... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Turki Ancam Faksi-faksi Jihadis di Idlib

Foto: Pengiriman alat tempur Turki ke Suriah menyusul situasi terkini di Idlib

KIBLAT.NET, Ankara – Pemerintah Turki, Kamis (13/02/2020), mengancam akan menyerang para jihadis di provinsi Idlib Suriah jika mereka tidak menghormati gencatan senjata di daerah ini. Ancaman ini keluar di tengah kritik tajam dari Moskow ke Ankara.

“Kami akan menggunakan pasukan di Idlib untuk memerangi terhadap mereka yang tidak menghormati gencatan senjata, termasuk para ekstrimis (jihadis),” kata Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar, seperti dikutip oleh AFP dari Kantor Berita Anadolu Agency Anatolia.

“Kami akan mengirim unit tambahan untuk membangun gencatan senjata lagi dan memastikan tencatan terus berlanjut,” tambahnya.

Turki dan Rusia berulang kali menyatakan gencatan senjata di provinsi itu sebagai bagian dari upaya untuk mengakhiri pertempuran di Idlib, tetapi tidak berhasil.

Meskipun ada kesepakatan untuk mengurangi eskalasi antara Ankara dan Moskow, rezim Suriah telah melancarkan serangan di Idlib dengan dukungan jet tempur Rusia selama berbulan-bulan. Pejuang oposisi, termasuk di dalamnya kelompok jihadis, berupaya menghalau serangan.

Sehubungan dengan meningkatnya operasi pemboman di Idlib, Turki –selaku pendukung faksi-faksi oposisi— dan Rusia –yang berdiri di samping Presiden Bashar al-Assad— saling melontarkan kritik tajam.

Dalam konteks ini, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuduh Moskow berpartisipasi dalam “pembantaian” warga sipil. Erdogan juga mengecam “perjanjian yang belum dipenuhi.”

Tak menunggu waktu lama, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menuduh Turki tidak melakukan upaya untuk “menetralisir para teroris di Idlib.” Ia menekankan bahwa situasi ini “tidak dapat diterima.”

BACA JUGA  Tempat Pelarian Sudah Tak Ada, Pengungsi dari Idlib Terdampar di Jalanan

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan bahwa pernyataan Turki itu bertanggung jawab atas “krisis di Idlib”. Lembaga itu menuduh Ankara “tidak memenuhi kewajibannya mengenai pemisahan pejuang oposisi moderat (Suriah)” dan kelompok-kelompok jihad.

Kekhawatiran Turki tentang situasi di Idlib karena alasan kedekatan wilayah itu dengan perbatasan Turki. Dikhawatirkan serangan pasukan rezim akan menyebabkan masuknya lebih banyak pengungsi ke tanahnya, terutama karena menampung 3,7 juta warga Suriah.

Sementara krisis Idlib menegangkan hubungan antara Turki dan Rusia. Amerika Serikat, yang merupakan sekutu Turki di NATO, telah menunjukkan dukungan yang kuat untuk pihak berwenang Turki.

Pada Rabu, Perwakilan Khusus AS untuk Suriah James Jeffrey mengadakan pembicaraan dengan para pejabat Turki di Ankara.

Dalam pernyataan yang diterbitkan oleh kedutaan Amerika di Ankara di Twitter, Jeffrey menegaskan bahwa Washington “sepenuhnya setuju dengan Turki” mengenai kehadirannya di Suriah “untuk membela kepentingan vitalnya dalam menghadapi masuknya pengungsi dan dengan tujuan memerangi terorisme.”

“Kami memahami dan mendukung keprihatinan Turki yang sah, yang membenarkan kehadiran pasukan Turki di Suriah, terutama di Idlib, untuk menyerang rezim Presiden Assad yang melakukan kejahatan perang,” tambahnya.

Dia menekankan bahwa rezim Suriah dan sekutu Rusia dan Irannya harus menyadari bahwa “mereka tidak akan mampu mencapai kemenangan militer” di Suriah.

Sumber: AFP
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Presiden Diminta Evaluasi Kinerja Kepala BPIP

Menurut Azhar, diskursus relasi Pancasila dan agama secara objektif memang kerap hadir dalam lapis historis perjalanan bangsa.

Kamis, 13/02/2020 13:46 0

Indonesia

Sebut Agama Musuh Pancasila, KAMMI Anggap BPIP Bikin Gaduh

Elevan pun mendesak Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mencopot Yudian yang baru dilantik pekan lalu itu.

Kamis, 13/02/2020 13:37 0

Indonesia

Terorisme Tidak Sebesar ISIS Kecuali Ada Negara yang Mengizinkannya

Pengamat Hubungan Internasional, Dinna Wisnu menilai bahwa ada pihak tertentu yang membiarkan ISIS berkembang dengan cepat dan besar

Kamis, 13/02/2020 13:12 0

Indonesia

Gus Yaqut Ragukan Data Menkopolhukam Soal WNI Eks ISIS

Ketua Umum GP Ansor, Gus Yaqut Cholil Qoumas meragukan data WNI eks ISIS yang disampaikan Menkopolhukam Mahfud MD.

Kamis, 13/02/2020 12:53 0

Indonesia

GISS: Sebut ISIS Eks WNI, Jokowi Akui ISIS Negara Berdaulat

Direktur Global Indonesia Strategic Studies (GISS) Fajar Shadiq menilai narasi yang digunakan oleh Jokowi kepada para pendukung ISIS yang berada di Suriah sebagai ISIS Eks WNI kontraproduktif.

Kamis, 13/02/2020 12:26 0

Indonesia

GP Ansor: Penanganan Terorisme Harus Libatkan Masyarakat

Ketua Umum GP Ansor, Gus Yaqut Cholil Qoumas menyoroti penanganan terorisme di Indonesia.

Kamis, 13/02/2020 12:11 0

Indonesia

Prof Didin Hafiduddin: Kepala BIPP Akan Jadi Benalu, Lebih Baik Dicopot

Wakil ketua Dewan Pertimbangan MUI, Prof. Didin Hafiduddin meminta presiden Republik Indonesia mencopot Kepala BPIP Yudian Wahyudi yang menyebut Agama adalah musuh terbesar pancasila.

Kamis, 13/02/2020 11:49 0

Indonesia

PBNU: Pembelaan Terhadap Palestina Amanat Agama

Said Aqil Siradj menyebut senjata paling ampuh untuk mengatasi problem Palestina adalah dengan bersatunya negara-negara Arab.

Kamis, 13/02/2020 11:41 0

Indonesia

Ditolak Mabes Polri, FPI Laporkan Ade Armando ke Polda Metro Jaya

Front Pembela Islam kembali melaporkan Ade Armando ke Polda Metro Jaya, setelah sebelumnya laporan FPI ditolak di Bareskrim Mabes Polri.

Kamis, 13/02/2020 11:34 0

Video News

PBNU: Bersatunya Negara Arab, Senjata Terkuat Pembebasan Palestina

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj menyebut senjata paling ampuh untuk mengatasi problem Palestina adalah dengan bersatunya negara-negara Arab.

Kamis, 13/02/2020 09:49 0

Close