Mencari Jalan Tengah dari Pro Kontra Malam Nishfu Sya’ban

KIBLAT.NET – Setiap malam Nisfhu Sya’ban kita selalu disibukkan dengan perdebatan tentang sunnah dan bid’ahnya menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan qiyamullail berjamaah di masjid. Tak jarang perdebatan itu berujung kepada kerasya hati dan tak menemui titik tengah. Padahal bisa jadi perdebatan itu tidak menemukan titik temu karena perbedaan metodologi madrasah tertentu dalam menyimpulkan hukum.

Satu hal yang bisa menjadi titik tolak adalah sebagian besar ulama mazhab berpendapat bahwa malam Nishfu Sya’ban memiliki keutamaan. Namun mereka berbeda dalam hal cara menghidupkan malam Nishfu Sya’ban.

Ibnu Rajab Al-Hanbaly di dalam Lathaiful Ma’arif cukup apik mengulas perbedaan ini, beliau berkata:

Malam Nishfu Syakban, sebagian Tabiin dari negeri Syam semisal Khalid bin Ma’dan, Makhul, dan Luqman bin ‘Amir mengaggungkannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah pada malam itu. Dari merekalah orang-orang setelahnya mengambil keutamaan serta pentakzimannya. Konon yang sampai kepada mereka adalah sejumlah riwayat israiliyat.

Setelah tersohornya amalan mereka tersebut para ulama pun memperselisihkan hukumnya. Di antara mereka ada yang menerima dari mereka dan semisal para ahli ibadah dari Kota Bashrah. Sementara kebanyakan ulama Hijaz semisal ‘Atha dan Ibnu Abi Mulaikah mengingkarinya. Pengingkaran juga diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari para fuqaha Madinah. Itu juga merupakan pendapat para pengikut Imam Malik. Mereka semua berpendapat bahwa hal itu adalah bidah.

BACA JUGA  Hakim Tunggal Anggap Penahanan dan Penersangkaan HRS Sah

Ulama negeri Syam juga memperselisihkan tentang sifat menghidupkan malam Nishfu Syakban menjadi dua pendapat:

Pertama: Disunahkan untuk menghidupkannya dengan qiyamullail di mesjid secara berjamaah. Khalid bin Ma’dan, Luqman bin ‘Amir dan selainnya dulu mengenakan pakaian terbaik, memakai wewangian, serta memakai celak, lalu mereka melaksanakan qiyamullail di dalam itu. Ishaq bin Rahawaih menyetujui amalan mereka dan berpendapat bahwa hal itu bukanlah bidah, sebagaimana dikutip darinya oleh Harb al-Kirmaniy dalam al-Masail.

Kedua: Dimakruhkan qiyamullail, tausiah, dan berdoa secara berjamaah di mesjid tapi tidak dimakruhkan apabila seorang melaksanakan salat di malam Nishfu Sya’ban sendirian. Ini adalah pendapat al-Auza’iy imam dan faqih negeri Syam. Inilah pendapat terdekat (kepada kebenaran). Lathaif al-Ma’arif, hl. 327.

Sebelum beliau, Ibnu Taimiyah berpendapat:

Ketika ditanya tentang salat malam Nisfu Sya’ban, beliau menjawab, “Jika seseorang shalat di malam Nisfu Sya’ban sendirian atau bersama jamaah terbatas sebagaimana dulu dilakukan oleh sejumlah ulama Salaf maka itu adalah hal yang baik. Adapun berkumpul di mesjid-mesjid untuk menunaikan salat dengan jumlah rakaat tertentu seperti seratus rakaat membaca Surah al-Ikhlash seribu kali secara terus menerus maka ini adalah bidah. Tidak seorang pun dari para imam menilainya sebagai sunah. Allahu A’lam.” Majmu’ al-Fatawa, jilid 23, hl. 131.

Pada akhirnya setiap pendapat di atas memiliki ulama sandaran yang jelas kapasitas keilmuan dan kapabel di bidangnya. Sebagaimana masalah khilafiyah lainnya ada baiknya kita melapangkan dada dalam menerima pendapat pihak lain. Wallahu a’lamu bissowab

Penulis: Alee Masaid
Editor: Arju

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat