... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Kisah Turunnya Wahyu Pertama Kepada Rasulullah SAW

Foto: Gua Hira' (Tempat turunnya wahyu pertama)

KIBLAT.NET – Sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul, Muhammad bin Abdullah adalah sosok yang menghimpun sekian banyak kelebihan dari berbagai lapisan manusia selama pertumbuhannya. Beliau menjadi sosok unggul dalam pemikiran jitu, pandangan lurus, mendapat sanjungan kecerdikan, kelurusan pemikiran, pencarian sarana dan tujuan. Beliau lebih suka berdiam lama untuk mengamati, memusatkan pikiran dan menggali kebenaran. Dengan akalnya mengamati keadaan negerinya. Dengan fitrah sucinya mengamati lembaran kehidupan, keadaan manusia dari berbagai golongan.

Beliau risih terhadap khurafat dan menghindarinya. Berhubungan dengan manusia, dengan mempertimbangkan keadaan dirinya dan keadaan mereka. Selagi mendapatkan yang baik, maka bersekutu di dalamnya. Jika tidak, maka lebih suka dengan kesendiriannya. Beliau tidak minum khmar, tidak makan daging hewan yang disembelih untuk dipersembahkan kepada berhala, tidak menghadiri upacara atau pertemuan untuk menyembah patung.

Bahkan sejak kecil senantiasa menghindari jenis penyembahan yang batil, sehingga tidak ada sesuatu yang lebih beliau benci selain penyembahan kepada patung-patung ini, dan hampir-hampir tidak sanggup menahan kesabaran tatkala mendengar sumpah yang disampaikan kepada Lata dan Uzza.

Di Gua Hira’

Ketika usia Rasulullah telah mendekati 40 tahun, beliau lebih senang mengasingkan diri. Itu dilakukan setelah melalui perenungan yang lama dan terjadi jurang pemisah antara pemikirannya dan kaumnya. Dengan membawa roti dari gandum dan air, beliau pergi ke Gua Hira’ di Jabal Nur, yang jaraknya kira-kira 2 mil dari kota Mekkah. Sebuah gua yang tidak terlalu besar, yang panjangnya 4 hasta, lebarnya 1,75 hasta dengan ukuran zira’ al-Hadid (hasta ukuran besi).

Keluarga beliau terkadang menyertai ke sana. Selama Ramadhan beliau berada di gua ini, dan tidak lupa memberikan makanan pada setiap orang miskin yang juga datang ke sana. Beliau menghabiskan waktunya untuk beribadah, memikirkan keagungan alam di sekitarnya dan kekuatan tidak terhingga di balik alam. Beliau tidak pernah merasa puas melihat keyakinan umatnya yang penuh dengan kemusyrikan dan segala persepsi yang tidak pernah lepas dari takhayul. Sementara itu, di hadapannya juga tidak ada jalan yang jelas dan mempunyai batasan-batasan tertentu, yang bisa menghantarkan kepada keridhaan dan kepuasan hatinya.

Pilihan beliau untuk mengasingkan diri ini termasuk satu sisi dari ketentuan Allah Ta’ala atas dirinya, sebagai langkah persiapan untuk menerima urusan besar. Ruh manusia mana pun yang realitas kehidupannya akan disusupi suatu pengaruh dan di bawa ke arah lain, maka ruh itu harus dibuat kosong dan mengasingkan diri untuk beberapa saat. Dipisahkan dari berbagai kesibukan duniawi dan gejolak kehidupan serta kebisingan manusia yang membuat sibuk pada urusan kehidupan.

Begitulah Allah mengatur dan mempersiapkan kehidupan Rasulullah  untuk mengemban amanat besar, mengubah wajah dunia dan meluruskan garis sejarah. Allah telah mengatur pengasingan ini selama 3 tahun bagi Rasulullah  sebelum membebaninya dengan risalah. Beliau pergi untuk mengasing diri ini selama jangka waktu sebulan, dengan disertai ruh yang suci sambil mengamati kegaiban yang tersembunyi di balik alam nyata, hingga tiba saatnya untuk berhubungan dengan kegaiban itu tatkala Allah telah mengizinkannya.

Jibril Turun Membawa Wahyu

Tatkala usia beliau genap empat puluh tahun—yang merupakan awal usia kematangan, dan ada riwayat yang menyatakan bahwa pada usia inilah para Rasul diutus—tanda-tanda nubuwah (kenabian) sudah tampak dan mengemuka. Di antaranya, adanya sebuah batu di Mekkah yang mengucapkan salam kepada beliau, terjadinya ru’ya shadiqah (mimpi yang benar) yang datang berupa fajar Subuh yang menyingsing. Hal ini berlangsung hingga enam bulan—masa kenabian berlangsung selama 23 tahun—dan ru’ya shadiqah ini merupakan bagian dari empat puluh enam tanda kenabian. Ketika memasuki tahun ketiga dari pengasingan dirinya di Gua Hira’, tepatnya di bulan Ramadhan, Allah menghendaki rahmat-Nya dilimpahkan kepada penduduk bumi dengan memberikan kemuliaan kepada beliau, berupa pengangkatan sebagai Nabi dan menurunkan Jibril kepadanya dengan membawa beberapa ayat Al-Qur’an.

BACA JUGA  Malcolm X: Figur Perlawanan Rasisme di AS

Setelah melalui pengamatan dan perenungan terhadap beberapa bukti dan tanda akurat, syaikh Shafiyurrahman Al-Maubarakfurry dapat menentukan persisnya pengangkatan tersebut, yaitu hari Senin, tanggal 21 malam bulan Ramadhan dan bertepatan dengan tanggal 10 Agustus tahun 610 M. Tepatnya usia beliau saat itu 40 tahun 6 bulan 12 hari menurut penanggalan qamariyah dan sekitar 39 tahun 3 bulan 20 hari; ini menurut penanggalan syamsiyah.

Ummul Mukmini Aisyah  menuturkan kisahnya  mengenai peristiwa yang merupakan permulaan nubuwah tersebut dan yang mulai membuka tabir-tabir gelapnya kekufuran dan kesesatan, sehingga dapat mengubah alur kehidupan dan meluruskan garis sejarah. Aisyah  berkata, “Wahyu yang mula pertama dialami oleh Rasulullah adalah berupa ru’ya shalihah (mimpi yang benar) dalam tidur dan mimpi itu hanya berbentuk fajar Subuh yang menyingsing, kemudian beliau lebih menyenangi penyendirian dan melakukannya di Gua Hira’; beribadah di dalamnya beberapa malam sebelum dia kembali ke rumah keluarganya.

Dalam melakukan itu, beliau mengambil bekal kemudian kembali ke Khadijah mengambil perbekalan yang sama hingga datang kebenaran kepadanya; yaitu saat beliau berada di gua Hira’ tersebut, seorang malaikat datang menghampiri sembari berkata, ‘Bacalah!’

Aku (Rasulullah) menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca!’

Beliau menuturkan, ‘Kemudian dia memegang dan merengkuhku hingga aku kehabisan bertenaga, lalu setelah itu melepaskanku sembari berkata, ‘Bacalah!’ Aku tetap menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca!’

Dia memegangku dan merangkulku hingga aku merasa sesak. Kemudian melepaskanku, seraya berkata lagi, ‘Bacalah!’

Aku menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca.’

Dia memegangiku dan merangkulku hingga ketiga kalinya hingga aku merasa sesak, kemudian melepaskanku, lalu berkata

Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah. (Al-‘Alaq: 1-3).6

Rasulullah pulang dengan merekam bacaan tersebut dalam kondisi hati yang bergetar, dan menemui Khadijah binti Khuwailid sembari berucap, “Selimutilah aku, selimutilah aku!” maka beliau diselimuti hingga badan beliau tidak lagi menggigil layaknya terkena demam.

“Apa yang terjadi padaku?” beliau berkata kepada Khadijah. Beliau memberitahukan apa yang baru saja terjadi. Beliau bersabda, “Aku khawatir terhadap keadaan diriku sendiri.”

Khadijah berkata, ”Tidak Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, karena engkau suka menyambung tali persaudaran, membantu meringankan beban orang lain, memberi makan orang yang miskin, menjamu tamu, dan menolong orang yang menegakkan kebenaran.”

Selanjutnya Khadijah binti Khuwailid membawa beliau pergi menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, anak paman Khadijah. Waraqah adalah seorang Nasrani semasa Jahiliyah. Dia menulis buku dalam bahasa Ibrani dan juga menulis Injil dalam bahasa Ibrani seperti yang dikehendaki Allah. Dia sudah tua dan buta.

Khadijah binti Khuwailid berkata kepada Waraqah, ”Wahai putra pamanku, dengarkanlah kisah dari anak saudaramu (Rasulullah).”

