... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Apa yang Dipikirkan Pembunuh Qidam Alfarizki?

Foto: jenazah Qidam Alfarizki

Oleh: Taufiq Ishaq

KIBLAT.NET – Qidam Alfarizki bukan orang pertama kali yang dibunuh dengan dalih pemberantasan terorisme. Sudah ada ratusan nama lain yang juga mengalami hal yang sama. Jika terduga sebelumnya menerima timah panas atau hantaman benda tumpul, apa yang menimpa Qidam berbeda. Selain mendapat tuduhan teroris, dia juga dibunuh dengan sadis.

Sebuah tindakan yang bahkan tidak pernah terbayang sebelumnya. Perilaku yang seringnya hanya bisa dilihat di film-film genre horror dengan tema film psikopat. Sayatan yang cukup panjang dan dalam, tusukan di dada, kaki dan leher patah, diperparah dengan tembakan yang diarahkan ke dada hingga menembus punggung.

Apakah manusia dengan kondisi kejiwaan yang normal bisa melakukan hal ini? Jelas tidak. Bahkan, orang biasa untuk mengimajinasikan pun tidak akan kuat. Untuk melakukan tindakan semacam itu sulit dipercaya jika pelaku dalam keadaan tenang atau stabil. Perlu ada adrenaline dan emosi yang tinggi untuk mampu bertindak demikian.

dr. Nabila Viera Yovita dari KlikDokter.com menyebutkan bahwa orang berpelikau sadis salah satunya bisa muncul pada orang yang sulit mengontrol kemarahan. Orang bisa bertindak sadis ketika apa yang ia rasakan butuh penyaluran, misalnya rasa dendam.

Bahkan, dr. Nabila juga menyebutkan bahwa tindakan sadis kemungkinan besar timbul dari orang yang mempunyai gangguan jiwa yang belum terdeteksi. Menurutnya, orang memiliki gangguan jiwa bisa impulsif. Tindakan impulsif ini lah yang kemudian membuat orang susah untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Polisi memang punya hak untuk membela diri. Ia memiliki diskresi untuk melumpuhkan pelaku kejahatan. Tapi yang namanya melumpuhkan tentu bukan mematikan. Melumpuhkan hanya sebatas membuat pelaku kejahatan tidak berkutik lalu mempermudah polisi untuk meringkusnya.

Yang dilakukan polisi pada Qidam sudah sangat melampaui apa yang disebut melumpuhkan. Sebab, Qidam sudah dibuat merasakan perihnya disayat, sakitnya ditusuk, dan ditembus peluru hingga meninggal dunia.

Saya hingga saat ini masih tidak habis pikir bagaiamana pembunuh Qidam melakukan aksinya. Membayangkannya saja tidak kuat, lalu apa yang ada di benak pembunuh hingga setega itu? Wajar jika sang ibu menangis histeris saat Qidam dimakamkan. Semua ibu pasti hatinya perih saat mengetahui anak tercintanya disayat dengan biadab.

Saya juga bukan orang yang tau menahu soal psikologi. Tapi yang sedikit saya ketahui, orang yang membunuh dengan sadis merupakan ciri psikopat. Apakah pembunuh Qidam merupakan psikopat? Perlu penelitian mendalam untuk mengungkap hal ini. Dokter harus mengevaluasi bagaimana pola pikiran, perasaan dan perilaku pelaku.

Maka, selain kasus ini harus masuk ke wilayah Pidana, harus ada tes psikologi bagi polisi. Terlebih mereka yang bertugas di wilayah konflik seperti Poso. Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (Lemkapi) Edi Saputra Hasibuan menilai bahwa tes psikologi perlu dilakukan enam bulan sekali.

Sebab, sangat berbahaya jika polisi yang kondisi psikologisnya kacau lalu bertugas di tengah masyarakat. Karena saat emosinya tidak stabil, satu nyawa warga bisa hilang.

Untuk Qidam, semoga rasa sakit yang engkau terima di dunia bisa berbuah surga. Semoga dosa-dosa yang pernah dilakukan dihapuskan karena peristiwa yang engkau alami. Untuk keluarganya jika ada yang membaca tulisan ini, jangan lelah untuk mencari keadilan dan jangan mau dibungkam dengan apapun.


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Artikel

Mengenang Siyono, Membersamai Qidam

Dulu Siyono, kini Qidam.

Kamis, 16/04/2020 13:52 0

Indonesia

Faisal Basri: Omnibus Law “Karpet Merah” Taipan Batu Bara

Pemerintah membuat Rancangan Undang-undang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja sebagai upaya meningkatkan investasi. Namun, Ekonom Senior Faisal Basri justru berpendapat rancangan beleid itu hanya memberi keuntungan bagi taipan batu bara.

Rabu, 15/04/2020 22:18 0

Indonesia

Resmi, Fraksi PKS Minta Pembahasan Omnibus Law Cipta Kerja Ditunda

Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di DPR-RI secara resmi menyatakan keberatan untuk membahas Omnibus Law Rancangan Undang-undang Cipta Kerja dan meminta penundaan pembahasan hingga Presiden Republik Indonesia secara resmi mengumumkan wabah Covid-19 di Indonesia.

Rabu, 15/04/2020 21:27 0

Video News

Misteri Kematian Qidam Alfariski

Seorang pemuda bernama Qidam AlFariski Mofance (20 tahun), warga Desa Tambarana Kecamatan Poso Pesisir Utara tewas di tangan aparat pada Kamis, (09/04).

Rabu, 15/04/2020 19:02 0

Indonesia

Fadli Zon Minta Pemerintah Tegas Keluarkan Larangan Mudik

Fadli mengingatkan bahwa mudik bukanlah ibadah yang wajib dilakukan.

Rabu, 15/04/2020 18:05 0

Foto

Masyarakat Poso Yakin Qidam Bukan Teroris

ratusan warga ikut menandatangani spanduk sepanjang 10 meter yang menyatakan simpati dan menolak tuduhan polisi bahwa Qidam disebut sebagai teroris.

Rabu, 15/04/2020 15:42 0

Indonesia

Simpati Terus Mengalir, Masyarakat Poso Tandatangani Spanduk ‘Qidam Bukan Teroris’

Simpati masyarakat terus berdatangan atas kematian Qidam Alfariski (20 tahun), pemuda warga Desa Tambarana Kecamatan Poso Pesisir Utara yang ditembak mati Polisi pada Jumat, (9/4/2020) lalu.

Rabu, 15/04/2020 15:32 0

Indonesia

Seorang Anggota Polisi Ditembak di Bank BSM Poso, Kedua Pelaku Ditembak Mati

Seorang polisi di Poso, Sulawesi Tengah terkena luka tembak setelah mendapat serangan dari dua orang tidak dikenal.

Rabu, 15/04/2020 15:08 0

News

Evolusi Teknologi di Saat Pandemi

Digitalisasi Semakin Mengemuka di Tengah Pandemi Corona KIBLAT.NET – Jutaan orang di seluruh dunia beradaptasi...

Rabu, 15/04/2020 12:42 0

Indonesia

PKS Tolak Pembahasan RUU Omnibus Law Cipta Kerja, Ini Alasannya

Pembahasan Omnibus Law Cipta Kerja bertolak belakang dengan keputusan presiden yang telah menyatakan darurat kesehatan

Rabu, 15/04/2020 11:08 1

Close