Garda Revolusi Iran Puji Pengerahan Militer untuk Hadapi Demonstran

KIBLAT.NET, Teheran – Pasukan Garda Revolusi Iran pada Kamis (21/11/2019) memuji pergerakan “cepat” angkatan bersenjata untuk mengatasi “pembuat onar” atau para demonstran. Sementara itu, situasi di lapangan berangsur-angsur tenang setelah berhari-hari Iran dilanda demonstrasi anti kenaikan BBM yang menyebabkan pembakaran banyak bangunan dan tewasnya puluhan orang.

Sampai Kamis pagi, jaringan Internet masih diblokir oleh pemerintah. Internet diputus sejak demontrasi meletus, empat hari lalu.

Garda Revolusi mengatakan dalam pernyataannya, terjadi insiden, beberapa besar dan kecil, sebagai akibat kenaikan harga bensin (Jumat, 15 November), di sedikitnya 100 kota di Iran.

Pernyataannya itu melanjutkan, insiden ini telah berakhir dalam waktu kurang dari 24 jam, dan di beberapa kota dalam 72 jam.

“Ini adalah hasil dari kewaspadaan angkatan bersenjata dan pasukan penegak hukum dan gerakan mereka yang cepat,” kata pernyataan itu seraya mencatat penangkapan para pemimpin (protes) berkontribusi signifikan untuk menenangkan kerusuhan.

Garda Revolusi juga mengklaim telah menangkap “komandan utama” aksi protes di provinsi tetangga Teheran dan Barz dan di kota pusat Shiraz.

Presiden Iran Hassan Rouhani mengumumkan pada Rabu lalu “pihaknya berhasil menggagalkan rencana musuh, dan menggagalkan plot mereka yang memberlakukan sanksi maksimum dalam dua tahun terakhir.”

Demonstrasi meletus di Iran pada Jumat malam, beberapa jam setelah pemerintah mengumumkan amandemen sistem subsidi untuk harga bensin yang menguntungkan keluarga miskin, tetapi disertai dengan kenaikan harga bensin, di tengah krisis ekonomi yang parah.

Protes cepat menyebar ke 40 kota dan wilayah, termasuk Teheran, di mana pompa bensin dan kantor polisi dibakar. Pusat perbelanjaan, masjid dan bangunan umum lainnya diserang.

Pihak berwenang mengkonfirmasi kematian lima orang, termasuk empat pasukan keamanan dan seorang warga sipil. Di sisi lain, Amnesty International pada Selasa melaporkan “setidaknya 106 demonstran tewas”. Lembaga itu menuduh rezim menggunakan “kekuatan mematikan untuk menghancurkan demonstrasi damai.”

Untuk bagiannya, Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan keprihatinan bahwa jumlah korban jiwa bisa mencapai “puluhan”.

Sumber: AFP
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat