Ketegangan AS dan Milisi Pro-Iran di Irak Meningkat, 3 Pasukan Koalisi Tewas

KIBLAT.NET, Baghdad – Sedikitnya tiga tentara koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat tewas akibat serangan roket terhadap pangkalan militer di Irak pada Rabu (11/03/2020) malam. Beberapa saat kemudian, sedikitnya 26 militan pro-Iran tewas dalam serangan yang kemungkinan dilakukan oleh koalisi AS di Suriah.

Tiga tentara itu terdiri dari tentara AS, Inggris dan seorang kontraktor AS. Sebanyak 18 roket Katyusha menghantam pangkalan militer Taji di Irak, di mana tentara Amerika ditempatkan di utara Baghdad. Serangan itu kian menambah ketegangan antara Washington dan sekutunya di satu sisi, dan Teheran serta faksi-faksi yang setia di pihak lain.

Tidak ada berita mengenai korban Irak, dan tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab.

Brigade Hizbullah Iran, milisi bersenjata yang tergabung dalam koalisi milisi Syiah Irak Al-Hasd Al-Syakbi, memuji serangan itu dan para pelakunya, tanpa mengatakan mereka yang melakukannya.

“Kami percaya ini adalah waktu yang paling tepat bagi Pasukan Nasional dan Al-Hasd Al-Syakbi melanjutkan operasi pertempuran untuk mengusir orang-orang jahat dan agresor dari tanah suci,” kata pernyataan Brigade Hizbullah Irak.

Brigade Hizbullah mengkritik “pihak-pihak yang cepat mengutuk serangan dan menyatakan simpati pada korban “, dalam sebuah petunjuk bagi para pejabat senior Irak yang mengutuk serangan rudal itu.

Tak lama setelah serangan tersebut, sedikitnya 26 militan Irak tewas dalam serangan udara yang “kemungkinan” dilakukan koalisi internasional. Serangan itu menargetkan situs sekutu Teheran di perbatasan Irak-Suriah, menurut Direktur Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) Rami Abdel Rahman.

SOHR mengatakan pada Kamis bahwa sebanyak 26 anggota Al-Hasd Al-Syakbi Irak tewas dalam serangan udara di Suriah timur pada Rabu malam.

Koalisi yang dipimpin AS membantah meluncurkan serangan semalam di Suriah atau Irak.

Baik koalisi pimpinan AS dan Israel telah menargetkan para militan yang didukung Iran di Suriah, yang takut kemungkinan mengangkut rudal dari musuh regional mereka, Iran.

Al-Hasd Al-Syakbi juga menuduh Israel dan Amerika Serikat melakukan serangkaian ledakan yang tidak diketahui tahun lalu.

Iran dan milisi Irak lainnya yang mendukung rezim Suriah dikerahkan di daerah yang luas di pedesaan timur Deir Ezzor, terutama antara kota-kota perbatasan Albukamal dan Al-Mayadeen.

Milisi-milisi itu berulang kali menjadi sasaran serangan udara, mungkin yang paling berdarah pada Juni 2018, ketika 55 milisi pendukung rezim Assad dari milisi lokal dan asing tewas dalam serangan yang menurut seorang pejabat AS dilakukan oleh Israel.

Menurut catatan AFP, serangan terhadap kepentingan AS di Irak merupakan yang ke-22 sejak akhir Oktober.

Serangan serupa yang menargetkan tentara dan diplomat Amerika atau fasilitas Amerika di Irak telah mengakibatkan kematian seorang kontraktor Amerika dan seorang prajurit Irak.

Irak menjadi arena pertempuran antara AS dan Iran. Namun sejauh ini, belum pernah terjadi kontak senjata antara tentara koalisi dan milisi pro-Teheran.

Sumber: AFP
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat