... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Di Balik Pekik Takbir Bung Tomo

Foto: Bung Tomo

Oleh: Beggy Rizkiansyah, kolumnis Kiblatnet

 Kita toendjoekkan bahawa kita benar-benar orang jang ingin merdeka.

Dan oentoek kita, saoedara-saoedara, lebih baik kita hantjoer  leboer daripada tidak merdeka.

Sembojan kita tetap: MERDEKA ataoe MATI.

Dan kita jakin, saoedara-saoedara, pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh di tangan kita

sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar

pertjajalah saoedara-saoedara, Toehan akan melindungi kita sekalian

Allahu Akbar…! Allahu Akbar..! Allahu Akbar!

MERDEKA!!! – Pidato Bung Tomo jelang pertempuran 10 November 1945.

 

KIBLAT.NET – Kabar proklamasi itu baru tiba di Surabaya pada hari Sabtu, 18 Agustus 1945. Lewat radio yang diserobot oleh para pemuda, kabar itu disiarkan. Dua hari kemudian, Surat Kabar Soeara Asia memuat berita proklamasi tersebut. (Roeslan Abdulgani: 1994)

Gegap gempita menyelimuti surabaya. Para pemuda menggelegak darahnya menyambut hawa kemerdekaan. Masa itu adalah masa-masa revolusi. Satu pemindahan kekuasaan dari tangan bengis penjajah Jepang pada rakyat.

Rakyat mulai merebut kekuasaan

Aksi-aksi perlawanan terhadap sisa-sisa kekuasaan Jepang mulai merebak. Di beberapa daerah seperti Bandung, Semarang dan Surabaya, para pemuda tanah air mulai berani melawan otoritas Jepang dan sebagian menyerangnya. pangkalan-pangkalan militer Jepang diserang oleh para pemuda, sebagian berusaha merebut senjata dari pihak Jepang. (Anthony J.S. Reid: 1996)

Di Bandung, pada 10 Oktober 1945, serangan para pemuda kemudian dibalas Jepang dengan keras. Para pemuda dipaksa mengosongkan gedung-gedung yang sebelumnya mereka rampas. Penguasaan militer kembali ke tangan Jepang, sebelum akhirnya diserahkan pada pihak sekutu seminggu kemudian. (Anthony J.S. Reid: 1996)

Begitu pula di Semarang. Pada 14 Oktober 1945 menjadi ajang perang terbuka. Sebagai balasan atas ditangkapnya 300 orang sipil Jepang oleh para pemuda, pihak Jepang mulai membersihkan kota tersebut dari para pemuda yang militan. Para pemuda kemudian membalas dengan menghabisi para tawanan Jepang tersebut. Pihak Jepang kemudian membalas dengan melakukan pembunuhan besar-besaran. Saat tentara sekutu mendarat tanggal 20 Oktober, setidaknya diketahui 2000 orang Indonesia dan ratusan orang Jepang tewas. (Anthony J.S. Reid: 1996)

Di Surabaya, pada 3 September 1945, atas desakan para pemuda, diproklamirkan pemerintahan Republik Indonesia daerah Surabaya yang melepaskan diri dari pemerintahan Jepang. Menyusul proklamasi pemerintahan lokal tersebut, bendera-bendera merah putih berkibar di kantor-kantor pemerintahan, kecuali di markas-markas militer Jepang dan Kempetai. (Roeslan Abdulgani: 1994)

BACA JUGA  Pria Asal Sukabumi Ini Rela Berkuda untuk Hadiri Reuni 212

Aksi-aksi pemuda yang membara tak mudah ditaklukkan. Menurut Bung Tomo, di Surabaya kala itu para pemuda mulai mengibarkan bendera merah putih. Di Syuutyo (Keresidenan) Surabaya, bendera merah putih dikibarkan. Hal ini sontak mengundang amarah pembesar Jepang. Bendera itu kemudian diturunkan paksa. Para pemuda tak kehilangan akal, mereka mencari batang kayu yang panjang dan dipasang di menara yang tinggi. Membuat orang Jepang segan untuk mencabutnya. (Bung Tomo: 2008)

