... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Fase Terakhir Master Plan 2020: Kemenangan Taliban dalam Naungan Corona

Foto: Pejuang Taliban.

Oleh: Fahmi Suwaidi, penulis buku ‘Master Plan 2020 Strategi Al-Qaidah’

KIBLAT.NET – Tahun 2020 adalah tahun puncak dalam dalam fase terakhir Master Plan Al-Qaidah. Dalam fase ini mereka merencanakan kemenangan yang bisa diraih dalam waktu singkat, kurang lebih tiga tahun sejak 2020 dalam perencanaan mereka. Padahal hari ini dunia tengah tergulung dalam badai Corona. Apakah fase pamungkas itu akan mendapatkan peluangnya?

Sebagai penulis yang menyusun buku tentang rencana jangka panjang itu, sampai awal tahun ini memang belum terlihat peluang kemenangan gerakan perlawanan Islam internasional. Banyak pembaca malah pesimis bahwa kemenangan betul-betul bisa diraih dalam tahun 2020.

Sampai-sampai ada pembaca yang menyampaikan challenge, selama duapuluh tahun apa yang sudah dicapai Al-Qaidah. Saya ditanya, “Bagaimana realisasi pencapaian Master Plan, bukankah sekarang sudah tahun 2020?”

Optimisme dan harapan harus selalu kita miliki sebagai Muslim. Apalagi dalam situasi lemahnya umat Islam seabad terakhir, dijajah dan dikuasai oleh bangsa-bangsa kafirin Timur dan Barat. Pasrah dan menerima takdir buruk bukan berarti menyerah. Nasib harus diubah dengan ikhtiar bersandar pada kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kepadanya saya sampaikan, bulan Januari lalu, “Tenang Akhi, tahun 2020 masih ada 11 bulan. Banyak hal masih bisa terjadi.” Ini bukan jawaban ngeles, tetapi bersandar pada optimisme bahwa Allah pasti akan menolong hamba-hamba-Nya yang beriman dan berjihad di jalan-Nya.

Lalu datanglah “Badai Corona,” virus yang menyebarkan penyakit Covid-19. Dunia berubah total dalam waktu tiga bulan saja. Dimulai dari Cina, merembet ke Asia, Eropa sampai Amerika. Hari ini negara yang belum terkena wabah itu barangkali bisa dihitung dengan jari.

Perubahan situasi akibat wabah jelas mengubah konstelasi dunia. Amerika hingga tulisan ini disusun telah kehilangan 16.498 warganya yang mati karena Covid19. Sementara yang positif tertular mencapai 464.865. Adidaya itu kelimpungan menghadapi wabah.

Negara-negara Eropa anggota NATO tak kurang parahnya. Rekor tertinggi dipegang Spanyol dengan angka kematian 15.447 dan penderita 153.222. Disusul Italia dengan 18.279 mati dan 143.626 positif. Lalu Perancis dengan angka 12.210 dengan kasus positif 86.334. Turki mati 908 dan terjangkit 42.282.

BACA JUGA  Cegah Second Wave, Anies Akan Batasi Arus Balik

Di belahan lain, negara komunis Cina telah kehilangan 3.335 mati dengan kasus positif 81.865. Rusia mati 76, terjangkit 10.131. Sementara India 169 mati dengan kasus positif 5.865. Iran mati 4.110 dan positif terjangkit 67.286.

Tak sekedar angka yang terus bertambah, Covid-19 juga tak pandang bulu. Putra mahkota Inggris, Pangeran Charles terkena. Sementara kabar terakhir dari Saudi Arabia, Raja Salman dan Putra Mahkota Muhammad bin Salman harus diisolasi, bersama 150 bangsawan lainnya.

Tata dunia global berubah drastis. Adidaya dunia yang perkasa kini bertekuk lutut karena wabah yang melemahkan bangsanya. Sementara boneka-boneka mereka di negeri Muslim mulai goyah atau minimal mati kutu kebingungan. Namun, adakah pelemahan itu berpengaruh signifikan bagi perlawanan dunia Islam?

Al-Qaidah dan Taliban

Dalam situasi seperti inilah Master Plan Al-Qaidah menemukan relevansinya. Terutama dalam kondisi terakhir konflik di Afghanistan. Saat Taliban di atas angin dalam perundingan dengan Amerika Serikat.

Perlu diingat, bicara Al-Qaidah hari ini tidak bisa dilepaskan dari Taliban. Karena gerakan jihad internasional itu sudah merger atau menggabungkan diri dengan Imarah Islam Afghanistan sejak tahun 2009. Lihat tulisan: 2020 Masih Adakah Al-Qaidah?

Hari-hari ini, sebenarnya Taliban menjelang futuh dan kemenangan. Posisinya begitu kuat secara militer dan teritorial maupun secara politik dan diplomasi. Sementara Amerika dan rejim bonekanya di Kabul tengah menghitung hari penghabisan mereka.

Barangkali Taliban adalah satu-satunya gerilya masa kini yang berhasil menang tanpa dukungan luar negeri. Padahal syarat utama kesuksesan gerilya modern adalah adanya kontak dan dukungan dari kekuatan besar di luar negeri. Vietnam, misalnya, sukses mengusir Amerika Serikat dengan dukungan militer Uni Soviet dan Cina.

Sementara Afghanistan di masa mengusir Uni Soviet tahun 1980 hingga 1990-an. Mujahidin mendapat dukungan politik dari Blok Barat yang tengah menjalani Perang Dingin dengan Blok Timur. Senjata dan aliran logistik, bahkan relawan jihadi, dengan mudah mengalir ke sana dari Timur Tengah dan dunia Islam.

Pendukung Taliban di Quetta, Pakistan membawa poster Syaikh Usamah bin Ladin pada sebuah aksi massa di tahun 2012.

Pengamat Barat selalu menyombongkan bahwa Soviet tak mungkin bisa diusir tanpa bantuan Amerika, Saudi dan Pakistan. Namun perang yang dialami Taliban melawan Amerika sangat berbeda.

BACA JUGA  Pembatalan Haji oleh Menag: Niat Baik, Cara Salah

Taliban sendirian, tak ada dukungan politik internasional. Dunia Islam pun bungkam. Semua negeri menari dengan irama gendang “Perang Melawan Terorisme” yang ditabuh Amerika di seluruh dunia.

Bahkan tetangga terdekat dan satu-satunya kawan diplomatik, Pakistan, justru menjadi pembantu utama Amerika selama invasinya sejak 2001. Berbeda 180 derajat dengan masa jihad melawan Soviet, saat Pakistan di bawah Presiden Zia ul Haq menjadi pintu gerbang bantuan luar negeri ke Afghanistan.

Taliban seperti Nabi Yusuf kecil yang ditinggalkan dan dikhianati saudara-saudaranya di dalam sumur invasi Amerika. Tak hanya dibiarkan menghadapi ganasnya kekuatan militer Amerika dan NATO, tapi juga ditikam dari belakang.

Namun Taliban berhasil membuktikan. Bahkan saat semua negeri Muslim tak mau atau tak berani mendukungnya, mereka bisa menguras energi Amerika dan NATO dalam perang 18 tahun.

Allah Maha Adil. Dia menurunkan kesabaran dan kegigihan untuk mengusir penjajah kafir kepada Mujahidin Taliban. Dengan pertolongan-Nya, hingga kini Taliban berhasil merebut kembali sekira 75 persen wilayah pendudukan AS. Kota-kota yang dikuasai AS dan rejim boneka Kabul diperkirakan takkan bisa bertahan lama menahan gempuran Taliban.

Kini Amerika berkomitmen hendak mundur dari Afghanistan. Bahkan Washington seolah tak peduli lagi dengan nasib rejim boneka yang dibentuknya di Kabul. Ketika Presiden Ashraf Ghani menolak membebaskan tawanan Taliban, dan ribut sendiri dengan saingan politiknya dalam pilpres, Amerika menghentikan aliran bantuan dana yang selama ini menjadi penopang bonekanya.

