... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Menyibak Topeng Kesusastraan Indonesia

Oleh: Muakhor Zakaria (Dosen Perguruan Tinggi La Tansa, Rangkasbitung, Banten Selatan)

KIBLAT.NET – Untuk seorang akademisi dan penulis amatiran seperti saya, memang sangat interesan membaca esai – esai Muhamad Muckhlisin, generasi milenial dan pemenang pertama lomba cerpen nasional (2017). Salah satu esai yang memukau banyak seniman dan sastrawan kita, “Perang Gagasan dalam Sastra Indonesia”. Membahas perkembangan sastra Indonesia sejurus dengan berbagai polemik yang menyertainya, dari zaman Hindia Belanda, pendudukan Jepang, hingga militerisme Orde Baru.

Tentu saja beda jenis pewartaannya dengan esai-esai Malik Feri Kusuma, seorang aktivis HAM (kepala divisi KontraS) yang selalu mendakwahkan karya-karya sastra sebagai sarana ampuh untuk menentang dan melawan segala bentuk ketidakadilan. Tetapi di sini, saya ingin menjabarkan faktor ekstrinsik, yakni bagaimana seorang pencipta karya sastra mengalami refleksi diri ketika dihadapkan pada situasi politik yang berbeda. Bagaimana seorang sastrawan mengalami delusi kejiwaan, keterbelahan psikologis, ketika pada momen tertentu menyatakan ‘ya’ tetapi pada saat yang lain terpaksa harus menyatakan ‘tidak’.

Hal yang paling umum dihadapi para sastrawan dalam posisi dilematis ini, apakah mereka akan memihak nilai-nilai kemanusiaan (religiositas yang otentik) ataukah sekadar membela ajaran agama, lebih tepatnya “formalisme hukum agama”?

H.B. Jassin dalam bukunya, “Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai” (Gunung Agung, Jakarta 1955) menegaskan, “Sastrawan angkatan 45 tidak mengabdi kepada suatu isme tertentu. Mereka hanya mengabdi pada kemanusiaan yang mengandung segala yang baik dari sekalian isme. Mereka juga tidak berpikir dengan istilah-istilah, melainkan hidup dari pusat pribadi manusia.”

Angkatan 45 hidup di tengah situasi krisis di masa pancaroba. Suatu kurun waktu yang penuh keganasan menghadapi musuh-musuh yang kasatmata maupun yang tak nampak. Revolusi fisik yang melahirkan revolusi-revolusi jiwa, diolah menjadi tambang-tambang sastra yang luar biasa daya imajinasinya, menyentuh pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang hakikat manusia: Siapakah kita ini yang sebenarnya? Untuk apa kita ada, di sini, dan saat ini? Apakah cinta dan kebebasan itu? Apakah arti kebahagiaan dan kesenangan sesaat? Apakah menang dan sukses itu identik dengan bahagia?

Di sisi lain, mengolah karya sastra yang memukau, akan muncul pula problem yang berseberangan dengannya: Apakah siksaan dan penderitaan itu? Apa arti keadilan bagi rakyat jelata? Apakah arti keluarga dan persahabatan? Kenapa orang sampai tega berbuat kejam terhadap sesamanya? Apakah bermoral mengorbankan satu rakyat meskipun dengan dalih cita-cita nasional? Apa makna musibah dan malapetaka? Kenapa manusia harus mati? Dan kematian itu datang justru setelah ia gagal dan jatuh terpuruk?

BACA JUGA  Bantu Yuk, Bantu Pengadaan Mobil Layanan Umat!

Pertanyaan-pertanyaan mendasar itu, diakui dengan jujur oleh H.B. Jassin, bahwa sosok Pramoedya Ananta Toer memang layak menjadi yang terdepan mewakili para pujangga dan sastrawan di negeri arsipel ratusan juta jiwa ini. Tidak mengherankan juga, jika ia termasuk satu-satunya pengarang Indonesia yang beberapa kali masuk dalam jajaran nominator untuk nobel di bidang kesusastraan. Bahkan, sejak tahun 1955, jauh sebelum Taufik Ismail menulis “Prahara Budaya”, H.B. Jassin selaku gurunya pernah menulis seperti ini:

“Meskipun dalam cerita pendek dan roman-romannya melukiskan masa-masa revolusi,” demikian tegas H.B. Jassin, “tapi ia mampu menuliskannya tanpa ada pengultusan atau pendewaan terhadap bangsa dan revolusi itu sendiri. Pramoedya berhasil menggambarkan situasi revolusi, tetapi titik pusat perhatiannya konsisten pada harga diri manusia dan nilai-nilai kemanusiaan.” (lihat: Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai, hal 195).

Beda dengan novel Ahmad Tohari, “Ronggeng Dukuh Paruk” (Penerbit Gramedia, 1982) yang meskipun menggambarkan situasi politik pasca 1965 dan nasib para seniman daerah, tapi lebih mewakili nasib penerbitnya yang cenderung “mencari aman”. Tema yang ditampilkannya memang sudah mewakili zamannya, dan dalam filsafat Heidegger disebut sein und zeit (lahir dalam kurun waktu tertentu). Tetapi, Ahmad Tohari khawatir dibayang-bayangi penguasa militer Orde Baru, hingga merasa keberatan untuk menggapai-gapai universalitas dalam khazanah sastra kelas dunia.

Persoalan kepatuhan pada syariat agama (formalisme hukum agama) sebenarnya hanya soal eksoteris yang belum memasuki wilayah esensi keimanan. Persoalan gereja, kuil dan masjid, meskipun ada hubungannya dengan nilai-nilai kemanusiaan, tetapi secara substantif jelas berbeda. Bahkan berseberangan ketika masing-masing bertikai memperjuangkan truth claim (klaim kebenaran).

Tetapi, kualitas karya sastra kelas dunia, selalu mengedepankan nilai-nilai religiositas yang otentik. Sebagaimana film “Parasite”, satu-satunya film asia yang memenangkan Oscar tahun ini, ia sama sekali tidak menyinggung soal kebanggaan terhadap bangsa maupun agama tertentu. Secara implisit, digambarkan tentang fenomena masyarakat Timur yang dikenal halus dan religius, tetapi terjerumus ke dalam jaring-jaring impian kapitalisme yang meninabobokan.

BACA JUGA  NU Channel Unggah Film 'My Flag - Merah Putih VS Radikalisme', Ada Adegan Rebut Cadar

Kita pun mengenal novel “Perasaan Orang Banten” yang pada mulanya saya kira bicara tentang kebanggaan dan keunggulan masyarakat Banten, berikut pemandangan tepi pantai yang melingkar dari jelujur utara, barat hingga selatan. Namun ternyata, ia begitu genuine bicara tentang realitas kekinian orang Banten, beikut ulah kaum politisi kita yang kegenitan, yang tak lain merupakan tipologi masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Sementara karya-karya Ahmad Tohari, sebagai seorang muslim yang taat, erat kaitannya dengan karya pendahulunya, Ali Akbar Navis, atau yang akrab dengan sebutan A.A. Navis (1924-2003). Seumumnya para pujangga Angkatan 45, Navis juga menghadapi dilema politik Indonesia, berikut tarik-menarik kepentingan ideologi di sekitar tahun 1965. Tidak sedikit di antara mereka yang mengalami kevakuman (writer’s block), meskipun Navis mencoba bergelut dalam situasi itu. Tetapi tentu saja – seperti pengakuan H.B. Jassin – tidak sekonsisten pergelutan pemikiran Pramoedya Ananta Toer.

Dalam hal ini, pengamat dan kritikus sastra Umar Junus justru blak-blakan “menggugat” A.A. Navis sebagai sastrawan yang “bermuka dua” (Horison, Juni 1972, hal 6). Masalahnya begini. Menurut Umar Junus, pada ending cerpen “Robohnya Surau Kami” (1956) Navis cenderung mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan ketimbang formalisme hukum agama. Tetapi, kenapa setelah peristiwa politik 1965, dia menulis novel Kemarau yang cenderung mementingkan formalisme agama belaka?

Itulah tema sederhana, tapi sekaligus menyangkut persoalan fundamental mengenai realitas kehidupan konkret kita semua. Barangkali A.A. Navis sebagai sastrawan angkatan 45, ingin mengekspresikan pandangan masyarakat Indonesia pada zamannya, baik di tahun 1956 maupun tahun-tahun pasca peristiwa politik 1965. Tetapi, kalau kesimpulannya seperti itu, pantas saja muncul sinyalemen dari Pramoedya yang disampaikan kepada penulis novel “Pikiran Orang Indonesia” pada saat peluncuran buku Liber Amicorum 100 Tahun Bung Karno di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (2001): “Sastrawan angkatan 45 lebih mengutamakan kemerdekaan jiwa dalam berkarya. Kemerdekaan itu harus direbut kembali oleh angkatan muda!”


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Pasien Positif Corona Bertambah, Politisi PKS: Pemerintah Harus Lebih Sigap

Anggota Komisi IX DPR-RI, Netty Prasetiyani meminta pemerintah lebih sigap dalam menangani wabah corona atau Covid-19.

Selasa, 10/03/2020 16:40 0

Indonesia

19 WNI Positif Corona, IPW Minta Polisi Ikut Awasi TKA Cina

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane memaparkan jumlah WNI positif virus Corona di Indonesia sudah mencapai 19 orang.

Selasa, 10/03/2020 15:03 0

Turki

Kejam! Seorang Pencari Suaka Disiram Air Panas Saat Hendak Lintasi Perbatasan

Saat itu Abdulmuttalib sedang melintasi perbatasan darat Yunani melalui provinsi Edirne, Turki.

Selasa, 10/03/2020 15:00 0

Indonesia

IKADI Berikan ACT Penghargaan Sebagai NGO Terbaik

Aksi Cepat Tanggap kembali mendapatkan penghargaan sebagai lembaga non-pemerintah favorit.

Selasa, 10/03/2020 14:37 0

Indonesia

Bamsoet: Takut Corona Jangan Sampai Sebabkan Ekonomi Lumpuh

Takut dan cemas karena meluasnya penyebaran wabah nCoV-19 jangan sampai menyebabkan lumpuhnya perekonomian nasional.

Selasa, 10/03/2020 14:32 0

Indonesia

IKADI Dorong Pemerintah Proaktif Sikapi Pelanggaran HAM Terhadap Umat Islam

Sekjen IKADI, Ahmad Kusyairi Suhail, MA mengatakan bahwa Rakornas kali ini membahas beberapa isu aktual keumatan, kebangsaan dan kemanusiaan.

Selasa, 10/03/2020 14:23 0

Indonesia

Putusan MA Batalkan Perpres Kenaikan BPJS Penuhi Rasa Keadilan

Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini menyambut baik Putusan Mahkamah Agung yang membatalkan Perpres Kenaikan Iuran BPJS.

Selasa, 10/03/2020 13:25 0

Arab Saudi

Tak Laporkan Info Kesehatan Diri saat Masuk Saudi, Denda Rp1,9 Miliar Menanti

Arab Saudi menutup sementara akses perjalanan dari sembilan negara termasuk negara-negara tetangga Arab.

Selasa, 10/03/2020 13:22 0

Afghanistan

Amerika Serikat Mulai Tarik Pasukan dari Afghanistan

Seorang pejabat AS lainnya mengatakan ratusan tentara telah keluar dari negara itu seperti yang direncanakan sebelumnya dan mereka tidak akan diganti.

Selasa, 10/03/2020 12:43 0

Suriah

Turki: Rezim Assad Langgar Perjanjian Gencatan Senjata

Pasukan rezim Bashar Assad Suriah melanggar perjanjian gencatan senjata terbaru antara Turki dan Rusia, 10 menit setelah diimplementasikan.

Selasa, 10/03/2020 11:31 0

Close