Corona, Antara Uang dan Relasi

Oleh: Fajar Shadiq

KIBLAT.NET – Kejadian baru-baru ini membuat saya teringat pada satu pertanyaan besar: “Mana yang lebih penting, uang atau relasi?”

Ceritanya begini. Ketika awal Maret kasus no 1 Corona dilaporkan, saya seharusnya sudah terbang ke luar negeri. Qadarullah, muncul pengumuman dan sudah semestinya pemberangkatan dibatalkan.

Tapi awal bulan itu, saya kadung bolak-balik naik pesawat ke salah satu kota yang kini juga berstatus zona merah. Artinya, menurut aplikasi Halodoc yang punya kuesioner penguji kerawanan Covid-19, saya dikategorikan termasuk yang beresiko tinggi kena Corona.

Apalagi, gak lama setelah pulang dari bandara, saya merasakan gejala ringan berupa batuk. Kalau lagi apes, batuknya berat sampe mual. Semua isi perut bisa keluar. Gejala itu menurut Mbah Google, bisa jadi kena ISPA alias infeksi saluran pernapasan akut.

Masalahnya, ini lagi musim wabah, akhirnya saya dan keluarga jadi agak sedikit paranoid. Jangan-jangan.. Jangan-jangan..

Saya langsung putar otak. Membayangkan segala macam skenario. Kalau berangkat ke Rumah Sakit rujukan, gak kebayang antriannya, juga resikonya. Antriannya pasti mengular. Resiko jadi ODP atau malah PDP di depan mata. Belum lagi biayanya. Belum lagi stigmanya.

Tapi kalo gak periksa, kesehatan seluruh keluarga jadi taruhannya. Kan, seperti makan buah sikorma-korma.. Maju kena mundur kena. Diam, ditilang Pak Kumis Baplang.

Akhirnya, saya membuka lis kontak di hape. Kira-kira siapa yang bisa dijadikan rujukan untuk bertanya. Kemudian, saya teringat satu nama kerabat. Bulan lalu beliau baru saja diwisuda dari kampus kuning menjadi spesialis paru. Beliau, sempat dinas juga di RS Persahabatan yang kini banyak menampung korban Corona.

Dia usul supaya saya segera cek lab. Karena dari gejala yang ada bisa saja saya memang sudah ODP (Orang Dalam pengawasan). Sebanyak 80% dari yang terkena wabah Corona dilaporkan  memang mengalami gejala ringan seperti batuk, pilek dan radang tenggorokan. Perburukan bisa terjadi jika pasien mengalami sesak napas atau demam tinggi.

BACA JUGA  Sejumlah Tokoh Bentuk TP3, Advokasi Kasus Penembakan Laskar

Beberapa tes akhirnya saya lakukan. Rontgent thorax, tes darah lengkap, sekaligus CRP. Hasilnya saya oper ke beliau.

Sehari menunggu terasa setahun. Waktu berjalan terasa lambat. Hati dag-dig-dug gak karuan. Perasaan tak sabar menunggu hasil keluar. Meski cuma 24 jam lamanya.

“Alhamdulillah, normal semua gan!” Begitu jawaban dari seberang. Hasil lab langsung saya umumkan di grup keluarga. Bahagia. Lega rasanya.

Kebahagiaan saya tak berapa lama. Apalagi setelah membaca hasil kajian Tim Peneliti Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia yang nyatakan: dalam skenario paling moderat, puncak pandemik baru akan berakhir pertengahan April 2020 ini. Artinya, badai belum berlalu.

Kendati begitu saya masih tetap bersyukur. Musababnya, saya diberi rizki mempunyai kerabat yang baik, menawarkan solusi dalam kondisi tak karuan, bahkan konsultasi gratis. Saya membayangkan pasti banyak orang yang sedang mengalami gejala serupa tapi bingung harus bersikap apa. Bagai makan buah sikorma-korma.

Punya uang di masa seperti ini pun bukan jadi jaminan pemecah kebuntuan. Materi dan harta hanya bisa menjadi solusi dalam kondisi yang stabil. Apalagi bencana wabah meningkatkan potensi inflasi juga kerusuhan. Artinya, uang kita hari ini bisa jadi besok tak laku lagi. Yang berharga adalah air bersih, beras dan sabun cuci tangan.

Kabar dari kerabat tadi, semua dokter spesialis paru di negeri dongeng bukan hanya direpotkan oleh pasien Covid-19. Tapi juga tekanan bahkan paksaan dari para pejabat tinggi yang meminta agar keluarga dan koneksinya yang menjadi pasien PDP Corona agar didahulukan penanganannya. Lagi-lagi, di masa krisis, kemapanan materi tak selalu berarti.

BACA JUGA  Buktikan Cintamu untuk Gempa Majene & Mamuju Sulbar

Sementara itu, relasi dan jalinan persaudaraan (ukhuwah) lebih bisa diandalkan di kala sulit. Di masa ini, lawan dan kawan terlihat jelas. Kesetiakawanan teruji. Keimanan terbukti.

Jadi kalau pertanyaan di awal diulang kembali, bagi saya, setidaknya, sangat jelas. Relasi lebih penting daripada materi.

 

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat