... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Refleksi Hari Guru: Membangkitkan Ruh dan Jiwa Seorang Pendidik

Foto: Kegiatan belajar mengajar di Pesantren. (Foto: Antara)

Muhammad Akbar, S.Pd (Penulis Buku, Guru, dan Pendiri Madani Institute)

KIBLAT.NET – Hidup tidak bisa lepas dari pendidikan. Karena manusia diciptakan bukan sekedar untuk hidup. Ada tujuan yang lebih mulia dari sekedar hidup yang mesti diwujudkan, dan itu memerlukan ilmu yang diperoleh lewat pendidikan. Inilah salah satu perbedaan antara manusia dengan makhluk lain, yang membuatnya lebih unggul dan lebih mulia.

Pendidikan diperlukan oleh semua orang. Jika orang dewasa yang biasanya sudah terbentuk akhlak dan karakternya masih memerlukannya, maka anak-anak dan para pemuda yang belum terbentuk jauh lebih memerlukan. Bukankah potret orang dewasa adalah hasil pendidikannya yang dimulai dari usia anak-anak sampai dia dewasa?

Jika hidup sangat erat kaitannya dengan pendidikan, maka faktor penting bahkan kadang-kadang menjadi faktor penentu hitam putihnya pendidikan, adalah guru. Benar, guru bukanlah satu-satunya instrumen pendidikan. Masih ada buku, kurikulum, peletak kurikulum, pembuat kebijakan pendidikan, dan seterusnya. Akan tetapi dari sederet instrumen tersebut, gurulah ujung tombak dari semua instrumen pendidikan.

Melihat realita pendidikan hari ini yang memprihatinkan, berbagai fakta krisis moral, adab, dan akhlak terjadi pada guru dan murid di sekolah. Narkoba, pergaulan bebas, pacaran, huru-hara, pesta-pesta, dan seterusnya.

Oleh karena itu, perhatian guru dalam dunia pendidikan adalah prioritas. Membangkitkan ruh dan jiwa seorang guru adalah sumber dan kunci utama dalam proses keberhasilan pendidikan.

Guru memikul amanah yang begitu mulia dan penuh tanggung jawab. Di tangannya lah akan lahir generasi yang nantinya menebarkan cahaya kebaikan di tengah masyarakat. Wahai para guru, sadarkah kita bahwa kebangkitan setiap peradaban dimulai dari kualitas, kehebatan, dan kebesaran kalian.

Hari ini, bangkitlah wahai para guru. Jadikan proses pengajaran sebagai tugas yang mulia dalam menanamkan nilai-nilai iman, adab, dan akhlak kepada setiap muridmu. Teruslah bersabar dalam mendidik generasi ini. Bangkitkan ruh, jiwa, dan semangatmu dalam mendidik generasi ini.

Jadilah teladan terbaik bagi para muridmu dan bekerja keraslah semaksimal mungkin untuk melahirkan generasi pejuang, generasi yang beradab, generasi yang cinta dengan ilmu, semangat dalam beramal dan berdakwah.

Lihatlah betapa tinggi derajatnya yang digapai oleh seorang guru, hingga Allah bershalawat kepadanya, begitu juga dengan para malaikat-Nya dan begitupun dengan penduduk langit dan bumi senantiasa bershalawat kepada pengajar kebaikan.

BACA JUGA  Peserta Reuni 212 Membubarkan Diri dengan Tertib

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya, para penghuni langit dan bumi, hingga semut di lubangnya dan ikan hiu, mengucapkan doa kepada pengajar kebaikan terhadap manusia.” (HR. Tirmidzi & Darimi).

Olehnya itu, teruslah bermuhasabah wahai para guru. Karena keputusan yang telah engkau pilih ini adalah profesi yang mulia. Maka muliakanlah, pantaskanlah dirimu menjadi guru sejati yang memiliki ruh, semangat dan jiwa yang bersih, ikhlas dan tulus serta menata diri dengan adab dan akhlak yang mulia.

Harus kita sadari bahwa guru hari ini sedang dilanda krisis adab dan akhlak, beberapa waktu lalu saya telah menulis tentang krisis adab guru dan murid, mengungkapkan berbagai data tentang krisisnya adab guru dan murid dengan berbagai macam kasusnya. (Baca di https://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2019/08/01/168549/krisis-adab-guru-dan-murid.html).

Sebab itu, para ulama telah memberikan perhatian yang sangat mendalam kepada setiap guru agar memiliki adab dan akhlak yang baik. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menggambarkan seorang pengajar layaknya “pembesar” di kerajaan langit, jika ia mempelajari suatu ilmu, kemudian mengamalkannya dan setelah itu mengajarkannya kepada orang lain dengan ikhlas.

Siapa saja yang menekuni tugas sebagai pendidik, berarti ia tengah menempuh suatu perkara yang sangat mulia. Oleh karena itu, ia harus senantiasa menjaga adab serta tugas yang menyertainya.

Adab yang pertama, sayang kepada para murid serta menganggap mereka seperti anak sendiri. Sebab seorang guru adalah ayah yang sejati bagi murid-muridnya. Ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW,

“Sesungguhnya posisiku terhadap kalian, laksana seorang ayah terhadap anak anaknya.” (HR. Abu Dawud)

Menurut Imam Ghazali, jika seorang ayah menjadi sebab atas keberadaan anak-anaknya pada kehidupan dunia yang fana ini, maka seorang guru justru menjadi sebab bagi bekal kehidupan murid-muridnya yang kekal di akhirat nanti. Dengan demikian, menjadi wajar apabila seorang murid tidak dibenarkan untuk membeda-bedakan antara hak guru dan hak kedua orang tuanya.

Adab yang kedua, meneladani Rasulullah SAW dalam setiap konsep pengajarannya.

Adab yang ketiga, memberikan nasihat mengenai apa saja demi kepentingan masa depan murid-muridnya. Contohnya adalah melarang mereka mencari kedudukan sebelum mereka layak untuk mendapatkannya. Juga melarang mereka menekuni ilmu yang tersembunyi (batin), sebelum menyempurnakan ilmu yang nyata (zahir).

Adab yang keempat, memberi nasihat kepada para murid dengan tulus, serta mencegah mereka dari akhlak yang tercela. Dalam hal ini tidak boleh dilakukan dengan cara-cara yang kasar, melainkan harus diupayakan menggunakan cara yang sangat bijak. Sebab, cara yang kasar justru dapat merusak esensi pencapaian.

BACA JUGA  Politisi PKS: Penghapusan Materi Jihad dan Khilafah Tidak Mengurangi Radikalisme

Idealnya, sang pendidik harus terlebih dahulu berlaku lurus, setelah itu ia menuntun para murid untuk berlaku lurus pula. Kalau prinsip ini dilanggar, maka nasihat yang disampaikan menjadi tidak berguna. Sebab, ketika memberikan keteladanan dengan bahasa sikap, maka keteladanan itu jauh lebih efektif daripada menggunakan kalimat atau nasihat secara lisan.

Senada dengan hal di atas, K.H. Hasyim Asy’ari dalam kitab Adab al-`Alim wa al-Muta`allim juga menyatakan, “Sesungguhnya mengajarkan ilmu adalah perkara yang paling penting menurut agama dan derajat orang mukmin yang paling tinggi…”.

Tugas pendidik yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membawa hati manusia untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah. Hal tersebut karena tujuan pendidikan yang utama adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

K.H. Hasyim Asy’ari memaparkan bahwa adab dan etika guru diantaranya adalah menyucikan diri dari hadats dan kotoran, berpakaian yang sopan dan rapi dan usahakan berbau wangi, berniat beribadah ketika dalam mengajarkan ilmu kepada anak didik; sampaikan hal-hal yang diajarkan oleh Allah, biasakan membaca untuk menambah ilmu pengetahuan, berilah salam ketika masuk ke dalam kelas; sebelum mengajar mulailah terlebih dahulu dengan berdoa untuk para ahli ilmu yang telah lama meninggalkan kita, berpenampilan yang kalem dan jauhi hal-hal yang tidak pantas dipandang mata, menjauhkan diri dari bergurau dan banyak tertawa, jangan sekali-kali mengajar dalam kondisi lapar, marah, dan mengantuk.

