... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Syarh Safinatun Naja 02: Delapan Syarat Istinja’ dengan Batu

Foto: Batu untuk Istinja'

فَصْلٌ

شُرُوْطُ إِجْزَاءِ الحَجَر ثَمَانِيَةٌ: أَنْ يَكُوْنَ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ ، وَأَنْ يُنْقِيَ المَحَلَّ ، وَأَنْ لَا يَجِفَّ النَّجِسُ ، وَلَا يَنْتَقِلَ ، وَلَا يَطْرَأَ عَلَيْهِ آخَرُ ،  وَلَا يُجَاوِزَ صَفْحَتَهُ وَحَشَفَتَهُ  ، وَلَا يُصِيْبَهُ مَاءٌ ، وَأَنْ تَكُوْنَ الأَحْجَارُ طَاهِرَة

Artinya, “Pasal, syarat sahnya (istinja’) dengan batu ada delapan: Menggunakan tiga batu. Bersihnya tempat (keluar najis). Najisnya belum kering. Najisnya tidak berpindah tempat. Najisnya tidak tercampur dengan yang lain. Tidak melebihi shofhah (maaf:lipatan pantat) dan hasyafah (kepala kemaluan laki-laki), tidak terkena air. Menggunakan batu yang suci.”

KIBLAT.NET – Dalam matan Safinatun Naja syaikh Salim bin Abdullah bin Sumair Al-Hadhromi menjelaskan tentang syarat-syarat bolehnya beristinja’ (cebok) dengan batu. Hal ini karena asalnya bersuci menggunakan air, namun karena air tidak selalu tersedia di setiap tempat, maka syariat memberikan keringanan dengan memperbolehkan bersuci mengguakan batu. Oleh karena itu beristinja’ dengan batu harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan oleh ulama syafi’iyah. Ada 8 syarat yang disebutkan oleh syaikh Salim bin Sumair.

Sebelum masuk ke pembahasan syarat, para ulama syafi’iyah menjelaskan bahwa kebolehan ini tidak hanya terbatas pada batu saja, tapi segala sesuatu yang memenuhi syarat batu, maka diperbolehkan beristinja’ dengannya. Syaratnya terangkum dalam perkataan imam An-Nawawi di dalam Minhajuth Tholibi:

كل جامد طاهر قالع غير محترم

Artinya, “Segala sesuatu yang padat, suci, mengangkat najis dan bukan sesuatu yang dimuliakan.”

Pertama, Jamid (جامد), yang dimaksud benda padat di sini adalah lawan dari kata benda cair atau benda yang basah. Sebagaimana di atas disebutkan bahwa hukum asal beristinja’ menggunakan air. Air yang dimaksud di sini adalah air mutlak. Adapun benda cair selain air mutlak seperti air mawar, cuka, madu dan selainnya maka tidak sah. Adapun benda padat yang basah seperti batu basah, tisu basah atau yang lainnya juga tidak termasuk jamid sehingga tidak sah beristinja’ dengannya.

Kedua, Thahir (طاهر), yaitu benda yang digunakan haruslah suci. Sehingga tidak boleh beristinja menggunakan najis seperti kotoran hewan atau benda padat yang terkena najis (mutanajjis).

Ketiga, Qali’ (قالع), yang dimaksud qali’ adalah benda tersebut mampu mengangkat ‘ainun najasah (fisik najis) atau menyerapnya. Maka tidak sah beristinja dengan kaca, kayu yang memiliki permukaan licin.

BACA JUGA  Presiden Jokowi Ajak Masyarakat Beribadah di Rumah

Keempat, Ghairu Muhtaromin (غير محترم) yaitu sesuatu yang tidak dimuliakan, seperti buku-buku pengetahuan, roti, kurma dan yang lainnya. Meskipun benda tersebut padat, suci dan mampu mengangkat najis akan tetapi benda-benda tersebut tidak pantas digunakan untuk beristinja’.

