... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Politisi PKS: Banyak yang Salah Paham Soal RUU Ketahanan Keluarga

Foto: Netty Prasetiyani Heryawan

KIBLAT.NET, Jakarta – Pengusung RUU Ketahanan Keluarga (RUU KK) dari fraksi PKS, Dr. Hj. Netty Prasetiyani Heryawan, M.Si mengungkapkan penolakan masyarakat terhadap RUU KK salah satunya karena draftnya belum tersosialisasi dengan baik.

Maka, banyak salah paham mengenai RUU KK ini dan banyak isu negatif yang berkembang di masyarakat. Di antaranya yakni urusan privat warga negara, domestifikasi perempuan, hingga masalah pemaksaan pemenuhan properti dalam keluarga.

“Hal tersebut wajar, dikarenakan mungkin masyarakat yang berkomentar belum membaca draft dan naskah akademik secara keseluruhan. Selain itu kami terbuka dengan semua kritik kepada RUU ini, karena kami mengetahui RUU ini belum sempurna,” Netty dalam diskusi “Kerangka Dinamis RUU Ketahanan Keluarga” yang diselenggarakan Bidang Perempuan Pengurus Pusat KAMMI.

Netty juga menjelaskan bahwa selain RUU Ketahanan Keluarga ada dua RUU yang memiliki tema yang beririsan. Yakni RUU Kependudukan Keluarga Nasional yang diusung oleh PDIP dan RUU Kesejahteraan Ibu dan Anak yang diusung oleh PKB.

“Hanya saja karena secara berkas, yang sudah lengkap adalah RUU Ketahanan Keluarga, maka RUU ini masuk ke dalam prolegnas periode ini,” lanjut Netty.

Netty menjelaskan bahwa proses RUU Ketahanan Keluarga ini masih merupakan tahap awal dalam pengajuan RUU di legislatif. Sebelum dilakukan pembahasan, RUU harus melalui beberapa tahap yakni Uji Panja Harmonisasi kemudian akan ditetapkan oleh Baleg layak dibahas atau tidak, jika layak dibahas maka RUU akan dibahas di Rapat Paripurna.

BACA JUGA  Fachrul Razi Positif Covid-19, Akses Kemenag Diperketat

Ia juga mengungkapkan bahwa yang menjadi filosofi RUU Ketahanan Keluarga adalah profil keluarga Indonesia yang berjumlah 62,5 juta keluarga dengan persentase 51,17 persen keluarga adalah lulusan SD. Sedangkan yang lulusan perguruan tinggi hanya berjumlah tujuh persen saja.

Selain itu yang menjadi indikator keluarga sejahtera di Indonesia adalah apabila dalam keluarga tersebut anak-anak yang berusia 7 sampai 12 tahun masih sekolah, memiliki pakaian minimal dua potong, memakan daging minimal sepekan sekali, lantai rumahnya bukan tanah dan apabila sakit akan pergi untuk mendapatkan pelayanan di pusat kesehatan masyarakat.

“Satu saja indikator tersebut tidak terpenuhi, maka keluarga tersebut dinyatakan keluarga prasejahtera,” ungkap Netty.

Sehingga dengan jumlah persentase keluarga yang didominasi oleh lulusan SD, akan selaras dengan jumlah keluarga prasejahtera di Indonesia. Maka, pemerintah dipaksa teribat dalam pemenuhan berbagai kebutuhan pangan, pendidikan dan ekonomi. Hal yang tercantum dalam RUU Ketahanan Keluarga ini merupakan sebuah solusi dari permasalahan tersebut.

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: Izhar Zulfikar


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Rusia

Putin dan Erdogan Kembali Sepakati Gencatan Senjata di Idlib

“Namun Turki juga berhak menanggapi semua serangan rezim (Suriah) di lapangan," lanjut Erdogan.

Jum'at, 06/03/2020 10:22 0

Rusia

Erdogan Akhirnya Bertemu Putin, Ini yang Dibicarakan

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bertemu dengan Putin pada Kamis (05/03/2020) di Moskow.

Jum'at, 06/03/2020 10:07 0

Afghanistan

JeM: AS Jadi Serigala di Afghanistan, Tapi Sekarang Ekornya Putus

Masood mengomentari kesepakatan antara Taliban dan pemerintah Amerika Serikat yang ditandatangani di Doha pada hari Sabtu.

Jum'at, 06/03/2020 09:56 0

Kiblatorial

Editorial: Teror Safron India

Istilah Teror Safron pertama kali digunakan pada 2002 oleh majalah Frontline yang dimiliki kelompok Hindu yang berbasis di Chennai, India. Namun istilah ini semakin dikenal publik setelah ledakan bom 29 September 2008 di kota Malegaon yang berpenduduk mayoritas Muslim di Maharashtra. 

Jum'at, 06/03/2020 09:56 0

Arab Saudi

Arab Saudi Buka Kembali Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

Arab Saudi membuka kembali dua masjid suci pada Jumat (06/03/2020) pagi setelah ditutup sementara untuk sterilisasi di tengah wabah virus corona.

Jum'at, 06/03/2020 09:38 0

Artikel

Modi dan Ideologi Kebencian di India

Penanaman ideologi Hindutva dalam identitas India mutlak dilakukan agar ideologi kebencian tersebut lestari dalam masyarakat India. Dan sejauh ini tampaknya tak ada kelompok di India yang dapat menghalangi Modi berlari di atas ideologi kebenciannya.   

Jum'at, 06/03/2020 08:32 0

Suriah

Shelter Pengungsi di Idlib Jadi Sasaran Jet Tempur Rusia, 15 Tewas

“Setidaknya 18 orang terluka dalam serangan itu,” kata SOHR seraya menunjukkan di antara korban selamat dalam keadaan kritis.

Jum'at, 06/03/2020 07:44 0

Iran

Iran Tak Gelar Shalat Jumat Lantaran Virus Corona

KIBLAT.NET, Teheran – Iran membatalkan sholat Jum’at di seluruh kota pekan ini di tengah wabah...

Kamis, 05/03/2020 16:36 0

Palestina

Amazon Gratiskan Ongkir Paket ke Palestina, Asalkan…

Perusahaan ecommerce global, Amazon sekarang akan menggratiskan kiriman paket kepada pelanggan di wilayah Palestina yang diduduki.

Kamis, 05/03/2020 16:23 0

Afghanistan

AS Gelar Operasi Udara Targetkan Taliban

"Amerika Serikat melancarkan serangan udara pada 4 Maret menargetkan pejuang Taliban di sungai Seraj di provinsi Helmand, yang menyerang pasukan keamanan Afghanistan," tulis juru bicara pasukan AS di Afghanistan, Sonny Legate, di Twitter.

Kamis, 05/03/2020 09:44 0

Close
CLOSE
CLOSE