... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Mengenang Wahid Hasyim: Hidup Singkat Sang Pejuang Tujuh Kata

Foto: Wahid Hasyim (tengah) dalam sebuah acara perayaan hari besar Islam. (Foto: JIB)

Oleh: Azzam Diponegoro

KIBLAT.NET – Tanggal 22 Juni 1945 bisa dibilang sebagai tanggal keramat bangsa Indonesia. Meskipun semakin terlupakan, namun peristiwa pada hari itu bisa dibilang sebagai salah satu gentlemen agreement antar golongan yang pernah tersaji di Indonesia.

Piagam Jakarta, pada hari itu diputuskan oleh Panitia Sembilan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) sebagai dasar negara Indonesia. Keputusan tersebut didapat setelah perdebatan cukup panjang dan alot antara kubu Islam dan kubu nasionalis di BPUPKI.

Meskipun telah diputuskan, nyatanya masih ada suara-suara ketidakpuasan. Khususnya terkait tujuh kata dalam sila pertama yang berbunyi: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.  Johannes Latuharhary misalnya, ia menyatakan keberatan atas tujuh kata tersebut. “Akibatnya mungkin besar, terutama terhadap agama lain, ungkap Latuharhary, dikutip dari Sekretariat Negara Republik Indonesia.

Keberatan juga datang dari Wongsonegoro, sang bapak kejawen Indonesia. Ia menyebutkan tujuh kata tersebut mungkin menimbulkan fanatisme, seolah-olah memaksa muslim menjalankan syariat Islam.

Menanggapi keberatan tersebut, Wahid Hasyim yang duduk di kursi nomor 50 dengan lantang membantah. Menurut Wahid, tajam itu relatif, bagi sebagian pihak tujuh kata tersebut mungkin dianggap terlalu tajam, tetapi bagi sebagian pihak bisa saja dianggap kurang tajam.

Ucapannya terbukti, muncullah seorang Ki Bagus Hadikusumo yang masih merasa tidak puas dengan hasil kompromi panitia sembilan. Bahkan Kahar Muzakkir yang turut membidani kompromi tersebut pada akhirnya sepakat dengan Ki Bagus dan mengusulkan agar semua kata yang menyebutkan Islam dihapus saja. Bagi mereka dasar negara tidak boleh samar-samar; seratus persen Islam atau tidak Islam sama sekali.

Wahid Hasyim tak berhenti sampai di situ, pada 13 Juli 1945,  ketika BPUPKI membahas isi konstitusi. Ia mengajukan dua poin yang akan mempertegas kedudukan Islam dalam negara. Poin pertama terkait agama presiden Indonesia, menurutnya pasal 4 ayat 2 yang mengatur presiden seharusnya berbunyi: “Yang dapat menjadi presiden dan wakil presiden hanya orang Indonesia asli yang beragama Islam.” 

BACA JUGA  Generasi Pendahulu: Generasi yang Unik

Menurut Wahid, hubungan masyarakat dan pemerintah penting sekali bagi masyarakat muslim.

“Jika presiden orang Islam, perintah-perintah (akan) berbau Islam dan (ini) akan besar pengaruhnya,” ungkapnya.

Poin kedua terkait agama negara. Ia mengusulkan pasal 28 mengenai agama berisi ketentuan yang secara jelas mengatur Islam sebagai agama negara dangan redaksi: “Agama negara adalah Islam dengan menjamin kemerdekaan orang-orang yang beragama lain…”

Wahid memandang hal ini penting bagi pembelaan negara saat diperlukan.

Usulan Wahid mendapat dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya dari Soekiman Wirjosandjojo, politikus Masyumi yang merupakan anggota panitia kecil yang membahas konstitusi.

“Itu akan memuaskan rakyat,” ujarnya.

Kiai Haji Masjkur memandang karena ada kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya di pembukaan, maka presiden haruslah muslim untuk mempermudah pelaksanaan kewajiban tersebut. Begitu pula dengan Ki Bagus Hadikusumo dari Muhammadiyah yang meminta secara tegas negara berdasarkan Islam.

Dua poin tersebut akhirnya disetujui, pasal 28 disepakati dengan mengutip kembali sila pertama Piagam Jakarta. Adapun poin terkait presiden dan wakil presiden akhirnya diputuskan pada 16 Juli. Sukarno, yang membuka sidang meminta pemahaman dari kelompok nasionalis sekuler.

“Baiklah kita terima bahwa di dalam Undang-Undang Dasar dituliskan bahwa ‘Presiden Republik Indonesia haruslah orang Indonesia asli yang beragama Islam’,” kata Sukarno diiringi tepuk tangan para peserta sidang menandai tercapainya kesepatan.

Siapa sangka, dua poin tersebut hilang secara dramatis sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus.  Menjelang Sidang Panitia Persiapan Kemerekaan Indonesia (PPKI), Mohammad Hatta yang pada akhirnya menjadi wakil presiden mengaku didatangi Opsir Kaigun Jepang yang menyampaikan pesan keberatan dari wakil protestan dan katolik di wilayah Indonesia bagian Timur.

Pada 18 Agustus 1945, sebelum sidang PPKI dilangsungkan. Hatta pun melobi empat pemimpin kelompok Islam, yaitu Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimejo, Teuku Hasan, dan Wahid Hasyim. Menurut berbagai catatan sejarah, Wahid Hasyim sebenarnya tidak hadir dalam lobi, ia sedang dalam perjalanan ke Jawa Timur.

