Ada “Ustadz” Modusin Sedekah, Begini Konsep Sedekah Sesuai Syar’i Menurut KH. Athian

KIBLAT.NET, Bandung – KH. Athian Ali M. Dai dalam acara bedah buku “Yusuf Mansur Obong” menceritakan pengalaman sepasang suami istri yang berinteraksi dengan “Ustadz Sedekah”, beberapa waktu silam.

“Mereka (pasutri) mengadu, minta saran, masukan. Mereka cerita sedang mendapat musibah anak pertamanya – waktu itu berusia 6 tahun – sakit. Sudah berulang-ulang datang ke dokter tetapi Allah belum berkenan menyembuhkan,” tutur KH. Athian di Masjid Al Fajr, Buah Batu, Bandung, Sabtu (22/02/2020).

Dalam kondisi anaknya yang sakit keras, pasutri ini mendapat saran dari teman mereka untuk mendatangi seorang Ustadz.

Dalam hal ini, KH. Athian selama ini tidak pernah menyebut inisial Sang Ustadz dalam kasus tersebut.

“Mereka pun menemui Sang Ustadz. Dan  jawabannya jelas ‘kalau mau sembuh ya bersedekah. Nanti sedekahnya bisa lewat saya,’ ujar KH. Athian menirukan penuturan pasutri tersebut.

“Karena ada kalimat terakhir ‘bisa lewat saya’, maka suami istri ini ya bertanya, ‘Berapa Ustadz?’ kata pasutri itu.

“Nah ini keanehan-keanehan sudah mulai muncul, sedekah tapi kok malah bertanya berapa. Dan yang lebih aneh lagi ketika dijawab nominalnya disebut 200 juta,” ujar KH. Athian yang disambut decak tak percaya para hadirin.

Dia mengatakan peristiwa yang diceritakan tersebut sudah terjadi beberapa tahun silam, dan dia sudah lupa kapan tepatnya.

Namun, KH. Athian berani bersumpah bahwa cerita tersebut benar-benar nyata dan orisinil. Dia bahkan berani bersumpah untuk dilaknat Allah jika berdusta.

“Maka bingung lah si ibu ini dapat dari mana uang Rp200 juta, tapi dia harus bisa menyiapkan uang itu. Dan akhirnya dengan sangat terpaksa si ibu ini yang kebetulan ayahnya seorang pengusaha di Bandung, diam-diam mencuri sertifikat perusahaan ayahnya,” ujar KH. Athian.

Setelah mengambil sertifikat, ia gadaikan ke pihak bank. Karena pihak bank sudah sangat hafal dengan ibu ini dan orang tuanya, maka cairlah uang tersebut.

BACA JUGA  Bima Arya: Tak Benar Kami Memaksa Hasil Swab HRS Dibuka

“Maka diserahkan lah (Rp 200 juta) ke Sang Ustadz. Tentu si ibu dan bapak anak ini sudah tidak merasa perlu lagi ke dokter, karena dengan bersedekah pasti sembuh,” terang KH. Athian.

Seminggu setelah penyerahan uang itu, menurut cerita ibu itu, anaknya yang berumur 6 tahun itu ngedrop karena sudah lama tidak kontrol ke rumah sakit.

“Maka mereka pun segera menemui Sang Ustadz dan menyampaikan kondisi anaknya,” kata KH. Athian.

“Jawab Sang Ustadz, ‘Ya ini artinya sedekahnya kurang’,” lanjutnya yang kembali disambut decak kaget para hadirin.

Ibu itu berkata kepada Sang Ustadz, “Jadi harus berapa Ustadz, kurang 1 miliar lagi. Jadi harus satu setengah miliar.”

“Maka ibu itu pun menangis di hadapan Ustadz, lalu berkata, ‘Ustadz tolong saya, ya asal Ustadz tahu, Rp200 juta yang saya serahkan kepada ustad itu dapat meminjam dari bank dengan menggadaikan sertifikat yang saya curi dari perusahaan ayah saya, lalu satu miliar lagi saya cari dari mana Ustadz’,” kata KH. Athian menceritakan.

“Konon katanya, jawaban si Ustadz kepada ibu dan bapak anak itu, ‘Ya saya nggak tahu, ibu bertanya saya sudah menjawab’,” imbuhnya.

Setelah kejadian ini, pasutri ini pun akhirnya mengaku kepada orang tuanya.

“Sembari menangis di pangkuan ayahnya, ibu itu meminta maaf dan mengaku telah melakukan kesalahan besar, mencuri sertifikat perusahaan,” ujar KH. Athian.

“Konon ayahnya marah besar sampai berkata, ‘Percuma saya sekolahkan kalian menjadi sarjana, ke mana akal sehat kalian’.”

Lalu, anak yang sakit tadi dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan dan pengobatan. Giliran di rumah sakit pasutri ini dimarahi dokter.

“Ke mana saja kalian selama satu pekan ini, anak sudah dalam kondisi seperti ini baru dibawa ke rumah sakit. Akhirnya dicoba ditangani, tetapi sudah tidak tertangani lagi dan anak itu meninggal dunia,” tutup KH. Athian.

BACA JUGA  Polri Tolak Keluarkan Izin Reuni 212

Ia menyebut pengalaman dengan Sang Ustadz ini sempat dituliskan ibu anak itu dalam beberapa halaman menggunakan tulisan tangan. Sembari menyerahkan tulisan itu, ibu anak ini mengatakan siap mempertanggungjawabkan apa yang ia tulis jika memang sampai ke pengadilan.

“Saya merasa terpanggil kewajiban saya sebagai seorang Muslim untuk melaksanakan kewajiban ‘watawaa shoubil haq, amar ma’ruf nahi mungkar’. Mulailah, saya sisipkan dalam ceramah cerita itu,” ujar KH. Athian.

Sembari menyisipkan cerita itu, KH. Athian juga menyampaikan bagaimana pandangan Islam tentang sedekah. Ketika ia sampaikan cerita sepasang suami istri itu, banyak orang juga melaporkan pengalamannya dengan Sang Ustadz.

“Selama sekian tahun saya menyampaikan ini belum pernah saya menyebut nama Sang Ustadz itu, karena bagi saya itu tidak penting nama itu. Jangan sampai kesan orang mengira saya ada urusan pribadi dengan orang itu. Saya tidak ada urusan pribadi,” ujarnya.

“Saya hanya takut jika saya diam – padahal saya sudah tahu. Berapa nanti mereka menuntut saya di akhirat karena membiarkan semua itu terjadi. Lalu saya mau bilang apa di hadapan Allah,” lanjutnya.

KH. Athian pun mencoba meluruskan, bahwa sedekah-sedekah dengan cara seperti itu sama sekali tidak ada nilai ibadahnya di sisi Allah.

“Saya yakin. Sehingga jangan sampai umat merasa bahwa dengan bersedekah seperti itu sudah beribadah kepada Allah dan mengharapkan yang lain. Ini yang perlu saya luruskan, kecuali memang jika umat ingin membuang-buang uang, itu silahkan, Tapi paling tidak saya berkewajiban untuk mengingatkan,” pungkasnya.

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: M. Rudy

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat