... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

KAMMI Sebut Tenaga Kesehatan Berguguran Karena Negara Lalai, Desak Jokowi Minta Maaf

Foto: Tenaga kesehatan berguguran akibat Covid-19

KIBLAT.NET, Jakarta – Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) mendesak Presiden Jokowi segera meminta maaf atas meninggalnya banyak tenaga kesehatan akibat menangani pasien COVID-19. Ketua Umum PP KAMMI Elevan Yusmanto menyebut hal itu terjadi akibat negara tidak hadir untuk melindungi tenaga kesehatan dengan baik dalam menangani pasien COVID-19.

“Presiden Jokowi harus minta maaf secara langsung kepada keluarga korban, juga pada rekan sejawat para tenaga kesehatan yang meninggal dunia itu, sebagai tanggungjawab moral lalainya negara dalam melindungi mereka,” ujar Elevan melalui pernyataan tertulisnya pada Senin (6/4) di Jakarta.

Satuan Tugas KAMMI COVID-19 mencatat, setidaknya per 6 April 2020, sekurang-kurangnya 30 tenaga kesehatan telah meninggal dunia akibat COVID-19 (14% total kematian), terdiri dari 24 dokter dan 6 perawat.

Elevan menambahkan, KAMMI telah mewanti-wanti Presiden sejak awal agar bertindak cepat dan tepat menangani COVID-19, termasuk mengeluarkan 9 Ultimatum untuk Jokowi.

“Menindaklanjuti Ultimatum KAMMI kepada Presiden Republik Indonesia tanggal 30 Maret 2020, pada poin ultimatum ke-7, KAMMI meminta dengan tegas agar Presiden melakukan pelindungan terhadap tenaga kesehatan yang bertugas sesuai dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan,” ujar Elevan.

Sebab, tambah Elevan, tenaga kesehatan adalah tulang punggung sistem kesehatan negara di tengah pandemi, sekaligus kelompok yang paling rentan terinfeksi karena tingginya intensitas kontak dengan pasien.

BACA JUGA  Global Qurban-ACT Bantu Sesama di Tengah Pandemi Covid-19

“Namun, setelah 7 x 24 jam sejak ultimatum dilayangkan, KAMMI belum melihat upaya serius Presiden beserta jajarannya untuk memenuhi poin ultimatum tersebut,” kata Elevan.

Sementara Koordinator Kebijakan Kesehatan SATGAS KAMMI COVID-19 Gading Ekapuja Aurizki, S.Kep, Ns menyebut selain yang sudah tercatat gugur, sangat banyak tenaga kesehatan yang positif terinfeksi COVID-19, menjadi orang dalam pemantauan (ODP), dan pasien dalam pengawasan (PDP), yang jumlahnya tidak bisa dihitung karena tidak adanya transparansi data dari Pemerintah.

“Kemungkinan penyebab tingginya angka kematian dan infeksi pada tenaga kesehatan tersebut adalah lambannya respons Pemerintah pada masa awal wabah, kurangnya alat pelindung diri (APD), serta membludaknya jumlah pasien,” ujar Gading ysng merupakan Mahasiswa Pascasarjana University of Manchester ini.

Gading menambahkan, Presiden melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPPU) Nomor 1 Tahun 2020 telah melakukan refocusing anggaran, salah satunya di bidang kesehatan yakni sebesar 75 triliun yang mencakup pembelian alat kesehatan, APD, testing kit, serta insentif dan santunan bagi tenaga kesehatan.

“Namun, alokasi anggaran saja tidak cukup untuk menyelamatkan tenaga kesehatan kita. Tenaga kesehatan ibarat penjaga gawang yang merupakan benteng pertahanan terakhir dari strategi kita melawan pandemi COVID-19. Oleh karena itu, upaya pertahanan harus dimulai dari di lini depan, yakni usaha promotif dan preventif di masyarakat, agar jumlah pasien yang ditangani di fasilitas layanan kesehatan tidak membludak,” tegasnya.

BACA JUGA  Idul Fitri dan Pandemi Covid-19

Menurutnya, dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020, Pemerintah telah memilih Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai strategi utama untuk menangani pandemi COVID-19. Namun, Pemerintah belum tegas dalam penerapannya, terutama pembatasan mobilisasi masyarakat dalam menyambut musim mudik lebaran yang sebentar lagi akan tiba.

