... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Fokus

Pelajaran dari Guru Imam Syafi’i untuk Gus Muwafiq

Foto: Gus Muwafiq (Sumber: Detik.com)

KIBLAT.NET – “Sesungguhnya seorang hamba ada yang datang pada hari kiamat nanti dengan membawa kebaikan-kebaikan sebesar gunung. Akan tetapi dia menjumpai lisannya telah menghancurkan semua kebaikannya itu.” (ad-Da’ wa ad-Dawa, hlm. 375).

Sebuah nasehat dari Ibnu Qayyim al-Jauziyah agar kita kita lebih memperhatikan apa yang terlontar dari lisan. Sebab suatu ucapan jika sudah keluar, maka tidak bisa ditarik kembali. Ibarat sebuah paku yang menancap pada kayu, walaupun sudah dicabut tetap akan meninggalkan bekas.

Sebagaimana kasus ceramah seorang budayawan yang dinilai menghina Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Meski permintaan maaf sudah disampaikan tapi amarah umat yang terlanjur tersinggung tidak mudah untuk padam.

Anehnya lagi, meski yang berucap mengaku salah, namun para penggemarnya tetap membela mati-matian. Siap pasang badan demi sang idola. Mencari alasan dan pembenaran yang terlalu dipaksakan. Menganggap sikap orang yang marah dengan statement sang budayawan sebagai orang yang berlebihan.

Padahal kalau kita tilik sejarah, jangankan sekelas orang biasa sebagaimana Saudara Muwafiq. Sekelas Imam Waki’ bin al-Jarrah; guru Imam asy-Syafi’i saja hampir diamuk massa gegara pernyataan beliau tentang nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.

Itupun kalau kita lihat pernyataannya jauh lebih ringan dibanding apa yang disampaikan saudara Muwafiq. Imam Waki’ hanya mengatakan bahwa jasad nabi bengkak dan biru. Itu saja. Tentu tidak selancang ungkapan bahwa Nabi dekil atau semisalnya.

Atas kejadian ini, Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya; Siyar A’lam An-Nubala, sampai-sampai berkata:

BACA JUGA  Ahok Lelang Batik yang Dikenakan Saat Sidang, Ditawar Sampai Rp 100 Juta

Artinya, “Ujian yang menimpa Waki’, kisahnya sungguh aneh. Sebenarnya, tidak ada yang beliau inginkan melainkan kebaikan. Akan tetapi, mengapa ia tidak memilih diam. Padahal Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ‘Cukuplah menjadi dosa seseorang bila ia membicarakan setiap apa yang ia pernah dengarkan.’”

Kisah lengkapnya dituturkan oleh Ali bin Khasyram. Beliau berkata, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Ismail bin Abi Khalid, dari Abdullah Al-Bahiy, bahwasanya  Abu Bakar Ash-Shiddiq mendatangi Jenazah Rasulullah, kemudian bersimpuh dan menciumnya seraya berkata, “Ayah dan ibuku (menjadi tebusannya), alangkah indahnya hidup dan kematianmu.” Setelah itu, Abdullah Al-Bahiy berkata, “Adalah jenazah beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam disemayamkan selama satu hari satu malam, hingga perutnya agak bengkak, demikian pula jari jemari beliau“.

Ali bin Khasyram menambahkan, “Tatkala Waki’ menceritakan riwayat ini di Mekkah, maka orang-orang Quraisy pun murka. Mereka berkumpul dan bersepakat untuk menyalib Waki’. Mereka juga telah menegakkan kayu untuk menyalibnya.

Beruntung Sufyan Al-Uyainah segera datang dan berseru lantang, “Demi Allah, demi Allah, orang ini adalah faqihnya (ulama besarnya ahli fiqih) negeri Irak, demikian pula bapaknya. Sungguh ini adalah hadits ma’ruf (ma’ruf tidak mesti shahih).” Padahal, seperti kata Sufyan, “Aku belum pernah mendengarkan riwayat itu sebelumnya. Hanya saja, Aku ingin menyelamatkan Waki!”

Dalam riwayat Al-Fasawi diceritakan, ringkasnya, bahwa atas kebaikan Amir Makkah, Imam Waki’ berhasil melarikan diri dan berencana menuju Madinah. Akan tetapi penduduk Makkah yang sudah terlanjur sangat murka segera menyurati penduduk Madinah di sana, bahwa jika Imam Waki’ masuk Madinah maka tangkap dan segera eksekusi. Beruntung beliau bisa selamat untuk kali kedua; dan berhasil lolos ke Irak.