Selain itu, beliau juga menganjurkan hal yang tak kalah penting berkaitan dengan proses belajar mengajar beberapa diantaranya ialah selalu melakukan introspeksi diri, mempergunakan metode yang mudah dipahami bagi peserta didik, membangkitkan antusias peserta didik dengan memotivasinya, memberikan latihan-latihan yang bersifat membantu, dan lain sebagainya.

Olehnya itu, membangkitan ruh dan jiwa seorang guru adalah tugas yang paling utama. Sang guru yang dihiasi dengan adab dan akhlak mulia akan melahirkan generasi yang beradab. Sebab akar dan ruh dalam proses pendidikan ini adalah lahirnya generasi beradab dan berakhlak mulia.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Indonesia Raih Juara Dua Kompetisi Panahan Berkuda Tingkat Internasional

Tim Indonesia berhasil meraih peringkat II dalam Kejuaraan Internasional Panahan Berkuda "The Silk Road 2019 3rd World Equestrian Martial Arts Competition"

Senin, 25/11/2019 14:26 0

Indonesia

LDK Se-Makassar Gelar Aksi Peduli Palestina

Pimpinan Daerah Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (PD Lidmi) Makassar bersama sejumlah Lembaga Dakwah Kampus (LDK) se Makassar menggelar aksi solidaritas Palestina

Senin, 25/11/2019 13:54 0

Iran

Iran Tuduh Demonstran Anti Kenaikan BBM Milisi Bayaran Asing

Garda Revolusi Iran menganggap para demontran yang tertanggap “milisi bayaran” yang ditugaskan untuk mengacau negara. Para “milisi bayaran” itu akan dihukum dengan berat.

Senin, 25/11/2019 08:59 0

Lebanon

Pendukung Organisasi Syiah Lebanon Serang Demonstran

Puluhan pria muda itu tiba dengan penuh kemarahan. Mereka datang berjalan kaki dan mengendarai sepeda motor. Kedatangan mereka tak lama setelah demontran memblokir jalan utama menuju ibukota.

Senin, 25/11/2019 08:17 0

Indonesia

Soal Sertifikasi Perkawinan, Kemenag: Bimbingan Pasca Pernikahan Juga Penting

Direktur Bina KUA (Kantor Urusan Agama) dan Keluarga Sakinah Kemenag, Mohsen mengklaim bahwa di samping sertifikasi perkawinan untuk memperkuat ketahanan keluarga, bimbingan pasca pernikahan juga penting.

Ahad, 24/11/2019 10:10 0

Indonesia

Sedang Hamil, Muslimah di Australia Alami Tindakan Kekerasan

Seorang muslimah yang sedang hamil terluka dalam serangan islamofobia di Sydney, Australia. Muslimah tersebut adalah Rana Elasmar (31).

Sabtu, 23/11/2019 16:44 0

Indonesia

Pengamat Politik: Presiden Tiga Periode Berpotensi Menyuburkan Oligarki

Wacana masa jabatan presiden tiga periode hanya akan memperburuk citra Jokowi.

Sabtu, 23/11/2019 16:31 0

Indonesia

Ada Usulan Presiden Tiga Periode, Pengamat: Masyarakat Akan Muak

Pengamat Politik Universitas Al-Azhar, Ujang Komarudin menilai bahwa wacana presiden tiga periode tidak pas.

Sabtu, 23/11/2019 16:21 0

Indonesia

Soal Sertifikasi Pra Nikah, Kemenag: Harus Disiapkan Pembimbing dan Anggaranya

Direktur Bina KUA (Kantor Urusan Agama) dan Keluarga Sakinah Kemenag, Mohsen mengklaim bahwa sertifikasi perkawinan untuk memperkuat ketahanan keluarga.

Sabtu, 23/11/2019 15:08 0

Rusia

“Serang” WhatsApp, Pendiri Telegram: Aplikasi Program Mata-mata Rahasia

Pendiri aplikasi pesan Telegram, Pavel Durov, baru-baru ini menyeru pengguna WhatsApp untuk menghapus aplikasi tersebut. Ia mengklaim bahwa WhatsApp bagian dari program mata-mata rahasia.

Sabtu, 23/11/2019 09:00 0

Close