... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Afghanistan Papers Ungkap Kegagalan Perang AS di Afghanistan yang Selalu Ditutupi

Foto: Militer AS di Afghanistan

KIBLAT.NET, Washington – Pejabat senior AS bersikeras mengklaim meraih kemajuan di Afghanistan meskipun ada kejelasan bukti yang menunjukkan sebaliknya. Surat kabar The Washington Post pada Senin lalu memperoleh ribuan dokumen pemerintah AS yang menyebutkan kegagalan perang AS di Afghanistan.

The Washington Post mengatakan, seperti dilansir AFP pada Selasa (10/12/2019), pihaknya mengumpulkan dua ribu halaman lebih catatan wawancara dengan pejabat senior militer AS, diplomat, pekerja bantuan, pejabat Afghanistan dan lainnya yang memainkan peran penting selama perang dua dekade itu.

Dokumen-dokumen tersebut, jelas surat kabar AS itu, bertentangan dengan banyak pernyataan publik yang dikeluarkan oleh presiden AS, pemimpin militer dan diplomat tentang pencapaian di Afghanistan. Para petinggi pemerintah tahun demi tahun mengklaim meraih kemajuan di Afghanistan dan perang di dalamnya bermanfaat.

Dokumen-dokumen itu menunjukkan bahwa para pejabat mengeluarkan pernyataan merah yang mereka tahu salah dan menyembunyikan bukti yang tak terbantahkan bahwa perang tidak dapat dimenangkan.

Dokumen The Washington Post itu dinamai Afghanistan Papers. Nama ini mengacu pada dokumen Pentagon yang merinci sejarah rahasia keterlibatan militer AS di Vietnam dan membantu mengubah opini publik menentang perang.

Surat kabar itu melaporkan bahwa dokumen-dokumen itu adalah bagian dari proyek “pembelajaran” yang dijalankan oleh Kantor Auditor Jenderal untuk Rekonstruksi Afghanistan (SIGAR). Dokumen-dokumen ini didapat legal dan dijamin oleh Undang-Undang Kebebasan Informasi.

BACA JUGA  Difitnah Bekerja Sama dengan Rusia, Begini Jawaban Taliban

John Sobco, ketua agensi wawancara, mengatakan kepada The Washington Post bahwa dokumen menunjukkan bahwa warga Amerika telah dibohongi terus-menerus.

Selain dokumen-dokumen itu, surat kabar tersebut mendapatkan puluhan catatan yang ditulis oleh Donald Rumsfeld, Sekretaris Pertahanan di era kepemimpinan mantan Presiden George W. Bush.

Amerika Serikat menginvasi Afghanistan setelah serangan 11 September 2001 untuk menghilangkan ancaman yang ditimbulkan oleh Al-Qaidah dan menggulingkan rezim Taliban.

Saat ini, masih ada 13 ribu tentara Amerika di Afghanistan setelah sekitar 20 tahun berperang di negera itu. Sementara Taliban merupakan ancaman konstan terhadap pemerintah Afghanistan.

“Kami tidak memiliki pemahaman dasar tentang Afghanistan. Kami tidak tahu apa yang harus dilakukan,” kata Douglas Lot, jenderal Angkatan Darat yang merupakan penasihat Gedung Putih tentang perang Afghanistan di bawah Presiden Bush dan Barack Obama, dalam sebuah wawancara 2015.

“Apa yang kita coba lakukan? Kita tidak tahu apa yang akan kita lakukan,” tanyanya.

Triliunan Dolar Tak Ada Hasil

Jeffrey Eggers, pensiunan anggota Pasukan Khusus Angkatan Laut dan karyawan Gedung Putih di era Bush dan Obama, ia mempertanyakan hasil yang didapat dari biaya besar keterlibatan militer AS di Afghanistan.

“Apa keuntungan yang kita dapat dari uang yang kita keluarga triliun dolar ini? Apakah ada hasil yang didapat dari satu triliun dolar?” katanya.

BACA JUGA  Trump Masih Anggap Hydroxychloroquine Ampuh untuk Covid-19

“Setelah pembunuhan Osama bin Laden, saya berkata dia mungkin menertawakan kita di makamnya di laut, sambil berpikir akan berapa banyak lagi yang kita habiskan di Afghanistan,” lanjutnya.

