... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Bolehkah Bersedekah Agar Mendapat Manfaat Duniawi?

Foto: Sedekah yang sia-sia (ilustrasi)

KIBLAT.NET – “Mau mendapatkan mobil, anda harus infak motor.” Kata salah seorang ustadz yang gemar memotivasi orang untuk bersedekah. Jika melihat keajaiban sedekah maka kita akan mendapati seabrek manfaat duniawi dari sedekah. Mulai dari disembuhkan penyakit, dimudahkan jodoh, dibukakan pintu rizki, dan lain-lain.

Ternyata tidak hanya sedekah yang memiliki faidah seperti itu, ada istighfar, qiyamul lail, sholat duha, dan serangkaian ibadah lainnya. Fenomena seperti ini, mengiming-imingi umat dengan manfaat-manfaat duniawi agar mereka mau bersedekah dan beribadah belakangan ini cukup ramai, bahkan ada pula yang menyajikan manfaat duniawi tadi dengan pendekatan matematika. Ingin dapat penghasilan sekian, maka minimal sedekah harus sekian, ingin dapat ini, maka istighfar sebanyak ini.

Sekilas terlihat baik-baik saja, apalagi dibungkus dengan embel-embel mengajak manusia melakukan ketaatan. Namun ada resiko besar yang mengancam akidah jika perkara ini tidak didudukkan dengan baik. Kalau kita lengah, bisa-bisa terjadi fenomena kapitalisasi atau sekulerisasi ibadah. Karena secara pelan dan tanpa sengaja ibadah yang pada mulanya diperuntukkan untuk Allah berubah arah menjadi tujuan-tujuan duniawi.

Bahaya Mengharap Manfaat Duniawi dari Sedekah

Memalingkan niat sedekah kepada selain Allah dapat membuat seseorang menjadi orang yang pertama kali diseret ke dalam api neraka. Karena sedekah adalah ibadah yang harus dimurnikan hanya kepada Allah. Memalingkan niat ibadah kepada selain Allah adalah salah satu bentuk kesyirikan dan akan menyebabkan seseorang terhapus amalannya di akhirat. Allah SWT berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ * أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya, “Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya maka akan kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dan mereka tidak akan dirugian (15) Mereka adalah orang-orang yang di akhirat (kelak) tidak akan mendapat balasan melainkan neraka dan terhapuslah (kebaikan) yang mereka kerjakan dan sia-sialah apa yang telah mereka lakukan.” (QS Hud 15-16)

Di dalam tafsirnya Ibnu Katsir berkata:

من عمل صالحًا التماس الدنيا، صومًا أو صلاة، أو تهجدًا بالليل، لا يعمله إلا التماس الدنيا، يقول الله: أُوفيه الذي التمس في الدنيا من المثابة، وحبط عمله الذي كان يعمله التماس الدنيا، وهو في الآخرة من الخاسرين. وهكذا روي عن مجاهد، والضحاك، وغير واحد

Artinya, “Barangsiapa yang mengerjakan amalan sholeh dengan mengharapkan dunia, seperti puasa, sholat, tahajjud, hal-hal tersebut tidaklah dilakukannya kecuali mengharapkan dunia, maka Allah berkata kepada, “Saya akan memberi balasan atas perbuatannya yang mengharapkan dunia dan terhapuslah amalan yang diniatkannya untuk dunia dan dia di akhirat mejadi orang yang merugi. Beginilah yang diriwayatkan dari Mujahid, Dhohhak dan lain-lain.” (Tafsir Ibnu Katsir 4/310)

BACA JUGA  Setelah Dilaporkan, Kabid Humas Polda Sulteng Sebut Almarhum Qidam Bukan Teroris

Amat sangat mengerikan ancaman yang Allah berikan kepada mereka yang memalingkan ibadah dari Allah SWT. Ibnul Qayyim berkata :

مَنْ أَرَادَ بِعَمَلِهِ غَيْرَ وَجْهِ اللَّهِ ، وَنَوَى شَيْئًا غَيْرَ التَّقَرُّبِ إِلَيْهِ ، وَطَلَبَ الْجَزَاءَ مِنْهُ ، فَقَدْ أَشْرَكَ فِي نِيَّتِهِ وَإِرَادَتِهِ

Artinya, “Barangsiapa yang dengan amalnya mengharap selain wajah Allah dan meniatkan sesuatu selain dari taqarrub kepada Allah dan mengharapkan pahala dari Allah, sungguh dia telah menyekutukan Allah dalam niat dan keiinginannya.” (Ad-Da’ wad Dawa’ 135)

Dari sini muncul pertanyaan berikutnya, bagaimana dengan banyak ayat dan hadits yang menjanjikan kebaikan-kebaikan duniawi pada berbagai macam amal sholeh? Seperti memperbanyak istighfar dengan harapan dikaruniai harta dan keturunan, apakah hal tersebut juga terlarang?

