... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Trump Telepon Kepala Biro Politik Taliban Mullah Baradar

Foto: Mullah Abdul Ghani Baradar, kepala biro politik Taliban

KIBLAT.NET, Wasihngton – Presiden AS Donald Trump menelepon kepala biro politik Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar, seperti disebutkan dalam pernyataan Taliban pada Selasa (02/03/2020). Komunikasi langsung ini terjadi setelah Washington menandatangani perjanjian bersejarah dengan gerakan itu.

Sementara itu, Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih, “Sebenarnya, saya memiliki percakapan yang sangat baik dengan pemimpin Taliban”. Trump tidak tidak menyebut nama pemimpin Taliban yang disebutkan itu.

Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, menulis di twitternya, “Presiden Amerika Serikat. melakukan panggilan telepon ke pejabat terkemuka Imarah Islam Afghanistan, Mullah Baradar Akhund.”

Komunikasi telepon itu berlangsung selama 35 menit. Taliban menjelaskan, pembicaraan jarak jauh itu pada pukul 14.40, sehari setelah Taliban mengakhiri gencatan senjata sementara.

Di antara yang dibicarakan dalam komunikasi itu, seperti yang disebutkan rilis Taliban, Mullah Baradar telah mendesak Trump untuk “mengambil langkah tegas terkait penarikan pasukan asing dari Afghanistan.”

Menurut ketentuan perjanjian, pasukan asing akan meninggalkan Afghanistan dalam waktu 14 bulan, dan ini tetap tunduk pada jaminan keamanan Taliban dan janji pemberontak untuk mengadakan pembicaraan dengan Kabul.

Tetapi perselisihan muncul karena klausul pertukaran tahanan, yang menimbulkan pertanyaan tentang apakah negosiasi antara Kabul dan Taliban akan dimulai.

Perjanjian itu mencakup komitmen untuk menukar 5.000 tahanan Taliban yang ditahan oleh pemerintah Afghanistan dengan imbalan 1.000 tahanan, tuntutan yang menjadi syarat utama Taliban untuk negosiasi nasional. Akan tetapi Presiden Ashraf Ghani menolak untuk melakukannya sebelum negosiasi dimulai.

BACA JUGA  Waktunya Tiba, Taliban-Afghanistan Mulai Berunding di Qatar

Mullah Baradar yang sempat menghuni penjara Guantanamo itu menyerukan Trump untuk tidak mengizinkan siapa pun mengambil langkah yang melanggar ketentuan perjanjian. Jika itu terjadi, Anda lebih terlibat dalam perang yang panjang ini.

Perbedaan nyata antara perjanjian Doha dan deklarasi bersama AS-Afghanistan yang dikeluarkan di Afghanistan menggarisbawahi hambatan yang dihadapi negosiator.

Sementara perjanjian antara Amerika Serikat dan Taliban terikat untuk membebaskan para tahanan, di sisi lain dokumen Kabul mengharuskan para pihak untuk mendefinisikan “kelayakan melepaskan” para tahanan.

Sejak penandatanganan perjanjian, Taliban tidak berhenti mengklaim “kemenangan” atas Amerika Serikat.

Taliban telah melancarkan 12 serangan lebih terhadap pangkalan militer Afghanistan sejak akhir gencatan senjata terbatas, kata para pejabat Selasa.

Pemerintah Afghanistan pekan lalu mengirim delegasi ke Qatar untuk memulai “kontak awal” dengan Taliban, tetapi juru bicara Taliban Suhail Shaheen mengatakan pada Selasa bahwa mereka hanya akan bertemu dengan perwakilan Kabul untuk membahas pembebasan tawanan.

Sumber: AFP
Redaktur: Sulhi El-Izzi


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Wasekjen MUI Dukung Aksi Bela Muslim India

Majelis Ulama Indonesia mengutuk keras pembantaian terhadap Muslim di India.

Rabu, 04/03/2020 01:19 0

Indonesia

Corona di Indonesia, MUI Imbau Umat Islam Perbanyak Wudhu

Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menghimbau Umat Islam untuk membaca Qunut Nazilah agar terhindar dari virus Corona

Rabu, 04/03/2020 01:09 0

Indonesia

Korban UYM Ajukan Gugatan Perdata Karena Tak Percaya Kepolisian

Darso Arief Bakuama, pendamping korban penipuan yang diduga dilakukan Ustadz Yusuf Mansur (YM) menyebut pengajuan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri Tangerang lantaran para korban tidak percaya dengan kepolisian.

Rabu, 04/03/2020 00:58 0

Video News

Antisipasi Virus Corona, MUI Minta Umat Islam Baca Qunut Nazilah

Pimpinan Majelis Ulama Indonesia menghimbau Umat Islam untuk membaca Qunut Nazilah agar terhindar dari virus Corona.

Selasa, 03/03/2020 20:37 0

Indonesia

Forum Zakat Ajak Lembaga-Lembaga Zakat Dirikan Crisis Center COVID-19

Masyarakat bisa mengadu ke Crisis Center apabila mendapati indikasi virus di sekitar mereka.

Selasa, 03/03/2020 17:02 0

Indonesia

Gunung Merapi “Batuk”, Semburkan Abu Setinggi 6.000 Meter

Video letusan banyak dibagikan di media sosial. Tampak abu tebal dan besar menjulang ke langit, diliputi oleh kilat menyambar-nyambar. 

Selasa, 03/03/2020 11:41 0

Indonesia

Kenapa Kekerasan di Hindu Layak Disebut Pembantaian? Ini Kata ACT

Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ibnu Khajar mengatakan bahwa peristiwa yang terjadi terhadap umat Islam di India saat ini bukan lagi hanya sekedar kerusuhan semata.

Selasa, 03/03/2020 07:30 0

Indonesia

Wasekjen MUI: Adakah Penganut Agama Lain Dibantai di Negara Mayoritas Muslim?

Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Tengku Zulkarnain menegaskan bahwa Indonesia jangan diam melihat pembantaian Muslim di India.

Selasa, 03/03/2020 01:13 0

Indonesia

ACT Akan Kirim Bantuan ke Korban Pembantaian India

Dewan Pembina Aksi Cepat Tanggap (ACT) Syuhelmaidi Syukur mengatakan bahwa ACT akan mengirimkan bantuan tahap awal senilai Rp. 500 Juta serta bantuan pangan sebanyak 100 ton untuk korban kerusuhan di India

Selasa, 03/03/2020 01:02 0

Indonesia

Soal Teror India, Tengku Zulkarnain: Dunia Diam Jika Korbannya Muslim

Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Tengku Zulkarnain menegaskan bahwa pembantaian kepada Muslim India telah mempermalukan India.

Senin, 02/03/2020 23:58 0

Close