... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Budaya IDI Sebagai Strategi Ciptakan Generasi Muslim Cerdas dan Berilmu

Foto: Ilustrasi

Artikel ini merupakan artikel yang diikutsertakan dalam Lomba Artikel Islami Nasional 2019 bertajuk “Membangkitkan Semangat Literasi Generasi Muda Islam” yang diselenggarakan oleh MPI Lampung bekerjasama dengan Kiblat.net.

Oleh : Avuan Muhammad Rizki

KIBLAT.NET – Islam adalah salah satu agama yang diakui di Indonesia sebagai agama resmi. Indonesia juga menjadi negara dengan populasi muslim terbesar di dunia sebanyak 87,2% dengan jumlah 207 juta jiwa[1]. Berbicara mengenai jumlah mayoritas, pernahkah terbesit di benak kita bagaimana semua ini bisa terjadi dan proses penyebaranya sehingga nikmat Islam yang bisa kita rasakan saat ini.

Terlepas dari perdebatan mengenai sejak kapan pertama kali Islam masuk nusantara yang tiada akhir entah itu abad 7, 11 atau 14 yang pasti harus kita lakukan adalah menjalankan syariat islam sebaik mungkin dan meneladani sifat-sifat Rasulullah serta para Sahabatnya.

Bercerita mengenai sejarah Islam, agama ini menyimpan sejarah panjang dari mulai lahirnya yang penuh perjuangan hingga suka duka Rasulullah SAW dalam berdakwah. Ada suatu kebanggaan yang seharusnya umat muslim rasakan yaitu Islam mampu memberikan efek perubahan besar karena bukan hanya memajukan peradaban umat dari segi keduniaan namun juga akhirat.

Moralitas bangsa Arab yang mulanya sangat tidak berakhlaq seperti senang mengubur hidup-hidup bayi perempuan menjadi menaikan derajat perempuan dan melindunginya dengan syariat. Ini menjadi bukti bahwa nilai nilai Islam bila di praktikan secara benar maka bisa menjadi rahmat bagi orang muslim itu sendiri maupun seluruh makhluk di muka bumi.

Masalahnya, generasi Muslim Indonesia saat ini sedang dilanda masalah yang belum kunjung selesai yaitu rendahnya literasi dan minat membaca. Menurut Survei World Culture Index score 2018, Indonesia menempati peringkat 60 dari 61 negara[2].

Rendahnya literasi dan minat membaca bukan masalah kecil sebab dampaknya akan berantai menciptakan masalah baru baik dari segi dunia maupun akhirat. Sebut saja permasalahan Kualitas SDM (sumber daya manusia) yang rendah, tentu ini akan berpengaruh terhadap peluang kerja dan kesuksesan kehidupan di dunia.

Tanpa bermaksud Hubuddunya (Cinta dunia yang berlebih) jika seorang muslim larut dalam kemiskinan maka ia akan kesulitan untuk melakukan ibadah dan  dikhawatirkan kecenderungan mudah tergoda melakukan kriminalitas tinggi tentu ini tidak sesuai dengan ajaran islam yang melarang kita untuk menyakiti sesama muslim[3].

Terbukti masalah kualitas SDM ini sudah nyata terjadi yang berdampak pada tingginya angka pengangguran di Indonesia, dengan data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Agustus 2015 sebesar 6,18 persen meningkat dibandingkan dengan TPT Februari 2015 (5,81 persen) dan TPT Agustus 2014 sebesar (5,94 persen)[4]. Bisa ditebak jika dibandingkan dengan negara negara lain di ASEAN Indonesia adalah salah satu negara di ASEAN yang memiliki pengangguran terbanyak dengan 5,50 persen dari total seluruh penduduk Indonesia[5].

Generasi Muslim juga sudah tidak sebanyak dulu yang bisa menciptakan berbagai penemuan ilmu pengetahuan baik berupa teknologi, kesehatan atau teori sosial yang mampu bermanfaat bagi seluruh dunia. Sebab kebiasaan membaca generasi islam saat itu dengan muslim di Indonesia sangat berbeda jauh inilah yang menyebabkan produktivitas jumlah karya juga berbeda.

