... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Dua Negara Sekutu Penting Berperang, Irak Hadapi Posisi Sulit

Foto: Irak

KIBLAT.NET, Baghdad – Perdana Menteri Irak Adel Abdul Mahdi pada Rabu (08/01/2020) mendesak Washington dan Teheran menahan diri setelah serangan rudal Iran terhadap pasukan AS di Irak. Baghdad berusaha meredakan ketegangan dua negara musuh tersebut yang keduanya juga sekutu penting Irak.

Abdul Mahdi menolak segala pelanggaran kedaulatan Irak atau serangan-serangan di dalam wilayah negaranya dan mengatakan dia berusaha menenangkan situasi.

Pasukan Iran menembakkan rudal ke dua pangkalan militer di Irak yang di dalamnya terdapat markas pasukan AS pada Rabu dini hari. Serangan ini sebagai balasan atas pembunuhan Qassem Soleimani, komandan Brigade Al-Quds (unit khusus Garda Revolusi Iran untuk operasi luar negeri) oleh serangan drone AS.

“Kami meminta semua pihak menahan diri, mendahulukan bahasa akal, mematuhi perjanjian internasional, menghormati negara Irak, dan keputusan pemerintahnya, dan membantu menahan dan mengatasi krisis serius yang mengancam Irak dan kawasan serta dunia dengan perang yang komprehensif dan menghancurkan,” kata Abdul Mahdi.

Abdul Mahdi menggunakan frasa yang sama setelah serangan AS yang menewaskan Soleimani dan juga seorang pemimpin faksi milisi Irak, Abu Mahdi Al-Muhandis, di Baghdad Jumat lalu. Dia sekarang menghadapi kondisi serba sulit menyikapi ketegangan kedua negara sekutunya itu.

Faksi-faksi yang didukung Iran dan koalisi militer internasional pimpinan AS membantu Irak mengalahkan Organisasi Daulah Islamiyah (ISIS) yang sempat mengontrol sepertiga wilayahnya pada tahun 2014. Di sisi lain, milisi pro Iran dan koalisi internasional juga terlibat perang proksi di Irak dan di tempat lain di kawasan itu.

Mengacu pada dilema yang dihadapi pemerintah Irak, seorang juru bicara Abdul-Mahdi mengatakan bahwa pemerintah telah menerima pesan lisan dari Iran pada tengah malam (sebelum serangan rudal ke pangkalan AS) bahwa serangan balasan atas kematian Soleimani akan dimulai beberapa saat lagi.

Juru bicara itu menambahkan bahwa Teheran telah memberi tahu Abdul Mahdi bahwa “serangan itu akan terbatas pada keberadaan tentara AS di Irak, tanpa menyebutkan lokasinya.”

Juru bicara itu mengatakan bahwa perdana menteri menerima telepon dari Amerika Serikat pada saat serangan rudal terhadap lokasi militer AS di Pangkalan Udara Ein Al-Assad di Anbar dan Pangkalan Sutera di Erbil.

Parlemen Berselisih 

Beberapa pemimpin faksi Syiah menyambut serangan Iran.

Para pemimpin spiritual Syiah Irak yang bersaing, termasuk kelompok Syiah penentang pengaruh Iran, satu suara menyikapi pembunuhan Soleimani. Mereka menyerukan pengusiran lima ribu pasukan Amerika yang ditempatkan di Irak. Juga pada Ahad, Parlemen mengeluarkan resolusi yang menyerukan kepergian pasukan AS.

“Agresi Amerika memberikan pembenaran bagi tanggapan Iran,” kata koalisi Al-Fatah, yang mewakili faksi-faksi bersenjata di parlemen.

Qais Khazali, pemimpin kelompok bersenjata Irak yang didukung oleh Iran, juga mengancam balasan dari Irak, dengan mengatakan bahwa Teheran telah membuka jalan.

“Balasan Iran pertama terhadap pembunuhan komandan martir Soleimani terjadi. Sekarang adalah waktunya untuk tanggapan awal Irak atas pembunuhan komandan martir Abu Al-Mahdi Al-Muhandis (wakil kepala aliansi milisi Syiah Al-Hasd Al-Syakbi yang tewas bersama Soleimani),” kata Khazali.

Banyak warga Irak, termasuk penentang Soleimani, marah pada Washington atas pembunuhan jenderal penting Iran itu dan wakil pemimpin Al-Hasd Al-Syakbi. Mereka marah karena langkah itu akan menyeret Irak ke dalam konflik lain.

Tetapi minoritas Sunni dan minoritas Kurdi khawatir bahwa pengusiran pasukan pimpinan AS akan membuat Irak rentan terhadap pemberontakan, kerentanan keamanan dan semakin kuatnya kontrol kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Iran.

Perwakilan dari kedua kelompok memboikot sesi sidang parlemen pada Ahad.

Sementara itu, Ketua Parlemen Muhammad Al-Halbousi, politisi Sunni paling senior, menyerukan pada Rabu untuk “mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga kedaulatan Irak.”

Presiden Irak Barham Salih, seorang Kurdi, mengatakan bahwa kehadiran koalisi adalah masalah internal, setelah Iran menyerukan kepergian pasukan Amerika dari Irak. Dia menambahkan bahwa Irak harus dijauhkan dari perang baru.

Para pemimpin wilayah semi-otonom Kurdistan di Irak mengatakan bahwa kehadiran koalisi diperlukan untuk perang melawan ISIS. Mereka meminta negara-negara anggota koalisi untuk tetap tinggal di Irak. Mereka juga menuntut Washington dan Teheran menjauhkan kawasan itu dari konflik mereka.

Para pemimpin Kurdi dalam pernyataan bersama mengatakan bahwa Wilayah Kurdistan percaya bahwa dukungan pasukan koalisi internasional untuk Irak dan wilayah Kurdistan untuk tujuan terus menghadapi dan melawan terorisme diperlukan.

Sumber: Reuters
Redaktur: Sulhi El-Izzi


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Tingkatkan Daya Saing, Menag Ingin Lulusan Madrasah Kuasai Bahasa Mandarin

Menag Facrul Razi ingin anak Madrasah ketika lulus menguasai bahasa Mandarin.

Rabu, 08/01/2020 12:50 0

Indonesia

Barisan Bangun Negeri Bantu Recovery Masjid Terdampak Banjir

Gerakan Barisan Bangun Negeri turut membantu warga dalam membersihkan masjid terdampak banjir. Mereka menargetkan pada hari Jum'at (10/01/2020), masyarakat sudah bisa menggunakan masjid untuk melaksanakan sholat Jum'at berjamaah.

Rabu, 08/01/2020 11:00 0

Indonesia

“Masjid Peradaban” Menjadi Fokus Utama Barisan Bangun Negeri

Barisan Bangun Negeri (BBN) merupakan sebuah gerakan umat Islam yang diinisiasi oleh delapan ustadz nasional, mereka adalah Ustadz Abdul Somad, Ustadz Hanan Attaki, Ustadz Oemar Mita, Habib Anies, Ustadz Salim A Fillah, Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Luqmanul Hakim, dan Ustadz Felix Siauw.

Rabu, 08/01/2020 10:29 0

Indonesia

Jangan Panik, Ijazah Rusak Akibat Banjir Ternyata Bisa Diperbaiki

Banjir yang melanda wilayah Jabodetabek sejak hari pertama tahun 2020 tentu menimbulkan banyak kerugian bagi warga terdampak. Harta benda yang hanyut terbawa air, kendaraan yang rusak terendam, dan yang mungkin paling membuat pusing adalah dokumen-dokumen penting seperti ijazah, surat nikah, dan akte kelahiran yang terendam banjir.

Selasa, 07/01/2020 17:20 0

Indonesia

Sekjen MUI Minta Pemerintah Kaji Ulang Hubungan dengan Cina

kekecewaan ini semakin bertambah setelah pemerintah Cina mengklaim perairan Natuna sebagai bagian dari wilayah mereka.

Selasa, 07/01/2020 11:26 0

Indonesia

DDII Gelar Simposium Bahas Radikalisme

Menyambut awal tahun 2020, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia mengumpulkan para pakar da’wah dalamsimposium

Selasa, 07/01/2020 11:14 0

Indonesia

PBNU Dukung Pemerintah Indonesia Tenggelamkan Kapal Cina di Natuna

PBNU juga mendesak pemerintah RRT berhenti melakukan tindakan provokatif atas kedaulatan wilayah perairan RI

Selasa, 07/01/2020 10:55 0

Indonesia

Iuran BPJS Tetap naik, Komisi IX: Pemerintah Ingkari Kesepakatan

Kurniasih menyebut pemerintah telah mengabaikan keputusan yang telah dibuat bersama DPR beberapa waktu lalu.

Senin, 06/01/2020 16:10 0

Indonesia

Meski Kapal Cina di Natuna, Pemerintah Tak Boleh Lupa Kasus Jiwasraya

Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid Presiden Joko Widodo harus bersikap tegas terhadap adanya kapal Cina di Natuna.

Senin, 06/01/2020 11:06 0

Indonesia

Hidayat Nur Wahid Tagih Janji Kampanye Jokowi Terkait Natuna

Hidayat Nur Wahid mengingatkan Presiden Joko Widodo untuk membuktikan dan melaksanakan pernyataannya mengenai Natuna saat kampanye pilpres 2019

Senin, 06/01/2020 09:58 0

Close