... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Tebar Sensasi Ala Menteri Jokowi

KIBLAT.NET – Tebar sensasi ala menteri Jokowi. Kabinet Indonesia Maju, begitulah Presiden Republik Indonesia Periode 2019-2024 Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi menamai kabinetnya. Bersama Wakil Presiden Kiyai Haji Ma’ruf Amin, Jokowi menunjuk 38 orang-orang terbaik di negeri ini sebagai jajaran kabinetnya, dengan formasi 4 menteri koordinator, 30 menteri teknis, dan empat pejabat setingkat menteri.

Dari 38 orang tersebut, beberapa merupakan wajah lama, ada pula sosok-sosok sudah yang cukup dikenal masyarakat, dan ada pula yang dianggap oleh banyak pihak jabatannya tidak sesuai dengan kompetensinya, seperti Nadiem Anwar Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan siapa lagi kalau bukan sang Menteri Agama Fachrul Razi.

Penunjukan Fachrul Razi memang menyisakan sedikit kegaduhan karena dianggap melanggar tradisi bahwa Menteri Agama haruslah dari NU. Dan kegaduhan itu tentu hanya bisa dijawab dengan kinerja yang prima. Namun, Fachrul Razi sendiri justru menjawabnya dengan sensasi. Dalam dua pekan, publik malah disuguhi tiga hal mengejutkan. Pertama, wacana pelarangan cadar dan celana cingkrang bagi ASN. Lalu kedua, khutbah jum’at tanpa membaca shalawat. Dan ketiga, rencana merombak semua buku pelajaran agama untuk siswa sekolah.

Suguhan tersebut tentu saja menimbulkan kegaduhan. Fachrul Razi dinilai tidak mengerti permasalahan Kementerian Agama, ia seharusnya lebih fokus pada permasalahan menahun di kementerian tersebut seperti korupsi, jual beli jabatan, serta kinerja yang buruk.

BACA JUGA  Pentingnya Budaya Literasi bagi Pemuda Islam dalam Memajukan Indonesia

Ketika publik belum selesai dengan sensasi Fachrul Razi. Publik mendapat kejutan selanjutnya, adalah Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko. Dalam sebuah forum, dia menyarankan agar setiap keluarga di Indonesia memelihara ayam. Untuk mencegah stunting, begitu kata Moeldoko.

Memelihara ayam memang saran yang bagus, daging dan telurnya dapat memberi asupan gizi yang cukup pada anak, sehingga terhindar dari stunting. Akan tetapi, yang perlu dicermati baik-baik, bagi seorang staf kepresidenan, apakah saran seperti itu tidak terdengar seperti penyederhanaan masalah?

Seolah tak mau ketinggalan, Mendagri Tito Karnavian juga membuat sensasi. Dalam rapat bersama Komite I DPD, Tito menyampaikan bahwa Pilkada langsung telah memakan biaya politik yang sangat tinggi. Tak lupa, Tito menyebut angka tiga puluh miliar sebagai modal minimal untuk seorang calon bupati.

Pernyataan tersebut tentu menyulut emosi para politisi. Sebut saja Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai NasDem, Achmad Effendy Choirie, dia terang-terangan membantah pernyataan Tito. Bahkan, pria yang akrab disapa Gus Choi tersebut menegaskan bahwa NasDem tanpa mahar, untuk calon bupati atau wali kota, DPR, gubernur, semua tanpa mahar alias gratis.

Lalu, apa pak Tito lupa dengan pengakuan Jokowi beberapa waktu lalu, yang mengaku tak keluar uang sepeser pun dalam menggapai kursi gubernur DKI Jakarta.

Sensasi selanjutnya adalah dr. Terawan, sang Menteri Kesehatan yang kabarnya sempat ditolak oleh Ikatan Dokter Indonesia. Pada 19 November lalu, Menkes berencana mengembangkan proyek wisata kesehatan. Salah satu sub dalam proyek tersebut adalah wisata kebugaran dan jamu. Melalui wisata tersebut, diharapkan jamu-jamu dan teknik pengobatan tradisional bisa go international.

Proyek tersebut memang bagus, namun masalahnya dalam kesempatan tersebut dr. Terawan hanya menyebutkan Tongkat Ali, Purwaceng, dan teknik pijat ala Mak Erot sebagai contoh. Dimana kesemuanya berhubungan dengan alat kejantanan pria.

