... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Isu Wahabi dan Ukhuwah Islamiah

Oleh: Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA*

KIBLAT.NET – Aksi anarkis pembubaran pengajian dan perebutan Masjid Agung Al-Makmur Kota Banda Aceh yang dikenal dengan Masjid Oman pada hari Senin (27/01/2020) malam oleh sekelompok orang yang mengaku aswaja dengan menggunakan isu wahabi telah menarik perhatian banyak pihak, baik di Aceh maupun luar Aceh. Pasalnya, para pengisi pengajian dan BKM masjid ini dituduh berpaham wahabi.

Aksi ini telah menimbulkan kericuhan di dalam masjid pada saat berlangsungnya pengajian ba’da Maghrib yang diisi oleh ustadz Farhan. Kericuhan terus berlangsung sampai shalat Isya dengan perebutan menjadi imam shalat Isya. Begitu pula pada shalat Shubuh. Tidak hanya membubarkan pengajian dan memaksa kehendak menjadi imam, mereka juga mendesak para pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Masjid Oman untuk mundur dan diganti dengan orang lain yang sesuai dengan keinginan mereka agar dapat menerapkan model ibadah seperti yang mereka inginkan.

Peristiwa ini menjadi viral di medsos dan media online. Aksi ini mendapat kecaman dari berbagai pihak, baik dari warga Aceh maupun luar Aceh, khususnya dari warga Banda Aceh dan Gampong Lampriet di mana lokasi masjid itu berada. Warga Lampriet tidak menerima aksi kelompok yang merebut masjid mereka ini, mengingat masjid ini dibangun oleh warga Lampriet. Mereka bersatu melakukan perlawanan dengan aksi damai membantah isu wahabi dengan spanduk-spanduk yang bertuliskan “Kami Bukan Wahabi” di sekeliling masjid dan menempuh jalur hukum untuk mempertahankan kepengurusan BKM masjid Agung Al-Makmur (masjid Oman). Selain itu, aksi ibu-ibu bersatu turut menolak perebutan masjid mereka. Akhirnya, upaya perebutan masjid ini mengalami kegagalan. Walikota Banda Aceh Aminullah membatalkan SK kepengurusan BKM baru masjid Agung Al-Makmur yang baru saja dikeluarkannya pasca peristiwa perebutan masjid ini dan menyerahkan kembali kepengurusan BKM masjid Agung Al-Makmur kepada BKM sebelumya dan warga setempat (warga Lampriet).

Isu Wahabi Merusak Ukhuwwah

Belakangan ini isu wahabi sangat gencar didoktrin dan diprovokasi oleh pihak tertentu di Aceh. Isu Wahabi ini telah berhasil merusak ukhuwwah islamiah dan kedamaian di Aceh. Isu ini menjadi penyebab terjadinya konflik dan kericuhan dalam masyarakat. Untuk sekian kalinya ukhuwwah islamiah terganggu dan dirusak dengan aksi anarkhis pembubaran pengajian dan perebutan masjid-masjid oleh sekelompok orang yang mengaku dirinya kelompok aswaja dengan menggunakan isu wahabi. Dengan isu wahabi ini, mereka membenarkan perbuatan mereka meskipun merusak ukhuwwah dan kedamaian masyarakat, menggangu kenyamanan dalam beribadah, dan menimbulkan keributan/kericuhan di masjid.

Aksi anarkis pembubaran pengajian dan perebutan Masjid Oman ini bukanlah kasus pertama kali terjadi di Aceh. Sebelumnya, terjadi pembubaran pengajian ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc., MA di Masjid Al-Fitrah Keutapang Banda Aceh dan perebutan masjid ini pada Kamis (13/06/2019) malam dan pembubaran pengajian ustadz Farhan di Masjid Baitul Muqarrabin Punge Blang Cut Banda Aceh pada Ahad (15/12/2019) pagi dan di tempat lainnya. Selain itu, aksi anarkis perebutan masjid juga terjadi di masjid-masjid lainnya seperti Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh tahun 2015, masjid Bustanul Jannah Gampong Ajun Aceh Besar tahun 2016, Masjid Baitul ‘A’la lil Mujahidin (masjid Abu Beureueh) Beureunuen Pidie tahun 1998, 2012, dan 2017, Masjid gampong Aree Pidie tahun 1998, masjid Istiqamah Kota Bakti (Lamlo) kecamatan Sakti Pidie tahun 1998, Masjid Al-Ikhlas gampong Titeu Pidie tahun 2012, Masjid Baraaatun minannar Kecamatan Mutiara Pidie tahun 2012, masjid Matang Glumpang Dua Bireuen tahun 2000, masjid Agung Bireuen 2004, masjid Kuta Blang Bireuen tahun 2009, dan masjid lainnya.

Sementara di tempat lain, aksi anarkhis merebut masjid juga terjadi namun tidak berhasil seperti di masjid Pulo Raya Titeu Pidie tahun 2012, masjid Baitus Sa’adah Teureubu tahun 2016, masjid Al-Izzah Krueng Mane Aceh Utara tahun 2016, dan masjid lainnya. Aksi anarkis merebut masjid-masjid tersebut dilakukan pada saat pengajian dan ibadah seperti khutbah Jum’at, shalat Jum’at maupun shalat fardhu berlangsung di masjid-masjid tersebut. Semua aksi anarkhis tersebut dilakukan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan kelompok aswaja dengan menggunakan isu wahabi.

BACA JUGA  Haluan Ekonomi Masyumi

Dengan isu wahabi ini pula, pembangunan Masjid At-Taqwa Muhammadiyah di Kecamatan Juli Kabupaten Biereun sempat dihalangi dan ditolak oleh warga yang mengaku aswaja pada tahun 2015. Pembangunan Masjid At-Taqwa Juli ini dipersulit dan penuh halangan dan teror meskipun akhirnya persoalan selesai dan pembangunan dapat dilanjutkan. Kasus yang sama, pembangunan Masjid At-Taqwa Muhammadiah di gampong Sangso kecamatan Samalanga Bireuen dihalangi dan diteror sejak tahun 2017 sampai hari ini karena isu wahabi. Bahkan balai dan tiang-tiang masjid yang sedang dibangun ini dibakar pada tahun 2017. Sampai hari ini pembangunan masjid ini masih terus dihalangi dan tidak diizinkan meskipun sudah ada IMB.

Selain itu, dengan isu wahabi ini pula sering terjadi aksi penurunan khatib secara paksa dan protes terhadap khatib dengan suara keras pada saat khutbah berlangsung hanya gara-gara persoalan khilafiah (perbedaan mazhab), tidak mengulang rukun khutbah, tidak memegang tongkat, dan sebagainya. Di antaranya, kasus penurunan khatib terjadi di masjid Baitul A’la lil Mujahidin (masjid abu Beureu’eh) Beureunuen Pidie pada tahun 2012 karena membicarakan hal-hal yang dianggap kontroversi atau khilafiah. Adapun protes jama’ah dengan suara besar pada saat khutbah karena tidak pakai tongkat atau tidak mengulang khutbah sering terjadi di berbagai masjid di Aceh termasuk di masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh sebagai masjid Agung provinsi Aceh dan ikon masjid Aceh. Bahkan ada aksi anarkhis pemukulan khatib pada saat khutbah Jum’at berlangsung seperti kasus pemukulan khatib di masjid Raya Keumala gampong Jiejim kecamatan Keumala Pidie tahun 2011 hanya gara-gara persoalan politik lokal.

Aksi intoleran dan anarkhis di Aceh ini sangat disayangkan dan mendapat kecaman dari berbagai pihak, baik di Aceh, nasional bahkan internasional. Aksi ini sangat memalukan orang Aceh dan mencoreng syari’at Islam di Aceh, bahkan menjadi citra buruk bagi kelompok aswaja sendiri sebagai pelaku. Selain itu, aksi ini telah merusak ukhuwah islamiah dan persatuan umat Islam di Aceh. Dari dulu sampai hari ini, Aceh dikenal sebagai daerah yang paling toleran terhadap pemeluk agama lain di Indonesia bahkan dunia. Juga dikenal dengan toleransi dengan sesama muslim sejak dulu.

Namun belakangan ini, Aceh menjadi daerah yang paling tidak toleran terhadap sesama umat Islam (Ahlussunnah wal Jama’ah) di peringkat Indonesia bahkan di dunia, karena ulah sekelompok orang aswaja yang melakukan perbuatan intoleran dan anarkhis dengan isu wahabi. Kasus-kasus intoleran dan anarkhis tersebut hanya terjadi di Aceh, tidak ada di Indonesia dan di negara-negara lainnya sekalipun di negara-negara kafir.

Parahnya lagi, perbuatan intoleran dan anarkis ini terjadi di masjid. Sepatutnya, seorang muslim wajib menjaga kemuliaan dan kesucian serta kesakralan masjid sebagai rumah Allah SWT dan tempat ibadah. Selain itu, sepatutnya masjid menjadi tempat yang damai, menyejukkan dan nyaman dalam beribadah. Bukan tempat untuk membuat keributan dan kericuhan bahkan merusak ukhuwwah. Oleh karena itu, Islam telah menjelaskan adab dan aturan (hukum) yang harus dihormati dan diperhatikan ketika seseorang berada dalam masjid. Mengangkat suara besar dengan membaca Alquran saja dilarang oleh Nabi saw di dalam masjid, apalagi membuat keributan dan kericuhan. Membuat keributan dan kericuhan di masjid sama saja melecehkan kemuliaan dan kesucian masjid. Maka perbuatan ini melanggar syariat Islam. Hukumnya haram.

BACA JUGA  Haluan Ekonomi Masyumi

Isu wahabi merupakan propaganda musuh-musuh Islam untuk mengadu domba umat Islam (Ahlussunnah wal Jama’ah) dengan menyesatkan sesama muslim (Ahlussunnah wal Jama’ah) yang berbeda pendapat (khilafiah) dalam persoalan furu’iyyah. Isu ini didoktrin untuk membenci dan menyesatkan orang atau kelompok yang berbeda pendapat. Sayangnya, sebahagian masyarakat terprovokasi dengan isu ini. Padahal orang atau kelompok yang dituduh wahabi itu sesama muslim Ahlussunnah wal Jama’ah. Orang yang menuduh tidak paham tentang wahabi, bahkan tidak pernah membaca kitab-kitab ulama yang dituduh wahabi.

Jika kita mempelajari sejarah timbulnya isu wahabi, maka jelaslah bagi kita bahwa isu wahabi itu diciptakan oleh musuh-musuh Islam dari kalangan Syi’ah, Barat dan orang-orang liberal untuk mengadu domba dan memecah belah umat Islam (Ahlussunnah wal Jama’ah). Mereka menginginkan umat Islam (Ahlussunnah wal Jama’ah) berpecah belah dan saling berkonflik. Dengan isu wahabi ini, mereka telah berhasil merusak ukhuwwah islamiah dan persatuan umat sehingga umat Islam menjadi lemah dan mudah “dijajah” serta ditindas seperti yang dialami oleh umat Islam selama ini.

Oleh karena itu, umat Islam (Ahlussunnah wal Jama’ah) wajib bersatu dalam menghadapi musuh-musuh Islam. Jangan mau diadudomba dan dibenturkan dengan isu wahabi. Persoalan khilafiah dan sunnat jangan sampai merusak ukhuwwah islamiah dan menjadi perpecahan umat serta menimbulkan konflik sesama umat Islam dengan memaksakan pendapat tertentu dan menyalahkan pendapat lain bahkan menyesatkan saudaranya muslim seaqidah (ahlussunnah wal jama’ah) dengan isu wahabi.

Terlebih lagi jika pendapat tersebut tidak berdasarkan dalil yang shahih. Inilah penyebab terjadi perpecahan dan konflik sesama umat islam Ahlussunnah wal jama’ah di mana saja. Kondisi ini justru menguntungkan musuh-musuh Islam yang menginginkan umat Islam saling berselisih dan berpecahbelah. Persoalan khilafiah harus disikapi dengan saling toleransi dan menghormati perbedaan sehingga terwujud ukhuwwah islamiah dan persatuan umat Islam. Sikap inilah yang diwajibkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya SAW.

Persoalan khilafiah itu merupakan hal yang biasa dan ditolerir dalam agama sebagaimana yang terjadi di antara para ulama sejak dulu sampai hari ini. Yang penting aqidah wajib satu yaitu Ahlussunnah wal Jama’ah. Adapun paham selain Ahlussunnah wal jama’ah seperti Khawarij, Syi’ah, Mu’tazilah, Jabariah, Qadariah, Jahmiah, murji’ah dan paham lainnya yang bertentangan dengan Ahlussunah wal Jama’ah adalah paham sesat seperti yang dijelaskan oleh para ulama salaf. Dalam menyikapi persoalan khilafiah, seorang muslim wajib toleran, menghormati perbedaan, bersatu dan menjaga ukhuwwah. Inilah ajaran Islam yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-nya yang wajib diamalkan oleh seorang muslim.

Oleh karena itu, selama seseorang itu beraqidah Ahlussunnah wal Jama’ah maka tidak boleh disesatkan atau dituduh wahabi. Mazhab Fiqh boleh berbeda, namun aqidah tetap satu yaitu aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Maka, apapun nama organisasi dan kelompok umat Islam, selama beraqidah Ahlussunnah wal Jama’ah maka tidak boleh dituduh sesat atau wahabi. Ormas-ormas Islam seperti Syarikat Islam, Muhammadiah, PERSIS, Al-Irsyad, Dewan Dakwah, Parmusi, Mathlaul Anwar, Hidayatullah, Wahdah Islamiyah, MIUMI, Majelis Mujahidin, dan ormas lainnya yang beraqidah Ahlussunnah wal Jama’ah tidak boleh dituduh wahabi atau sesat. Begitu pula kelompok umat Islam seperti Salafi, Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh, para alumni Arab dan Timur Tengah, para dosen dan alumni IAIN/UIN, para ustaz dan alumni ma’had/pesantren modern, dan kelompok lainnya yang beraqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Mereka semua adalah saudara kita sesama Ahlussunnah wal Jama’ah, bukan wahabi atau sesat. Mereka semua saudara kita seiman dan seaqidah Ahlussunnah wal Jama’ah.


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Baca halaman selanjutnya: Kewajiban Menjaga Ukhuwah...

Halaman Selanjutnya 1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Penulis Buku Yusuf Mansur Obong: Kalau Merasa Benar, Buktikan!

Bedah buku 'Yusuf Mansur Obong' digelar di Yogyakarta.

Senin, 09/03/2020 14:46 1

Suriah

Minim Fasilitas Kesehatan, Pengungsi Suriah Rentan Terpapar Virus

Badan-badan bantuan bergerak untuk mencegah wabah virus corona di Suriah barat laut yang dilanda konflik.

Senin, 09/03/2020 14:25 0

Indonesia

Soal Corona, Netty Heryawan: Ada Keterlambatan Komunikasi dari Pemerintah

Anggota Komisi IX DPR-RI Netty Prasetiyani Heryawan menilai ada keterlambatan manajemen edukasi dan komunikasi dari pemerintah dalam menangani masuknya virus corona (Covid - 19) di Indonesia.

Senin, 09/03/2020 14:09 0

Belanda

Empat Orang Mulai Disidang dalam Kasus Penembakan MH17

Persidangan empat pria yang didakwa dengan pembunuhan atas jatuhnya pesawat penumpang Malaysia Airlines 17 akan dimulai di Belanda.

Senin, 09/03/2020 11:49 0

Turki

Dilelang, Jam Saku Sultan Abdülhamid II Terjual Rp2,6 Miliar

Arloji ini adalah salah satu dari lebih dari 300 artefak yang dijual dalam event “Lelang Seni Ottoman dan Campuran” di sebuah galeri di kawasan Nişantaşı Şişli.

Senin, 09/03/2020 11:24 0

Afghanistan

Kabul Diliputi Sengketa Politik, Taliban Sangsikan Negosiasi Nasional Tepat Waktu

Keduanya mengklaim menang dalam pemilu presiden beberapa bulan lalu.

Senin, 09/03/2020 09:32 0

Arab Saudi

Rezim Saudi Tangkap Tiga Pangeran Atas Tuduhan Rencana Kudeta

Pengawal Kerajaan menangkap saudara Raja Salman, Pangeran Ahmed bin Abdulaziz Al-Saud, dan keponakan Raja, mantan Putra Mahkota Pangeran Muhammad bin Nayef, dari rumah mereka

Senin, 09/03/2020 08:11 0

Video News

Habib Hanif Alatas: Umat Islam Ketika Minoritas Mereka Mengalami Penindasan

Umat Islam Indonesia mengadakan aksi solidaritas untuk mendesak Pemerintah India agar segera menghentikan kekejaman dan pelanggaran HAM berat yang dilakukan kelompok Hindu radikalis, ekstrimis, dan intoleran di India.

Ahad, 08/03/2020 11:56 0

Video News

Sobri Lubis Seru Boikot India

Dalam Aksi Bela Muslim India yang digelar pada hari Jum'at (6/3) ketua DPP FPI, Ahmad Sobri Lubis memberikan pesan kepada jamah yang hadir dalam aksi tersebut untuk boikot India.

Sabtu, 07/03/2020 19:03 0

Indonesia

Potensi Bencana Jateng Tinggi, Bukhori Yusuf: Lembaga BNPB Perlu Diperkuat

Anggota Komisi VIII DPR RI, Bukhori Yusuf menyatakan bahwa Jawa Tengah termasuk wilayah dengan potensi bencana yang tinggi.

Sabtu, 07/03/2020 13:19 0

Close