BACA JUGA  Ustadz Hilmi Aminuddin Wafat, Jazuli: PKS Kehilangan Pembimbing Dakwah

Setelah memaparkan kisah ini, Adz-Dzahabi berkomentar,

 Artinya, “Ini adalah ketergelinciran seorang alim. Ada urusan apa Waki’ meriwayatkan kabar Munkar dan Munqathi’ (terputus sanadnya) ini! Hampir saja jiwanya hilang lantaran kesalahan itu. Sementara orang yang akan menyalibnya tersrbut diberi udzur. Bahkan mendapkan pahala. Sebab, mereka menganggap menyebarkan riwayat tertolak ini, merupakan penistaan terhadap derajat kenabian.” (Siyaru A’lam an-Nubala, 9/159-163).

Demikianlah, wajib berhati-hati mengeluarkan sebuah ungkapan yang jelas menyinggung dan menyakiti ummat, terlebih jika terkait dengan pribadi Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang mulia.

Jika Imam Waki’ saja, ulama yang tak diragukan keilmuan dan kewara’annya hampir-hampir disalib gara-gara menyampaikan riwayat yang terkesan menghina Nabi, maka wajar bila untuk sekelas saudara Muwafiq yang pernyataannya lebih fatal mendapat respon besar dari ummat.

Hal yang bisa diterima jika ummat marah. Justru mereka yang diam dan justru membela mati-matian sang budayawan lah yang perlu ditanyakan kecintaannya kepada Nabi. Wallahu a’lam.

Penulis: Feri Nuryadi; pengajar di Ma’had Aly El-Suchary Purbalingga Jawa Tengah

Editor: Arju

 

 


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Muhammadiyah: Kekerasan Polisi Kepada Demonstran Masih Jadi PR

Trisno Raharjo memaparkan bahwa kasus HAM yang masih menjadi PR adalah kekerasan penegak hukum pada demonstran.

Selasa, 10/12/2019 17:48 0

Indonesia

Khilafah Dihapus dari Materi Fikih, Menag: Biar Anak Tidak Bingung

Menurutnya, memahami Khilafah dari perspektif fikih menuntut ilmu pengetahuan yang lebih komprehensif.

Selasa, 10/12/2019 17:24 1

Indonesia

Hari HAM Sedunia, Muhammadiyah Soroti Petugas KPPS Meninggal dan Kekerasan Polisi

Muhammadiyah menyoroti beberapa persoalan HAM yang ada di Indonesia di Hari HAM sedunia.

Selasa, 10/12/2019 17:16 0

Indonesia

26 Tahun Jalin Kerjasama Bilateral, Guatemala Akhirnya Buka Kedutaan di Jakarta

Guatemala akhirnya membuka Kedutaan Besarnya di Jakarta. Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi mengatakan hal ini merupakan babak baru hubungan bilateral Indonesia dan Guatemala .

Selasa, 10/12/2019 17:01 0

Indonesia

Bukan Lagi Materi Fikih, Khilafah Kini Dipindah ke Mata Pelajaran SKI

Kementerian Agama akhir-akhir ini mendapat sorotan akibat kebijakan terkait kurikulum terbaru yang dikeluarkan. Dalam keputusan terbarunya, Kementerian Agama membatasi materi seputar pemerintahan Islam (khilafah) dan jihad.

Selasa, 10/12/2019 15:25 1

Indonesia

Muhammadiyah Minta Pemerintah Urus UMKM

Muhammadiyah dalam hal ini meminta pemerintah agar lebih mengarus utamakan UMKM.

Selasa, 10/12/2019 13:41 0

Indonesia

Hari Santri Tak Bisa Dijelaskan Jika Materi Jihad dan Khilafah Dihilangkan

Pemerintah telah memutuskan seluruh materi ujian di madrasah yang mengandung konten khilafah, perang, dan jihad ditarik dan diganti. Hal ini didasarkan pada ketentuan regulasi penilaian yang diatur pada SK Dirjen Pendidikan Islam Nomor 3751, Nomor 5162, dan Nomor 5161 Tahun 2018 tentang Juknis Penilaian Hasil Belajar pada MA, MTs, dan MI.

Selasa, 10/12/2019 13:40 0

Indonesia

Sejarawan: Penyebab Radikalisme Bukan Khilafah dan Jihad

Kementerian Agama Republik Indonesia resmi menarik materi ujian Khilafah dan Jihad serta perang dari materi ujian kurikulum Madrasah

Selasa, 10/12/2019 12:13 0

Afrika

Pengamat: Kebijakan Luar Negeri AS di Somalia Untungkan Al-Shabaab

Hari ini, Farmago mendorong Somalia ke dalam jurang

Selasa, 10/12/2019 09:27 0

Turki

Turki Bungkam terhadap Eskalasi Terbaru di Idlib

Sementara Menteri Pertahanan Turki, Khulusi Akar, tidak menyinggung tentang Idlib selama wawancara dengan kantor berita resmi Turki Anadolu Agency (AA) pada Senin, tentang situasi terkini di Suriah utara.

Selasa, 10/12/2019 07:51 0

Close