... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Wiranto yang Ditusuk, Umat Islam yang Kesakitan

Foto: Muslimah bercadar.

KIBLAT.NET – Tenang, jangan salah paham dulu soal judul. Tulisan ini bukan bentuk keprihatinan secara personal kepada Wiranto pasca penusukan, apalagi menganggap Wiranto adalah representatif umat Islam. Tapi tulisan ini menyoroti adanya sentimen negatif terhadap cadar setelah kejadian tersebut.

Prasangka negatif terhadap cadar sebenarnya bukan baru-baru ini terjadi. Beberapa tahun lalu, di kaum terpelajar lah yang menolak cadar. Kampus yang mengeluarkan aturan agar mahasiswi tidak menggunakan cadar misalnya UIN Sunan Kalijaga dan Universitas Pamulang.

Di antara alasan yang digunakan adalah cadar mengganggu kegiatan belajar mengajar, karena dosen tidak bisa melihat mahasiswinya. Bahkan, ada dosen di salah satu kampus yang menyamakan masker dengan cadar. Padahal, motivasi seseorang menggunakan masker dan cadar tentu berbeda.

Sekarang, di periode kedua Presiden Jokowi prejudice kepada cadar kembali menjalar. Bahkan, sentimen terhadap cadar langsung datang dari jajaran kabinet Indonesia Maju, di antaranya Menteri Agama.

Kapasistas Fachrul Razi sebagai Menteri Agama pun dipertanyakan karena memberikan komentar negatif terhadap cadar. Contoh pernyataanya adalah cadar bukan ukuran ketaqwaan seseorang. Memang cadar bukan ukuran orang bertaqwa, tapi pernyataan semacam ini membuat masyarakat nyinyir terhadap ajaran agama.

Bagaimana bisa menteri agama yang seharusnya menjaga keberagamaan justru melayangkan sentimen negatif terhadap ajaran agama. Jika berkilah bukan menteri agama Islam, memang bukan. Tapi bagaimana mau merawat keberagamaan di Indonesia jika tidak mengerti agama sendiri?

BACA JUGA  Pakar Pidana: Granat Meledak di Monas Bikin Orang Ketakutan

Memang statemen Menag soal cadar tidak menyebabkan konflik antar agama. Namun, itu membuat perpecahan di internal Islam sendiri. Dan hal ini tentu tidak baik karena mendorong yang tidak bercadar mencurigai muslimah bercadar.

Alasan yang tidak tepat lagi adalah pelarangan cadar di Institusi pemerintah karena kasus penusukan Wiranto. Ini jelas tidak masuk akal karena berbagai hal. Pertama, penusuk Wiranto bukan ASN. Kedua, tempat kejadian bukan di instansi pemerintah. Ketiga, sejauh ini belum terdengar ASN bercadar melakukan teror di instansi pemerintah.

Seharusnya, dari kasus penusukan Wiranto yang dievaluasi adalah pengamanannya. Sudahkah jumlah tim pengaman sudah sesuai SOP? Kenapa orang yang sudah dipantau tiga bulan bisa berjarak beberapa meter dari Wiranto? Pertanyaan-pertanyaan itu yang sebenarnya dijawab. Bukan berkutat pada identitas pelaku.

Jika seperti ini, Wiranto yang ditusuk, umat Islam yang kesakitan karena ajarannya seperti dijadikan kambing hitam. Kata “kesakitan” di kalimat sebelumnya sengaja tidak diberi tanda petik, karena tidak ada pemeluk agama yang rela ajarannya dinilai berkaitan dengan teror.

Penggunaan cadar bagi sebagian muslimah adalah wajib, karena menganggap wajah adalah aurat. Maka, wanita bercadar dilindungi UUD 1945 pasal 29 ayat 2 tentang menjalankan ajaran agama masing-masing. Sedangkan dalam undang-undang pasal 7 nomor 12 tahun 2011 tentang hierarki perundang-undangan, UUD 1945 adalah aturan tertinggi. Tidak ada aturan apapun yang bertabrakan dengan UUD 1945.

BACA JUGA  Kemenag: Syarat Permohonan Rekomendasi FPI Sudah Terpenuhi

Akibat dari pelarangan ini, sentimen terhadap cadar berpotensi meningkat. Yang menjadi pertanyaan, ada apa dengan cadar? Kenapa begitu mudah kita memberikan pandangan negatif terhadapnya yang sebenarnya adalah ajaran Islam? Apakah kita sudah terbiasa melihat pakaian terbuka sehingga alergi dengan cadar?

Oleh sebab itu, sebaiknya Menteri Agama sebaiknya lebih menjaga statemen terkait dengan cadar. Toh juga tidak ada ulama yang melarang cadar sendiri. Maka, muslimah yang mengenakan cadar sebaiknya dihormati karena dia mengamalkan keyakinannya.

Penulis: Taufiq Ishaq

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Fahri Hamzah: Partai Gelora Dideklarasikan 10 November

eks pentolan PKS seperti Anis Matta dan Fahri Hamzah, siap-siap untuk mendeklarasikan Partai Gelombang Rakyat (Gelora)

Senin, 04/11/2019 19:41 0

News

Dari Natsir ke Nadiem: Akar Pendidikan di Indonesia

Oleh: Beggy Rizkiansyah, kolumnis Kiblatnet KIBLAT.NET – “Jika rakyat Indonesia tidak menggulung lengan baju mengurus sendiri...

Senin, 04/11/2019 17:03 1

Wilayah Lain

Sensasi Jaringan 5G, Apa yang Dirasakan Orang-orang di Korsel?

Bayangkan mengunduh selusin film definisi tinggi dalam hitungan detik, atau melakukan panggilan video dengan teman atau kolega di luar negeri dengan lag yang nyaris nol.

Senin, 04/11/2019 15:30 0

Indonesia

Jurnalis Kiblatnet Ikuti Pelatihan dan Beasiswa Liputan Jurnalisme Data

KIBLAT.NET, Palu – Journocoders Indonesia bekerjasama dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat menggelar pelatihan dan memberikan...

Senin, 04/11/2019 15:16 0

Suara Pembaca

Menuju Indonesia Maju

Tidak ada seorang pun yang menginginkan Indonesia mundur, kecuali para penjajah.

Senin, 04/11/2019 14:42 0

Irak

Memanas, Demonstran Irak Serbu Konsulat Iran di Karbala

"Para staf di konsulat melarikan diri melalui pintu belakang," kata seorang sumber kepada Arab News.

Senin, 04/11/2019 14:32 0

Suara Pembaca

Utang dan Kemandirian Ekonomi Bangsa

Utang Indonesia sudah mencapai angka sekitar Rp 4.500 trilyun di tahun 2018, naik dari Rp 3.938 trilyun.

Senin, 04/11/2019 14:14 0

Indonesia

Romo Syafi’i: Saya Tak Dengar Menag Larang Rok Mini

nggota Komisi III DPR, Muhammad Syafi'i mengaku heran ketika Menteri Agama berwacana untuk melarang cadar.

Senin, 04/11/2019 12:16 0

Afrika

Kehilangan 51 Tentara Dalam Dua Hari, Kemampuan Militer Mali Dipertanyakan

Para penyerang menyerbu secara mendadak pada saat jam makan siang.

Senin, 04/11/2019 09:19 0

Palestina

Pemukim Yahudi Jarah Kebun Zaitun Warga Palestina

"Hari ini saya pergi bersama istri dan anak-anak saya untuk mengumpulkan buah zaitun dari tanah kami, yang dekat pemukiman. Kami terkejut para pemukim mencurinya dan tidak meninggalkan apa-apa untuk kami," kata Audah kepada Reutes, Ahad (03/11/2019).

Senin, 04/11/2019 08:15 0

Close