Laporan PBB: Amerika Penjarakan Anak Paling Banyak di Dunia

KIBLAT.NET, Jenewa – Amerika Serikat tertinggi di dunia dalam hal penahanan anak, termasuk lebih dari 100.000 tahanan anak terkait imigrasi yang melanggar hukum internasional. Demikian laporan penulis studi PBB.

“Di seluruh dunia lebih dari 7 juta orang di bawah usia 18 tahun ditahan di penjara dan tahanan polisi, termasuk 330.000 anak di pusat-pusat penahanan imigrasi,” kata Manfred Nowak, seorang pakar independen.

Menurut Studi Global PBB tentang Anak-anak yang Tidak Mendapat Kebebasan, anak-anak seharusnya hanya ditahan sebagai langkah terakhir dan dalam waktu sesingkat mungki.

“Amerika Serikat adalah salah satu negara dengan jumlah tertinggi – kami masih memiliki lebih dari 100.000 anak dalam penahanan terkait migrasi di [AS],” kata Nowak.

“Tentu saja memisahkan anak-anak, seperti yang dilakukan oleh pemerintahan Trump, dari orang tua mereka dan bahkan anak-anak kecil di perbatasan Meksiko-AS benar-benar dilarang oleh Konvensi Hak Anak. Saya akan menyebutnya perlakuan tidak manusiawi untuk kedua orang tua dan anak-anak.”

Tidak ada reaksi langsung dari otoritas AS. Novak mengatakan para pejabat AS belum menjawab kuesioner yang dikirim ke semua negara.

Dia mengatakan AS telah meratifikasi perjanjian internasional besar seperti yang menjamin hak-hak sipil dan politik dan melarang penyiksaan, tetapi merupakan satu-satunya negara yang tidak meratifikasi pakta tentang hak-hak anak.

“Cara mereka memisahkan bayi dari keluarga hanya untuk mencegah migrasi tidak teratur dari Amerika Tengah ke Amerika Serikat merupakan perlakuan tidak manusiawi, dan itu benar-benar dilarang oleh dua perjanjian,” kata Nowak, seorang profesor hukum internasional di Amerika Serikat, di Universitas Wina.

Amerika Serikat menahan rata-rata 60 dari setiap 100.000 anak dalam sistem peradilan atau tahanan terkait imigrasi, Nowak mengatakan, tingkat tertinggi di dunia, diikuti oleh negara-negara seperti Bolivia, Botswana dan Sri Lanka.

“Meksiko, di mana banyak migran Amerika Tengah telah dikembalikan ke perbatasan AS, juga memiliki jumlah yang tinggi, dengan 18.000 anak dalam tahanan terkait imigrasi dan 7000 di penjara,” katanya.

“Setidaknya 29.000 anak-anak, sebagian besar terkait dengan ISIS, ditahan di Suriah utara dan di Irak – dengan warga Prancis di antara kelompok orang asing terbesar,” kata Nowak menambahkan.

Sekalipun, kata dia, jika beberapa dari anak-anak ini adalah dijadikan tentara, mereka harus diperlakukan sebagai korban, bukan pelaku, sehingga mereka dapat direhabilitasi dan diintegrasikan kembali ke masyarakat.

Sumber: Reuters
Redaktur: Ibas Fuadi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat