... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Pemulangan Eks ISIS Perlu Libatkan MUI

Foto: Sekjen MUI, Anwar Abbas

KIBLAT.NET, Jakarta – Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia, Anwar Abbas menilai kepulangan WNI eks ISIS dari beberapa negara di Timur Tengah tidak bisa dilarang. Selama WNI itu masih ingin kembali ke Indonesia, maka ia berhak pulang.

“Siapapun dia, kalau dia WNI kalau sekarang berada di luar negeri, kalau dia ingin kembali ke tanah air, dia berhak,” ujarnya di Gedung MUI, Jakarta Pusat, Rabu (5/2/2020).

Hanyasaja, ketika WNI eks ISIS kembali ke Indonesia harus ada upaya penyamaan ideologi dengan ideologi yang sesuai dengan Pancasila, dan jangan bertentangan dengan UUD 1945.

“Karenanya perlu di-adaptasikan, perlu ada upaya untuk mengkondisikan mereka, sehingga pandangan ideologinya kembali sesuai dengan pandangan yang dimiliki bangsa Indonesia,” ujarnya.

Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia, Zaitun Rasmin juga mendukung pemulangan WNI Eks ISIS dari negara negara di Timur Tengah. Dalam kepulangan itu, ia harap pemerintah menggandeng Ulama untuk melakukan pembinaan.

“Selama warga negara mereka masih berlaku, punya hak untuk pulang yang sebaiknya dilakukan wawancara namun sebelumnya harus ada penyamaan pandangan yang melibatkan ulama karena tidak mungkin tidak dilibatkan khususnya terhadap konsep islam wasathiyah,” ujarnya.

Zaitun menegaskan, pemulangan eks ISIS ini diharap melibatkan Ulama MUI. Karena MUI disebutnya merupakan kumpulan dari berbagai umat Islam dan konsisten terhadap konsep Islam wasatiyah.

BACA JUGA  Narapidana di Penjara SDF Berontak, Sejumlah Tahanan ISIS Kabur

“Apabila belum bisa berubah mungkin ada cara lain dan ulama juga harus diberi kesempatan,” ujarnya.

Ia pun enggan mengomentari terkait efektifitas program deradikalisasi yang dilakukan pemerintah saat ini. Hanyasaja, ia berharap ulama dilibatkan dalam deradikalisasi.

Selain itu, ia juga berharap pemerintah melibatkan pengusaha dalam deradikalisasi untuk mengatasi masalah perekonomian yang disebut sebagai salah satu penyebab radikalisasi. “Kita siap membantu. Karena kalau tidak sampai ke akar masalah karena jika tidak sampai, tidak dapat menyelesaikannya,” ujarnya.

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: Izhar Zulfikar

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Artikel

Raja Gila dan Kita Yang Gila Raja

Fenomena raja palsu mengakar di masyarakat Indonesia yang pernah lama menganut sistem feodal. Bahkan, para pemimpin tingkat nasional dan tingkat daerah kerap menggunakan atribut feodalisme

Rabu, 05/02/2020 22:57 0

Video News

HNW: Menag Tak Berani Sebut Perusakan Mushalla di Minahasa Sebagai Radikalisme

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, Hidayat Nur Wahid menyebut pengerusakan Masjid Al Hidayah Agape, Minahasa adalah tindakan radikal.

Rabu, 05/02/2020 15:07 0

Myanmar

ICC Kumpulkan Bukti-bukti Kejahatan Myanmar terhadap Rohingya

Penyelidik dari Pengadilan Kriminal Internasional (ICC), telah mulai mengumpulkan bukti-bukti tentang dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan oleh Myanmar terhadap Muslim Rohingya.

Rabu, 05/02/2020 14:54 0

India

“Pemerintah India Berusaha Menghapus Sejarah Kashmir”

"Saya ingin memberi tahu India bahwa mereka tidak dapat menghapus warisan ayah saya dari Kashmir karena semua orang mengingatnya di sini," kata Kant. "Sejarah tidak pernah bisa dihapus."

Rabu, 05/02/2020 11:49 0

Turki

Tak Rela Idlib Diambil Alih Rezim Assad, Ini Alasan Turki

Turki akan memberi tanggapan sekuat tenaga untuk setiap serangan baru dari rezim Suriah pimpinan Bashar Assad.

Rabu, 05/02/2020 11:33 0

Afghanistan

Taliban: Pihak AS Halangi Proses Perdamaian di Afghanistan

"Pak Pompeo tidak seharusnya menyalahkan kami. Posisi kami berprinsip dan bersatu, dan kebijakan kami tidak segoyah pihak lain. ”

Rabu, 05/02/2020 07:25 0

Suriah

Dua Bulan, 500 Ribu Orang Mengungsi dari Idlib

Gelombang pengungsi terbaru ini merupakan yang terbesar sejak konflik meletus pada 2011, menurut Swanson.

Rabu, 05/02/2020 07:05 0

News

Gerakan Protes Irak Terpecah Usai Sikap Politik Moqtada Sadr Berubah

Sadr mendesak para pengikutnya untuk tetap berada di jalanan, untuk menciptakan keretakan di dalam aksi protes.

Selasa, 04/02/2020 14:41 0

Thailand

Dokter Thailand Mengaku Berhasil Obati Pasien Virus Corona

"Hasil lab positif pada coronavirus berubah negatif dalam 48 jam," kata Kriengsak. "Dari kelelahan sebelumnya, dia bisa duduk di tempat tidur 12 jam kemudian."

Selasa, 04/02/2020 14:22 0

Eropa

Virus Corona Menjadi Darurat Global, Namun WHO Tidak Rekomendasikan Travel Ban

Organisasi kesehatan dunia WHO pada akhir bulan lalu akhirnya  menetapkan status penyebaran virus corona sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau Darurat Kesehatan Masyarakat Internasional.

Selasa, 04/02/2020 12:14 0

Close