Di antara yang diwawancarai adalah mantan Jenderal Angkatan Darat Michael Flynn, yang secara singkat menjabat sebagai penasihat keamanan nasional Presiden AS Donald Trump.

“Dari duta besar hingga yang lebih rendah (pejabat), kita semua mengatakan bahwa kita melakukan pekerjaan yang hebat. Benarkah? Jika kita benar-benar melakukan pekerjaan yang hebat, mengapa sepertinya kita kehilangan?” kata Flynn dalam sebuah wawancara tahun 2015.

Sementara itu, pejabat senior AS kain yang diwawancarai menunjukkan bahwa tidak ada strategi atau tujuan yang jelas di Afghanistan setelah Al-Qaidah dan rezim Taliban digulingkan.

Sumber: AFP
Redaktur: Sulhi El-Izzi


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Khazanah

Pelajaran dari Guru Imam Syafi’i untuk Gus Muwafiq

Sekelas Imam Waki’ bin al-Jarrah; guru Imam asy-Syafi’i saja hampir diamuk massa gegara pernyataan beliau tentang nabi Muhammad

Selasa, 10/12/2019 23:16 0

Indonesia

Muhammadiyah: Kekerasan Polisi Kepada Demonstran Masih Jadi PR

Trisno Raharjo memaparkan bahwa kasus HAM yang masih menjadi PR adalah kekerasan penegak hukum pada demonstran.

Selasa, 10/12/2019 17:48 0

Indonesia

Khilafah Dihapus dari Materi Fikih, Menag: Biar Anak Tidak Bingung

Menurutnya, memahami Khilafah dari perspektif fikih menuntut ilmu pengetahuan yang lebih komprehensif.

Selasa, 10/12/2019 17:24 1

Indonesia

Hari HAM Sedunia, Muhammadiyah Soroti Petugas KPPS Meninggal dan Kekerasan Polisi

Muhammadiyah menyoroti beberapa persoalan HAM yang ada di Indonesia di Hari HAM sedunia.

Selasa, 10/12/2019 17:16 0

Indonesia

26 Tahun Jalin Kerjasama Bilateral, Guatemala Akhirnya Buka Kedutaan di Jakarta

Guatemala akhirnya membuka Kedutaan Besarnya di Jakarta. Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi mengatakan hal ini merupakan babak baru hubungan bilateral Indonesia dan Guatemala .

Selasa, 10/12/2019 17:01 0

Indonesia

Bukan Lagi Materi Fikih, Khilafah Kini Dipindah ke Mata Pelajaran SKI

Kementerian Agama akhir-akhir ini mendapat sorotan akibat kebijakan terkait kurikulum terbaru yang dikeluarkan. Dalam keputusan terbarunya, Kementerian Agama membatasi materi seputar pemerintahan Islam (khilafah) dan jihad.

Selasa, 10/12/2019 15:25 1

Indonesia

Muhammadiyah Minta Pemerintah Urus UMKM

Muhammadiyah dalam hal ini meminta pemerintah agar lebih mengarus utamakan UMKM.

Selasa, 10/12/2019 13:41 0

Indonesia

Hari Santri Tak Bisa Dijelaskan Jika Materi Jihad dan Khilafah Dihilangkan

Pemerintah telah memutuskan seluruh materi ujian di madrasah yang mengandung konten khilafah, perang, dan jihad ditarik dan diganti. Hal ini didasarkan pada ketentuan regulasi penilaian yang diatur pada SK Dirjen Pendidikan Islam Nomor 3751, Nomor 5162, dan Nomor 5161 Tahun 2018 tentang Juknis Penilaian Hasil Belajar pada MA, MTs, dan MI.

Selasa, 10/12/2019 13:40 0

Indonesia

Sejarawan: Penyebab Radikalisme Bukan Khilafah dan Jihad

Kementerian Agama Republik Indonesia resmi menarik materi ujian Khilafah dan Jihad serta perang dari materi ujian kurikulum Madrasah

Selasa, 10/12/2019 12:13 0

Indonesia

Dr. Tiar Anwar Bachtiar Kritik Keras Penghapusan Materi Jihad dan Khilafah

Menurut Tiar, keputusan yang terburu-buru itu didasari dari ketakutan politik yang tidak rasional.

Senin, 09/12/2019 22:44 0

Close