... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Lockdown, Simalakama bagi Jokowi

Foto: Jokowi tolak karantina wilayah atau lockdown pasca wabah corona.

Oleh: Ray Adi Basri, pengamat masalah sosial

KIBLAT.NET – Peribahasa lama menggambarkan pilihan yang sama-sama sulit seperti makan buah Simalakama. Dimakan bapak mati, tak dimakan ibu mati. Dua-duanya sama-sama sulit dan beresiko untuk diambil. Inilah yang agaknya menghantui pemerintahan presiden Jokowi dalam menghadapi wabah Corona hari ini.

Meluasnya penularan wabah CoVID-1 di Indonesia semakin memicu kekhawatiran. Apalagi pemerintah terkesan lamban merespon. Dari blunder kebijakan yang telat menutup pintu penyebaran dari luar negeri hingga sikap ngotot untuk tak melakukan lockdown seperti negara-negara lain.

Bukankan syariat Islam mengajarkan karantina dan lockdown? Memang benar. Namun perlu disadari bahwa syariat Islam bukanlah konstitusi di negeri ini. Presiden Jokowi sendiri seorang Muslim, tapi menjadi Muslim tidaklah otomatis membuat seseorang yakin dengan solusi syariat.

Beragam alasan disampaikan pemerintah, Presiden Jokowi misalnya beralasan bahwa tiap negara punya karakter khas sendiri-sendiri. Meski tak dijelaskan spesifik, Jokowi seolah menyatakan bahwa lockdown tak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia.

Sisi apakah yang tak sesuai? Disiplin dan ketaatan masyarakat pada regulasi? Pengalaman menunjukkan, justru warga Indonesia dikenal paling tertib, teratur dan disiplin saat menunaikan ibadah haji. Masyarakat luar negeri sampai pemerintah Arab Saudi sampai memuji disiplin jamaah asal Nusantara.

Meski tak terucapkan, barangkali keraguan menerapkan lockdown terkait rendahnya legitimasi pemerintahan Jokowi pada periode kedua. Terkait erat dengan proses pemilihan presiden yang penuh pro kontra dan keributan. Juga kondisi ekonomi negara yang tak kunjung “meroket” seperti yang dijanjikan.

Pemerintahan yang legitimasinya rendah tak akan berani mengambil langkah yang drastis dan ekstrem. Jika langkah itu atau dampaknya ditentang publik, lalu berkembang jadi gejolak politik dan sosial, maka eksistensi rejim bisa terancam. Entah karena kudeta, pemakzulan konstitusional ataupun revolusi sosial. Semuanya resiko buruk bagi penguasa.

Apalagi pilihan lockdown secara nasional dan total sangat berat resiko ekonominya. Pemerintah harus menanggung beban ekonomi, minimal pangan, rakyat yang tak bisa bekerja dan mendapat penghasilan karena tak bisa keluar rumah.

Maklum, kebanyakan rakyat Indonesia bukan kelas pekerja otak yang bisa bekerja dari rumah. Kebanyakan masih kelas pekerja otot, harus bekerja di luar rumah kalau ingin mendapat penghasilan untuk makan sehari-hari.

Ekonomi yang selama ini selalu dalam status quo memburuk, bahkan nilai Rupiah jatuh sangat. Hal itu menambah keruwetan situasi. Harga-harga kebutuhan jelas akan naik. Pemerintah masih harus menanggung beban ekonomi rakyat kecil yang tak bisa bekerja jika lockdown diterapkan.

BACA JUGA  Kiblatorial: Kisruh Tentara Urus Dakwah

Survival Mandiri

Saat negara gagal menjaga rakyatnya dari wabah berbahaya dengan regulasi yang tegas, mungkinkah daerah dan masyarakat melakukan lockdown mandiri? Bisa saja. Namun daerah sudah dilarang menerapkan lockdown tanpa restu pemerintahan pusat.

Di level masyarakat, yang menjadi persoalan adalah interaksi dan kemampuan survivalnya. Orang bisa saja mengunci diri di rumah masing-masing, tetapi tradisi interaksi kita tak memungkinkan untuk mengusir tamu, menolak undangan hajatan dan momen sosial keluarga lainnya.

Di sisi lain, mengunci diri di rumah mengharuskan setiap keluarga memiliki persediaan kebutuhan yang cukup. Beras, bahan bakar, lauk-pauk dan sayur-mayur. Semuanya harus bisa tersedia dalam jumlah yang cukup selama masa lockdown.

Yang menyedihkan, bangsa ini sebenarnya sudah dimatikan kemampuan survival mandirinya. Dahulu petani menanam sendiri padi, memanen gabah, menjual sebagian dan menyimpan sebagiannya untuk cadangan di lumbung. Lumbung menjadi persediaan bahan pokok di masa sulit.

Sekarang, pertanian bukan sektor yang bisa diandalkan. Pola hidup konsumtif yang dikampanyekan secara masif membuat orang berorientasi bukan pada kemampuan bertahan hidup, tetapi pada mengikuti tren. Maka uang lebih penting daripada gabah dan beras, petani tak lagi menyimpan padi di lumbung tetapi menjualnya agar bisa memiliki uang.

Lumbung pun kosong atau bahkan dihilangkan. Berganti garasi untuk memarkir mobil. Buat apa repot-repot menyimpan gabah kalau tinggal beli di pasar atau toko sembako? Maka pasar menjadi tumpuan utama ketahanan pangan. Suatu hal yang logis dalam ekonomi modern.

Masalahnya, pasar juga tidak berorientasi pada ketahanan pangan dan bertahan hidup. Pasar dan pelakunya sangat pragmatis. Jika beras petani sedikit, datangkan dari negeri lain. Maka harga beras dalam negeri anjlok, petani rugi. Orang pun jadi malas bertani dan menanam bahan pokok. Buat apa capek-capek menanam seuatu yang harganya murah dan hasilnya sedikit?

Selain bahan pokok berupa beras di lumbung, dahulu keluarga Indonesia memiliki cadangan lauk sumber protein mandiri. Memelihara ayam, telurnya bisa dimakan, dagingnya jadi sumber lauk istimewa. Dalam situasi butuh, bisa dijual untuk membayar SPP anak sekolah. Namun tradisi itu kini menghilang.

Awalnya ketika berjangkit Flu Burung menyebar dari Cina, mulai tahun 1996 lalu. setelah menyebar ke banyak negeri, hampir seluruh ternak warga di perkampungan terjangkit. Maka ternak rumahan dimusnahkan, memelihara ayam di pemukiman warga dianggap sumber penyakit.

BACA JUGA  FPI, GNPF Ulama dan PA 212 Minta Pilkada 2020 Ditunda

Maka tiada lagi daging dan telur kecuali beli. Ayam potong dan telur ayam ras dari peternakan besar. Ada uang ada barang. Jika barang langka atau disembunyikan, harga meroket tajam. Polanya selalu berulang menjelang lebaran, atau momen-momen tahunan saat orang butuh protein tambahan berupa lauk istimewa.

Tiadanya sumber mandiri membuat masyarakat tergantung pada pasar. Produksi yang tak memenuhi kebutuhan mendorong arus impor dari luar negeri. Pragmatisme impor yang berlanjut pada ketiadaan bahan pangan lokal terjadi pada semua jenis barang.

Gula, garam, tekstil, mainan anak dan semua kebutuhan. Pasar memang dibanjiri barang dengan harga terjangkau, tetapi semuanya hasil impor. Produk negeri lain yang sukses menggenjot produksi yang menekan harga.

Bangsa Konsumen

Jadilah bangsa ini jadi bangsa pemakai, pembeli yang tak mampu mengadakan keperluannya sendiri. Bahkan pada sisi dasar seperti pangan. Tergantung pada negeri dan bangsa lain yang menjadi produsen dan membanjiri pasar dengan produk mereka.

Ketergantungan itu mungkin tak begitu terasa dalam situasi normal dan lancar. Roda ekonomi berputar tanpa gangguan. Asal ada uang, semua kebutuhan bisa dibeli di pasar. Namun ketergantungan itu menjadi masalah besar ketika datang kondisi sulit.

Ketika ada bencana alam, konflik dan perang serta wabah penyakit, pasar bisa tersendat bahkan terhenti. Kebutuhan bisa sulit dicari. Apa artinya uang jika barangnya tak ada? Harga pun melambung tinggi tak terjangkau. Apalagi jika roda ekonomi jadi terhenti situasi darurat terjadi.

Itulah yang sedang dihadapi bangsa ini saat pandemi Corona terjadi. Sudah ketakutan dan panik menghadapi wabah yang sangat cepat menular, ditambah ketakutan tak bisa memenuhi kebutuhan karena tak mandiri dalam produksi. Akibatnya seperti lingkaran setan.

