... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Faktor-Faktor Penghalang Persatuan Oposisi Suriah

Foto: Pejuang Suriah/Ilustrasi

KIBLAT.NET, Idlib – Tekanan terhadap kelompok-kelompok oposisi bersenjata Suriah untuk melebur dalam satu entitas kembali menguat menyusul eskalasi militer rezim Assad dan Suriah. Kelompok oposisi di Idlib dan daerah-daerah kontrol ruang operasi Dar’ul Furat, Ghasnul Zaitun dan Nub’us Salam diseru melebur di bawah satu kepemimpinan.

Upaya kelompok-kelompok pejuang itu bersatu telah beberapa kali dilakukan, namun pada akhirnya gagal. Hal itu lantaran “banyaknya penghalang”, mulai dari faktor ideologis maupun pengaruh eksternal.

Seorang komandan pejuang yang dekat dengan faksi Islamis Hai’ah Tahrir Al-Syam (HTS), Khaled Al-Omar, mengungkapkan bahwa penyatuan faksi merupakan persyaratan paling penting untuk “meningkatkan tingkat koordinasi dan kerja sama dan menyatukan upaya-upaya revolusi di daerah-daerah yang dibebaskan.”

Menurut Omar dalam wawancara dengan Arabi21.com pada Ahad (26/01/2020), seruan membentuk sebuah entitas bersama faksi di ruang operasi Dar’ul Furat bukanlah prioritas utama di tengah tantangan militer yang sedang dihadapi gerakan revolusi. Rusia dan musuh-musuh revolusi berusaha menyerang pada berbagai tingkat. Secara politik, melalui trik rekonsiliasi pengkhianatan dan solusi politik yang tidak mencapai kepentingan sekecil apa pun dari revolusi. Secara intelektual, dimasukkannya proyek-proyek yang menyesatkan dan menjelekkan revolusi, seperti dimunculkannya ISIS dan lainnya.

Ia melanjutkan, musuh-musuh revolusi juga mencoba menyerang dengan melumpuhkan roda kehidupan sipil di daerah-daerah yang dibebaskan, melalui penyebaran kekacauan dan korupsi. Kemudian, rezim dan Rusia menekan warga secara ekonomi melalui pengepungan sehingga warga tidak memiliki kemampuan bersabar dan tabah dalam mencapai tujuan revolusi. Di atas itu semua, eskalasi militer dan pertempuran. Sementara seluruh dunia hanya menonton.

BACA JUGA  Oposisi Gunakan Tank Rezim Suriah dalam Pertempuran Aleppo

Omar menambahkan bahwa mencapai “persatuan” untuk saat ini masih jauh. Seruan ini tidak akan menyediakan yang diperlukan untuk menghadapi tahap dari umur revolusi ini. Yang diperlukan saat ini adalah mempertahankan tingkat koordinasi militer dan memperkuat persatuan militer melalui ruang operasi bersama.

Dia juga melihat bahwa saat ini partisipasi faksi militer di daerah kontrol ruang operasi Dar’ul Furat dan Ghaznul Zaitun dengan membuka front di daerah masing-masing sangat diperlukan. Jika kita dapat mencapai tingkat koordinasi ini maka peleburan menjadi satu entitas bukanlah mustahil, bahkan sekalipun ditentang oleh berbagai pihak atau negara pendukung.

HTS Masalahnya?

Pada gilirannya, pemimpin Liwa Mu’tasim (faksi oposisi nasionalis), Mustafa Sayjari, mengatakan bahwa saat ini sudah terbentuk badan militer yang komprehensif, yaitu Jaisyul Wathany, yang “menyatukan semua faksi”.

Kepada Arabi21.com, Sayjari mengatakan bahwa HTS tidak dapat menjadi bagian dari masa depan Idlib, dan tentu saja bukan bagian dari badan nasional oposisi. Oleh karena itu, kami menganggap bahwa kehadiran dan kontrolnya atas beberapa daerah adalah masalah bertahap.

Dalam konteks ini, aktivis media Qais Al-Ahmad melihat banyak hambatan yang menghalangi persatuan faksi-faksi dalam satu badan militer. Namun penghalang-penghalang itu terwakili dalam perbedaan ideologis antarfaksi.

Ia menganggap kepada Arabi 21, di antara hambatan itu terkait dengan HTS, yang dimasukkan oleh Barat ke dalam daftar teroris. Pemikirannya yang berusaha mengontrol sendiri wilayah Idlib dan mengatur sumber dayanya, termasuk mengeliminasi semua faksi dan mengambil senjata mereka, serta praktik-praktik pembentukan keamanannya untuk menangani faksi-faksi lain. HTS menangkap, merampas harta benda faksi-faksi yang berseberangan dan mengusir sebagian besar mereka ke wilayah Dar’ul Furat dan Ghaznul Zaitun serta tidak mengizinkan mereka kembali untuk ikut serta berperang membela Idlib.

BACA JUGA  Oposisi Suriah Tembak Jatuh Helikopter Militer Rezim di Idlib

Dalam konteks ini, imbuh Al-Ahmad, persatuan militer merupakan salah satu kebutuhan penting pada tahap sensitif ini. Persatuan itu dapat berkontribusi pada upaya menyatukan dan menginvestasikan kekuatan kader dan militer untuk melawan serangan rezim dan Rusia.

Pengaruh Eksternal

Jurnalis Sultan Al-Atrash menganggap bahwa hubungan sejumlah faksi oposisi, baik langsung maupun tidak langsung, dengan pihak-pihak regional dan internasional dan kepentingan mereka, menghalangi persatuan para pejuang. Di luar itu, adanya pertentangan ideologis antara faksi-faksi yang ada.

Ia mengatakan, tentu saja segala sesuatu yang terjadi di di Suriah terkait dengan agenda eksternal. Kami telah memperhatikan hal ini dengan mata kami sendiri dan hubungan masing-masing faksi dengan negara tertentu untuk mencapai kepentingannya. Faksi-faksi tergadai oleh hubungan itu untuk melakukan persatuan.

Pada gilirannya, aktivis Mohamed Selim mengatakan kepada Arabi 21 bahwa kesalahan (yang menyebabkan gagalnya persatuan) tidak hanya terletak pada faksi-faksi yang digambarkannya sebagai “jihadis”. Kesalahan tersebut juga ada faksi-faksi revolusioner yang persatuannya masih rapuh, menurutnya.

Dia menambahkan bahwa Turki ingin menyatukan faksi-faksi di seluruh utara Suriah, untuk memperkuat posisinya di depan Rusia. Seperti halnya Ankara telah “muak” dengan kekacauan pembubaran faksi-faksi, terutama pada Dar’ul Furat. Persatuan faksi-faksi oposisi sangat menguntukan Turki karena berdampak positif bagi keamanan nasionalnya.

Sumber: Arabi21.com
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Artikel

Sunda Empire dan Gerakan Global: Ada Apa?

Jika di Indonesia, ketidakpuasan situasi masih ditanggapi sebagian masyarakat dengan fenomena-fenomena gerakan yang tidak rasional, maka di luar negeri, fenomena ini telah menjelma menjadi gerakan-gerakan protes sosial yang mendunia.

Senin, 27/01/2020 12:36 0

Indonesia

Heboh Virus Corona, Muhammadiyah Minta Indonesia Lindungi WNI di Cina

Pimpinan Pusat Muhammadiyah meminta pemerintah Indonesia mengambil langkah preventif menyikapi penyebaran virus corona.

Senin, 27/01/2020 12:11 0

Indonesia

GNPF Ulama: Halangi Penuntasan Korupsi, Dewas KPK Harus Dibubarkan

Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama) turut berkomentar terkait maraknya kasus korupsi

Sabtu, 25/01/2020 16:40 0

Video Kajian

Khutbah Jumat: Tinggalkan Segala yang Haram – Ust. Muizz Abu Turob

Diantara yang perlu diperhatikan oleh seorang muslim dan mukmin adalah hendaknya dia selalu memakan makanan yang halal.

Jum'at, 24/01/2020 19:34 0

Feature

Kisah Inspiratif: Tukang Becak Pendiri Rumah Sakit

Kematian ayah tercinta membuat Zainal Abidin mengambil keputusan yang mengubah hidupnya. Keputusan yang akan bermanfaat bagi ribuan sesama.

Jum'at, 24/01/2020 14:29 0

Indonesia

Syaikh Ali Jaber Resmi Jadi WNI

Penceramah Syaikh Ali Jaber resmi menjadi Warga Negara Indonesia (WNI).

Jum'at, 24/01/2020 02:48 0

Indonesia

Gelar Program Penceramah Bersertifikat, Kemenag Gandeng BNPT Hingga BPIP

ementerian Agama akan melaksanakan program penceramah bersertifikat.

Jum'at, 24/01/2020 02:36 0

Indonesia

Amnesty International Indonesia: Pengakuan Luthfi Dianiaya Polisi Harus Diusut

mnesti Internasional Indonesia memberikan respon terhadap kesaksian Luthfi Alfiandi, yang mengaku bahwa dirinya telah disiksa oleh aparat saat pemeriksaan di kepolisian.

Jum'at, 24/01/2020 02:25 0

Indonesia

Pemerintah Diminta Perhatikan Kondisi Kesehatan Narapidana

Pemerintah Diminta Perhatikan Kondisi Kesehatan Narapidana

Jum'at, 24/01/2020 02:18 0

Video News

Lagi, Napi Kasus Terorisme di LP Gunung Sindur Meninggal Dunia

Salah seorang narapidana teroris di Lapas Maximum Security Gunung Sindur kembali meninggal dunia. Rifaat Al-Barki, seorang tahanan asal Padang dikabarkan meninggal pada Rabu (22/1/2020) pagi.

Kamis, 23/01/2020 17:03 0

Close