... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Nasib Buruk Ozil yang Masih Lebih Baik dari Nasib Orang-orang Uighur

Foto: Mesut Ozil, yang tampak semakin "nyaman" di bangku cadangan Arsenal.

KIBLAT.NET – Agaknya sial betul nasib Mesut Ozil, pesepakbola asal Jerman yang masih memiliki darah Turki. Sudah diketahui secara luas di kalangan para pemerhati (industri) sepakbola jika di kompetisi musim ini, ia mendapat kesempatan bermain yang sangat minim dari klubnya, Arsenal.

Hingga memasuki hampir setengah musim kompetisi, tercatat Ozil baru delapan kali bermain untuk klub medioker English Premier League tersebut, dengan nirgol dan 1 umpan berbuah gol.

Bagi seorang pemain professional yang tidak sedang mengalami cedera, jarang dimainkan oleh pelatih adalah sebuah nasib buruk. Inilah yang tampaknya menjadi nasib buruk pertama Ozil, kadang menjadi penghuni bangku pemain cadangan, bahkan kadang tak masuk dalam daftar susunan pemain cadangan sekalipun.

Kedua, akibat unggahan tentang Uighur di akun Instagram pribadinya, ia mendapat respon yang beragam dari banyak pihak. Sebagai figur yang dikenal luas oleh publik internasional, tentu unggahannya tersebut memiliki dampak yang luas. Salah satunya, sebuah stasiun televisi di Cina batal menyiarkan pertandingan antara klub yang dihuni Mesut Ozil, Arsenal, dengan klub Manchester City.

Siaran langsung pertandingan oleh televisi merupakan salah satu sumber pemasukan bagi klub sepakbola. Dalam kasus ini, kerugian bagi klub Arsenal tidak diketahui seberapa banyak. Pihak klub Arsenal sendiri menyatakan bahwa mereka berlepas diri dari kontroversi yang dihadirkan Ozil terkait Uighur. Mereka menyatakan hal itu adalah pendapat pribadi Ozil dan pihak klub tidak mencampuri urusan politik.

BACA JUGA  Syaikh Ali Jaber Resmi Jadi WNI

Respon terhadap Ozil juga dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri Cina. Melalui juru bicaranya, Cina menuding bahwa Ozil telah termakan oleh berita palsu, sehingga mempengaruhi komentar Ozil atas kasus Uighur.

Cina sendiri selalu membantah tudingan atas perlakuan represif terhadap Muslim Uighur. Berkali-kali laporan dari lembaga peneliti HAM internasional yang mempersoalkan pelanggaran HAM di Xinjiang selalu dimentahkan Cina dengan dalih bahwa yang ada di Xinjiang hanyalah program re-edukasi untuk memberantas ekstremisme.

Asumsi banyak bermunculan tentang kasus Uighur ini. Ada kubu yang menganggap bahwa isu ini hanya dihembuskan oleh Amerika Serikat (AS) dalam rangka perang dagang antara kedua negara, yang hingga hari ini masih berlangsung. Ada juga kubu yang mengamini pernyataan Cina bahwa kasus Uighur ini adalah urusan domestik Cina terkait keamanan negara.

Namun, semua itu hanya asumsi. Fakta yang terjadi, yang sama-sama bisa kita temukan di berbagai platform media sosial, adalah bahwa Cina menjalankan program terstruktur di semua lini kehidupan untuk menjauhkan orang-orang Uighur dari Islam: mulai dari camp tahanan, yang disamarkan menjadi camp “pendidikan” untuk mengindoktrinasi ideologi negara,hingga memaksakan asimilasi budaya melalui pernikahan paksa antara pria etnis Han dan wanita Uighur.

Itu baru dua contoh fakta saja. Pertama, camp tahanan, atau camp pendidikan. Camp ini ada, pemerintah Cina sendiri mengakui. Soal apa kegiatan dan program di camp tersebut, Cina tentu saja bisa memodifikasi sesuka hati.

BACA JUGA  Kabar Siswi di Solo Dikeluarkan karena Ucapan Ultah Hoaks

Kedua, pemaksaan asimilasi budaya. Asimilasi budaya juga salah satu program pemerintah Cina untuk memaksakan penyebaran budaya Han, sebagai etnis mayoritas, kepada orang-orang Uighur. Taruhlah ini adalah program negara yang “baik”. Namun, dalam pelaksanaannya, Cina bisa dengan mudah memaksa muslimah Uighur menikah dengan pria dari etnis Han.

Di masa sekarang ini, kita bisa dengan mudah tertipu dengan sebuah asumsi dan mengabaikan sebuah fakta. Apalagi, bila yang melakukan penipuan adalah entitas yang memiliki kelengkapan sarana dan prasarana. Sebut saja entitas itu bernama negara.

Akhir kata, apa yang dialami (dan akan dialami) oleh Ozil sebagai akibat dari pembelaannya terhadap Uighur nampaknya masih lebih beruntung daripada orang-orang Uighur sendiri. Mungkin, Ozil hanya akan mengalami resiko-resiko seperti semakin minimnya kesempatan bermain, dijual ke klub lain, atau dipecat. Namun, muslimin dan muslimah Uighur, lebih menderita daripada itu. Saya tak perlu menyebutkan contohnya. Rasanya tak tega.

Penulis: Multazim Jamil

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Artikel

Guru Tjokro, Sosialisme, dan Islam

Bagaimana hakikat sosialisme Islam dalam pandangan Tjokroaminoto.

Selasa, 17/12/2019 17:44 0

Indonesia

Soal Berita WSJ, Wasekjen PBNU: Kita Bukan Corong Amerika dan Cina

Wasekjen PBNU, Masduki Baidlowi mengatakan bahwa berita Cina memberikan dana kepada Nahdlatul Ulama tidaklah benar.

Selasa, 17/12/2019 17:24 0

Indonesia

Wasekjen PBNU: Kalau Asal Ngomong Soal Xinjiang, Cina Tersinggung

Ia menilai, bagaimanapun Indonesia tidak bisa mencampuri peristiwa yang ada di Xinjiang.

Selasa, 17/12/2019 16:11 3

Indonesia

Wasekjen PBNU Samakan Muslim Uighur dengan Separatis Papua

Wasekjen PBNU, Masduki Baidlowi menganggap bahwa ada separatisme di Xinjiang,

Selasa, 17/12/2019 15:54 3

Info Event

Hadirilah! Tabligh Akbar Tantangan Para Pendidik di Akhir Zaman

Tabligh Akbar (Tantangan Para Pendidik Di Akhir Zaman)"

Selasa, 17/12/2019 14:00 0

China

China Perketat Kontrol Informasi Usai Dokumen Xinjiang Bocor

Pemerintah daerah Xinjiang di bagian barat China menghapus data, menghancurkan dokumen, memperketat kontrol informasi dan telah mengadakan pertemuan tingkat tinggi dalam menanggapi dokumen rahasia yang bocor.

Selasa, 17/12/2019 13:55 0

News

Pemindai Wajah di Bandara dan Restoran Rentan Dimanipulasi dengan Topeng

Para peneliti melakukan tes di tiga benua, menipu dua sistem pembayaran online, pos pemeriksaan perbatasan China, dan gerbang kontrol paspor di Bandara Schiphol Amsterdam.

Selasa, 17/12/2019 11:43 0

Indonesia

Meski Banyak Investasi Cina, Indonesia Tetap Diminta Bela Muslim Uighur

Fahira Idris menegaskan bahwa Indonesia harus mengecam penindasan muslim Uighur oleh pemerintah Cina.

Selasa, 17/12/2019 08:34 1

Amerika

Dengan Suara Bulat, DK PBB Sepakat Perpanjang Sanksi terhadap Taliban

Perpanjangan itu dibuat di bawah Bab 7 Piagam PBB, yang berarti bahwa kekuatan dapat digunakan untuk mengimplementasikannya.

Selasa, 17/12/2019 07:35 0

Iran

Amnesty: 304 Tewas Selama Protes Anti Kenaikan BBM di Iran

"Setidaknya 304 orang tewas dan ribuan lainnya terluka antara 15 dan 18 November ketika pihak berwenang Iran menghadapi protes dengan kekuatan mematikan," kata laporan Amnesty.

Selasa, 17/12/2019 07:10 0

Close