... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Fadli Zon: Isu Radikalisme dan Terorisme Kontraproduktif

Foto: Fadli Zon.

KIBLAT.NET, Jakarta – Anggota Komisi I DPR-RI, Fadli Zon meminta pemerintah berhati-hati mengeksploitasi isu radikalisme dan terorisme. Menurut Fadli, isu radikalisme dan terorisme bersifat kontraproduktif bagi kepentingan nasional baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Politisi Partai Gerindra itu menyebut isu-isu seperti ini merugikan bangsa, karena bertentangan dengan harapan pemerintah yang menginginkan adanya investasi yang masuk ke Indonesia.

“Isu yang hari-hari ini menjadi diskursus publik, seperti radikalisme dan terorisme, apakah Lemhanas sudah mengkaji? Di satu sisi kita ingin ada investasi, di sisi lain ada orang yang ingin berinvestasi kita takut-takuti ada terorisme di Indonesia,” kata Fadli saat Rapat Dengar Pendapat Komisi I DPR RI dengan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) beserta jajarannya di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta pada Senin (18/11/2019).

Fadli pun mengaku khawatir dengan cara pemerintah serta aparat dalam mengatasi isu teror dan radikalisme yang masih menggunakan gaya “War on Terror” ala Amerika Serikat saat menyikapi tragedi WTC. Alih-alih bisa meredam radikalisme, malah dikhawatirkan kian mengundang antipati dan skeptisisme publik.

“Setelah mereka mendeklarasikan “War on Terror” itu, Amerika sendiri sudah mengganti pola pendekatannya. Tetapi, kita masih menggunakan pola pendekatan yang lama atau old-school dalam melihat isu terorisme dan radikalisme ini. Sehingga dengan demikian kontradiksi, orang justru tidak mau berinvestasi di Indonesia, karena kita sendiri yang tidak mau berinvestasi dengan isu-isu itu,” papar Fadli.

BACA JUGA  Sejarawan: Penyebab Radikalisme Bukan Khilafah dan Jihad

Sebelumnya hal yang sama juga telah disampaikan Fadli Zon dalam rilisnya beberapa waktu lalu. Ia menuturkan pernyataan positif dari pemerintah sangat mempengaruhi persepsi investor. Investor akan menilai apa yang terjadi di Indonesia dari pernyataan-pernyataan pejabat pemerintahannya.

“Para pejabat pemerintah mestinya menyadari bahwa pernyataan-pernyataan publik mereka bisa mempengaruhi dinamika ekonomi. Inilah yang menyebabkan kenapa tingkat ketertarikan investasi asing di Indonesia cenderung menurun. Mereka butuh kepastian dan jaminan keamanan. Jaminan stabilitas itu awalnya dilihat dari pernyataan pejabat,” ujar Fadli.

Menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir investasi tidak begitu menggembirakan. Menurut data, sektor yang diminati investor ternyata kian bergeser dari sektor-sektor yang diprioritaskan pemerintah. Seperti diketahui, pemerintah menginginkan penanaman modal masuk ke sektor industri manufaktur yang bersifat padat karya. Tujuannya agar bisa menstimulus pertumbuhan ekonomi serta membuka lapangan kerja baru.

Namun, menurut data BKPM, investor kini justru lebih tertarik berinvestasi di sektor jasa ketimbang sektor industri manufaktur, yang secara tidak langsung berdampak pada penyerapan tenaga kerja.

“Ini adalah pekerjaan rumah yang harus segera dipecahkan. Agar iklim investasi dalam negeri kondusif,” tegas Fadli.

Reporter: Qoid
Editor: Rusydan Abdul Hadi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Australia

Pria Australia Lolos dari Cengkeraman Buaya Usai Colok Matanya

Dia mengatakan buaya 2,8 meter muncul dari belakangnya ketika ia meninggalkan pantai.

Selasa, 19/11/2019 14:32 0

Eropa

Uni Eropa Seru Israel Hentikan Pembangunan Pemukiman di Tepi Barat

Uni Eropa menegaskan pihaknya terus meyakini bahwa pendudukan Israel di wilayah Palestina adalah perbuatan ilegal berdasarkan hukum internasional.

Selasa, 19/11/2019 14:07 0

Iran

Protes di Iran, Warganet Seru Twitter Blokir Akun Khamenei

Seluruh negara offline, sementara Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei mentweet pada hari Ahad (17/11/2019), untuk mendukung keputusan pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar.

Selasa, 19/11/2019 11:24 0

Eropa

Laporan PBB: Amerika Penjarakan Anak Paling Banyak di Dunia

"Di seluruh dunia lebih dari 7 juta orang di bawah usia 18 tahun ditahan di penjara dan tahanan polisi, termasuk 330.000 anak di pusat-pusat penahanan imigrasi," kata Manfred Nowak, seorang pakar independen.

Selasa, 19/11/2019 11:02 0

Iran

Demo Iran: Internet Diputus, 1.000 Ditangkap, 12 Tewas, Puluhan Toko dan Bank Dibakar

Sumber mengatakan bahwa protes telah meluas. Ada kehadiran keamanan besar di jalan-jalan utama dan alun-alun di kota-kota besar.

Selasa, 19/11/2019 09:01 0

Suriah

56 Sipil Meregang Nyawa Akibat Dua Pekan Gempuran Rezim dan Rusia di Idlib

Jaringan Hak Asasi Manusia Suriah, Senin (18/11/2019), mengumumkan bahwa sedikitnya 56 warga sipil meregang nyawa akibat serangan udara rezim Suriah dan Rusia di zona de-eskalasi di provinsi Idlib dalam dua pekan teakhir.

Selasa, 19/11/2019 08:19 0

Artikel

Sukmawati Harus Sadar, Soekarno Bukanlah Manusia Sempurna

Kontroversi terulang, Sukmawati kembali dituduh menista agama.

Senin, 18/11/2019 16:48 0

Myanmar

Myanmar Tolak Diselidiki atas Kejahatan terhadap Muslim Rohingya

Juru bicara pemerintah Zaw Htay berdalih bahwa pengadilan yang berbasis di Belanda itu tidak memiliki yurisdiksi atas tindakannya.

Senin, 18/11/2019 16:34 0

News

Seorang Polisi Terkena Panah Pengunjuk Rasa Hong Kong Saat Ricuh

Seorang perwira polisi Hong Kong terkena anak panah ketika pihak berwenang menggunakan gas air mata dan meriam air untuk mengusir pengunjuk rasa yang menduduki kampus dan jalan-jalan di sekitarnya, Ahad (17/11/2019).

Senin, 18/11/2019 16:13 0

Inggris

Investigasi: Kejahatan Perang Tentara Inggris di Irak dan Afghanistan Ditutup-tutupi

para komandan tinggi militer berupaya menutupi kejahatan perang yang dilakukan tentara Inggris di Irak dan Afghanistan

Senin, 18/11/2019 12:12 0

Close