Wabah berbahaya harus diputus dengan lockdown, tetapi lockdown dikhawatirkan secara ekonomi dan politik. Padahal krisis ekonomi akibat wabah sudah mulai terjadi. Jika wabah menyebar luas, ekonomi pasti tersendat. Ujung-ujungnya krisis dan ketidakpuasan publik terjadi, bahkan lebih parah di tengah menggilanya wabah.

Lalu, kembali pada isu lockdown hari ini, apa yang seharusnya jadi solusi? Bangsa ini harus mengedepankan akal sehatnya. Lebih penting mana, nyawa dan kesehatan rakyat atau bertahannya status quo ekonomi yang ada? Atau, meminjam peribahasa, siapa yang lebih utama dalam kasus buah simalakama, ayah atau ibu?

 

 


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suara Pembaca

Ibu Bercita-cita Mulia

Covid-19 bukan hanya berdampak pada para pekerja, atau kondisi ekonomi saja, akan tetapi para siswa-siswi dari segala jenjang pendidikan pun kena imbasnya. Mereka dengan terpaksa diliburkan dan menjalankan tugas sekolah dari rumah masing-masing dengan bantuan para orang tua. Adanya perpanjangan masa libur oleh pihak sekolah membuat beberapa orang tua mengeluh.

Sabtu, 28/03/2020 16:46 0

Indonesia

Habib Rizieq: Corona Meluas Karena Pengambil Kebijakan Meremehkan Masalah

Imam Besar FPI, Habib Rizieq Syihab mengatakan bahwa berbagai langkah yang diambil Gugus Tugas Covid-19 bersama Pemerintah Pusat maupun Daerah dalam menyikapi Wabah Corona secara umum sudah sangat bagus.

Sabtu, 28/03/2020 15:10 0

Indonesia

Amnesty International dan Lima Organisasi Desak Pemerintah Lindungi Tenaga Medis

Amnesty International bersama lima organisasi kesehatan di Indonesia mendesak pemerintah untuk memberi perlindungan maksimal kepada para tenaga medis yang saat ini berdiri di garda terdepan

Sabtu, 28/03/2020 14:32 0

Afrika

Pertempuran di Libya Memanas di Tengah Ancaman Pandemi Corona

UEA, Mesir, dan Rusia mendukung Tentara Nasional Libya secara militer, sementara pemerintah Kesepakatan Nasional mendapat dukungan dari Turki.

Sabtu, 28/03/2020 09:59 0

Suara Pembaca

Merindukan Imam Nawawi Bersama Sri Mulyani

Oleh: Azzam Diponegoro KIBLAT.NET – Di tengah penanganan wabah corona yang mulai menuai kritik, pemerintah...

Sabtu, 28/03/2020 06:55 0

Indonesia

Wabah Corona Mulai Menyerang Tenaga Medis, Masyarakat Perlu Lebih Patuhi Stay at Home

Wabah corona yang menyerang Indonesia nampaknya belum menunjukkan tanda akan mereda. Selain trend jumlah pasien positif yang meningkat, wabah tersebut juga mulai menginfeksi sejumlah dokter dan perawat di Indonesia bahkan beberapa diantara mereka meninggal dunia.

Jum'at, 27/03/2020 17:59 0

Indonesia

Sekjen MUI: Pemberian BLT ke 29 Juta Masyarakat Harus Benar-benar Terealisasi

Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas menyikapi rencana pemerintah yang akan memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada kelompok masyarakat dengan ekonomi rentan

Jum'at, 27/03/2020 15:54 0

Indonesia

Realisasikan Pemotongan Gaji DPR, PKS Bantu APD Melalui IDI

Bantuan PKS diserahkan dan diterima langsung oleh Ketua Umum IDI Dr. Daeng M Faqih, SH, MH di Kantor Pusat IDI Jakarta, Kamis 26 Maret 2020.

Jum'at, 27/03/2020 15:20 0

Indonesia

Pemerintah Butuh Dana Rp 300 Triliun Jika Terapkan Lockdown

Jumlah pasien positif corona di Indonesia terus bertambah. Total kasus per 26 Maret 2020 adalah 893 orang dengan rincian 780 dalam perawatan, 78 meninggal, dan 35 sembuh. Infeksi virus corona atau Covid-19 juga telah menyebar ke 24 provinsi di Indonesia.

Jum'at, 27/03/2020 14:40 0

Indonesia

Soal Pemulihan Sektor Bisnis, Pemerintah Berencana Terbitkan Surat Utang Baru

Recovery bonds ini merupakan skenario agar sektor bisnis tidak terdampak pandemi Covid-19.

Jum'at, 27/03/2020 12:49 0

Close