Jusuf Kalla: Tidak Ada Gunanya Mudik Sekarang

Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla menyampaikan bahwa mudik bukan menjadi hal penting sekarang ini.

Kamis, 23/04/2020 09:48 0

Indonesia

Pengamat: Meski Mundur dari Stafsus, Belva Tetap Untung

Pengamat Politik Ujang Komarudin menilai bahwa Belva Devara memang sudah pantas mundur dari stafsus Presiden Jokowi. Meski mundur, ia menilai Belva tetap untung besar.

Rabu, 22/04/2020 18:30 0

Indonesia

Ramadhan Saat Wabah, Sekjen MUI: Jangan Kendor Beramal

Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas menegaskan bahwa umat Islam harus tetap mengoptimalkan amalan saat Ramadhan meski ada Corona.

Rabu, 22/04/2020 18:13 0

Inggris

Inggris Uji Cobakan Vaksin Covid-19 Selama 6 Bulan

KIBLAT.NET, London – Dunia sedang menunggu uji coba vaksin manusia pertama melawan virus corona pada hari Kamis. Vaksin dikembangkan...

Rabu, 22/04/2020 14:42 0

News

Ramadhan saat Corona, Negara Arab Perlonggar Jam Malam

KIBLAT.NET, Riyadh – Negara-negara Arab mengumumkan telah melonggarkan langkah-langkah pencegahan untuk melawan virus corona, yang...

Rabu, 22/04/2020 14:36 0

Indonesia

Soal Larangan Mudik, Politisi PKS: Agak Terlambat

Presiden RI, Joko Widodo akhirnya pada Selasa (21/04/2020) memutuskan pelarangan mudik tahun ini, setelah sebelumnya larangan mudik hanya berlaku untuk PNS, TNI-Polri dan karyawan BUMN.

Rabu, 22/04/2020 12:24 0

Close
CLOSE
CLOSE