... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

DK PBB Terpecah Soal Penyaluran Bantuan Kemanusiaan ke Suriah

Foto: Sidang DK PBB

KIBLAT.NET, New York – Dewan Keamanan (DK) PBB menggelar sidang tertutup Rabu (18/12/2019). Sidang ini membahas rancangan resolusi untuk memperluas mekanisme pengiriman bantuan kemanusiaan internasional ke Suriah. Blok Rusia dan Barat berselisih dalam masalah ini.

Duta Besar Jerman untuk PBB, Christoph Hosengen, mengatakan kepada wartawan di akhir pertemuan yang digelar atas permintaan Rusia itu, “kami tidak terpengaruh oleh ancaman hak veto.” Pernyataan Hosengen itu merujuk pada posisi Rusia yang menolak resolusi untuk memperpanjang mekanisme bantuan internasional ke Suriah.

Anggota DK PBB, beberapa hari terakhir, menegosiasikan rancangan resolusi bersama, yang disusun oleh Jerman, Belgia dan Kuwait, untuk memperpanjang kerja mekanisme bantuan internasional selama satu tahun. Mekanisme yang diadopsi sejak 2014 itu untuk memberikan bantuan kemanusiaan internasional kepada hampir 4 juta warga Suriah melintasi perbatasan dan garis depan di Suriah.

Mekanisme, yang memungkinkan pengiriman bantuan melalui titik-titik yang tidak dikendalikan oleh rezim Suriah ini, akan berakhir pada 10 Januari. Tetapi Rusia menentang untuk memperpanjangnya, karena berupaya memperkuat kontrol sekutunya, rezim Suriah, atas negara itu.

Berdasarkan mekanisme yang berjalan, saat ini bantuan kemanusiaan internasional ke Suriah melalui empat titik transit. Dua melalui Turki, satu melalui Yordania, dan satu melalui Irak. Sementara pembukaan titik kelima melalui Turki ke Tel Abyad sedang dibahas. Titik persimpangan baru ini muncul dalam draft resolusi yang diajukan oleh Jerman, Belgia dan Kuwait.

BACA JUGA  Oposisi Gunakan Tank Rezim Suriah dalam Pertempuran Aleppo

Namun, para diplomat melaporkan bahwa Rusia pada Senin lalu menyampaikan kepada sekutunya di DK PBB akan membuat resolusi tandingan.

Rusia, yang menganggap bahwa situasi di lapangan telah berubah karena rezim mengontrol kembali wilayah yang lebih luas, mengusulkan dalam rancangan resolusi tandingan penghapusan dua dari empat titik persimpangan saat ini, bukannya menambahkan poin kelima.

Dua penyeberangan yang ingin ditutup oleh Rusia adalah penyeberangan Yarubiya, di perbatasan antara Suriah dan Irak, dan penyeberangan Ramtha antara Suriah dan Yordania.

Moskow juga mengusulkan untuk memperbarui keputusan hanya enam bulan, bukan satu tahun.

Menurut diplomat, kedua kubu (Rusia dan Barat), menentukan “garis merah” selama sidang. Untuk Rusia, puncak keputusan adalah perpanjangan enam bulan, dan hanya dua titik persimpangan. Sementara Washington mengatakan menerima tidak kurang dari perpanjangan satu tahun dan empat penyeberangan. Adapun persimpangan kelima diminta oleh Ankara dan PBB.

Pemungutan suara pada draft resolusi Jerman-Belgia-Kuwait dijadwalkan pada Kamis, tetapi anggota Dewan dapat menunda pemungutan suara jika kompromi tercapai.

Sesi Dewan Keamanan datang sehari setelah sepuluh anggota tidak tetap DK PBB mengirim banding resmi ke Rusia untuk tidak keberatan dengan perpanjangan mekanisme selama satu tahun.

“Konsekuensi dari tidak diperpanjangnya mekanisme ini akan menjadi bencana besar,” kata sepuluh negara (Belgia, Jerman, Indonesia, Afrika Selatan, Republik Dominika, Pantai Gading, Guinea Ekuatorial, Kuwait, Peru dan Polandia) dalam sebuah pernyataan bersama yang dibacakan di markas PBB.

BACA JUGA  Editorial: Kita yang Turut Membunuh Mereka

Sumber: AFP
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Kenang Gus Hilman, KH Luthfi Bashori: Beliau Tak Fanatik Buta dengan NU

Tokoh Nahdlatul Ulama Jawa Timur, KH. Luthfi Basori turut berduka atas meninggalnya Gus Hilman Wajdi

Rabu, 18/12/2019 17:24 0

Indonesia

Putra KH Hasyim Muzadi, Gus Hilman Wajdi Meninggal Dunia

utra Ulama KH. Hasyim Muzadi, Gus Hilman Wajdi meninggal dunia.

Rabu, 18/12/2019 17:11 0

Indonesia

Muhammadiyah Benarkan Terjadi Perampasan terhadap Kebebasan Beragama Muslim Uighur

Muhyiddin Junaidi, ketua delegasi ormas Islam dalam kunjungan ke Xinjiang, Cina pada Februari lalu, mengungkapkan bahwa terjadi perampasan hak beragama terhadap muslim Uighur di Xinjiang, Cina.

Rabu, 18/12/2019 16:27 0

Indonesia

Muhammadiyah Ungkap Kecurigaan Saat Kunjungi Muslim Uighur

Muhyiddin Junaidi, Ketua delegasi Ormas Islam dalam kunjungan ke Xinjiang Februari lalu, mengungkapkan beberapa kecurigaan saat mengunjungi kamp konsentrasi Uighur.

Rabu, 18/12/2019 14:43 0

Indonesia

Pemuda Muhammadiyah: Cina Gunakan Dalih Terorisme untuk Diskriminasi Muslim Uighur

banyak persoalan HAM fundamental dari etnik Uighur yang dilanggar oleh pemerintah Cina.

Rabu, 18/12/2019 13:59 0

Opini

Nasib Buruk Ozil yang Masih Lebih Baik dari Nasib Orang-orang Uighur

Agaknya sial betul nasib Mesut Ozil, pesepakbola asal Jerman yang masih memiliki darah Turki. Sudah diketahui secara luas di kalangan para pemerhati (industri) sepakbola jika di kompetisi musim ini, ia mendapat kesempatan bermain yang sangat minim dari klubnya, Arsenal.

Selasa, 17/12/2019 19:24 0

Artikel

Guru Tjokro, Sosialisme, dan Islam

Bagaimana hakikat sosialisme Islam dalam pandangan Tjokroaminoto.

Selasa, 17/12/2019 17:44 0

Indonesia

Soal Berita WSJ, Wasekjen PBNU: Kita Bukan Corong Amerika dan Cina

Wasekjen PBNU, Masduki Baidlowi mengatakan bahwa berita Cina memberikan dana kepada Nahdlatul Ulama tidaklah benar.

Selasa, 17/12/2019 17:24 0

Indonesia

Wasekjen PBNU: Kalau Asal Ngomong Soal Xinjiang, Cina Tersinggung

Ia menilai, bagaimanapun Indonesia tidak bisa mencampuri peristiwa yang ada di Xinjiang.

Selasa, 17/12/2019 16:11 3

Indonesia

Wasekjen PBNU Samakan Muslim Uighur dengan Separatis Papua

Wasekjen PBNU, Masduki Baidlowi menganggap bahwa ada separatisme di Xinjiang,

Selasa, 17/12/2019 15:54 3

Close