BACA JUGA  Imam Masjid yang Tewas di Kabul Pernah Suarakan Diakhirinya Invasi AS

Singkat cerita, lobi pun berhasil. Dua poin usulan Wahid Hasyim dihapus. Poin pertama dirubah menjadi presiden cukup orang Indonesia asli. Poin kedua dihapuskan dari pembukaan dan batang tubuh konstitusi.

Meskipun demikian, langkah Wahid Hasyim untuk menyuarakan esensi dua poin tersebut tak pernah surut. Pada Januari 1953, dalam sebuah kunjungan kerja di Amuntai, Kalimantan Selatan. Sukarno mengeluarkan pernyataan kontroversial, ia menyatakan jika negara berdasarkan Islam maka akan terjadi separatisme di daerah yang mayoritas penduduknya nonmuslim. Tanggapan keras pun dilayangkan Wahid Hasyim sebagai ketua Nahdlatul Ulama.

Menurut Wahid, pernyataan bahwa pemerintahan Islam tidak akan memelihara persatuan bangsa dan akan menjauhkan Irian adalah perbuatan mungkar yang tidak dibenarkan syariat Islam.

“Dan wajib bagi tiap-tiap orang muslimin menyatakan ingkar atau tidak setuju,” tegasnya.

Dua bulan kemudian, di sebuah daerah bernama Cimindi, Jawa Barat. Hujan deras membuat licin jalan yang ramai. Ban Chevrolet yang dinaiki Wahid Hasyim selip dan membuat sopir beliau kehilangan kendali. Mobil melaju zigzag. Di depan, sebuah truk mengerem. Bagian belakang mobil Wahid membentur truk itu dengan keras.

Tubuh Wahid Hasyim terpelanting keluar. Ia terluka parah di bagian kening, mata, pipi, leher dan pingsan seketika. Keesokan harinya, pada 19 April 1953 pukul 10.30 WIB di sebuah ruangan Rumah Sakit Borromeus, Bandung, pada usia yang teramat muda (39 tahun), ia menghembuskan nafas terakhirnya. Sekaligus menjadi nafas terakhir bagi dua poin yang diperjuangkannya.

Sumber:

 

 


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Malaysia

Di Tengah Pandemi Corona, Malaysia Tolak Kedatangan 200 Pengungsi Rohingya

Pihak berwenang di Malaysia telah menolak kapal yang membawa sekitar 200 pengungsi Rohingya, termasuk anak-anak, karena khawatir mereka mungkin terinfeksi virus corona.

Ahad, 19/04/2020 11:52 0

Timur Tengah

Hadapi Corona, Dubai Bangun Rumah Sakit Lapangan Berkapasitas 3.000 Tempat Tidur

Otoritas Dubai membuka rumah sakit lapangan berkapasitas 3.000 tempat tidur pada hari Sabtu (18/04/2020) di salah satu World Trade Center-nya untuk mempersiapkan potensi lonjakan kasus baru coronavirus.

Ahad, 19/04/2020 10:55 0

Indonesia

Dewan Pers Tolak Pembahasan RUU KUHP dan Cipta Kerja

Kedua RUU itu memuat pasal yang mengancam kemerdekaan pers

Ahad, 19/04/2020 09:30 0

Indonesia

Impor Senjata dan Amunisi Melonjak Ribuan Persen di Maret 2020

“Karena yang belanja senjata ada beberapa institusi, selain TNI dan Kementerian Pertahanan,” kata juru bicara Prabowo ini.

Ahad, 19/04/2020 09:23 0

Manhaj

Tadabur Al-Quran: Stimulus untuk Menyelami Kedalaman Makna Al-Quran

Ibnu Masud berkata, “Sesiapa yang menginginkan ilmu, hendaklah ia mengkaji-mendalami-menadabburi Al-Qur'an, karena di dalamnya terdapat ilmu orang terdahulu dan ilmu orang terkemudian.”

Ahad, 19/04/2020 06:59 0

Indonesia

Napi Lakukan Kriminal Pasca Bebas, Pemerintah Diminta Tanggungjawab

Pakar Hukum Pidana, Suparji Ahmad mengkritisi kebijakan pelepasan Napi. Menurutnya, memang kebijakan tersebut bisa mengurangi

Sabtu, 18/04/2020 19:13 0

Info Event

Hujan dan Malam Tak Halangi Tukang Ojol Cari Nafkah di Tengah Pandemi Covid-19

KIBLAT.NET PEDULI UMAT menyalurkan bantuan kepada orang-orang yang terpaksa keluar rumah saat wabah Covid-19 untuk mencari nafkah

Sabtu, 18/04/2020 19:13 0

Indonesia

BMT Fajar Salurkan Sembako untuk Warga Terdampak Corona

BMT Fajar membagi sembago bagi masyarakat yang terdampak wabah Corona. Pembagian sembako ini sebagai wujud kepedulian terhadap warga yang terkena imbas dari Covid-19.

Sabtu, 18/04/2020 17:05 0

News

Muslim Dituding Biang Corona, Cendekiawan Ini Seru Pengusiran Hindu India

KIBLAT.NET, Riyadh – Umat ​​Hindu militan yang menyebarkan kebencian dan melakukan kejahatan terhadap Muslim harus...

Sabtu, 18/04/2020 14:00 0

Mesir

Cerita Lansia Mesir Pulih dari Corona: Jangan Putus Harapan!

Para dokter tak yakin dirinya bertahan mengingat kondisinya yang memburuk.

Sabtu, 18/04/2020 13:14 0

Close