Selain itu, tambah Gading, rendahnya jumlah tes juga menyebabkan banyaknya ODP dan PDP yang belum jelas status diagnosisnya, serta orang positif COVID-19 yang masih bebas tanpa pengawasan. “Hal ini akan menyulitkan dan membahayakan tenaga kesehatan saat bertugas menangani pasien,” ujarnya.

“Oleh karena itu, KAMMI mendesak Pemerintah untuk melindungi tenaga kesehatan dengan menjamin kelengkapan APD, mengatur dan memperbaiki alur penanganan pasien dan/atau orang dengan gejala COVID-19 difasilitas layanan kesehatan, melipatgandakan usaha pendeteksian kasus COVID-19, serta bersikap tegas dan konsisten dalam penerapan PSBB,” tegas Gading.

Reporter: Imam S.


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Artikel

Solidaritas Untuk Umat Islam Suriah

Mendengar dan membaca berita mengenai umat muslim Suriah sangat menyedihkan dan memprihatikan kita. Bagaimana tidak, saudara-saudara kita muslim Suriah mengalami penderitaan yang luar biasa. Ratusan ribu umat Islam Suriah dibunuh dan dibantai dengan sadis dan biadab oleh militer rezim Syiah Basyar Assad dan sipil Syiah Suriah yang dibantu oleh rezim Syiah Iran dan komunis Rusia. Umat Islam Suriah kehilangan keluarga, harta, dan rumah, bahkan nyawa mereka. Keluarga mereka dibunuh. Harta mereka dirampas. Rumah dan desa mereka dibakar. Kehormatan muslimah mereka dilecehkan. Muslimah mereka diperkosa sampai mati di depan ayah, suami, dan saudaranya.

Senin, 06/04/2020 14:26 0

Afghanistan

AS Langgar Perjanjian, Taliban Ancam Tingkatkan Pertempuran

pada warga sipil. Sementar itu pemerintah Afghanistan juga menunda pembebasan 5.000 tahanan Taliban yang dijanjikan sesuai kesepakatan.

Senin, 06/04/2020 11:04 0

Opini

Darurat Corona Akankah Menjadi Darurat Negara?

Perppu Nomor 1 Tahun 2020 tidak menentukan parameter waktu keberlakuannya

Senin, 06/04/2020 10:43 0

Turki

Pasien Sembuh 1.000 Lebih, Tren Covid-19 di Turki Menurun di Awal April

Sejauh ini, 1.042 pasien telah pulih dan dipulangkan dari rumah sakit, sementara 1.381 pasien saat ini menerima perawatan intensif.

Senin, 06/04/2020 09:59 0

Artikel

Belanja Bahan Makanan Saat Pandemi Corona, Jangan Lupa Dibersihkan

Pandemi corona membuat orang-orang lebih banyak berdiam di dalam rumah. Sesuai anjuran pemerintah, ahli medis, dan para pemuka agama, tak perlu banyak keluar rumah kecuali untuk hal-hal yang bersifat mendesak seperti mencari perawatan medis dan berbelanja bahan makanan.

Ahad, 05/04/2020 12:30 0

News

Google Bisa Tahu Tingkat Kepatuhan Warga Negara terhadap Aturan Lockdown

KIBLAT.NET, Washington – Google Alphabet Inc telah menerbitkan grafik yang menunjukkan bahwa virus corona telah...

Sabtu, 04/04/2020 10:07 0

Suriah

Turki: Bukan Corona, Masalah Utama Pengungsi Suriah adalah Kebutuhan Pokok

KIBLAT.NET, Idlib – Pandemi virus corona bukan menjadi masalah utama yang dihadapi warga sipil di...

Sabtu, 04/04/2020 08:51 0

Feature

Corona, Antara Uang dan Relasi

Kalau berangkat ke Rumah Sakit rujukan, gak kebayang antriannya, juga resikonya. Antriannya pasti mengular. Resiko jadi ODP atau malah PDP di depan mata. Belum lagi biayanya. Belum lagi stigmanya.

Jum'at, 03/04/2020 21:42 0

Analisis

Darurat Sipil di Tengah Wabah Corona dan Kegagalan Mao Zedong

Mungkin mereka berpikir, mana ada penguasa yang tega mengorbankan rakyatnya demi kekuasaan di zaman modern seperti sekarang?

Jum'at, 03/04/2020 20:37 0

Arab Saudi

Ibadah Haji Pernah Ditiadakan, Ini Riwayat dan Alasannya

Ibadah Haji Pernah Ditiadakan, Ini Riwayat dan Alasannya

Jum'at, 03/04/2020 16:44 0

Close