... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

2020, Masih Adakah Al-Qaidah?

Serial Masterplan 2020 Al-Qaidah
Tulisan Pertama

Oleh: Fahmi Suwaidi*

KIBLAT.NET – Sejak 11 September 2001 silam, dunia berubah total. Serangan yang menghancurkan menara kembar WTC dan merusak Markas Militar AS Pentagon memunculkan nama Al-Qaidah sebagai kelompok jihadi paling terkenal di dunia.

Dunia internasional, di bawah kendali Amerika Serikat, menahbiskan Al-Qaidah dan pemimpinnya Usamah bin Ladin sebagai teroris nomor satu yang paling berbahaya. Di sisi lain, umat Islam terutama kalangan jihadis menjadikan Al-Qaidah sebagai ikon perlawanan utama, terhadap kekuatan Zionis dan Salibis dunia yang tulang punggungnya adalah Amerika.

Dengan konsep jihad globalnya, diproklamirkan tahun 1998, Al-Qaidah menyatakan perang pada Amerika Serikat. Kelompok ini menyerukan pada umat Islam, dan memelopori, serangan terhadap seluruh kepentingan Amerika baik sipil maupun militer.

Namun, setelah 19 tahun berlalu, masihkah hari ini umat Islam berharap pada jihad global ala Al-Qaidah? Lebih jelasnya, masih adakah Al-Qaidah dan agenda jihad globalnya melawan Amerika?

Pertanyaan ini pantas dimunculkan karena Al-Qaidah semakin menghilang dari panggung jihad dunia. Pemimpinnya yang kharismatik Usamah bin Ladin telah tiada, dibantai pasukan Navy Seals pada 2011 di Abbotabad Pakistan.  Sementara rilis Al-Qaidah baik berupa siaran pers ataupun amaliyat terbaru semakin jarang muncul.

Hal ini mungkin menggelitik bagi mereka yang pernah membaca buku “Masterplan 2020, Strategi Al-Qaidah Menjebak Amerika.” Terbit tahun 2008, telah berlalu 12 tahun sejak analisis jihad global itu dituliskan. Namun, apa hasil capaian, keberhasilan maupun kegagalan Al-Qaidah hari ini?

Apalagi angka tahun telah mencapai 2020 Masehi. Tahun yang menjadi batu penanda pencapaian strategis Al-Qaidah. Tulisan ini, insya Allah akan berlanjut sebagai sebuah serial, akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan publik terkait Al-Qaidah dan master plan mereka.

Konsep Sederhana

Sebagai pengusung bendera jihad global, jihad yang tak dibatasi batas negara bangsa manapun, Al-Qaidah memang membawa tren baru. Mereka menyatukan umat Islam dengan musuh bersama, “kepala ular” Amerika Serikat yang ditahbiskan sebagai biang segala kezaliman di dunia Islam.

BACA JUGA  Karantina Wilayah: Perlu tapi Pemerintah Belum Siap

Al-Qaidah menganalisis dan menyimpulkan bahwa segala penjajahan dan penindasan di dunia Islam seperti belitan ular raksasa. Badannya adalah negara dan kekuatan kafir, ataupun Muslim sekuler, sementara kepalanya ada di Amerika Serikat.

Bagi Al-Qaidah, penjajahan Israel di Palestina, penindasan rejim sekuler dan liberal di negeri Muslim, penguasaan minyak bumi dan aneka tambang berharga di dunia Islam, semuanya didalangi dan dikendalikan oleh kekuatan Zionis dan Salibis yang dipimpin oleh Amerika. Masih menurut mereka, percuma menusuk badan ular atau memutus ekornya. Untuk membunuh ular, kepalanya yang harus dipukul.

Logika ini cerdik. Umat Islam yang tercerai-berai membutuhkan musuh bersama. Musuh besar bersama itu menyatukan fokus perlawanan. Semua energi kemarahan karena dizalimi, kebencian pada ketidakadilan, dan pembalasan demi menegakkan keadilan menemukan kanal yang sama. Ketika luapan energi itu muncul bersama dari Muslim di seluruh dunia, efeknya dahsyat.

Kebangkitan umat Islam seperti pada masa perang melawan Tartar, atau seperti pada saat Perang Salib, akan terjadi. Muslim tak pernah menyerah jika digempur secara fisik, mereka akan bangkit melawan habis-habisan. Kurangnya hanya masalah bersatu, inilah gunanya menjadikan Amerika sebagai musuh bersama.

Itulah sebabnya, Bush buru-buru merevisi ketika ia keceplosan bahwa perang melawan terorisme adalah “crusade” alias perang salib. Bahaya, bisa muncul Shalahudin Al-Ayyubi baru yang memimpin perlawanan melawan Salibis abad 21.

Itulah sebabnya para pengamat Barat mengagendakan belah bambu dunia Islam. Supaya kekuatan tak menyatu, umat dibelah dua. Mereka yang enggan berjihad melawan Amerika, digelari moderat dan diperlakukan halus. Sementara mereka yang melawan, digelari radikal atau bahkan teroris. Bagi mereka cap moderat bisa didapatkan jika sudah mengalami “deradikalisasi.” Jika tak mau ya dihabisi.

Logika ini cerdik. Umat Islam yang tercerai-berai membutuhkan musuh bersama. Musuh besar bersama itu menyatukan fokus perlawanan. Semua energi kemarahan karena dizalimi, kebencian pada ketidakadilan, dan pembalasan demi menegakkan keadilan menemukan kanal yang sama. Ketika luapan energi itu muncul bersama dari Muslim di seluruh dunia, efeknya dahsyat.

Al-Qaidah menguraikan persoalan dengan sederhana. Ini “cuma” konflik antara dunia Islam dan dunia kafir. Namun Amerika dan Barat tahu dan paham, simplicity is power, konflik yang jelas dan sederhana akan membangunkan kekuatan umat Islam yang seperti raksasa ketiduran.

BACA JUGA  Ibadah Haji Pernah Ditiadakan, Ini Riwayat dan Alasannya

Maka konflik ini dibikin rumit. Jihad Islam dilabeli sebagai terorisme yang harus diperangi atas nama HAM dan kemanusiaan. Syariat jihad diberangus, tafsir Quran dan Sunnah tentangnya dipelintir. Mereka memerangi Muslim tapi mengaku tak memerangi Islam. Paradoks yang rumit dicerna meskipun dipaksakan.

Sementara Al-Qaidah dengan manifesto perlawanannya pada Amerika memunculkan wacana sederhana. Inilah yang paling bahaya dari Al-Qaidah, mereka cerdas menyederhanakan masalah umat Islam. Dunia Islam dibelit ular kekufuran, kepalanya Amerika. Jika kepala itu dipukul hancur, belitan akan terlepas.

Aksi Nyata

Tak hanya cerdas menyederhanakan masalah, Al-Qaidah juga menunjukkan dengan teladan amal. Serangan 11 September 2001 yang membuat Amerika kelimpungan menjadi bukti bahwa Paman Sam memang adidaya, namun bukan tak bisa dikalahkan.

Bukti ini menghilangkan ketakutan berlebihan di hati umat Islam. Mitos bahwa adidaya tak mungkin dilawan dipatahkan dengan pukulan telak ke jantung musuh. Ternyata bukan hanya Nabi Daud AS yang bisa mengalahkan raksasa Jalut dengan ketapelnya. Tetapi 19 pemuda Muslim yang pemberani bisa memukul telak Amerika dengan senjata tak terduga, pesawat penumpangnya sendiri. Knock Out!

Baca halaman selanjutnya: [caption...

Halaman Selanjutnya 1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Afrika

Hindari Pertempuran, Ribuan Unta Berlarian Keluar Tripoli

Tiga ribu unta telah keluar dari ibukota Libya, Tripoli, setelah pelabuhan tempat mereka tiba dihujani tembakan artileri. Unta-unta itu meninggalkan pelabuhan Tripoli tak lama pada tengah malam Rabu pekan lalu.

Senin, 24/02/2020 13:20 0

India

Kunjungi India, Donald Trump Disambut Bak Pahlawan

Bagi Modi, kunjungan itu dapat mengalihkan perhatian dari kontroversi atas undang-undang kewarganegaraan baru yang mendiskriminasi umat Islam, serta krisis ekonomi domestik.

Senin, 24/02/2020 12:44 0

Turki

Halau Pasukan Rusia, Turki Diprediksi Tutup Selat Bosphorus

Turki mungkin akan segera menutup selat Bosphorus untuk mencegah masuknya kapal perang Rusia.

Senin, 24/02/2020 10:44 0

Yaman

Koalisi Saudi Bombardir Gudang Senjata Pemberontak Syiah Hutsi di Sanaa

Menurut Al-Maliki, koalisi telah mengambil "semua tindakan pencegahan dan tindakan yang diperlukan untuk melindungi warga sipil dan menghindarkan mereka dari kerusakan jaminan."

Senin, 24/02/2020 08:59 0

Yaman

AQAP Konfirmasi Kematian Qassem Al-Rimi dan Umumkan Penggantinya

Pada 6 Februari, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat "melenyapkan” Qassim Al-Rimi, salah satu pendiri dan pemimpin AQAP.

Senin, 24/02/2020 08:15 0

Suara Pembaca

Butuh Bantuan, Bocah Lumpuh Sejak Usia 20 Bulan

Ini cerita seorang Muatul Walidah (5) bocah yang mengalami kelumpuhan sejak usia 20 bulan. Walidah...

Ahad, 23/02/2020 05:23 0

Opini

Mahfud MD Bilang RUU Omnibus Law Salah Ketik, Anda Percaya?

Sebab, bagaimana jika disebut salah ketik apabila yang salah ada satu pasal dengan tiga ayat.

Ahad, 23/02/2020 00:01 0

Indonesia

Kesaksian Fauzi Baadilla Saat di Idlib: Tak Ada Listrik, Pengungsi Kekurangan Air

Aktor Indonesia, Fauzi Baadillah sempat mengunjungi pengungsi Suriah di Idlib bersama tim Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Sabtu, 22/02/2020 22:50 0

Indonesia

Fauzi Baadilla Tak Setuju Membantu Pengungsi Suriah Dikaitkan ISIS

Aktor Indonesia, Fauzi Baadilla menolak jika pihak yang memberikan bantuan ke pengungsi Suriah lantas disebut pro ISIS.

Sabtu, 22/02/2020 21:50 0

Indonesia

JIB: Pemuda Harus Meneladani M Natsir

Anak muda Indonesia dewasa ini jarang sekali anak muda yang mengidolakan tokoh pendiri bangsa Indonesia yang memiliki tauladan untuk anak muda saat ini

Sabtu, 22/02/2020 16:41 0

Close