Maka segala sesuatu yang memenuhi 4 kriteria di atas, disebut sebagai hajar asy-syar’i (batu syar’i) dan bisa digunakan untuk beristinja’. Mari kita kembali lagi ke syarat-syarat yang disebutkan oleh syaikh Salim Al-Hadromi. Syarat-syarat tersebut adalah:

Syarat Pertama: Minimal Menggunakan Tiga Batu

Ulama Syafi’iyah menjelaskan bahwa maksudnya adalah tiga usapan. Maka boleh saja dengan menggunakan satu batu dan mengusap dengan tiga sisi yang berbeda dari batu tersebut. Karena tujuannya adalah terusapnya tempat keluar najis tiga usapan. Bagaimana jika dengan satu usapan sudah bersih? Tidak sah, karena hadits Nabi menyebutkan harus dengan dengan tiga batu, dan biasanya (urf) najis baru bersih setelah diusap dengan tiga batu.

Syarat Kedua: Bersihnya Tempat Keluar Najis

Maksud dari tempat keluar najis adalah shofhatul ilyah (Lembaran pantat) yaitu bagian pantat yang merapat ketika seseorang berdiri, Hasyafah yaitu (maaf) kepala  kemaluan laki-laki dan permukaan kemaluan perempuan. Tiga hal ini yang dimaksud dengan tempat keluar najis.

Maksud dari bersih adalah hilangnya najis dan yang tersisa hanya (atsarun najasah) bekas najis yang hanya bisa dibersihkan dengan air.

Jika dengan 3 usapan belum bersih, maka harus ditambah usapannya hingga bersih. Karena tujuan dari istinja’ adalah membersihkan tempat keluar najis dari najis. Jika tempat keluar najis baru bisa bersih dengan 4 atau 6 usapan, maka haruslah dengan 4 atau 6 usapan. Jika jumlah usapannya genap, maka disunahkan menambah sekali usapan lagi karena Allah menyukai sesuatu yang ganjil.

Syarat Ketiga: Najisnya Belum Mengering

Karena jika najisnya mengering tidak bisa dibersihkan dengan batu atau yang sejenisnya. Baik mengering sebagian atau semuanya. Apabila najisnya sudah mengering harus dibersihkan dengan air dan tidak boleh dengan batu atau sejenisnya.

Syarat Keempat: Najisnya Tidak Berpindah

Najisnya tidak berpindah dari tempat keluarnya najis (hasyafah, shofhah dan dzohir farjil mar’ah). Jika karena sesuatu dan lain hal najisnya berpindah atau melebar dari tempat keluarnya maka wajib dibersihkan menggunakan air. Misalnya najisnya keluar mengenai paha, maka paha yang terkena najis wajib dibersihkan menggunakan air. Sedangkan tempat keluar najis masih sah dibersihkan dengan batu.

BACA JUGA  Pengacara Penggugat Yusuf Mansur Siap Jalani Sidang Perdata

Syarat Kelima: Najisnya Tidak Terkena Benda Lain

Najis yang hendak dibersihkan menggunakan batu tidak terkena benda lain. Benda lain di sini adalah najis lain atau benda suci yang basah selain keringat.

Sebagai contoh, jika najis yang akan dibersihkan dari tempat keluarnya terkena darah, maka pada kondisi ini wajib dibersihkan menggunakan air dan tidak boleh pakai batu. Karena kebolehan menggunakan batu terbatas pada najis yang keluar dari tempatnya. Dengan adanya dua najis (najis yang keluar dan najis yang datang) maka tidak cukup hanya dengan batu.

Begitu juga jika najisnya terkena benda basah atau cairan selain keringat. Karena ketika benda basah terkena najis, maka najisnya akan berpindah kepada benda tersebut sehingga najisnya menyebar ke benda itu dan harus dibersihkan dengan air.

Syarat Keenam: Najis Tidak Melebihi dari Tempat Keluarnya

Tempat keluar najis sudah dijelaskan pada syarat kedua. Berbeda dengan syarat keempat yang mensyaratkan najisnya tidak berpindah tempat, pada syarat ini najisnya tidak berpindah, namun najisnya keluar melebihi dari tempat keluarnya karena sesuatu dan lain hal.

Yaitu najisnya melebihi dari shofhah, hasyafah dan permukaan kemaluan perempuan. Jika najisnya melebihi dari tempat keluarnya maka harus dibersihkan dengan air.

Syarat Ketujuh: Najisnya Tidak Terkena Air

Maksudnya najisnya tidak terkena air yang tidak dapat mensucikannya. Misalnya sebelum dibersihkan dengan batu, najisnya terkena sedikit air yang tidak dapat mengangkat najis. Sehingga air sedikit tadi menjadi mutanajjis (benda yang terkena najis) sehingga ada dua najis, yaitu najis keluar dan air yang terkena najis. Pada kondisi ini wajib dibersihkan dengan air.

Syarat Kedelapan: Harus dengan Batu yang Suci

Batu yang suci yaitu tidak terkena najis. Maka tidak boleh beristinja dengan benda najis seperti bangkai hewan, kotoran hewan atau benda yang terkena najis batu atau kayu yang terkena najis.

Wallahu a’lamu bissowab

Sumber :

1. Kasyifatus Saja syarh Safinatun Naja karya Imam Nawawi Al-Bantani Al-Jawi

2. Nailur Roja bi syarhi Safinatun Naja karya Sayyid Ahmad bin Umar Asy-Syathiri

Disusun oleh : Miftahul Ihsan

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

News

Kembali Mendapat Ancaman, Polisi Tingkatkan Patroli di Masjid-Masjid Chirstchurch

Patroli ditingkatkan menjelang upacara eringatan satu tahun tragedi Christchurch

Rabu, 04/03/2020 18:05 0

Indonesia

Yusuf Mansur Akan Laporkan Pihak yang Menyebut Dirinya Penipu

Ia juga menyebutkan bahwa tidak ada penipuan dalam proyek Condotel Moya Vidi. Menurutnya, terjadi kegagalan dalam proyek tersebut.

Rabu, 04/03/2020 17:27 0

Afghanistan

Indonesia Tegaskan Komitmen Dukung Perdamaian di Afghanistan

Indonesia juga secara khusus menyampaikan kesiapan menjadi tuan rumah salah satu perundingan.

Rabu, 04/03/2020 17:25 0

Qatar

Teks Lengkap Perjanjian yang Diteken Taliban-Amerika Serikat

Imarah Islam Afghanistan tidak akan membolehkan individu siapa pun atau anggota jamaah lainnya, termasuk di dalamnya Al-Qaidah, menggunakan wilayah Afghanistan untuk mengancam keamanan AS dan sekutunya.

Rabu, 04/03/2020 17:03 0

News

Tantangan Media Meliput Wabah Virus Corona yang Mendunia

Meliput kisah virus corona membutuhkan panduan yang cermat dan perhatian yang konstan.

Rabu, 04/03/2020 16:42 0

India

PBB Kirim Permohonan Intervensi UU Kewarganegaraan ke Mahkamah Agung India

Langkah itu pun ditanggapi oleh pemerintah India dengan kritikan.

Rabu, 04/03/2020 16:31 0

Turki

Bentrokan Meningkat, Turki Pasang Rudal Pertahanan Udara di Suriah

Turki akan menginstal sistem pertahanan udara rendah dan menengah di Suriah. Demikian kata Presidensi Industri Pertahanan (SSB) İsmail Demir, Selasa (03/03/2020).

Rabu, 04/03/2020 15:57 0

Suriah

Haftar Buka Kedutaan Besar Libya di Suriah

Upacara pembukaan kembali diselenggarakan oleh delegasi pemerintahan Libya di Tobruk yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal Khalifa Haftar serta delegasi Suriah.

Rabu, 04/03/2020 15:45 0

Indonesia

ACT Bangun Huntara Untuk Korban Bencana Banjir dan Lonsor di Lebak

Aksi Cepat Tanggap (ACT) berusaha untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal yang layak bagi warga yang terdampak dengan membangun Hunian Sementara (HUNTARA)

Rabu, 04/03/2020 12:17 0

Video News

MUI Minta Pemerintah Indonesia Putuskan Hubungan Diplomatik India

Majelis Ulama Indonesia mengutuk keras pembantaian terhadap Muslim di India. Wasekjen MUI, Najamuddin Ramly meminta pemerintah Indonesia putuskan hubungan diplomatik dengan pemerintah India.

Rabu, 04/03/2020 11:54 0

Close