Waraqah berkata kepada beliau, ”Apa yang pernah engkau lihat, wahai putri saudaraku?” Rasulullah  mengabarkan apa saja yang pernah dilihatnya.”

Akhirnya Waraqah berkata, “Ini adalah Namus yang diturunkan Allah kepada Musa. Andaikan saja aku masih muda pada masa itu. Andaikan saja aku masih hidup tatkala kaummu mengusirmu.”

Beliau bertanya. “Benarkah mereka akan mengusirku?”

“Benar. Tidak seorang pun yang membawa seperti yang engkau bawa melainkan akan dimusuhi. Andaikan aku masih hidup pada masamu nanti, tentu aku akan membantumu dengan sungguh-sungguh.” Waraqah pun meninggal dunia pada saat-saat turun wahyu.7

BACA JUGA  Kasus Qidam Mandek di Tangan Aparat, Irwan Mowance: Saya Akan Cari Jalan Lain

Ath-Thabari dan Ibnu Hisyam meriwayatkan, yang intinya menjelaskan bahwa beliau pergi meninggalkan Gua Hira’ setelah mendapat wahyu, lalu menemui istri beliau dan pulang ke Mekkah. Adapun riwayat Ath-Thabrani menyebutkan secara sekilas sebab keluarnya beliau dari Gua Hira.’ Inilah riwayatnya:

Rasulullah  bersabda, “Tidak ada makhluk Allah yang paling kubenci selain dari penyair atau orang yang tidak waras. Aku tidak kuat untuk memandang keduanya.“ Beliau juga bersabda, “Yang paling ingin aku jauhi adalah penyair atau orang yang tidak waras. Sebab, orang-orang Quraisy senantiasa berbicara tentang diriku dengan syair itu. Rasanya ingin aku mendaki gunung yang tinggi, lalu menerjunkan diri dari sana agar aku mati saja, sehingga aku bisa istirahat dengan tenang.”

Beliau bersabda lagi, “Aku pun pergi dan hendak melakukan hal itu. Namun, di tengah gunung, tiba-tiba aku mendengar suara yang datangnya dari langit, berkata, “Wahai Muhammad, engkau adalah Rasul Allah, dan aku Jibril.”

Aku mendongakkan kepala ke arah langit, yang ternyata di sana ada Jibril dalam rupa seorang laki-laki dengan wajah yang berseri, kedua telapak kakinya menginjak ufuk langit, seraya berkata, “Wahai Muhammad, engkau adalah Rasul Allah dan aku Jibril.”

Aku berdiam diri sambil memandangnya, bingung apa yang hendak aku kerjakan, tidak berani melangkah maju atau mundur. Aku memalingkan wajah dari arah yang ditempati Jibril di ufuk langit. Tetapi, setiap kali aku memandang arah langit yang lain, di sana tetap ada Jibril yang kulihat. Aku tetap diam, tidak selangkah kaki pun maju ke depan atau surut ke belakang, hingga akhirnya Khadijah binti Khuwailid mengirim beberapa orang untuk mencariku. Bahkan, mereka sampai ke Mekkah dan kembali lagi menemui Khadijah tanpa hasil, padahal aku tetap berdiri seperti semula di tempatku berdiri. Kemudian Jibril pergi dariku dan aku pun pulang kembali menemui keluargaku.

Sesampainya di rumah aku langsung duduk di atas paha Khadijah sambil bersandar kepadanya. Khadijah berkata, “Wahai Abul Qasim, ke mana saja engkau tadi? Demi Allah, aku telah mengirim beberapa orang untuk mencarimu hingga mereka sampai di Mekkah, namun kembali lagi tanpa hasil.”

Kemudian aku memberitahukan apa yang telah aku lihat. Dia berkata, “Bergembiralah, wahai anak pamanku, dan teguhkanlah hatimu. Demi diri Khadijah yang ada di Tangan-Nya, aku benar-benar sangat berharap engkau menjadi Nabi umat ini.”

Setelah itu Khadijah beranjak pergi untuk menemui Waraqah dan mengabarkan kepadanya. Waraqah berkata, “Mahasuci, Mahasuci. Demi diri Waraqah yang ada di Tangan-Nya, Namus Yang Besar, yang pernah datang kepada Musa, kini telah datang kepadanya. Dia adalah benar-benar nabi umat ini. Katakanlah kepadanya agar dia berteguh hati.”

Khadijah pulang lalu mengabarkan apa yang dikatakan Waraqah kepadanya. Tatkala Rasulullah meninggalkan istrinya dan pergi ke Mekkah, beliau bertemu Waraqah. Setelah mendengar penuturan langsung dari beliau, Waraqah berkata, “Demi diriku yang ada di Tangan-Nya, engkau adalah benar-benar nabi umat ini. Namus yang besar telah datang kepadamu, seperti yang pernah datang kepada Musa.”

Setelah itu terjadi masa terputusnya wahyu, bagaimanakah kondisi Rasulullah di masa vakum itu? Bersambung di edisi selanjutya.

 

Redaktur : Dhani El_Ashim

Sumber : Ar-Rahiq Al-Makhtum Bahtsun fis Siratin Nabawiyyati ‘ala Shahibiha Afdhalush Shalati was Sallam, karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

MUI: Penolakan Jenazah Korban Covid-19 Tak Beralasan Secara Agama dan Medis

MUI menilai terjadi salah paham di masyarakat terkait adanya penolakan jenazah korban Covid-19

Kamis, 09/04/2020 08:35 0

Indonesia

Sebagai Daerah Penopang, Kabupaten Bekasi Juga Ajukan PSBB

Pemerintah Kabupaten Bekasi secara resmi telah mengajukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ke Pemerintah Pusat melalui Gubernur Jawa Barat.

Kamis, 09/04/2020 07:58 0

Indonesia

Anies Berlakukan PSBB Mulai Jumat Dini Hari, Berikut Garis Besarnya

Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan mengatakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akan diberlakukan mulai Jumat (10/04/2020) dini hari.

Kamis, 09/04/2020 07:00 0

Amerika

Pandemi Corona Mengancam Mata Pencaharian Jutaan Orang

Menurut perkiraan Organisasi Buruh Internasional PBB, epidemi mengancam 195 juta pekerjaan pada kuartal kedua, karena perusahaan dan pabrik ditutup. Perkiraan ILO didasarkan pada dampak virus, dengan hilangnya 25 juta pekerjaan sepanjang tahun 2020.

Rabu, 08/04/2020 20:10 0

News

WhatsApp Kini Batasi Layanan “Pesan Diteruskan”, Ini Alasannya

Aplikasi WhatsApp pada Selasa (07/04/2020), menekankan pembatasan fitur "pesan diteruskan" bagi penggunanya hanya satu pesan dalam setiap percakapan. Hal ini dilakukan setelah maraknya penyebaran berita medis hoaks terkait virus corona.

Rabu, 08/04/2020 19:55 0

Inggris

Radio BBC Siarkan Shalat Jumat di Tengah Pandemi Corona

Umat Islam di Inggris kini dapat mendengarkan shalat Jumat yang disiarkan di radio BBC untuk pertama kalinya.

Rabu, 08/04/2020 19:46 0

Indonesia

Aneh, Mahfud MD Ngaku Dihubungi Napi Korupsi Lewat Whatsapp

Menkopolhukam Mahfud MD, menyebutkan bahwa keputusan untuk memberi remisi atau pembebasan bersyarat kepada narapidana merupakan keputusan rapat terbatas kabinet.

Rabu, 08/04/2020 18:31 0

Indonesia

Surat Telegram Kapolri Soal Penginaan Presiden Berpotensi Penyalahgunaan Kekuasaan

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesai Usman Hamid merespon diterbitkannya surat telegram Kapolri tentang pedoman pelaksanaan tugas fungsi reserse kriminal

Rabu, 08/04/2020 15:28 3

Afrika

AS Klaim Lumpuhkan Salah Satu Pendiri Al-Shabaab Somalia

"Pemimpin Yusuf Jais bertanggung jawab atas pertumpahan darah orang-orang tak bersalah, dan kematiannya akan berkontribusi pada stabilitas Somalia dan negara-negara tetangga," kata jenderal AS, Stephen Townsend, dalam pernyataan itu.

Rabu, 08/04/2020 11:45 0

Afghanistan

Tangguhkan Negosiasi, Taliban Tarik Timnya dari Kabul

Pengumuman ini dikeluarkan beberapa jam setelah gerakan tersebut menangguhkan pembicaraan tentang pertukaran tahanan dengan pemerintah Afghanistan.

Rabu, 08/04/2020 08:35 0

Close