Pengibaran bendera ini pula yang memunculkan peristiwa bersejarah di Hotel Oranje (Yamato). Beberapa orang Belanda bekas tawanan Jepang bertindak arogan. Terlebih ketika pesawat Belanda dari Balikpapan menyebarkan selebaran dari udara. Selebaran itu berisi informasi agar mereka bersiap-siap menerima kedatangan Belanda dan sekutu yang disertai gambar bendera merah-putih-biru dan potret Ratu Wilhelmina. (Roeslan Abdulgani: 1994)

Ketika bendera Belanda berkibar di Hotel Oranje

Pada hari Rabu, 19 September 1945, Di bawah pimpinan Ploegman dan Spit, sekelompok orang Belanda dan Indo-Belanda berkumpul, menaiki atap hotel Oranje (Yamato) di Tunjungan. Secara demonstratif dan arogan mereka mengibarkan bendera bahkan memiliki senjata Jepang. (Bung Tomo: 2008 dan Roeslan Abdulgani: 1994)

Bung Tomo yang kala itu menjadi wartawan Kantor Berita Antara, bersama fotografer Abdul Wahab meliput peristiwa tersebut. Abdul Wahab kemudian memotret peristiwa tersebut. Tak lama Abdul Wahab kemudian dipukul oleh seorang ‘inlander’ (pribumi pendukung Belanda), dan nyaris dikeroyok.  (Bung Tomo: 2008)

Hotel Oranje

Aksi arogan orang-orang Belanda dan Indo-Belanda ini segera mengundang kemarahan masyarakat. Mereka berkumpul di sekitar Hotel Oranje. Semakin lama semakin banyak jumlahnya. Sebagian membawa bambu runcing, golok, keris dan pedang. Sepasukan Kenpeitai (Polisi Militer Jepang) pun datang. namun rakyat sudah tak peduli. Batu-batu melayang. Menghampiri orang-orang Belanda yang berada di atap Hotel Oranje. (Bung Tomo: 2008)

Tiba-tiba suara letusan tembakan terdengar. Rakyat semakin murka. Baku hantam tak terhindarkan. Tinju lawan tinju. berlemparan batu. Golok dan senjata tajam lain mulai bermain. Beberapa pemuda nekad naik ke atas Hotel Oranje. Seorang kemudian jatuh dipukul orang Belanda. Lainnya tetap mencoba merangsek ke atas menuju bendera. Tangga tiba-tiba disandarkan. Para pemuda semakin melaju. Tiba-tiba saja seorang merobek warna biru bendera tersebut. (Bung Tomo: 2008)

BACA JUGA  Anies Baswedan: Reuni 212 Membawa Pesan Damai

“Ya Allah, pemuda yang berada di atap itu menyobek kain warna biru yang melekat di bendera tiga warna tersebut sehingga tinggal warna merah putih!

Perlahan-lahan dinaikkan Sang Merah Putih tersebut. Getaran jiwa yang meluap-luap bagaikan air bah tidak tertahankan,” demikian kesaksian haru Bung Tomo yang menyaksikan peristiwa tersebut. (Bung Tomo: 2008)

Sementara serdadu Kenpeitai hanya termangu, orang-orang Belanda melarikan diri ke belakang hotel. Ploegman tewas menemui ajalnya di insiden tersebut. Meski Sudirman, residen Surabaya meminta sudah meminta rakyat untuk bubar, namun permintaan itu tak ditanggapi.

Bung Tomo kemudian naik ke atas, dan mengajak mereka menyanyikan Indonesia Raya. Setelah puas bernyanyi, perlahan mereka membubarkan diri. Truk-truk membawa mereka meninggalkan Jalan Tunjungan. (Bung Tomo: 2008)

Hawa kemerdekaan tak bisa dibendung lagi. Penguasa di Jepang memimnta masyarakat menjaga ketertiban. Bung Tomo yang saat itu menjadi Pemimpin Redaksi Antara di Jawa Timur mengisahkan bahwa serdadu Kenpeitai mulai berpatroli. Di Kantor Antara, Kenpeitai menempel pengumuman permintaan ini. Pamflet ini ditempel pada kaca di luar kantor Antara. Tak lama, pamflet itu disobek rakyat. Kemudian ditempel kembali. Dan disobek kembali. Kejadian ini terus berulang. (Bung Tomo: 2008)

Kenpeitai kemudian menempelkan pamflet tersebut dari dalam kaca kantor Antara agar tak disobek masyarakat. Dan tentu saja awak redaksi Antara tak berani menyobeknya. Namun awak redaksi tak kehilangan akal. Mereka menempelkan pengumuman berisi teks proklamasi pada luar kaca Kantor Antara. Tak pelak, teks proklamasi itu menutupi pamflet dari penguasa jepang yang ditempel dari dalam. Sehingga masyarakat pun hanya membaca teks proklamasi. (Bung Tomo: 2008)

Di belahan lain kota Surabaya, luapan perlawanan sudah tak tertahankan. Para pemuda merangsek ke pos polisi dan pangkalan militer jepang. Mereka hendak merampas senjata-senjata Jepang. Bentrok hamper tak terindarkan antara para pemuda yang bermodal alat seadanya dengan militer Jepang yang bersenjata api. Bermodal kenekadan dan Bahasa Jepang seadanya, Bung Tomo meyakinkan pemimpin militer Jepang di pangkalan tersebut untuk menyerahkan senjata mereka. Bentrokan pun terhindarkan.  (Bung Tomo: 2008)

Baca halaman selanjutnya: ‘Sekutu’ yang tak...

Halaman Selanjutnya 1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Kesehatan Menurun, Bernard Abdul Jabbar Dapat Penangguhan Penahanan

Ustadz Bernard Abdul Jabbar mendapatkan penangguhan penahanan dari Polda Metro Jaya.

Sabtu, 09/11/2019 15:02 0

Indonesia

Aa Gym: Akhlak Masih Jadi Persoalan Bangsa

Menurutnya, masalah tak melulu soal ekonomi, politik dan sosial. Tetapi juga soal akhlak

Sabtu, 09/11/2019 14:55 0

Indonesia

Dimotori Wahdah Islamiyyah, Ummat Fest 2019 Digelar di Makassar

Ummat Fest 2019 digelar di Makassar selama tiga hari, sejak Jumat (8/11/2019) hingga Ahad (10/11/2019).

Sabtu, 09/11/2019 14:49 0

China

China Batasi Waktu Anak Main Game Online

Langkah ini diambil pemerintah China demi mengurangi tingkat kecanduan game online .

Sabtu, 09/11/2019 14:39 0

Opini

Mencintai Tanah Air Bersama Haji Agus Salim

Menurut Haji Agus Salim, cinta tanah air itu perlu tujuan yang jelas.

Sabtu, 09/11/2019 13:35 0

Thailand

Polisi Thailand: Kelompok Separatis Muslim di Balik Serangan di Yala

Reuters tidak dapat segera menghubungi perwakilan BRN untuk memberikan komentar.

Sabtu, 09/11/2019 08:59 0

Turki

Erdogan: Turki Akan Keluar dari Suriah Jika Negara-negara Lain Pergi

"Turki akan meninggalkan Suriah ketika negara-negara lain juga pergi. Serangan Turki terus berlanjut sampai semua pejuang Kurdi meninggalkan daerah perbatasan,” kata Erdogan kepada wartawan dalam penerbangan pulang dari kunjungan ke Hongaria.

Sabtu, 09/11/2019 08:22 0

Video Kajian

Ust. Abu Rusydan: Misi Diutusnya Rasulullah di Muka Bumi

Satu-satunya misi Rasulullah diutus di muka bumi adalah untuk memenangkan agama Allah di atas agama-agama yang dibuat manusia.

Jum'at, 08/11/2019 18:52 1

Indonesia

Tim Advokasi Novel Baswedan Berharap Laporan Dewi Tanjung Tak Diproses

Laporan Dewi Tanjung ke Polisi soal kasus Novel dianggap bentuk penggiringan opini agar dukungan kepada Novel menurun.

Jum'at, 08/11/2019 18:40 0

Indonesia

Polisikan Novel Baswedan, Politisi PDIP Dewi Tanjung Dianggap Ngawur

Politisi PDIP bernama Dewi Tanjung melaporkan Novel ke Bareskrim dengan tuduhan dugaan rekayasa kasus penyiraman mata Novel

Jum'at, 08/11/2019 18:22 0

Close