... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Sukmawati Harus Sadar, Soekarno Bukanlah Manusia Sempurna

Foto: Sukmawati Soekarnoputri membacakan puisi berjudul "Ibu Indonesia".

KIBLAT.NET“Sekarang saya mau tanya, yang berjuang di abad dua puluh itu nabi yang mulia Muhammad atau insinyur Soekarno?” tanya Sukmawati kepada peserta sebuah forum diskusi pada 11 November 2019.

Mungkin Sukmawati adalah orang pertama yang berani melontarkan pertanyaan seperti itu pada forum terbuka terlebih di era keterbukaan ini. Dan ujungnya bisa ditebak, pernyataan -berbungkus pertanyaan tersebut menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat. Sukmawati dianggap menista agama, berbagai elemen umat Islam di tanah air pun menyampaikan kecaman, beberapa laporan sudah dilayangkan ke pihak kepolisian.

Dari pernyataannya, nampak sekali glorifikasi Sukmawati terhadap sosok Soekarno yang tidak lain adalah ayahnya sendiri. Perilaku glorifikasi -yang mungkin berlebihan- tersebut sejatinya sudah terbaca sejak awal tahun 2018. Ketika Sukmawati membacakan puisi berjudul “Ibu Indonesia” dalam acara “29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week”. Puisi tersebut -sialnya-juga menimbulkan kegaduhan dan dianggap menista agama karena memperbandingkan cadar dengan konde, adzan dengan alunan kidung.

Jika kita cermati puisi tersebut secara seksama. Terlepas dari apa yang merasuki Sukmawati, perlu kita sadari bersama bahwa penggunaan frasa “Ibu Indonesia” sebagai media penyampai pesan-pesan bernada patriotik sejatinya bukanlah hal baru. Siapa lagi yang memulai kalau bukan Soekarno, ayah dari Sukmawati yang juga Presiden pertama Republik Indonesia.

Pada tahun 1928, Soekarno ketika berpidato di hadapan kader-kader PNI, ia menyampaikan bahwa tanah air kita Indonesia Raya bagaikan ibu.

“Ibumu Indonesia teramat cantik. Cantik langitnya dan buminya, cantik gunungnya dan rimbanya, cantik lautnya dan sungainya, cantik sawah dan ladangnya, cantik gurunnya dan padangnya.” (100 Tahun Hadji Agus Salim, Tim Panitia Buku Peringatan, Penerbit Sinar Harapan, 1984 hal: 346).

Tak hanya cantik, Soekarno juga memuji Ibu Indonesia baik.

Ibumu teramat baik, Airnya yang kamu minum, nasinya yang kamu makan.” (Ibid, hal: 346).

Soekarno juga juga menyebut Ibu Indonesia kaya dan kuat.

Ibumu Indonesia teramat kaya. Buminya hanya minta ditegur, maka menghasilkan ia macam-macam kekayaan dan keperluan dunia, hanya minta diasuh dipelihara sedikit, akan menimbulkan dan menumbuhkan pelbagai hasil keperluan hidup.

Ibumu Indonesia teramat kuat dan sentosa. Dari dulu ia melahirkan pujangga, pahlawan, dan pendekar. Dan sekarang ini pun dalam zaman susah dan sukar serta sempit hidupnya ini tak berhenti juga ia melahirkan putra-putra yang cakap-cakap, gagah berani. (Ibid, hal: 346).

Kepada Ibu Indonesia yang cantik, baik, kaya, dan kuat, Soekarno menegaskan kita wajib menghambakan diri, memperbudak diri, mengikhlaskan setia kepadanya.

Maka tidak lebih dari wajibmu apabila kamu menghambakan, membudakkan dirimu kepada Ibumu Indonesia, menjadi putra yang mengikhlaskan setiamu kepadanya. (Ibid, hal: 346).

BACA JUGA  Majelis Keluarga Ponpes Sidogiri Minta Gus Muwafiq Taubat

Masih dari sumber yang sama, dalam pandangan Soekarno, seorang ibu yang telah melahirkan, mengasuh, dan menyusui anaknya, dia tak punya pilihan kebaikan selain itu. Maka sudah semestinya kita pun berlaku demikian kepada Ibu Indonesia, tiada lagi pilihan kebaikan selain mengorbankan segala yang kita punya tanpa perlu bertanya.

Sebagai contoh, Soekarno menyebut nama Gajah Mada –bukan Gaj Ahmada. Patih Kerajaan Majapahit yang mengucap sumpah palapa. Sumpah untuk tetap puasa hingga pengabdiannya pada sang ibu kelak paripurna.

Namun itu menurut Soekarno. Sekali lagi Soekarno. Dan yang perlu disadari oleh Sukmawati dan kita semua, Soekarno bukan satu-satunya pendiri bangsa ini. Soekarno bukan matahari tunggal di tanah air ini. Dan yang pasti, Soekarno bukan manusia sempurna. Dia bisa salah dan dia sangat bisa untuk dikritik.

Bangsa ini juga punya Haji Agus Salim –di sisi kanan. Anggota volksraad pemerintahan Hindia Belanda. Agus Salim yang tak seperti anggota dewan hari ini, kadang tertidur di ruang sidang. Agus Salim yang selalu berbicara nasib pribumi. Hingga satu waktu, dia menyadari dirinya hanya bisa berbicara. Berbicara tak memberi manfaat pada pribumi. Maka dia pun keluar dari volksraad sembari berseru “dasar komedi omong!”.

Haji Agus Salim juga anggota panitia sembilan BPUPKI. Produk panitia sembilan adalah Piagam Jakarta. Kalau boleh jujur, Piagam Jakarta adalah sedikit dari gentlemen’s agreement yang tercipta di lingkaran pendiri bangsa. Selebihnya -maaf- penuh intrik, yang sialnya membudaya hingga kini.

Haji Agus Salim tak setuju dengan falsafah ibu Indonesia. Dalam sebuah tulisan  di harian Fadjar Asia pada 29 Juli 1928, beliau menyentil, penggambaran tanah air sebagai ibu nampaknya meniru falsafah bangsa-bangsa lain. Bagi Agus SaIim, mencintai tanah air jangan lebay.

Atas nama “tanah air”, jelas Haji Agus Salim, bangsa Prancis asyik-asyik saja dipimpin Lodewijk XIV sang penganiaya dan penghisap darah rakyat. Begitupun dengan Austria yang menginjak-injak harga diri bangsa Italia dan Swiss. Kerajaan Prusia yang merobohkan kemuliaan Austria. Tentara Napoleon yang melancarkan invasi ke banyak negeri. Pemerintah Jerman sebelum Perang Dunia mengambil paksa anak laki-laki yang sehat dan kuat dari orang tuanya untuk dijadikan tentara yang perkasa, sebagai modal untuk menginvasi dunia. Dan tentu saja, bangsa Eropa yang merendahkan derajat bangsa-bangsa non-Eropa. (Ibid, hal: 347).

Haji Agus Salim menegaskan tanah air tidak boleh menjadi berhala, mencintainya jangan menjadi agama.

BACA JUGA  Menyambut Sunrise Ala Peserta Reuni 212

“… betapa “agama” yang menghambakan manusia kepada berhala “tanah air” itu mendekatkan kepada persaingan berebut-rebut kekayaan, kemegahan dan kebesaran; kepada membusukkan, memperhinakan, dan merusakkan tanah air orang lain dengan tidak mengingati hak dan keadilan.” (Ibid, hal: 348).

Menurut Haji Agus Salim, kekacauan tersebut hanya akan terjadi ketika cinta tanah air hanya berlandaskan balas budi atas kebaikan yang didapat dari tanah air.

…inilah bahayanya, apabila kita “menghamba”dan “membudak” kepada “ibu-dewi” yang menjadi tanah air kita itu karenanya sendiri saja; karena eloknya dan cantiknya; karena kayanya dan baiknya karena “airnya yang kita minum, karena “nasinya yang kita makan”.” (Ibid, hal: 348).

Cinta tanah air, dalam pandangan Haji Agus Salim, haruslah punya cita-cita. Melebihi benda dan rupa. Cinta tanah air harus menjadi bagian dari keimanan. Cinta tanah air harus ditujukan karena Allah. Cinta tanah air tidak boleh karena dorongan nafsu. (Ibid, hal: 348).

Jika diniatkan karena Allah, maka sudah seharusnya tidak melanggar syariat-syariatNya.

Maka sebagai dalam tiap-tiap hal yang mengenai dunia kita, demikian juga dalam cinta tanah air kita mesti menujukan cita-cita kepada yang lebih tinggi daripada segala benda dan rupa dunia, yaitu kepada hak, keadilan dan keutamaan yang batasnya dan ukurannya telah ditentukan oleh Allah Subhanahuwa Ta’ala.” (Ibid, hal: 348).

Haji Agus Salim menyebut Ibrahim alaihissalam sebagai contoh. Di atas gurun pasir tandus, Ibrahim membangun Makkah al Musyarrafah yang besar dan makmur. Ibrahim mencintai Makkah karena Allah, membangunnya pun tanpa melanggar syariat Allah. Kini. Makkah adalah tempat sembahyang paling aman dan nyaman di muka bumi.

“Alangkah untung, “Ibu Indonesia”, jika putra-putranya hendak mencontoh sedikit cinta yang karena Allah belaka itu kepadanya,” pungkas Haji Agus Salim menutup tulisannya. (Ibid, hal: 350).

Dari uraian di atas, kita menjadi tahu dan sadar bahwa pada masanya pun tidak semua ide ataupun gagasan Soekarno “sempurna” tanpa cela, ada kritikan bahkan bantahan keras sebagaimana yang dilakukan Haji Agus Salim. Dan Indonesia sebagai negara demokrasi sudah semestinya memberi kebebasan kepada warga negara untuk bebas meneladani siapa pun dari para pendiri bangsa ini. Kebebasan yang hakiki, dimana tidak boleh ada satu pihak yang memaksa pihak lainnya, apapun bentuknya.

Maka sekali lagi, Sukmawati perlu sadar bahwa Soekarno bukanlah satu-satunya yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Menghargai dan menghormati seseorang yang berjasa bagi kita memang perlu, namun menghargai pilihan orang tentang siapa yang paling berjasa bagi dirinya itu lebih perlu.

Penulis: Azzam Diponegoro

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Myanmar

Myanmar Tolak Diselidiki atas Kejahatan terhadap Muslim Rohingya

Juru bicara pemerintah Zaw Htay berdalih bahwa pengadilan yang berbasis di Belanda itu tidak memiliki yurisdiksi atas tindakannya.

Senin, 18/11/2019 16:34 0

News

Seorang Polisi Terkena Panah Pengunjuk Rasa Hong Kong Saat Ricuh

Seorang perwira polisi Hong Kong terkena anak panah ketika pihak berwenang menggunakan gas air mata dan meriam air untuk mengusir pengunjuk rasa yang menduduki kampus dan jalan-jalan di sekitarnya, Ahad (17/11/2019).

Senin, 18/11/2019 16:13 0

Indonesia

LBH Street Lawyer: Pertanyaan Sukmawati Soal Nabi Muhammad Retoris

Sukmawati Soekarnoputri dilaporkan ke Polda Metro Jaya terkait pembandingan Nabi Muhammad dengan Soekarno, sang proklamator.

Senin, 18/11/2019 16:12 0

Indonesia

Dinilai Menghina Nabi Muhammad, Sukmawati Dipolisikan

Sukmawati Soekarnoputri kembali dilaporkan ke Kepolisian soal pembandingan Nabi Muhammad dan Soekarno.

Senin, 18/11/2019 15:24 0

Inggris

Investigasi: Kejahatan Perang Tentara Inggris di Irak dan Afghanistan Ditutup-tutupi

para komandan tinggi militer berupaya menutupi kejahatan perang yang dilakukan tentara Inggris di Irak dan Afghanistan

Senin, 18/11/2019 12:12 0

Suriah

Sembilan Sipil Tewas Akibat Serangan Udara Rusia di Idlib

Lembaga yang bermarkas di Inggris itu mengatakan bahwa korban tewas kemungkinan akan meningkat karena beberapa korban dalam kondisi kritis.

Senin, 18/11/2019 09:00 0

Iran

Protes Anti Kenaikan BBM di Iran Meluas, Satu Demonstran Tewas

"Beberapa pengemudi memprotes harga bensin baru dengan menghentikan mobil mereka dan menyebabkan kemacetan," lapor kantor berita Iran Erna, seperti dilansir AFP.

Senin, 18/11/2019 07:43 0

Opini

Entah Apa yang Merasuki Sukmawati

Belum kapok membuat kontroversi dengan puisi, Sukmawati kini membandingkan Nabi Muhammad SAW dan Soekarno dalam memerdekakan Indonesia.

Ahad, 17/11/2019 01:27 1

Indonesia

Ucapan Sukmawati Soal Nabi Muhammad dan Soekarno Bernuansa Penodaan Agama

Pakar Hukum Pidana, Suparji Ahmad menegaskan bahwa ucapan Sukmawati yang membandingkan antara Nabi Muhammad dan Soekarno bernuansa penghinaan agama Islam.

Sabtu, 16/11/2019 15:09 1

Indonesia

Bandingkan Nabi Muhammad dan Soekarno, Warganet Ramai-ramai Minta Sukmawati Ditangkap

Pernyataan Sukmawati yang membandingkan Nabi Muhammad SAW dan Soekarno dalam memerdekakan Indonesia dikecam masyarakat.

Sabtu, 16/11/2019 14:37 1

Close