Editorial: Rajab, Bulan Menanam Amal

KIBLAT.NET – Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyirami , dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen. Demikian seorang ulama salaf bernama Abu Bakar Al Warraq Al Balkhi rahimahullah menggambarkan.

Sebagai salah satu bulan haram, Rajab tentu mempunyai keistimewaan dimana amalan-amalan kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya, dan sebaliknya, amalan keburukan akan dilipatgandakan pula balasannya.

Ketika bulan Rajab menyapa seorang hamba, hendaknya ia menyikapinya dengan bijak dan baik. Ia harus mensyukuri nikmat besar tersebut, sebab bersyukur merupakan kaedah umum untuk merespon kenikmatan dari Allah Azza wa Jalla, apapun nikmat tersebut, baik duniawi, ataupun yang berhubungan dengan agama. Terlebih nikmat berupa kesempatan untuk beramal shaleh dan memperbaiki diri.

Setelah itu, hendaknya seseorang mengisi bulan Rajab dengan ketaatan kepada Allah dan memperbanyak taubat atas dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat.  Sebab hanya dengan hal tersebut, kesempatan yang baik dan peluang emas ini akan benar-benar menjadi sebuah kenikmatan yang hakiki.

Bulan Rajab juga seyogyanya dijadikan momentum untuk mengambil pelajaran dari orang-orang terdekat yang  telah mendahului kita, baik itu karib, kerabat, keluarga maupun tetangga.  Mereka telah meninggalkan dunia seisinya menuju alam kubur. Mereka telah berpindah dari alam tempat beramal menuju alam pertama untuk pembalasan amal. Dimana hanya amal kebaikan ataupun keburukan yang menemani mereka.

Selain bersyukur dan berlomba dalam kebaikan, pada bulan rajab, seorang hamba juga harus tetap mewaspadai syaithan yang senantiasa melancarkan tipu-daya, godaan, dan bisikan-bisikan agar dirinya berleha-leha dalam menyongsong bulan mulia itu.

BACA JUGA  Habib Rizieq: Muslim Wajib Berpegang Pada Hukum Allah

Syaithan akan senantiasa antusias tanpa putus asa untuk menyesatkan anak-anak Adam, memalingkan mereka dari agama Allah, serta mengajak mereka kepada perbuatan keji dan  mungkar, mengesankan maksiat dengan gambaran yang indah dan melontarkan rasa benci dalam hati mereka terhadap amal-amal kebaikan.

Maka, sekali lagi ketika kesempatan emas untuk beramal dalam waktu yang istimewa datang, siapapun hendaknya memasang niat dan badan untuk menyambutnya dengan baik, dengan semangat berlomba-lomba dalam kebaikan.

Para ulama dari generasi salaf bahkan menjadikan bulan Rajab sebagai ajang persiapan menghadapi Ramadhan yang mulia. Mereka membiasakan amalan-amalan shalih semenjak datangnya bulan Rajab, sehingga mereka sudah terlatih untuk memperbanyak amalan ketika Ramadhan tiba.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Bakar Al Warraq Al Balkhi dalam penggambaran lainnya: perumpamaan bulan Rajab adalah seperti angin, bulan Sya’ban seperti awan yang membawa hujan dan bulan Ramadhan seperti hujan. Barang siapa yang tidak menanam di bulan Rajab dan tidak menyiraminya di bulan Sya’ban, bagaimana mungkin dia memanen hasilnya di bulan Ramadhan.

 

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat