... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Prancis Kelimpungan Ditinggal Sendirian Hadapi Islamis di Sahel Afrika

Foto: Militer Prancis di Afrika

KIBLAT.NET, Paris – Pemerintah Prancis, Senin (27/01/2020), berharap Amerika Serikat mendahulukan “akal sehat” dan tidak mengurangi dukungan operasi militer Paris di Afrika Barat, di mana kelompok-kelompok yang berafiliasi pada Organisasi Al-Qaidah dan ISIS kian kuat di wilayah tersebut.

Seruan itu dibuat oleh Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian pada saat Menteri Pertahanan negaranya Florence Barley dijadwalkan bertemu kolega AS-nya Mark Esper dan Penasihat Keamanan Nasional AS Robert O’Brien. Pertemuan itu membahas krisis di Sahel, wilayah hutan di selatan gurun Sahara.

Tahun kemarin, Pentagon mengumumkan rencana penarikan ratusan personel militer dari Afrika. AS berupaya mengalihkan sumber daya untuk menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh China dan Rusia, setelah dua dekade fokus pada memerangi terorisme. Pemangkasan pasukan ini dilakukan setelah kajian intens yang berkelanjutan.

Rencana AS itu membuat Prancis khawatir. Selama ini, Paris mengandalkan informasi intelijen dan fasilitas logistik AS untuk operasi pasukannya di Afrika yang berjumlah 4.500 prajurit.

Prancis membawa insiden tewasnya 13 personel militernya dalam kecelakaan tabrakan dua helikopter selama misi tempur di Mali pada November untuk mendapatkan dukungan dari negara lain. Dua helikopter itu tabrakan akibat menghindar dari serangan kelompok jihadis.

Seorang pejabat senior di Kementerian Pertahanan Prancis mengatakan kepada Reuters bahwa Prancis percaya bahwa ini adalah waktu untuk meningkatkan tekanan pada militan, bukan untuk mengurangi tekanan, dalam rangka mencegah “ISIS mengambil posisi di Sahel.”

Barley akan menyerahkan permasalahan ini kepada Esper dan O’Brien pada Senin.

“Saya berharap mereka akan menunjukkan logika dan mempertahankan kemitraan ini … dan bahwa akal sehat akan menang,” kata Barley kepada wartawan.

Amerika Serikat saat ini menempatkan sebanyak 6.000 personel militer di Afrika. Meskipun beberapa penasihat militer mengatakan relokasi pasukan sudah terlambat, banyak pejabat AS mengungkapkan keprihatinan Prancis tentang meredanya tekanan pada militan di Afrika.

“Setiap penarikan atau pengurangan (pasukan) kemungkinan akan menghasilkan eskalasi serangan ekstremis lebih sering di benua Afrika dan di luar,” kata Senator Republik Linzi Graham dan Demokrat Chris Koons dalam sebuah surat kepada Isber bulan ini.

Prancis, bekas kekuasaan kolonial, mengintervensi Afrika pada 2013 untuk mengusir gerilyawan yang merebut Mali utara tahun sebelumnya. Sejak saat itu, para pejuang Islamis berhasil mengonsolidasikan kekuatan dan berkembang. Selama setahun terakhir, militan telah meningkatkan serangan di Mali, Burkina Faso dan Niger.

Jenderal Francois Le Quantre, kepala staf angkatan bersenjata Prancis, mengatakan kepada Reuters bahwa hilangnya dukungan intelijen AS yang mengumpulkan informasi dari penyadapan akan menjadi “kemunduran terbesar”.

“Saya melakukan yang terbaik untuk mencegah hal ini terjadi,” katanya, seraya menambahkan bahwa sistem mata-mata Prancis yang bergantung pada drone tidak akan beroperasi sampai akhir tahun.

Prancis mengatakan, bulan ini, bahwa pihaknya akan mengerahkan 220 personel militer tambahan di kawasan itu, kendati ada sentimen anti-Paris yang meningkat di beberapa negara dan kritik di dalam negeri bahwa pasukan Prancis jatuh ke “rawa”.

Barley baru-baru ini mengunjungi Sahel, ditemani oleh rekan-rekannya di Portugal, Swedia dan Estonia. Kunjungan itu untuk meyakinkan sekutu Eropa berbuat lebih banyak, terutama sekutu yang terlibat dalam pasukan khusus di unit baru yang dipimpin oleh Prancis yang akan dibentuk tahun ini.

Salah satu tujuan utama pembentukan unit ini, kata para pejabat, adalah untuk meningkatkan koordinasi antara pasukan regional dan pesawat Prancis yang mampu melakukan serangan udara.

Hingga saat ini, partisipasi masih terbatas. Estonia hanya menjanjikan 40 personil militer, sementara konsultasi berlanjut dengan delapan negara lain. Jerman menolak berpartisipasi.

Sumber: Reuters
Redaktur: Sulhi El-Izzi


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Komisi VI: Sertifikasi Halal Tidak Boleh Hilang Dari Omnibus Law

Perkiraan jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 269,6 juta jiwa tahun ini dengan 85,17 persen beragama Islam.

Senin, 27/01/2020 17:27 0

Artikel

Sunda Empire dan Gerakan Global: Ada Apa?

Jika di Indonesia, ketidakpuasan situasi masih ditanggapi sebagian masyarakat dengan fenomena-fenomena gerakan yang tidak rasional, maka di luar negeri, fenomena ini telah menjelma menjadi gerakan-gerakan protes sosial yang mendunia.

Senin, 27/01/2020 12:36 0

Indonesia

Heboh Virus Corona, Muhammadiyah Minta Indonesia Lindungi WNI di Cina

Pimpinan Pusat Muhammadiyah meminta pemerintah Indonesia mengambil langkah preventif menyikapi penyebaran virus corona.

Senin, 27/01/2020 12:11 0

Indonesia

GNPF Ulama: Halangi Penuntasan Korupsi, Dewas KPK Harus Dibubarkan

Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama) turut berkomentar terkait maraknya kasus korupsi

Sabtu, 25/01/2020 16:40 0

Video Kajian

Khutbah Jumat: Tinggalkan Segala yang Haram – Ust. Muizz Abu Turob

Diantara yang perlu diperhatikan oleh seorang muslim dan mukmin adalah hendaknya dia selalu memakan makanan yang halal.

Jum'at, 24/01/2020 19:34 0

Feature

Kisah Inspiratif: Tukang Becak Pendiri Rumah Sakit

Kematian ayah tercinta membuat Zainal Abidin mengambil keputusan yang mengubah hidupnya. Keputusan yang akan bermanfaat bagi ribuan sesama.

Jum'at, 24/01/2020 14:29 0

Indonesia

Syaikh Ali Jaber Resmi Jadi WNI

Penceramah Syaikh Ali Jaber resmi menjadi Warga Negara Indonesia (WNI).

Jum'at, 24/01/2020 02:48 0

Indonesia

Gelar Program Penceramah Bersertifikat, Kemenag Gandeng BNPT Hingga BPIP

ementerian Agama akan melaksanakan program penceramah bersertifikat.

Jum'at, 24/01/2020 02:36 0

Indonesia

Amnesty International Indonesia: Pengakuan Luthfi Dianiaya Polisi Harus Diusut

mnesti Internasional Indonesia memberikan respon terhadap kesaksian Luthfi Alfiandi, yang mengaku bahwa dirinya telah disiksa oleh aparat saat pemeriksaan di kepolisian.

Jum'at, 24/01/2020 02:25 0

Indonesia

Pemerintah Diminta Perhatikan Kondisi Kesehatan Narapidana

Pemerintah Diminta Perhatikan Kondisi Kesehatan Narapidana

Jum'at, 24/01/2020 02:18 0

Close