... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Editorial: Derita Uighur dan (Memaklumi) Kebisuan Negara Muslim

KIBLAT.NET – Pemerintah negara-negara muslim hanya bisa membisu ketika muslim Uighur dipersekusi, karena China adalah negara yang sangat-sangat kuat.

Begitulah kiranya tanggapan yang dilontarkan Perdana Menteri Malaysia, Dr. Mahathir bin Mohammad soal derita yang dialami oleh muslim Uighur yang menempati wilayah Xinjiang, China. Menurut Mahathir, lebih baik mencari cara-cara lain yang minim kekerasan dan tidak bernada permusuhan terhadap China mengingat banyak manfaat yang kita dapatkan dari China.

Pandangan Mahathir tersebut semakin dipertegas dengan pernyatannya dalam perhelatan Kuala Lumpur Summit 2019. Kepada awak media, dia mengatakan bahwa dalam momen pertemuan para pemimpin muslim sedunia tersebut tidak akan membahas tentang persekusi terhadap muslim Uighur karena tema pertemuan tersebut bukanlah politik ataupun keagamaan, melainkan sebatas soal negara-negara muslim yang sedang berkembang.

Lebih dari satu juta muslim Uighur dilaporkan ditahan secara sewenang-wenang di kamp-kamp re-edukasi yang didirikan pemerintah China. Bukan hanya itu, para muslimah Uighur juga dilaporkan dipaksa menikah dengan pria-pria dari suku Han, China. Oleh Human Right Watch, perilaku pemerintah Beijing tersebut disebut sebagai praktik asimilasi paksa yang sangat invasif.

Sikap Mahathir tentu saja bisa disayangkan sekaligus dimaklumi. Disayangkan, mengingat dirinya yang begitu vokal  menentang penindasan terhadap muslim Rohingya oleh pemerintah Myanmar. Mengapa dirinya tidak mengambil sikap yang sama ketika melihat penindasan muslim Uighur. Namun juga bisa dimaklumi, mengingat dari berbagai sisi, Malaysia sebagai sebuah negara memang tak berdaya di hadapan China.

BACA JUGA  Ditunggu Hakim dan Penggugat, Pihak Yusuf Mansur Tak Hadir

Hal yang sama juga terjadi pada jagoan negara muslim lainnya, siapa lagi kalau bukan Racip Tayyip Erdogan. Sikapnya tak bisa setegas kebijakannya ketika menangani persoalan di Timur Laut Suriah dengan pendekatan militer. Bahkan dalam pidato terbarunya di Kuala Lumpur Summit 2019, ia tak menyinggung sedikitpun terkait persoalan Uighur.

Melihat kenyataan tersebut, rasanya kita menjadi mafhum dan maklum ketika melihat pemerintah kita yang membisu. Pemerintah Indonesia sejatinya punya modal untuk tidak membisu, mengingat Muhammadiyah pada bulan Februari lalu sudah memberikan laporan terkait adanya perampasan hak kebebasan beragama muslim Uighur kepada Kementerian Luar Negeri.

Namun apa mau dikata, jika, sekali lagi, Mahathir dan Erdogan sebagai dua jagoan negara muslim saja tak mampu bersikap, apalagi yang lainnya. Tetapi, hal tersebut sebenarnya tidak boleh menjadi alasan pemerintah Indonesia, mengingat Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945, yang alinea pertama pembukaannya berbunyi:

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.”

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Amerika

Didukung China, Rusia Gunakan Hak Veto ke-14 untuk Gagalkan Resolusi Soal Suriah

Selain Rusia dan China, seluruh negara anggota DK PBB yang berjumlah 13 menyatakan mendukung resolusi tersebut.

Sabtu, 21/12/2019 07:40 0

Indonesia

Kritisi PMA Majelis Taklim, DDII: Pemerintah Sama Umat Islam Kok Begitu?

Siddik mengaku kaget dengan keputusan Menteri Agama tersebut. Hal ini karena majelis taklim sudah eksis di Indonesia sejak puluhan tahun lalu.

Sabtu, 21/12/2019 03:44 0

Indonesia

Di bawah Guyuran Hujan, Masyarakat Solo Gelar Aksi Bela Uighur

Dalam aksi ini, DSKS juga meminta kepada Duta Besar Cina agar pemerintahan Cina untuk membuka akses bantuan dari luar bagi Muslim Uighur seluas-luasnya.

Jum'at, 20/12/2019 21:20 0

Indonesia

Tak Tegas Soal Uighur, FPI : Indonesia Terlalu Banyak Utang dengan Cina

"Seharusnya umat Islam di Indonesia sadar, rakyat Indonesia juga sadar, kita mulai dulu boikot produk Cina. Walaupun itu susah, tapi usahakan," ujarnya.

Jum'at, 20/12/2019 21:09 0

China

Soal Xinjiang, Amnesty Sebut Ada Kamp yang Tidak Bisa Diakses

Berdasarkan dokumen Amnesty, terdapat satu juta orang dari kelompok minoritas yang ditahan. Tak hanya etnis Uighur, minoritas lain seperti etnis Kazakh dan Tajik juga ikut ditahan oleh pemerintah.

Jum'at, 20/12/2019 20:13 0

Indonesia

BEM UIA: Kenapa Indonesia Masih Diam Soal Uighur?

Ketua Bidang Luar Negeri BEM Universitas Islam Asyafi'iyah (UIA), Siti Arfa Namsah menegaskan bahwa Indonesia segala bentuk penindasan terhadap siapapun.

Jum'at, 20/12/2019 18:53 0

Indonesia

Pemerintah Indonesia Didesak Putus Hubungan Diplomasi dengan Cina

Penanggungjawab aksi solidaritas Uighur, Maulana Saleh mendesak pemerintah Indoensia memberikan sikap tegas terhadap pemerintah Cina. Sebab, pemerintah Cina telah melakukan penindasan terhadap muslim Uighur.

Jum'at, 20/12/2019 18:39 0

Indonesia

Demo Uighur di Depan Kedubes Cina, Mahasiswa Terlibat Saling Dorong dengan Polisi

Kejadian ini tak hanya berlangsung sekali, karena massa dari mahasiswa ingin masuk ke Kedubes. Orator terdengar terdengar ali meneriakkan untuk mendobrak gerbang. "Kita dobrak kawan-kawan. Maju dua langkah, revolusi!," teriak orator.

Jum'at, 20/12/2019 18:02 0

Indonesia

Aksi Solidaritas Uighur, Ratusan Massa Geruduk Kedubes China

Ratusan umat Islam melakukan aksi di depan Kantor Kedutaan Besar China di Jakarta. Menurut pantauan Kiblat.net, massa aksi mulai berdatangan pada pukul 14.00 WIB.

Jum'at, 20/12/2019 15:41 0

Rusia

Dinas Intelijen FSB Rusia Ditembaki, Tiga Orang Tewas

"FSB mengatakan bahwa pihaknya telah "menetralisir" seorang penembak di markas besarnya di pusat kota Moskow," lapor kantor berita Interfax.

Jum'at, 20/12/2019 15:09 0

Close