Rendahnya literasi dan minat membaca juga memengaruhi kualitas ketaqwaan muslim di Indonesia. Membaca adalah kegiatan yang sangat krusial dan hasilnya berbanding lurus dengan pemahaman seseorang terhadap sesuatu. Sederhananya apabila seseorang jarang membaca maka pemahamanya juga akan rendah termasuk apabila jarang membaca pengetahuan keislaman baik itu soal fiqh, politik islam atau soal Sirah nabawiyyah pada intinya minim membaca minim pula pengetahuannya.

BACA JUGA  Pentingnya Budaya Literasi bagi Pemuda Islam dalam Memajukan Indonesia

Sekalipun ia sering mendengarkan kajian atau ceramah akan berbeda hasilnya dengan mereka yang membaca langsung baik dari segi substansi dan kemampuan menjelaskan maksud logika berfikir suatu pengetahuan yang dijelaskan. Sebab hal itu hanya ada dibuku atau tulisan langsung. Penceramah biasanya hanya akan menjelaskan poin-poin inti saat mengambil rujukan karena pertimbangaya adalah durasi, agar tidak keluar dari tema dan menyesuaikan dengan ilmu audience nya. Pada intinya pemahaman ilmu agama seorang muslim sangat dipengaruhi dari angka literasi dan minat bacanya terhadap buku-buku keislaman, sehingga meningkatkan minat baca juga menjadi ibadah apabila diniatkan.

Secara garis besar generasi muslim di Indonesia terancam baik dari segi dunia maupun akhirat apabila masalah ini tidak diselesaikan. Maka dari itu diperlukan solusi yang mampu menyelesaikan permasalahan diatas untuk meningkatkan minat membaca yang nantinya akan menciptakan generasi muslim yang cerdas dan berilmu. Penulis mengusulkan yaitu Budaya IDI.

Apa itu IDI, IDI adalah sebuah singkatan yang merupakan dari Iqra, Doa dan Istiqamah. Pertama yaitu Iqra yang artinya baca, ini artinya seorang Muslim harus membudayakan membaca sudah jelas karena tidak ada jalan lain dan pintu utamanya adalah praktik langsung untuk membaca. Jika kita termasuk orang yang sulit membaca masihkah kita ingat betapa perjuangan Rasulullah SAW untuk membaca naik turun bukit untuk masuk ke gua hira lalu menerima wahyu Surat Al-Alaq ayat 1 sebagai berikut :

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,

Kandungan surat ini menurut Tafsir al-Mukhtashar adalah untuk membaca dan mempelejari kalam Allah SWT[6]. Setelah kejadian itu terjadi Rasulullah SAW membiasakan diri untuk membaca dan menulis agar beliau terbiasa[7]. Hasilnya Rasulullah SAW yang tadinya seorang ummi (Buta huruf dan tidak bisa menulis) berhasil dan itu semakin membuktikan bahwa jika ada niat kuat pasti bisa[8].

Tentu kita sebagai orang yang mengaku umatnya harus meneladani akhlaq semangat membaca Rasulullah. Membaca juga memiliki segudang manfaat diantaranya meningkatkan kecerdasan, melatih konsentrasi dan memperluas wawasan[9]. Sehingga budaya ini tidak perlu dipertanyakan lagi dasar filosofisnya jelas baik secara ilmu pengetahuan maupun secara syariat islam.

Kedua, yaitu Doa yang berarti kita harus berdoa kepada Allah SWT agar diberi keberkahan dalam proses menjadi muslim yang cerdas dan berilmu. Islam mengajarkan kita untuk berdoa sebelum belajar dan sesudah belajar karena dalam islam ilmu itu datangnya dari Allah SWT.

Berdoa juga dapat menghindarkan kita dari rasa sombong saat kita berhasil menguasai pemahaman tertentu terlebih jika itu terbilang sulit dan belum banyak yang menguasai syaithan pasti akan berusaha menggoda kita untuk membanggakan diri. Hal ini tidak boleh terjadi sebab itu bukan akhlaq muslim dan Islam sangat menentang keras sifat sombong bercermin dari kisah iblis yang diturunkan dari surga karena sombong. Pada intinya dalam tahap ini khususnya setelah Iqra, budayakan untuk selalu berdoa memohon ridha Allah SWT agar hasilnya diberikan berkah oleh-Nya.

BACA JUGA  Pemuda Islam, Go International!

Ketiga, yaitu Istiqamah yang berarti kita harus terus disiplin dalam menjalani budaya tadi. Istiqamah adalah salah satu kunci dalam keberhasilan kita saat hijrah untuk menjadi lebih baik.  Tanpa Istiqamah amalan dan segala niat baik kita akan tidak optimal karena stabil intensitasnya. Istiqamah adalah tahapan paling berat sebab godaanya juga banyak namun jika berhasil melalui tahapan ini bagaikan menanam buah, kita sudah bisa memetik hasilnya. Sehingga budaya Istiqamah harus dilakukan sebab disiplin adalah kunci kesuksesan dan untuk menciptakan generasi muslim yang cerdas dan berilmu. Agar lebih yakin apakah Istiqamah adalah akhlaq nabi dan termasuk syariat islam atau tidak maka kita perlu melihat hadist ini:

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ

Dari Sufyan bin Abdullâh ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasûlullâh, katakan kepadaku di dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan bertanya kepada seorangpun setelah Anda!” Beliau menjawab: “Katakanlah, ‘aku beriman’, lalu istiqomahlah”. [HR Muslim, no. 38; Ahmad 3/413; Tirmidzi, no. 2410; Ibnu Majah, no. 3972][10].

Tidak mudah solusi yang penulis tawarkan dan mungkin penulis sendiri belum tentu bisa mengamalkanya dengan baik tiap saat namun inilah amal jama’i dimana perlu dilakukan bersama-sama untuk mencapai kemaslahatan bersama dan harus saling mengingatkan satu sama lain tidak harus menunggu sempurna.

Tidak perlu bermimpi teralu besar terhadap Indonesia, tapi mari kita perbaiki diri terlebih dahulu dengan membudayakan IDI, insyaAllah dengan sendirinya kita bisa menolong Agama Allah sehingga Indonesia akan dipenuhi dengan generasi muslim yang cerdas dan berilmu.

Jangan berputus asa hanya karena kita umat akhir zaman. Mari kita kenang kisah Muhammad Al-Fatih saat berusaha menaklukan Konstantinopel. Ada hikmah penting di sana. Pertama pentingnya usaha, niat dan nasib suatu generasi ada di tangan kualitas pemudanya. Sehingga marilah kitas saling mengingatkan dalam berbuat kebaikan dan memulai budaya IDI dari sekarang.

Grafik 1.1

Alur berfikir solusi budaya IDI dalam menciptakan generasi muslim cerdas dan berilmu

Sumber:

[1] https://www.indonesia.go.id/profil/agama diakses pada 3 November 2019.

[2] Angka Literasi Indonesia. https://www.wartaekonomi.co.id/read224647/literasi-indonesia-ranking-terbawah-kedua-di-dunia.html diakses pada 3 November 2019

[3] Sugiati, yayuk. 2014. kemiskinan sebagai salah satu penyebab timbulnya tindak kejahatan. Madura. Jurnal fakultas hukum Universitas Wiraraja https://media.neliti.com/media/publications/37186-ID-kemiskinan-sebagai-salah-satu-penyebab-timbulnya-tindak-kejahatan.pdf diakses pada 3 November 2019

[4] Badan Pusat Statistik. 2015. Jumlah pengangguran di Indonesia. Dalam https://www.bps.go.id/Brs/view/id/1196 diakses pada 6 Mei 2016

[5] Angka pengangguran Dunia. 2016. Dalam http://id.tradingeconomics.com/country-list/unemployment-rate

[6] Tafsir surah al alaq. https://tafsirweb.com/37630-surat-al-alaq-ayat-1-5.html diakses pada 3 November 2019

[7] Fath Al-Qadir. Cetakan Ketiga Tahun 1426 H. Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani. Tahqiq: Dr. ‘Abdurrahman ‘Umairah. Penerbit Dar Ibnu Hazm-Darul Wafa’.

