... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Evaluasi Fase Pertama Masterplan Al-Qaidah: Menjebak Amerika dalam Pasir Hisap

Foto: Pasukan NATO di Afghanistan

Serial Masterplan 2020 Al-Qaidah
Tulisan Kedua

Oleh: Fahmi Suwaidi*

KIBLAT.NET – Dengan konsep jihad globalnya, diproklamirkan tahun 1998, Al-Qaidah menyatakan perang pada Amerika Serikat. Kelompok ini menyerukan pada umat Islam, dan memelopori, serangan terhadap seluruh kepentingan Amerika baik sipil maupun militer.

Namun, setelah 19 tahun berlalu, berhasilkah Al-Qaidah dan agenda jihad globalnya melawan Amerika?

Hal ini mungkin menggelitik bagi mereka yang pernah membaca buku “Masterplan 2020, Strategi Al-Qaidah Menjebak Amerika.” Terbit tahun 2008, telah berlalu 12 tahun sejak analisis jihad global itu dituliskan. Namun, apa hasil capaian, keberhasilan maupun kegagalan Al-Qaidah hari ini?

Apalagi angka tahun telah mencapai 2020 Masehi. Tahun yang menjadi batu penanda pencapaian strategis Al-Qaidah. Tulisan ini, insya Allah akan berlanjut sebagai sebuah serial, akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan publik terkait Al-Qaidah dan master plan mereka.

Dalam master plan itu, para perencana strategis Al-Qaidah merencanakan tujuh tahapan jihad global mereka dalam kurun target waktu 20 tahun.  Dimulai dari tahun 2000 dengan menyerang New York dan akan berakhir pada tahun 2020, berikut ini tahapan-tahapannya:

Pertama, fase penyadaran; dimulai pada awal tahun 2000 dan berakhir pada tahun 2003. Target tahap ini adalah memaksa Amerika untuk keluar dari kandangnya, memperluas medan jihad sehingga Amerika dan sekutunya menjadi target yang dekat dan mudah dijangkau.

Kedua, fase  membuka mata, berlangsung selama tiga tahun dari 2003-2006. Targetnya membuat umat sadar akan masalah yang sebenarnya, menyingkap semua kedok musuh serta tipu daya mereka.

Ketiga, fase kebangkitan dan  berdiri, berlangsung sekitar tiga tahun, dimulai pada awal tahun 2007 dan berakhir pada awal 2010. Targetnya mendapatkan tambahan personil yang besar untuk menjalankan misi-misi selanjutnya.

Keempat, fase pemulihan keadaan. Fase ini dimulai pada tahun 2010 hingga awal tahun 2013. Target fase ini difokuskan untuk menjatuhkan kekuasaan rejim-rejim tiran di dunia Islam dengan cara melakukan kontak yang kuat secara langsung.

Kelima, fase memproklamasikan negara. Dimulai pada awal 2013 dan akan berakhir pada awal tahun 2016, Al-Qaidah dan jaringan jihad internasional akan memproklamirkan Daulah Islamiyah.

Keenam, fase konfrontasi total. Fase ini dimulai pada awal tahun 2016, saat itu dimulailah konfrontasi menyeluruh antara dua kubu; kekuatan yang dibangun diatas iman dan kekuatan kafir.

BACA JUGA  Trump Masih Anggap Hydroxychloroquine Ampuh untuk Covid-19

Ketujuh, fase kemenangan mutlak. Dalam fase ini pertempuran menyeluruh dan konfrontasi yang luas terhadap kebatilan menurut pemimpin Al-Qaidah akan berlangsung pada masa yang singkat hanya beberapa tahun saja (antara tiga hingga  sembilan tahun).

Inilah tujuh tahapan dalam rencana strategis Al-Qaidah, sebuah perencanaan unik yang belum pernah dibuat oleh gerakan jihad Islam modern lainnya. Bagaimanakah pelaksanaannya hingga tahun 2020 ini?

Kuburan Imperium

Jika dicermati, fase pertama master plan yang diagendakan mulai tahun 2000 dan berakhir pada tahun 2003 berhasil dengan baik. Ukurannya adalah tercapainya target yang diinginkan.

Target Al-Qaidah pada tahap ini adalah memaksa Amerika untuk keluar dari kandangnya, memperluas medan jihad sehingga Amerika dan sekutunya menjadi target yang dekat dan mudah dijangkau.

Seperti diketahui publik di seluruh dunia, setelah serangan 11 September 2001, Amerika mengerahkan militernya untuk menggempur Afghanistan pada bulan November 2001. Setelah jeda sebulan, Amerika mengamuk di Afghanistan dan menduduki negeri itu. Invasi.

Dengan dalih menangkap Usamah bin Ladin hidup atau mati, Amerika menjatuhkan ribuan ton bom dan rudal canggihnya. Membunuh puluhan ribu Muslim Afghanistan. baik secara langsung sebagai target operasi militer, maupun secara tidak langsung sebagai collateral damage.

Invasi Amerika bisa dibaca sebagai kehancuran buat Al-Qaidah, Taliban maupun Afghanistan. Namun, dari perspektif sejarah militer dunia, tindakan Amerika menyerang Afghanistan adalah tindakan bunuh diri imperium. Kok bisa?

Semua peneliti atau pembaca sejarah militer dunia sudah mafhum. Afghanistan adalah the graveyard of imperiums, kuburan bagi berbagai imperium yang berani melakukan invasi ke sana.

Dimulai dari Alexander The Great, penguasa Yunani dan Macedonia yang berhasil mengalahkan Imperium Persia dan melanjutkan penaklukannya hingga ke Bactria, Afghanistan sekarang. Hal itu terjadi pada kurun 329 Sebelum Masehi.

Meski sukses mengalahkan Persia yang perkasa, ternyata Alexander terpaksa mundur dari Bactria tanpa berhasil menaklukannya. Alexander sendiri bahkan tewas dalam perjalanan pulang sebelum mencapai kampung halaman. Sepeninggal sang raja, imperiumnya pun hilang ditelan sejarah.

BACA JUGA  Ibadah Haji di Tengah Pandemi, Begini Protokol Kesehatan yang Diterapkan Arab Saudi

Korban berikutnya adalah Imperium Inggris. Sukses menguasai India sebagai kerajaan taklukan, militer Britania Raya melanjutkan penjarahannya ke Afghanistan. Inggris dua kali menyerang dan menguasai Ibukota Kabul pada tahun 1839 dan 1879. Namun bertahun-tahun dikepung dan digempur oleh Suku Pashtun yang Muslim.

Akhirnya Inggris pun mundur teratur dari Afghanistan. Tak berapa lama setelahnya, keperkasaan Inggris sebagai imperium nomor satu di dunia memudar. Inggris keluar dari perang Dunia II sebagai “pensiunan imperium.” Semua jajahannya lepas dan Inggris terpaksa harus disusui oleh salah satu “anak jajahannya,” Amerika Serikat.

Letjen Sir Frederick Roberts, panglima pasukan Inggris pada masa itu memperingatkan bangsa Barat bahwa Afghanistan seharusnya jangan diganggu. Ia memberikan peringatan;

 “Mungkin hal ini tak menyenangkan, namun saya yakin saya benar ketika saya katakan bahwa semakin jarang bangsa Afghan melihat kita semakin kecil kebencian mereka. Jika Rusia di masa depan berusaha menaklukkan Afghanistan, atau menginvasi India melalui negeri itu, kita berpeluang didukung Bangsa Afghan jika kita menjauhi masalah dengan mereka sampai waktu itu tiba.”

Ternyata Rusia, yang berubah jadi Uni Soviet tak mau mendengar peringatan dari mantan sekutunya dalam Perang Dunia II itu. Pada tahun 1979 Uni Soviet mengulang sejarah. Imperium Komunis itu menginvasi Afghanistan dan menduduki wilayahnya.

Pada hari ketika invasi Soviet terjadi, penasehat keamanan nasional Amerika Serikat, Zbigniew Brzezinski, memberikan kabar gembira pada  untuk Presiden Jimmy Carter, “Kini kita memiliki peluang memberikan Perang Vietnam pada Uni Soviet.” Soviet pun mengalami perang panjang tak berkesudahan seperti AS di Vietnam.

Perlawanan bangsa Afghan kembali terjadi, bahkan mengalami internasionalisasi. Perang pada penghujung milenium kedua itu melibatkan tidak hanya penduduk Afghan melainkan juga mujahidin dari berbagai negeri Muslim. Maka Afghanistan berubah menjadi melting pot, panci pelebur, berbagai gerakan jihad dari seluruh dunia Islam.

Sejarah lagi-lagi berulang, pada tahun 1989 Soviet terpaksa mundur dari Afghanistan. mirip Alexander dan Inggris, tak lama berselang imperium Marxis itu tumbang. Satu persatu negeri satelitnya melepaskan diri dan meninggalkan komunisme. Uni Soviet pun lenyap dari percaturan sejarah dunia.


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Baca halaman selanjutnya: Pasir Hisap ...

Halaman Selanjutnya 1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Artikel

Inilah yang Taliban Inginkan

Setelah 18 belas tahun berperang, kini hubungan Taliban-Amerika Serikat memasuki babak baru yaitu perjanjian damai. Apa yang sebenarnya menjadi keinginan Taliban dalam perjanjian damai tersebut.

Senin, 24/02/2020 17:48 0

Indonesia

Buku “Yusuf Mansur Obong” Ungkap Dugaan Skandal Penipuan Bermodus Sedekah

Penulis buku, HM Joesoef mengungkapkan bahwa penulisan buku ini dalam upaya mengingatkan yang bersangkutan supaya berhenti dan bertobat

Senin, 24/02/2020 15:27 4

Malaysia

PM Malaysia Mahathir Ajukan Pengunduran Diri

Spekulasi penyebab pengunduran diri Mahathir pun bertebaran dengan dua skenario utama yang dilaporkan media lokal.

Senin, 24/02/2020 15:27 0

Artikel

Menjaga Ukhuwah Islamiah

Di antara ajaran Al-Qur'an dan As-Sunnah adalah perintah mewujudkan dan menjaga ukhuwah islamiah (persaudaraan Islam) dan larangan melakukan segala perbuatan dan perkataan yang dapat merusak ukhuwwah islamiah. Maka, umat Islam wajib menjaga ukhuwah islamiah dan haram merusak ukhuwwah islamiah.

Senin, 24/02/2020 15:13 0

Indonesia

RUU Ketahanan Keluarga Atur Larangan Jual Beli Sperma dan LGBT

Salah satu yang disorot oleh media adalah pasal terkait penyimpangan seksual. Tidak hanya sejumlah pasal mengenai penyimpangan seksual, RUU Ketahanan Keluarga juga mengatur larangan donor dan jual beli sperma.

Senin, 24/02/2020 14:52 0

Afrika

Hindari Pertempuran, Ribuan Unta Berlarian Keluar Tripoli

Tiga ribu unta telah keluar dari ibukota Libya, Tripoli, setelah pelabuhan tempat mereka tiba dihujani tembakan artileri. Unta-unta itu meninggalkan pelabuhan Tripoli tak lama pada tengah malam Rabu pekan lalu.

Senin, 24/02/2020 13:20 0

India

Kunjungi India, Donald Trump Disambut Bak Pahlawan

Bagi Modi, kunjungan itu dapat mengalihkan perhatian dari kontroversi atas undang-undang kewarganegaraan baru yang mendiskriminasi umat Islam, serta krisis ekonomi domestik.

Senin, 24/02/2020 12:44 0

Turki

Halau Pasukan Rusia, Turki Diprediksi Tutup Selat Bosphorus

Turki mungkin akan segera menutup selat Bosphorus untuk mencegah masuknya kapal perang Rusia.

Senin, 24/02/2020 10:44 0

Yaman

Koalisi Saudi Bombardir Gudang Senjata Pemberontak Syiah Hutsi di Sanaa

Menurut Al-Maliki, koalisi telah mengambil "semua tindakan pencegahan dan tindakan yang diperlukan untuk melindungi warga sipil dan menghindarkan mereka dari kerusakan jaminan."

Senin, 24/02/2020 08:59 0

Yaman

AQAP Konfirmasi Kematian Qassem Al-Rimi dan Umumkan Penggantinya

Pada 6 Februari, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat "melenyapkan” Qassim Al-Rimi, salah satu pendiri dan pemimpin AQAP.

Senin, 24/02/2020 08:15 0

Close