... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Gerakan Subuh Berjamaah, Bentuk Perlawanan Baru Warga Palestina terhadap Israel

Foto: Reuters

KIBLAT.NET, Tepi Barat – Ribuan warga Palestina berduyun-duyun ke masjid yang terletak di Victory Square di Nablus, Tepi Barat, pada Selasa (18/02/2020). Mereka menghadiri shalat Subuh berjamaah dengan jumlah tak biasa untuk membuka front baru dalam protes terhadap Israel dan Amerika Serikat.

Pemandangan seperti ini juga terlihat di daerah lain di Tepi Barat beberapa waktu terakhir. Warga berbondong-bondong mengikuti shalat jamaah Subuh dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka menghindari tempat-tempat protes biasa di mana mereka berisiko ditangkap. Aksi protes yang biasanya dilingkupi kemarahan pun kini menjadi suasana keimanan.

“Ini adalah cara paling damai untuk menyampaikan pesan,” kata seorang pemilik restoran, Saif Abu Bakr, ketika massa meninggalkan Nablus dari masjid dan berpencar di jalan dan alun-alun di sekitarnya.

Para jamaah meneriakkan slogan-slogan selepas kumandang adzan. Di antara slogan itu, “di jalan Allah kami berdiri berharap bendera berkibar tinggi”.

Abu Bakar mengatakan, saya berharap ini akan menjadi bentuk baru penyampaian pesan. Kami sudah mencoba berbagai bentuk protes dan tidak berhasil karena kami tidak memiliki kekuatan yang cukup. Ini adalah cara teraman untuk semua orang.

Dalam bentuk aksi protes terbaru itu, massa membawa pesan penolakan rencana perdamaian di Palestina yang dibuat oleh Presiden AS Donald Trump.

Sejak rencana Trump itu diumumkan, jalanan di Palestina dipenuhi aksi protes dalam skala kecil setiap hari. Tidak sedikit yang menanggapi seruan Otoritas Palestina yang dipimpin oleh Presiden Mahmoud Abbas untuk mengorganisir protes “Days of Wrath”.

BACA JUGA  Di Tengah Pandemi Covid-19, Israel Masih Tembaki Warga Palestina

Sebagai gantinya, banyak yang menyambut seruan itu melalui Facebook dan media sosial lainnya dengan mengajak aksi yang dikenal sebagai “Fajar Besar Nablus”, yang berupa shalat Subuh berjamaah. Aksi Subuh ini untuk menunjukkan diri kepada Trump dan menghadang ancaman Israel terhadap situs suci Islam di Yerusalem dan kota Hebron. Di kedua kota ini, jamaah shalat Subuh meningkat setelah seruan di media social itu.

Seruan pertama untuk memenuhi masjid di waktu Subuh datang dari gerakan Fatah pimpinan Mahmod Abbas, yang mendominasi Organisasi Pembebasan Palestina.

Jumlah jamaah semakin meningkat setelah kampanye itu mendapatkan dukungan dari gerakan Islam Hamas, yang memiliki pengaruh di masjid-masjid, terutama di kota-kota di mana banyak pendukung gerakan.

Fawzi Barhoum, juru bicara gerakan Hamas di Gaza, mengatakan kepada Reuters bahwa kampanye itu merupakan upaya untuk memperingatkan warga Palestina akan rencana Trump dan rencana Israel untuk mencaplok kota mereka di Tepi Barat.

Di Nablus, di mana jumlah jamaah yang terus meningkat, para jamaah bersikeras bahwa tidak ada kelompok khusus di belakang kampanye ini. Mereka menggambarkannya sebagai gerakan rakyat yang berusaha berdiri dengan kedua kakinya sendiri.

Namun, Reuters mendapati slogan-slogan yang biasa yang digunakan Hamas menggema di jalan-jalan dalam aksi Subuh itu.

Sumber: Reuters
Redaktur: Sulhi El-Izzi


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Forum Perlemen Muslim Internasional Kokohkan Keberpihakan Pada Empat Isu Krusial

Ketua Fraksi PKS, Jazuli Juwaini yang juga Wakil Ketua IIFP mengungkapkan bahwa ada empat point yang dihasilkan pada pertemuan kali ini.

Selasa, 18/02/2020 23:31 0

Editorial

Editorial: Kita yang Turut Membunuh Mereka

Kita ini masyarakat biasa. Melalui gawai yang tak pernah lepas dari genggaman, kita tahu hari-hari ini di Suriah banyak anak-anak mati beku.

Selasa, 18/02/2020 23:12 3

Indonesia

Dianggap Salah Ketik, Ini Pasal Omnibus Law yang Mungkinkan Pemerintah Ubah UU

Dalam draf RUU Cipta Kerja dicantumkan bahwa pemerintah pusat berwenang mengubah ketentuan dalam Undang-undang.

Selasa, 18/02/2020 14:41 0

Indonesia

Draf Omnibus Law: Impor Jadi Sumber Peyediaan Pangan Dalam Negeri

Pemerintah berencana menjadikan impor pangan sebagai sumber penyediaan pangan dalam negeri.

Selasa, 18/02/2020 14:05 0

Indonesia

Komentari Agama dan Konstitusi, Komisi VIII: Kepala BPIP Jangan Cari Perkara

Anggota Komisi VIII DPR RI, Buchori Yusuf mengatakan bahwa Yudian Wahyudi lebih baik mundur dari ketua BPIP.

Selasa, 18/02/2020 00:26 0

Indonesia

Menag: Tidak Ada “Hutang Budi” dalam Setiap Jabatan di Kemenag

Menteri Agama Fachrul Razi menegaskan tidak ada hutang budi dalam setiap pengangkatan jabatan di Kementerian Agama. Hal ini disampaikan Menag saat melantik enam pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN), di Operation Room Kantor Kementerian Agama, Jakarta.

Senin, 17/02/2020 16:27 0

Indonesia

Klaim PDIP Partai Besar, Risma Ajak Milenial Tak Ragu Bergabung

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini mengajak anak-anak muda di Kota Surabaya, Jawa Timur agar bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Senin, 17/02/2020 14:13 1

Indonesia

Amnesty International Indonesia Minta Anak Eks ISIS Dipulangkan

Menurutnya, jika merujuk hukum internasional maka anak-anak harus dipulangkan.

Senin, 17/02/2020 13:09 0

Indonesia

AII: Ancaman Eks ISIS Seharusnya Ditangani Secara Proporsional

Direktur Amnesty International Indonesia, Usman Hamid mengatakan bahwa Pemerintah memang tidak berkewajiban memulangkan eks ISIS

Senin, 17/02/2020 12:43 0

Indonesia

Terkait Kepulangan WNI Eks Wuhan, Menko PMK: Masyarakat Tidak Perlu Khawatir

Pemerintah memastikan proses pengembalian 238 warga negara Indonesia (WNI) dari Natuna ke daerah masing-masing berjalan lancar dan semua WNI dalam keadaan sehat. Mereka merupakan WNI yang dievakusi Pemerintah Indonesia dari Wuhan, China karena wabah corona yang menjangkiti wilayah tersebut. Sebelum pulang ke daerah masing-masing, melewati harus masa observasi selama 14 hari di wilayah Natuna.

Senin, 17/02/2020 12:42 0

Close