... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

KTT Negara-negara Muslim Akan Digelar di Malaysia, Untuk Lawan Pengaruh Saudi?

Foto: Penggagas KTT Kuala Lumpur, PM Mahathir Mohammad

KIBLAT.NET, Kuala Lumpur – Malaysia akan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) para pemimpin negara-negara muslim pekan ini. KTT ini digambarkan sebagai forum untuk membahas masalah-masalah dunia Islam, di tengah soroan banyak pihak karena KTT ini mungkin cerminan unyuk perebutan pengaruh di Timur Tengah.

Sejumlah pemimpin negara muslim seperti Iran, Turki dan Qatar, akan berpartisipasi dalam KTT tersebut, di samping ratusan delegasi negara lainnya. Pertemuan puncak akan berlangsung tiga hari dan dijadwalkan membahas serangkaian tantangan yang dihadapi umat Islam.

Pertanyaan utamanya adalah apakah perlakuan China terhadap minoritas muslim Uighur akan menjadi bahasan setelah para pemimpin negara muslim dibombardir kritik karena bungkam terhadap penderitaan minoritas muslim di Tiongkok itu.

Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, berada di belakang KTT ini. Ia telah lama memimpin kampanye untuk memperkuat solidaritas antara negara-negara di dunia Islam dan ingin meningkatkan kedudukan negaranya di panggung dunia.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan sebelum forum, kantor Mahathir mengatakan bahwa umat Islam hari ini menderita karena jutaan dari mereka ditahan di kamp-kamp konsentrasi, perang saudara yang telah mengakibatkan kehancuran total dan meningkatnya Islamophobia.

Sementara itu, delegasi tingkat tinggi Saudi tidak akan berpartisipasi dalam konferensi tersebut. Akan tetapi, pemimpin negara musuh Arab Saudi di Timur Tengah, Presiden Iran Hassan Rouhani dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Jumad, akan berpartisipasi.

BACA JUGA  PM Malaysia Mahathir Ajukan Pengunduran Diri

Spekulasi munguap bahwa forum ini dapat digunakan untuk melawan pengaruh Saudi.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang hubungannya dengan Riyadh baru-baru ini memburuk, juga akan berpartisipasi dalam konferensi tersebut.

Raja Saudi Salman bin Abdul Aziz telah diundang untuk hadir, tetapi dia tidak akan berpartisipasi, sesuai dengan apa yang diumumkan para pejabat Malaysia.

KTT itu dilatarbelakangi oleh ketegangan yang intens antara Kerajaan dan Iran, setelah serangan terhadap tanker minyak dan instalasi di Teluk.

Tantangan bagi Saudi?

Analis Giorgio Cafiero dan Khaled Al-Jaber mengatakan dalam sebuah artikel untuk Lembaga Penelitian Timur Tengah bahwa sejumlah negara yang menjadi mayoritas muslim merasa tidak nyaman dengan Arab Saudi karena peran Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman.

Mereka menambahkan bahwa KTT Kuala Lumpur dapat menjadi “alternatif dari Organisasi Kerjasama Islam (OKI), yang berbasis di kota Jeddah Saudi, dan secara efektif tunduk pada kepemimpinan Saudi.”

Kantor Mahathir dengan cepat menolak ini dan menyatakan bahwa KTT “tidak dimaksudkan untuk membuat blok baru.”

Akan tetapi, muncul indikasi bahwa Riyadh tidak nyaman dengan konferensi tersebut. Perdana Menteri Pakistan Imran Khan membatalkan keikutsertaannya setelah mengunjungi kerajaan pada akhir pekan, dalam satu langkah yang katanya ditujukan untuk menghilangkan kekhawatiran sekutu Saudinya.

Sementara seruan untuk mengatasi masalah Uighur bertambah banyak. Para analis percaya para pemimpin tidak mungkin mengambil tindakan keras tentang masalah ini karena takut merusak hubungan ekonomi vital dengan Beijing.

BACA JUGA  MasyaAllah, Seorang Batita Selamat Usai Terlempar dari Mobil di Jalan Raya

Para pemimpin cenderung puas diri dengan mengutuk perlakuan terhadap minoritas Muslim Rohingya di Burma, setelah anggota mereka melarikan diri dari Burma yang didominasi Buddha pada tahun 2017, setelah kampanye militer yang sengit dan mengutuk perlakuan terhadap warga Palestina.

Setelah KTT, presiden Iran akan pergi ke Tokyo pada Jumat, perjalanan pertama oleh presiden negara ini ke Jepang dalam dua dekade, menurut kantor berita resmi Iran.

Bagi Mahathir (94), pemimpin tertua di dunia, hasil terpenting dari KTT adalah untuk meningkatkan posisi negaranya di arena internasional, setelah reputasinya ternoda oleh tuduhan mantan perdana menteri yang digulingkan tahun lalu dalam kasus korupsi.

Shah Riman Luqman, seorang analis di Institut Studi Strategis dan Internasional di Malaysia, mengatakan pertemuan puncak “adalah cara bagi Mahathir dan Malaysia untuk kembali ke posisi terkemuka di dunia Islam.”

Sumber: AFP
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Opini

Nasib Buruk Ozil yang Masih Lebih Baik dari Nasib Orang-orang Uighur

Agaknya sial betul nasib Mesut Ozil, pesepakbola asal Jerman yang masih memiliki darah Turki. Sudah diketahui secara luas di kalangan para pemerhati (industri) sepakbola jika di kompetisi musim ini, ia mendapat kesempatan bermain yang sangat minim dari klubnya, Arsenal.

Selasa, 17/12/2019 19:24 0

Artikel

Guru Tjokro, Sosialisme, dan Islam

Bagaimana hakikat sosialisme Islam dalam pandangan Tjokroaminoto.

Selasa, 17/12/2019 17:44 0

Indonesia

Soal Berita WSJ, Wasekjen PBNU: Kita Bukan Corong Amerika dan Cina

Wasekjen PBNU, Masduki Baidlowi mengatakan bahwa berita Cina memberikan dana kepada Nahdlatul Ulama tidaklah benar.

Selasa, 17/12/2019 17:24 0

Indonesia

Wasekjen PBNU: Kalau Asal Ngomong Soal Xinjiang, Cina Tersinggung

Ia menilai, bagaimanapun Indonesia tidak bisa mencampuri peristiwa yang ada di Xinjiang.

Selasa, 17/12/2019 16:11 3

Indonesia

Wasekjen PBNU Samakan Muslim Uighur dengan Separatis Papua

Wasekjen PBNU, Masduki Baidlowi menganggap bahwa ada separatisme di Xinjiang,

Selasa, 17/12/2019 15:54 3

Info Event

Hadirilah! Tabligh Akbar Tantangan Para Pendidik di Akhir Zaman

Tabligh Akbar (Tantangan Para Pendidik Di Akhir Zaman)"

Selasa, 17/12/2019 14:00 0

Indonesia

Meski Banyak Investasi Cina, Indonesia Tetap Diminta Bela Muslim Uighur

Fahira Idris menegaskan bahwa Indonesia harus mengecam penindasan muslim Uighur oleh pemerintah Cina.

Selasa, 17/12/2019 08:34 1

Indonesia

Fahira Idris: Sampai Kapan Indonesia Diam Soal Uighur?

Sampai kapan Indonesia terus diam soal Uighur sementara di belahan dunia kecaman terus mengalir.

Selasa, 17/12/2019 05:27 0

Indonesia

Muhammadiyah Tegaskan Cina Renggut Kebebasan Beragama Muslim Uighur

PP Muhammadiyah tegas menolak dan melawan segala bentuk pelanggaran HAM, termasuk terhadap Muslim Uighur di Xinjiang, Cina.  

Senin, 16/12/2019 21:40 0

Indonesia

Haedar Nasir: Persoalan Uighur Sama Dengan Palestina dan Rohingya

Prof. Haedar Nashir secara tegas menyatakan bahwa organisasinya peduli terhadap permasalahan HAM Muslim Uighur di Xinjiang

Senin, 16/12/2019 21:31 0

Close