... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Pasukan Turki dan Rusia di Libya, Musuh atau Mitra?

Foto: Erdogan, Putin

KIBLAT.NET – Penempatan pasukan Turki oleh pemerintah Turki di Libya kemungkinan dapat membuat titik keseimbangan kekuatan dan dapat menempatkan Turki di garis silang Rusia. Demikian menurut para pakar strategi.

Di sisi lain, pasukan Turki dan Rusia juga bisa menjadi perantara proses penyelesaian baru.

Pekan ini, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengumumkan untuk mempertimbangkan pengiriman pasukan ke Libya jika Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui PBB mengajukan permintaan.

“Ini tidak tercakup oleh embargo senjata PBB. Mereka dapat mengundang kita,” kata Erdogan dalam pidato yang disiarkan televisi pada hari Senin.

Turki dan Perdana Menteri GNA Fayez al-Sarraj menandatangani nota kesepahaman awal bulan ini untuk meningkatkan perjanjian kerja sama militer.

Dua pejabat senior Turki, mengatakan bahwa kesepakatan mengenai pelatihan militer dan dukungan teknis secara hukum memungkinkan pemerintah Turki untuk mengerahkan pasukan ke Libya.

“Tentu saja keputusan oleh parlemen diperlukan. Tapi itu mudah,” kata Murat Aslan, seorang akademisi di Universitas Hasan Kalyoncu dengan latar belakang militer.

Meskipun Erdogan tampaknya sedang menunggu undangan dari Libya sebelum mengambil langkah, ia telah mengambil keputusan tentang masalah ini.

“Dia siap mengirim pasukan. Dia tidak menggunakan masalah ini sebagai pengaruh. Dia tahu bahwa permintaan akan datang,” kata sumber itu.

Menurut Ibrahim Kalin, salah satu pembantu Erodgan, GNA belum meminta pasukan. Namun permintaan tetap dilakukan melalui saluran yang kurang resmi, seperti Grand Libya Mufti Sadiq al-Ghariani, yang mendesak GNA untuk meminta bantuan Turki.

Ketika Turki memikul beban di belakang GNA, kekuatan-kekuatan regional seperti Mesir, Arab Saudi dan UEA telah mendukung saingannya, Tentara Nasional Libya (LNA) yang dipimpin oleh Jenderal Khalifa Haftar.

BACA JUGA  Rezim Transisi Sudan Bayar Kompensasi Korban Serangan USS Cole

Sementara itu, Mesir dan sekutunya menganggap pemerintah Sarraj sebagai perpanjangan dari Ikhwanul Muslimin, yang telah dilarang oleh Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi.

Pertaruhan Tinggi

Libya menghasilkan hampir satu juta barel minyak mentah per hari dan merupakan rute keberangkatan utama bagi para pengungsi dan migran yang ingin mencapai Eropa.

“Turki mampu memberi banyak (pasukan), sekalipun dengan penyebaran yang cukup terbatas,” kata Tarek Megerisi, seorang spesialis Libya di Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri.

“Penting juga untuk dicatat bahwa keterlibatan kembali Turki yang tidak terelakkan akan menyebabkan eskalasi lebih lanjut dari negara-negara pendukung Haftar.”

Awal tahun ini, pasukan GNA mampu menunjukkan perlawanan terhadap pasukan Haftar, menyusul bantuan militer Turki yang mencakup kendaraan lapis baja dan drone bersenjata. Namun pemain baru -Rusia- mengubah keseimbangan di lapangan.

Beberapa laporan mengindikasikan bahwa organisasi keamanan swasta Rusia Wagner Group telah terlibat dalam perang sejak Oktober. Wagner dilaporkan telah membawa ratusan tentara ke Libya, termasuk penembak jitu yang terampil, dan sangat dibutuhkan keahlian teknis militer untuk memecahkan kebuntuan di dekat Tripoli.

Sejak kedatangan Rusia, pasukan Haftar telah membuat beberapa kemajuan menuju ibukota dan mengambil langkah-langkah untuk melakukan pengepungan di kota.

“Konflik ini mempertahankan potensi signifikan untuk keluar dari kendali sebagai akibat dari peningkatan tit-for-tat,” kata Megerisi.

Erdogan, pada hari Selasa, mengkonfirmasi kehadiran Wagner di Libya dalam pidato yang disiarkan televisi. Ia tampaknya menggunakan hal ini untuk melegitimasi kemungkinan keterlibatan militer Turki di negara itu. “Seperti mereka mengirim Grup Wagner, kita bisa mengirim staf kita sendiri,” katanya.

BACA JUGA  Eks Presiden Sudan Diadili Atas Tuduhan Pendanaan Terorisme

Rusia dan Wagner tidak asing dengan konflik di kawasan dan sangat mendukung pemerintahan Presiden Bashar Assad di Suriah.