Meniatkan Amal Akhirat untuk Dunia

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita harus menjelaskan kondisi-kondisi menjadikan amal akhirat sebagai sarana untuk mendapatkan manfaat dunia.

Kondisi Pertama : Beramal Mengharapkan Manfaat Duniawi Semata

Kondisi inilah yang disinggung dalam poin di atas, kondisi ini yang mendapat ancaman neraka dan diancam penghapusan pahala amalannya. Karena  ada potensi syirik kepada Allah di dalamnya. Karena dia memalingkan sesuatu yang seharusnya diniatkan untuk Allah kepada selain-Nya dari manfaat-manfaat duniawi yang diinginkan.

Seperti orang yang berpuasa hanya untuk sehat, berjihad hanya untuk mendapatkan ghanimah, bersedekah hanya untuk mendapat kesembuhan dan amalan-amalan lain yang ditujukan hanya untuk mendapatkan dunia semata. Senada dengan hadits yang dibawakan Abu Musa Al-Asy’ari di bawah ini:

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ الرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلْمَغْنَمِ وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلذِّكْرِ وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِيُرَى مَكَانُهُ فَمَنْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Artinya, “Dari Abu Musa -radliallahu ‘anhu- berkata; Datang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: “Seseorang berperang untuk mendapatkan ghanimah, seseorang yang lain agar menjadi terkenal dan seseorang yang lain lagi untuk dilihat kedudukannya, manakah yang disebut fii sabilillah?” Maka Beliau bersabda: “Siapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah dialah yang disebut fii sabilillah“. (HR Bukhori, no 2599)

Abul Abbas Al-Qurtubi berkata :

فأما إذا كان الباعثُ عليها غير ذلك من أعراض الدُّنيا ؛ فلا يكونُ عبادة ، بل يكون معصية موبقة لصاحبها ، فإما كفرٌ ، وهو : الشرك الأكبر ، وإما رياء ، وهو : الشركُ الأصغر … هذا إذا كان الباعثُ على تلك العبادة الغرضَ الدنيوي وحده ، بحيث لو فُقِد ذلك الغرضُ لتُرِك العمل

BACA JUGA  Pencabutan Asimilasi Habib Bahar Digugat ke PTUN

Artinya, “Adapun jika motivasi utama dalam melakukan ibadah selain hal itu (mengharap ridho Allah) yang berupa perhiasan dunia, maka hal tersebut tidak bernilai ibadah, bahkan menjadi kemaksiatan yang dapat membinasakan pelakunya. Bisa berupa kekufuran yaitu syirik besar, bisa pula riya yang merupakan syirik kecil. Yang seperti ini (syirik besar dan syirik kecil) jika motivasi ibadahnya hanyalah tujuan duniawi semata, yang apabila hilang motivasi tersebut dia akan meninggalkan amalan itu.” (Al-Mufhim Li Ma Asykala min Talkhishi Kitabi Muslim 12/50)

Sebagai contoh seseorang yang bersedekah berharap kesembuhan, ketika sudah sedekah berkali-kali kesembuhan tak kunjung didapatinya, sehingga karena sudah lelah bersedekah dia kemudian meninggalkan sedekah tersebut karena merasa tidak mendapatkan manfaat duniawi. Potret seperti ini bisa menjatuhkan seseorang kepada kesyirikan baik besar maupun kecil.

Kondisi Kedua : Mengharapkan Ridho Allah dan Saat yang Bersamaan Mengharapkan Manfaat Duniawi

Kondisi yang kedua ini seperti mereka yang bersedekah karena Allah namun di saat yang sama berharap perbaikan kualitas hidup, berpuasa karena Allah namun di saat yang bersamaan berharap puasa dapat menjaga kesehatan, atau mereka yang berhaji karena Allah di saat yang bersamaan niat berdagang atau mereka berjihad karena Allah di saat yang bersamaan berniat mendapatkan ghanimah, atau bersilaturhami karena Allah dan di saat yang bersamaan berharap agar umur dan hartanya diberkahi.

Untuk kondisi yang kedua ini ada beberapa bentuk.

Pertama: Motivasi Duniawi Lebih Kuat dari Ridho Allah

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin berkata :

وإن كان الأغلب عليه نية غير التعبد ، فليس له ثواب في الآخرة ، وإنما ثوابه ما حصله في الدنيا، وأخشى أن يأثم بذلك لأنه جعل العبادة التي هي أعلى الغايات وسيلة للدنيا الحقيرة

Artinya, “Jika yang lebih dominan adalah niat selain ibadah (untuk mendapatkan manfaat duniawi), maka dia tidak akan mendapatkan balasan di akhirat, balasannya hanya terbatas apa yang didapatkannya di dunia, dan saya khawatir orang tersebut mendapat dosa atas hal tersebut, karena dia telah menjadikan ibadah (yang hakikatnya tujuan tertinggi) sebagai sarana untuk mendapatkan dunia yang hina.”

Jenis ini seperti firman Allah SAW :

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

Artinya, “Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (QS At-Taubah : 58)

(Majmu’ Fatwa Syaikh Utsaimin 1/99)


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Baca halaman selanjutnya: Kedua: Motivasi yang Utama dan...

Halaman Selanjutnya 1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Palestina

Mata Issa Hilang Sebelah Usai Ditembak Tentara Israel Sepulang Sekolah

Seorang bocah Palestina yang ditembak di wajahnya oleh seorang perwira polisi Israel telah kehilangan mata kirinya.

Kamis, 27/02/2020 13:47 0

Afrika

Kekeringan, Anak-anak Zimbabwe Hanya Makan Sekali Sehari

Hampir setengah dari setidaknya 7,7 juta warga Zimbabwe menderita kerawanan pangan parah, terutama anak-anak.

Kamis, 27/02/2020 13:07 0

India

Korban Kekerasan India: Mereka Memaksaku Mengucap Mantra Hanuman

Kerabat korban Muslim menyebut polisi hanya berdiri diam ketika massa Hindu membakar gedung-gedung dan memukuli orang.

Kamis, 27/02/2020 12:53 2

Arab Saudi

Corona Masuk Timur Tengah, Saudi Tutup Sementara Kunjungan Umrah

Corona terdeteksi masuk ke Timur Tengah beberapa waktu lalu di Iran. Saat ini sudah puluhan orang di Iran positif Corona dan puluhan lainnya meninggal.

Kamis, 27/02/2020 09:28 0

Indonesia

KH Athian Ali: Sedekah Harus Ikhlas, Jangan untuk Kepentingan Dunia

Ketua FUUI, KH Athian Ali menegaskan bahwa melakukan ibadah harus ikhlas. Menurutnya, jika seseorang tidak ikhlas maka ibadahnya tidak diterima oleh Allah.

Rabu, 26/02/2020 23:16 0

Artikel

Salam Pancasila dan Poligami Pancasila

Pertanyaan ini, seperti juga pertanyaan pada ideologi kehidupan bikinan manusia lainnya, belum terjawab. Tapi agaknya sekarang sudah, Pancasila era sekarang mengacu manusia penemu dan penggalinya, Presiden Soekarno!

Rabu, 26/02/2020 20:22 0

Indonesia

Gara-gara Yusuf Mansur, Star Leader Paytren Minta Maaf Telah Zalimi 2 Juta Orang

Korban dugaan penipuan Yusuf Mansur, Hilwa Humairo mengungkapkan beberapa program investasi yang mangkrak.

Rabu, 26/02/2020 17:26 50

Indonesia

Iming-iming Perbaikan Ekonomi Umat Ala Yusuf Mansur

Hilwa Humairo, warga Sidoarjo, Jawa Timur menjadi korban dugaan penipuan bermodus sedekah Yusuf Mansur.

Rabu, 26/02/2020 16:55 0

Indonesia

BNPB: Lebih dari 19 Ribu Warga Mengungsi Akibat Banjir Jabodetabek

Pusat Pengendalian Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Pusdalops BNPB) mencatat lebih dari 19 ribu warga Jabodetabek mengungsi akibat banjir

Rabu, 26/02/2020 16:20 0

Suriah

ICRC: Situasi di Idlib Benar-benar Mengkhawatirkan

"Ini adalah gelombang pemindahan terburuk yang pernah kita lihat selama konflik Suriah," ujarnya.

Rabu, 26/02/2020 14:58 0

Close