... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Guru Tjokro, Sosialisme, dan Islam

Foto: Haji Oemar Said Tjokoraminoto.

“Kalau seorang Islam masih juga menjadi seorang egois, individualis, despoot, kapitalis atau lain-lain “isme” yang jahat, maka hilanglah sebagian kecil atau sebagian besar dari keislaman, atau keislamannya gugur sama sekali.”

KIBLAT.NET – Setiap realitas di dunia selalu mempunyai ide mutlak di belakangnya. Segala kekacauan ataupun keteraturan selalu berawal dari sebuah ideologi yang menginspirasi masing-masing manusia yang terlibat. Ada individualisme yang mengutamakan paham tiap-tiap orang berbuat untuk dirinya sendiri, sehingga seorang tak perlu segan ketika ingin menyetel musik sekencang-kencangnya atau berteriak keras di teras rumahnya. Ada pula sosialisme yang berprinsip satu buat semua dan semua buat satu, setiap individu memikul tanggung jawab bersama dalam setiap aktivitasnya, sehingga seseorang tak bisa seenaknya ketika ingin membeli sesuatu ataupun membangun sesuatu.

Secara objektif, baik individualisme ataupun sosialisme merupakan ideologi yang muncul dan berkembang di masyarakat Barat, sebelum akhirnya menyebar ke seantero jagat. Lalu dalam penyebarannya ideologi-ideologi tersebut berkembang dan terpecah-pecah dalam berbagai variasi dan madzhab. Dalam ruang dan waktu bernama Indonesia, muncul varian –yang tidak sepenuhnya varian- dari sosialisme; sosialisme Islam yang diperkenalkan oleh Haji Oemar Said Tjokroaminoto.

Siapapun, di manapun dan kapanpun mungkin akan terhenyak dan mengeryitkan dahi seraya berseru “Hah!!! Apaan tuh sosialisme Islam?!”, seperti keterhenyakan kita ketika mendengar frasa-frasa “aneh” yang akhir-akhir ini bermunculan: NKRI bersyariah, jihad konstitusi, dan jihad budaya.

Namun Guru Tjokro tentu bukan sosok yang serampangan dan tidak sungguh-sungguh ketika melempar frasa sosialisme Islam ke ruang publik. Beliau melemparnya dalam rupa lembaran-lembaran tinta sarat makna yang diberi judul “Islam dan Sosialisme”.

Dalam “Islam dan Sosialisme” Guru Tjokro memberi pendahuluan yang mungkin membuat sebagian kita akan merasa lega dan berseru “Ahh, ternyata seperti itu…” lalu berlanjut “…memang sih seharusnya seperti itu”.

“Cita-cita sosialisme di dalam Islam itu tidak kurang dari tiga belas abad umurnya dan tidak bisa dikatakan muncul dari pengaruh bangsa Eropa. Saya tidak bermaksud mengatakan, bahwa pada ketika itu sudah ada sesuatu propaganda sosialisme yang teratur seperti sekarang ini, akan tetapi di dalam pergaulan hidup Islam bersama pada zamannya nabi kita Muhammad Saw dan asas-asas itu dilakukan lebih banyak dan lebih gampang daripada di Eropa dalam zaman manapun juga sesudahnya zaman nabi kita itu.” (Islam dan Sosialisme, HOS. Tjokroaminoto, Penerbit SEGA ARSY, Bandung, 2010 hal: 22).

BACA JUGA  Kontroversi Sertifikasi Da’i

Dalam menyusun bangunan teori sosialisme Islam, Guru Tjokro mengambil ayat-ayat Al Quran dan hadits Nabi sebagai landasan. Yang pertama adalah surat Al Baqarah ayat 213:

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً

Manusia itu adalah umat yang satu.

Dari ayat tersebut, beliau menyimpulkan jika segenap umat manusia adalah satu persatuan, maka mau tak mau kita wajib berusaha untuk mengupayakan keselamatan bagi mereka.

Lalu,

“Ada satu lagi firman Tuhan di dalam Al Quran yang memerintahkan kepada kita, bahwa kita harus menciptakan perdamaian di antara kita.” (Ibid, hal: 37)

Menurut pemahaman penulis, ayat yang dimaksudkan mungkin surat An Nisa ayat 114:

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia.”

Atau surat Al Anfaal ayat 1:

فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ

“Sebab itu bertaqwalah kepada Allâh dan perbaikilah hubungan diantara sesamamu.”

Atau surat Al Hujurat ayat 9:

إِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا

 “Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya.”

Dan landasan berikutnya adalah surat Al Hujurat ayat 13:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Lalu beliau mengutip sabda Rasulullah sebagai penguat ayat tersebut,

  أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى

“Seorang Arab tidaklah lebih utama dibanding seorang non-Arab, dan seorang berkulit terang tidaklah lebih utama dibanding seorang berkulit gelap, melainkan karena ketakwaannya.”

Ayat-ayat serta hadits Nabi tersebut mengarahkan kepada sebuah pemahaman bahwa anak Adam merupakan satu anggota badan yang beraturan, apabila salah satu anggota badan mendapat sakit, maka rasa sakitnya akan dirasakan oleh segenap badan.

BACA JUGA  Memburu Kader "Radikal", Surat Terbuka untuk Menag

Maka Guru Tjokro menegaskan bahwa sosialisme cara Islam merupakan sosialisme yang sejati.

“…adalah saya pandang menjadi pokoknya sosialisme yang sejati, yaitu “Sosialisme cara Islam”, bukan sosialisme cara barat.” (Ibid, hal: 38).