Rejim boneka kehilangan kekuatan penopang. Bantuan keuangan dihentikan oleh Amerika. AS telah mengatakan akan memotong bantuannya ke Afghanistan sebesar $ 1 miliar. Selanjutnya $ 1 miliar dapat dipotong pada tahun 2021. Hal itu menambah kelemahan mereka yang pasti terjadi, setelah penarikan pasukan koalisi AS-NATO tentunya.


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Baca halaman selanjutnya: Keruwetan militer dan politik...

Halaman Selanjutnya 1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suara Pembaca

Agar Lapas Tak Over Crowding

Aji mumpung virus corona, bebaskan napi koruptor. Per Sabtu (04/04/2020), Kemenkumham telah mengeluarkan dan membebaskan 30.432 narapidana dan anak melalui program asimilasi dan integrasi berkenaan dengan virus corona. Dasar hukum yang digunakan Permenkumham 10/2020 dan Kepmenkumham Nomor M.HH-19.PK.01.04.04 Tahun 2020. Keuntungan pembebasan napi selain untuk menekan penyebaran Covid-19 lantaran rutan dan lapas yang over crowding, negara ingin menghemat anggaran sebanyak Rp 260 miliar dari pembebasan 30 ribu lebih narapidana dan napi anak.

Ahad, 12/04/2020 07:14 0

Eropa

WHO Peringatkan Bahaya Pencabutan Dini Pembatasan Covid-19

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat (12/04/2020) memperingatkan negara negara agar lebih hati-hati ketika ingin mencabut pembatasan, yang diberlakukan untuk menekan penyebaran virus corona baru.

Ahad, 12/04/2020 06:35 0

Opini

Menyingkap Tabir Perppu ‘Sapu Jagat’ di Balik Pandemi Corona

Dapat dikatakan Perppu tersebut telah ‘mendompleng’ pandemi COVID-19.

Sabtu, 11/04/2020 22:07 0

Indonesia

Harga Minyak Dunia Anjlok, Pemerintah Diminta Turunkan Harga BBM

"Pemerintah jangan mau ambil untung saja dalam penyediaan BBM bagi rakyat. Ketika harga minyak dunia naik, harga BBM ikut naik"

Sabtu, 11/04/2020 21:45 0

Indonesia

Menyusul Jakarta, Menteri Kesehatan Setuju PSBB Diterapkan di Wilayah Bodebek

Gubernur Jawa Barat telah mengajukan permohonan penetapan PSBB di Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, Kabupaten Bekasi dan Kota Bekasi

Sabtu, 11/04/2020 21:26 0

Indonesia

Badan Geologi: Tak Ada Korelasi Erupsi Anak Krakatau dengan Bunyi Dentuman di Jakarta

Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada Jumat, 10 April 2020 pukul 22.35 WIB

Sabtu, 11/04/2020 12:55 0

Artikel

Pandemi Corona: Menengok Cara Kelompok Jihadis Memenangkan Hati dan Pikiran

Dalam konteks negara-bangsa, negara adalah institusi yang paling bertanggung jawab terhadap ketersediaan layanan publik bagi rakyatnya, seperti sistem pelayanan kesehatan, pendidikan, bahan makanan, transportasi, dan lain-lain.

Sabtu, 11/04/2020 09:26 0

Turki

Terbukti Sembuhkan Pasien Corona, Turki Kembangkan Terapi Plasma

KIBLAT.NET, Istanbul – Plasma atau sel darah yang diambil dari orang yang sembuh dari virus...

Sabtu, 11/04/2020 08:01 0

Yaman

Yaman Laporkan Kasus Pertama Positif Covid-19

Pemerintah Yaman pada Jumat (10/04/2020) melaporkan kasus pertama positif Covid-19 setelah pengumuman gencatan senjata sepihak oleh koalisi Saudi-UEA pada Kamis (09/04/2020).

Sabtu, 11/04/2020 07:37 0

News

Alasan Keamanan, Google Larang Penggunaan ZOOM di Laptop Karyawan

"Google masih akan mengizinkan penggunaan Zoom melalui aplikasi dan browser seluler," tambahnya.

Sabtu, 11/04/2020 06:14 0

Close