... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Mengenang Siyono, Membersamai Qidam

Foto: Foto: Qidam Al-Fariski warga Poso tewas ditembak aparat di belakang Polsek Poso Pesisir Utara pada Kamis, (09/04).

Penulis: Azzam Diponegoro

KIBLAT.NET – Lima tahun silam, di sebuah desa bernama Pogung, Klaten. Suratmi mungkin tak menyangka bakal ditinggal sang suami untuk selamanya. Belum kering air mata kesedihan Suratmi setelah sepekan sebelumnya sang ayah meninggal dunia. Kini dia kembali kehilangan orang terkasih. Kini dia harus menjanda, membesarkan lima anak seorang diri.

Bagi seorang muslim, kematian memang tak boleh ditanggapi dengan kesedihan berlebihan. Namun terkadang penyebab kematian mendatangkan kesedihan dalam dimensi yang berbeda. Terlebih jika penyebabnya adalah hantu bernama kedzaliman dan ketidakadilan.

Masih lekat dalam ingatan Suratmi. Di sepenggal tahun 2005, betapa bahagianya dia bersama Siyono (34) sang suami ketika berhasil mewujudkan impian mereka: membangun TK. Ya, membangun TK. Mimpi yang mungkin dipandang remeh oleh sebagian orang. Mimpi yang mungkin tak peduli pada sistem apa yang sedang berkuasa; demokrasikah, oligarkikah, teokrasikah, bahkan diktator sekalipun.

“Amanah Ummah”, nama TK yang mereka pilih mengingat pentingnya amanah berupa anak-anak yang dititipkan di TK mereka. Bermulai dari enam orang tetangga yang mulai belajar di dalam masjid, Suratmi dan Siyono merintis TK impiannya. Berbilang tahun, semakin banyak warga yang mengamanahkan anak-anaknya ke TK mereka. Yang semula di masjid, semakin ke sini semakin berkembang.

Dari hanya enam orang, dua belas orang, empat puluh orang hingga enam puluhan bocah mengenyam pendidikan di “Amanah Ummah”. Ruangan demi ruangan pun dibangun. Kursi-kursi terisi penuh rapi. Hari-hari mereka semakin penuh dengan keriangan anak-anak yang dengan merdunya melafalkan kalam Ilahi.

Sepuluh tahun lebih mereka mengabdikan hidup untuk mimpi mereka. Sambil mengajar, Siyono membantu kedua orang tuanya bertani, memotong jerami, merawat sang mertua dengan telaten. Nampaknya mereka sudah cukup bahagia dengan hidup seperti itu, tak kurang tak lebih.

Hingga suatu hari, ketika sedang zikir Maghrib di masjid. Sekelompok orang berbadan tegap mengatasnamakan negara menangkap Siyono. Dua hari kemudian, sekelompok orang berseragam bersenapan laras panjang lagi-lagi mengatasnamakan negara menggeledah “Amanah Ummah” di saat kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung.

Mereka menggeledah “Amanah Ummah” layaknya menggeledah sarang penjahat. Mereka tak menemukan apapun di sana. Sebuah unit sepeda motor disita. Mereka pun pergi, namun meninggalkan trauma bagi anak-anak dan para pengajar wanita di “Amanah Ummah”.

Keesokan harinya, alih-alih mendapat penjelasan pihak berwenang terkait penggeledahan “Amanah Ummah”, Suratmi justru menerima kabar kematian suaminya. Kepada media, bapak-bapak berseragam menyebut Siyono panglima kelompok teroris. Mendengar tuduhan itu, Suratmi mungkin akan tertawa jika suasananya berbeda.

Suratmi, istri Siyono

Beruntung, kematian Siyono yang misterius tercium oleh organisasi tempatnya bernaung: Muhammadiyah. Mereka membentuk Tim Dokter Forensik Muhammadiyah sebagai badan independen yang mengautopsi jasad Siyono.

BACA JUGA  Beef Teriyaki, Menu Olahan Daging Kurban Paling Maknyus

Singkat cerita, tim tersebut menemukan sejumlah kejanggalan. Hasil autopsi jasad Siyono menunjukkan adanya luka dan patah tulang di bagian dada. Tulang yang patah ke dalam di bagian dada ini yang kemudian menimbulkan pendarahan di jantung, dan menjadi penyebab kematiannya.

Selain itu, tak ada indikasi perlawanan dari Siyono. Hal itu terlihat dari hasil autopsi yang tak menemukan tanda-tanda luka defensif.

Bola panas pun bergulir, Tim Pembela Kemanusiaan, Komnas HAM, LUIS, MUI, IPW, KontraS, MUI serta beberapa politisi yang sedang butuh suara ramai-ramai menyerang kepolisian. Akhirnya bapak-bapak berseragam itu pun, dengan agak malu-malu, mangakui ada kelalaian dan kesalahan prosedur dari petugas yang menangani.

Atas kelalaian tersebut, lanjut bapak-bapak berseragam, mereka dihukum kode etik, berupa demosi dan bebas tugas.

Membersamai Qidam

Kasus Siyono memang tidak sepatutnya berakhir pada hukuman kode etik. Apapun alasannya, penghilangan nyawa tak boleh dipandang remeh. Tim Pembela Kemanusiaan hingga kini masih mendampingi Suratmi untuk mencari keadilan atas kematian suaminya. Perkembangan terakhir, pada Maret 2019 pengajuan praperadilan kasus Siyono ditolak oleh PN Klaten.

Permohonan praperadilan dinilai prematur, permohonan ditolak karena penyelidikan terhadap pelaku oleh Polres Klaten masih berjalan.

Kini, di tengah segala kepanikan akibat pandemi corona. Alih-alih mendapat penerangan akan kasus Siyono. Kita justru kembali dikejutkan oleh kejadian yang nyaris sama. Dengan aktor yang berbeda, namun masih dalam judul yang sama: pemberantasan terorisme.

Qidam Al-Fariski Mowance, pemuda asal Desa Tambarana Kecamatan Poso Pesisir Utara tewas di tangan aparat pada Kamis (09/04/2020). Menurut keterangan bapak-bapak berseragam, Qidam terlibat dalam gerakan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora.

Namun pihak keluarga membantah tuduhan tersebut. Menurut penuturan seorang kerabat, Qidam punya masalah dengan keluarga dan hendak pergi ke Manado. Qidam kemudian kabur dari rumah dengan membawa ransel lewat belakang Polsek Pesisir Utara di Desa Membuke, Kecamatan Poso Pesisir Utara.

Di situlah polisi mengira Qidam sebagai anggota MIT dan didor.

Spanduk berukuran 10 meter dibentangkan untuk simbol dukungan terhadap Qidam Alfariski, pemuda Poso yang ditembak mati lalu dituduh teroris.

Saat diterima keluarga, jenazah Qidam nampak penuh dengan luka tusuk, sayatan memanjang di sisi tubuh, dan luka tembak.

BACA JUGA  Jejak 'Dakwah Bahasa' Para Ulama

Berdasar keterangan keluarga, leher Qidam dalam kondisi patah. Kulit paha hingga dekat kemaluan terlihat disayat memanjang. Selain itu ditemukan juga luka tusukan pisau di leher dan sayatan di dada sebelah kiri dan kanan. Tak hanya itu, bekas luka tembakan juga nampak di dada depan hingga tembus belakang.

Kalaupun benar Qidam anggota MIT, pembunuhan seperti itu tetap saja pantas dikutuk, kemanusiaan pelakunya harus dipertanyakan.

Operasi Tinombala sebagai operasi yang dilancarkan negara untuk menumpas MIT sendiri bukan tanpa kritik. Pada pertengahan 2016, gerakan komunitas Institut Mosintuwu yang anggotanya merupakan masyarakat Poso yang bertahan hidup di tengah daerah konflik menilai operasi tersebut membawa dampak negatif bagi masyarakat setempat.

“Kebun dan ladang ditinggalkan, pendidikan dan kesehatan terabaikan, ada ketidaknyamanan dan rasa takut,” ujar Lian Gogali, Direktur Institut Mosintuwu pada 23 Juli 2016, dikutip dari Tempo.

Lian menuturkan, kecamatan yang terkena dampak antara lain Poso Pesisir Selatan, Poso Pesisir Utara, Lore Utara Utara, Lore Peore, Lore Tengah dan Lore Timur.

Masih dari sumber yang sama, Lian juga mengungkapkan kesaksian sejumlah warga Poso yang terkena dampak operasi keamanan. Ada pemilik kebun sawit yang terpaksa menjadi buruh sawit di Kabupaten lain, ada petani coklat yang terpaksa bekerja sebagai pemecah dan pengangkut batu, karena biasanya yang berkebun akan diduga sebagai pihak yang memberikan logistik atau disangka bagian dari MIT.

Melihat penuturan Lian, bisa disimpulkan bahwa “sangka menyangka” ala aparat telah menjadi kekhawatiran tersendiri bagi warga hingga merubah perilaku dan kebiasaan mereka. Dan kini “sangka menyangka” tersebut telah membunuh Qidam.

Sialnya, Qidam hanya seorang pemuda tanggung yang minggat dari rumah. Dia bukan anggota organisasi besar macam Muhammadiyah, dan bisa dibilang dia belum punya pengabdian apapun terhadap masyarakat.

Qidam tak mungkin mendapat “kemewahan” advokasi seperti Siyono. Hingar bingar kasusnya tak akan mampu membuat bapak-bapak berseragam memberi sanksi etik kepada anggotanya. Kasusnya akan tenggelam dan hilang di tengah-tengah masyarakat yang semakin tidak leluasa melakukan pengawasan terhadap kinerja pemerintah akibat pandemi corona. Semoga tidak.

Disclaimer: Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis sepenuhnya, tidak menjadi bagian dari pandangan redaksi KIBLAT.NET.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Faisal Basri: Omnibus Law “Karpet Merah” Taipan Batu Bara

Pemerintah membuat Rancangan Undang-undang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja sebagai upaya meningkatkan investasi. Namun, Ekonom Senior Faisal Basri justru berpendapat rancangan beleid itu hanya memberi keuntungan bagi taipan batu bara.

Rabu, 15/04/2020 22:18 0

Indonesia

Resmi, Fraksi PKS Minta Pembahasan Omnibus Law Cipta Kerja Ditunda

Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di DPR-RI secara resmi menyatakan keberatan untuk membahas Omnibus Law Rancangan Undang-undang Cipta Kerja dan meminta penundaan pembahasan hingga Presiden Republik Indonesia secara resmi mengumumkan wabah Covid-19 di Indonesia.

Rabu, 15/04/2020 21:27 0

Video News

Misteri Kematian Qidam Alfariski

Seorang pemuda bernama Qidam AlFariski Mofance (20 tahun), warga Desa Tambarana Kecamatan Poso Pesisir Utara tewas di tangan aparat pada Kamis, (09/04).

Rabu, 15/04/2020 19:02 0

Indonesia

Fadli Zon Minta Pemerintah Tegas Keluarkan Larangan Mudik

Fadli mengingatkan bahwa mudik bukanlah ibadah yang wajib dilakukan.

Rabu, 15/04/2020 18:05 0

Foto

Masyarakat Poso Yakin Qidam Bukan Teroris

ratusan warga ikut menandatangani spanduk sepanjang 10 meter yang menyatakan simpati dan menolak tuduhan polisi bahwa Qidam disebut sebagai teroris.

Rabu, 15/04/2020 15:42 0

Indonesia

Simpati Terus Mengalir, Masyarakat Poso Tandatangani Spanduk ‘Qidam Bukan Teroris’

Simpati masyarakat terus berdatangan atas kematian Qidam Alfariski (20 tahun), pemuda warga Desa Tambarana Kecamatan Poso Pesisir Utara yang ditembak mati Polisi pada Jumat, (9/4/2020) lalu.

Rabu, 15/04/2020 15:32 0

Indonesia

Seorang Anggota Polisi Ditembak di Bank BSM Poso, Kedua Pelaku Ditembak Mati

Seorang polisi di Poso, Sulawesi Tengah terkena luka tembak setelah mendapat serangan dari dua orang tidak dikenal.

Rabu, 15/04/2020 15:08 0

News

Evolusi Teknologi di Saat Pandemi

Digitalisasi Semakin Mengemuka di Tengah Pandemi Corona KIBLAT.NET – Jutaan orang di seluruh dunia beradaptasi...

Rabu, 15/04/2020 12:42 0

Indonesia

PKS Tolak Pembahasan RUU Omnibus Law Cipta Kerja, Ini Alasannya

Pembahasan Omnibus Law Cipta Kerja bertolak belakang dengan keputusan presiden yang telah menyatakan darurat kesehatan

Rabu, 15/04/2020 11:08 1

Indonesia

Surat Stafsus Milenial Bikin Gaduh, Bukhori Yusuf: Pecat Jika Perlu!

Sebuah surat dengan kop Sekretariat Kabinet Republik Indonesia menimbulkan kontroversi di tengah pandemi corona yang belum usai. Pasalnya, surat tersebut ditandatangani oleh Staf Khusus (Stafsus) Milenial Presiden, Andi Taufan Garuda Putra dan ditujukan kepada para camat di seluruh Indonesia.

Rabu, 15/04/2020 09:45 0

Close