[8] Ibid

[9] Manfaat membaca. https://www.idntimes.com/life/inspiration/jailani-1/7-manfaat-membaca-buku-yang-kamu-perlu-tahu-c1c2/full diakses dalam 3 november 2019

[10] Hadits tentang Istiqamah. https://almanhaj.or.id/4197-istiqomah.html diakses pada 3 November 2019

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suriah

Rudal Jet Suriah Hantam Pasar di Wilayah Oposisi, Belasan Sipil Tewas

"Kami duduk di depan toko dan tiba-tiba serangan udara menghantam sebagian pasar dan tujuh atau delapan tetangga kami dan dua wanita yang berada di dalam mobil datang berbelanja terbunuh," kata Maher Mohammed, seorang salesman berusia 35 tahun.

Selasa, 03/12/2019 09:14 0

Suriah

Bom Lukai Tiga Polisi Militer Rusia Saat Patroli di Kobani, Suriah

Dalam pernyataan Kemenhan Rusia dikatakan, bom meledak di dekat kota Kobani di provinsi Aleppo di Suriah utara.

Selasa, 03/12/2019 07:56 0

Indonesia

Habib Rizieq Bantah Tak Lapor KBRI di Arab Saudi Soal Pencekalan

Habib Rizieq menyebut ada kebohongan hingga pemerintah pusat terkait pencekalannya

Senin, 02/12/2019 12:46 0

Indonesia

PKS: Kembalinya Habib Rizieq Tugas Negara

Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera mengibaratkan kepulangan Habib Rizieq sebagai bisul yang pecah bagi pemerintahan Jokowi

Senin, 02/12/2019 12:37 0

Indonesia

HILMI FPI Sediakan 4.000 Kotak Nasi Kebuli untuk Peserta Reuni 212

HILMI-FPI juga menyiapkan tim medis untuk membantu peserta reuni 212

Senin, 02/12/2019 12:24 0

Indonesia

PKS Berharap Polemik Kepulangan Habib Rizieq Segera Selesai

Partai Keadilan Sejahtera menyatakan sikap terkait posisi Imam Besar FPI, Habib Rizieq Muhammad Shihab yang kini berada di Arab Saudi.

Senin, 02/12/2019 10:58 0

Prancis

13 Mayat Tentara Prancis yang Tewas di Mali Dipulangkan

Peti mati itu ditutupi dengan bendera Prancis. Seorang tentara membawa bendera bertulis “Operasi Barkhan” yang dipimpin Prancis untuk memerangi para jihadis di Sahel.

Senin, 02/12/2019 10:23 0

Foto

[Foto] Reuni 212 Jilid III

Reuni 212 jilid III berlangsung dengan tertib.

Senin, 02/12/2019 10:19 0

Irak

Kantor Konsulat Iran di Najaf Kembali Dibakar Massa

"Tim pertahanan sipil saat ini berusaha mengendalikan api," katanya, seraya menambahkan bahwa konsulat itu benar-benar kosong ketika dibakar.

Senin, 02/12/2019 09:28 0

Indonesia

Peserta Reuni 212 Membubarkan Diri dengan Tertib

Usai orasi dan tausyiah dari beberapa ulama, acara Reuni 212 pun berakhir. Para peserta yang mayoritas memakai pakaian serba putih itu pun membubarkan diri dengan tertib.

Senin, 02/12/2019 09:22 0

Close