BACA JUGA  Pemuda Islam, Go International!

Kita semua tahu, penyebutan contoh adalah untuk mempermudah publik memahami gambaran seperti apa proyek tersebut nantinya. Jadi, gambaran seperti apa yang sebenarnya ingin dihadirkan dr. Terawan kedalam benak kita semua.

Sebulan sudah Kabinet Indonesia Maju bekerja, dan Jokowi di awal pemerintahannya yang kedua ini menegaskan jika para menteri tak ada visi misi, yang ada adalah visi misi Presiden. Publik tentu menunggu perwujudan visi misi tersebut, para menteri harus segera sadar, mereka tak boleh terus asyik menebar sensasi yang menimbulkan kegaduhan. Jangan sampai ada satu saja rakyat Indonesia yang berpikir, apa memang ini perwujudan visi misi Jokowi yang sebenarnya.

Penulis: Azzam Diponegoro

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Sedang Hamil, Muslimah di Australia Alami Tindakan Kekerasan

Seorang muslimah yang sedang hamil terluka dalam serangan islamofobia di Sydney, Australia. Muslimah tersebut adalah Rana Elasmar (31).

Sabtu, 23/11/2019 16:44 0

Indonesia

Soal Sertifikasi Pra Nikah, Kemenag: Harus Disiapkan Pembimbing dan Anggaranya

Direktur Bina KUA (Kantor Urusan Agama) dan Keluarga Sakinah Kemenag, Mohsen mengklaim bahwa sertifikasi perkawinan untuk memperkuat ketahanan keluarga.

Sabtu, 23/11/2019 15:08 0

Rusia

“Serang” WhatsApp, Pendiri Telegram: Aplikasi Program Mata-mata Rahasia

Pendiri aplikasi pesan Telegram, Pavel Durov, baru-baru ini menyeru pengguna WhatsApp untuk menghapus aplikasi tersebut. Ia mengklaim bahwa WhatsApp bagian dari program mata-mata rahasia.

Sabtu, 23/11/2019 09:00 0

Iran

100 Pemimpin Demonstran Iran Ditangkap, Terancam Hukuman Berat

“Garda Revolusi mengidentifikasi sekitar 100 pemimpin kerusuhan baru-baru ini dan tokoh-tokoh yang paling menonjol dan menangkap mereka,” kata juru bicara pengadilan Iran, Gholam Hossein Ismaili, seperti dikutip Sky News Arabic dari kantor berita IRNA, Jumat (22/11/2019).

Sabtu, 23/11/2019 08:00 0

Yaman

PBB: Serangan Udara Koalisi Saudi di Yaman Menurun Tajam

"Ini mungkin indikasi bahwa ada sesuatu yang berubah di Yaman," jelas Griffiths dalam rapat di Dewan Keamanan. Ia mencatat bahwa serangan ini turun selama periode ini sebesar 80% dibandingkan dengan dua pekan sebelumnya.

Sabtu, 23/11/2019 07:05 0

Indonesia

Kemenag Awasi Pesantren Terindikasi Radikal

Fachrul Razi mengaku pihaknya terus memantau perkembangan pesantren-pesantren yang ada di Indonesia.

Jum'at, 22/11/2019 15:04 1

Indonesia

GNPF Ulama Minta Polisi Profesional Tangani Kasus Sukmawati

Ketua Umum Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama, Yusuf Martak meminta Kapolri Jendral Idham Aziz untuk bersikap profesional dalam memproses secara hukum Sukmawati

Jum'at, 22/11/2019 14:53 0

Indonesia

GNPF Ulama Polisikan Sukmawati

Sekretaris Jendral Gerakan Nasional Pembela Fatwa (GNPF) Ulama, Edy Mulyadi melaporkan Sukmawati Soekarnoputri ke Bareskrim Polri.

Jum'at, 22/11/2019 14:42 0

Indonesia

Reuni Akbar 212 Akan Kembali Digelar di Monas

Reuni Akbar 212 akan kembali digelar di Monumen Nasional (Monas), Jakarta pada Senin, 2 Desember 2019 mendatang.

Jum'at, 22/11/2019 14:29 0

Indonesia

Soal Kasus Sukmawati, Muhammadiyah: Harus Berhati-hati dalam Berkata

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir meminta kepada semua pihak untuk lebih berhati-hati dalam membuat pertanyaan

Jum'at, 22/11/2019 13:52 0

Close