Guru Tjokro memandang ritual-ritual peribadatan dalam Islam mengandung sifat-sifat yang sosialistik. Sepekan sekali umat Islam dikenai kewajiban untuk shalat Jum’at di masjid, dalam satu tahun umat Islam dianjurkan melaksanakan dua shalat hari raya, dan dalam kurun waktu tertentu umat Islam berbondong-bondong ke tanah suci untuk menjalankan ritual haji. Dalam ibadah-ibadah di atas, terjadi perkumpulan umat Islam dari berbagai macam suku bangsa dan warna kulit, namun perbedaan tersebut menjadi lebur bahkan fana dalam perkumpulan tersebut. Mereka hanya mengikuti perintah satu orang, yaitu imam yang memimpin peribadatan.

“Kumpulan besar yang terjadi pada tiap-tiap tahun itu adalah satu pertunjukan sosialisme cara Islam dan ialah contoh besar daripada persamaan dan persaudaraan.” (Ibid, hal: 40).

Selain ritual, Guru Tjokro juga menyatakan bahwa konsep kedermawanan atau saling berbagi dalam Islam merupakan cerminan sosialisme. Adanya motivasi bahwa seseorang tidak akan mencapai kebaikan kecuali memberi apa yang dicintainya kepada yang lebih membutuhkan, adanya perintah untuk memberi tanpa pamrih, serta adanya petunjuk bahwa memberi akan mensucikan jiwa seseorang merupakan asas-asas yang bersifat sosialistik.

Kedermawanan, lanjut Tjokro, juga mempunyai tiga tujuan sosialistik, yaitu membangunkan perilaku itsar atau mengutamakan orang lain ketimbang diri sendiri, menghindari ketimpangan dalam pemerataan kekayaan, dan menuntun perasaan orang supaya tidak menganggap kemiskinan itu sesuatu yang hina.

Konsep selanjutnya yang dipandang sosialistik oleh Guru Tjokro adalah kemerdekaan. Beliau menyatakan bahwa setiap muslim tidak harus takut kepada siapapun, yang wajib ditakuti hanyalah Allah SWT. Maka seorang muslim memiliki kemerdekaan melakukan apapun selama tidak melampaui batas-batas yang dapat mendatangkan kemurkaan Allah.

Dari berbagai uraian di atas, rasanya penulis harus mengulangi kalimat “varian yang tidak sepenuhnya varian” karena konsep sosialisme Islam ala Guru Tjokro nyatanya terasa seperti tak terlalu terkait dengan konsep sosialisme yang tumbuh dan berkembang di dunia Barat. Rasa-rasanya kata “sosialisme” disini hanyalah sebagai jembatan istilah agar uraian-uraiannya mudah dipahami dan mudah melekat di pikiran para mad’u-nya.

Penulis: Azzam Diponegoro     


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Soal Berita WSJ, Wasekjen PBNU: Kita Bukan Corong Amerika dan Cina

Wasekjen PBNU, Masduki Baidlowi mengatakan bahwa berita Cina memberikan dana kepada Nahdlatul Ulama tidaklah benar.

Selasa, 17/12/2019 17:24 0

Indonesia

Wasekjen PBNU: Kalau Asal Ngomong Soal Xinjiang, Cina Tersinggung

Ia menilai, bagaimanapun Indonesia tidak bisa mencampuri peristiwa yang ada di Xinjiang.

Selasa, 17/12/2019 16:11 3

Indonesia

Wasekjen PBNU Samakan Muslim Uighur dengan Separatis Papua

Wasekjen PBNU, Masduki Baidlowi menganggap bahwa ada separatisme di Xinjiang,

Selasa, 17/12/2019 15:54 3

Info Event

Hadirilah! Tabligh Akbar Tantangan Para Pendidik di Akhir Zaman

Tabligh Akbar (Tantangan Para Pendidik Di Akhir Zaman)"

Selasa, 17/12/2019 14:00 0

China

China Perketat Kontrol Informasi Usai Dokumen Xinjiang Bocor

Pemerintah daerah Xinjiang di bagian barat China menghapus data, menghancurkan dokumen, memperketat kontrol informasi dan telah mengadakan pertemuan tingkat tinggi dalam menanggapi dokumen rahasia yang bocor.

Selasa, 17/12/2019 13:55 0

News

Pemindai Wajah di Bandara dan Restoran Rentan Dimanipulasi dengan Topeng

Para peneliti melakukan tes di tiga benua, menipu dua sistem pembayaran online, pos pemeriksaan perbatasan China, dan gerbang kontrol paspor di Bandara Schiphol Amsterdam.

Selasa, 17/12/2019 11:43 0

Indonesia

Meski Banyak Investasi Cina, Indonesia Tetap Diminta Bela Muslim Uighur

Fahira Idris menegaskan bahwa Indonesia harus mengecam penindasan muslim Uighur oleh pemerintah Cina.

Selasa, 17/12/2019 08:34 1

Amerika

Dengan Suara Bulat, DK PBB Sepakat Perpanjang Sanksi terhadap Taliban

Perpanjangan itu dibuat di bawah Bab 7 Piagam PBB, yang berarti bahwa kekuatan dapat digunakan untuk mengimplementasikannya.

Selasa, 17/12/2019 07:35 0

Iran

Amnesty: 304 Tewas Selama Protes Anti Kenaikan BBM di Iran

"Setidaknya 304 orang tewas dan ribuan lainnya terluka antara 15 dan 18 November ketika pihak berwenang Iran menghadapi protes dengan kekuatan mematikan," kata laporan Amnesty.

Selasa, 17/12/2019 07:10 0

Qatar

Qatar: Pembicaraan dengan Saudi Pecah Kebuntuan Krisis Diplomatik

Para analis percaya bahwa kerugian negara-negara pemboikot Qatar lebih dari banyak dari kerugian yang dialami Doha dari krisis ini.

Selasa, 17/12/2019 06:42 0

Close