Namun, keterlibatan Moskow di Libya lebih memiliki tujuan strategis dibandingkan dengan kemitraannya dengan pasukan Assad di Suriah.

“Misalnya, meskipun militer Rusia mendukung pasukan Haftar, mereka telah mempertahankan hubungan mereka dengan Tripoli,” kata Aslan.

Rusia saat ini menyangkal keterlibatannya di negara itu dan memberi tahu para pakar regional bahwa Kelompok Wagner hanya berperan sebagai penasehat dan tidak terlibat pertempuran. Namun militer AS mengatakan yakin pertahanan udara Rusia bulan lalu menembak jatuh sebuah pesawat tak berawak Amerika di dekat Tripoli.

Musuh atau Mitra?

Yury Barmin, Direktur Timur Tengah dan Afrika Utara di Moscow Policy Group, mengatakan bahwa Rusia terbuka untuk bekerja sama dengan GNA.

“Hubungan Rusia dengan Haftar sangat transaksional,” katanya, seraya menambahkan bahwa peluang bentrokan langsung antara pasukan Turki dan Rusia tipis.

Sebaliknya, kata Barmin, Moskow dan Ankara cenderung menemukan poin yang sesuai dengan agenda mereka dan berusaha memposisikan diri sebagai pendorong proses penyelesaian di sana.

Erdogan sendiri menyatakan bahwa dia tidak ingin membuat kesepakatan dengan selain Putin.

“Saya percaya Rusia akan melakukan peninjauan saat ini tentang Haftar karena tidak ada aspek hukumnya. Haftar adalah ilegal dan segala dukungan yang diberikan kepadanya dipertahankan dalam ilegalitas ini,” katanya.

Sumber: Middle East Eye
Redaktur: Ibas Fuadi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Wasekjen MUI Apresiasi Masuknya RUU Perlindungan Ulama

Masuknya Rancangan Undang Undang (RUU) Perlindungan Tokoh agama

Kamis, 12/12/2019 18:13 0

Indonesia

DSKS Minta Bupati Sukoharjo Tutup PT RUM Demi Jaga Kesehatan Warga

Dampak Limbah Cair dan Gas PT. RUM terbukti masih meresahkan warga

Kamis, 12/12/2019 17:59 0

Indonesia

Kemenag: Perusahaan Marketplace Dilarang Berangkatkan Jamaah

Arfi Hatim menegaskan bahwa marketplace tidak boleh berperan sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) atau Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK)

Kamis, 12/12/2019 16:37 0

Indonesia

KPAI: Penghapusan UN Sejalan Dengan Sistem Zonasi PPDB

KPAI menyatakan sangat mendukung dua diantara kebijakan tersebut. Yaitu terkait penghapusan Ujian Nasional dan dipertahankannya sistem zonasi PPDB.

Kamis, 12/12/2019 15:49 0

Indonesia

Soal Materi Jihad, KH Luthfi Bashori Minta Menag Lebih Bijak

Tokoh Nahdlatul Ulama Jawa Timur, KH. Luthfi Basori meminta Kemenag menjelaskan dengan benar apa itu jihad terhadap siswa madrasah

Kamis, 12/12/2019 15:16 0

Indonesia

Muhammadiyah Bantah Materi Jihad Picu Radikalisme

Menurutnya, jangan sampai Kemenag membuat aturan tanpa dasar penelitian.

Kamis, 12/12/2019 13:59 0

Indonesia

Komisi VIII: Pemerintah Jangan Paranoid Terhadap Realita Sejarah

Anggota Komisi VIII DPR RI Iskan Qolba Lubis menghimbau Pemerintah untuk terlebih dahulu memahami terminologi makna Khilafah dan Jihad

Kamis, 12/12/2019 13:12 0

Indonesia

Kompromi dengan Terduga Pelanggar HAM, Sebab Kemunduran Pemerintahan Jokowi

Ketua Divisi Impunitas Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Dimas Bagus Arya menyebut pemerintahan Jokowi di awal periode keduanya ini semakin tidak memperhatikan penanganan pelanggar HAM berat di masa lalu.

Kamis, 12/12/2019 06:54 0

Indonesia

Global Wakaf-ACT Hadirkan Program Lumbung Ternak Wakaf di Tasikmalaya

Global Wakaf-ACT meresmikan program unggulan Lumbung Ternak Wakaf (LTW)

Rabu, 11/12/2019 18:00 0

Indonesia

Peneliti INSIST: Jika Khilafah Tak Diajarkan di Madrasah Justru Bahaya

Menurutnya, ketika materi ini dibatasi justru generasi muda semakin penasaran

Rabu, 11/12/2019 17:44 0

Close