Dari Natsir ke Nadiem: Akar Pendidikan di Indonesia

Pendidikan umat di mata H.O.S. Tjokroaminoto

Tjokroaminoto perpandangan bahwa sekolah-sekolah yang didirikan umat Islam, “…haruslah pengadjaran jang mengandung pendidikan akan mendjadikan Muslim jang sedjati dan bersifat national dalam arti kata: menudju maksud akan mentjapai tjita-tjita kemerdekaan ummat.” (H.O.S. Tjokroaminoto dalam Amelz : 1952)

Pendidikan kala itu memang diorientasikan untuk membentuk mental masyarakat. Bukan sekedar menghasilkan anak didik yang menjadi abdi birokrasi atau pegawai semata. Atau dalam istilah Tjokroaminoto menjadikan anak didik menjadi ‘Muslimin sedjati.’

Tjokroaminto juga mengkritik kesalahan penerapan pendidikan kala itu yang menimpa umat Islam, yaitu memisahkan antara persoalan material dan spiritual. Bahkan menurutnya meskipun ada ahli agama dan intelektual, namun keduanya tidak boleh diberikan pendidikan yang berbeda.

Hal ini mengingat terdapat fenomena banyak orang tidak memahami asas dan rukun-rukun Islam namun di lain sisi ada pula sebagian orang yang “siang malam tjuma mempeladjari ilmu agama sadja” tetapi tidak memahami seluk-beluk ilmu duniawi, terutama soal negeri dan pemerintahan. Dikotomi seperti ini hanya menghasilkan perbedaan yang tajam antara kaum ulama dan umat Islam kebanyakan dan akibatnya persoalan keagamaan hanya diserahkan dan dipercayakan kepada ulama-ulama belaka yang sangat kecil jumlahnya. (H.O.S. Tjokroaminoto dalam Amelz : 1952)

Oleh sebab itu, maksud dan tujuan pendidikan yang dirumuskan oleh tokoh besar Sarekat Islam itu adalah Pendidikan yang menghasilkan “…pemuda putera Muslimin dan pemuda puteri Muslimaat, jang beradab setudju dengan zaman baru (modern), tetapi tetap tinggal Muslimin dan Muslimat sedjati mengandung ruh Islam jang sungguh2 jang tjukup pengetahuan tentang agamanja, sehingga masing2 tjakaplah bekerdja sebagai “Mubalighul Islam” di dalam dan diluar kalangan sendiri.” (H.O.S. Tjokroaminoto dalam Amelz : 1952)

Tjokroaminoto menyadari pemisahan pendidikan agama dengan ilmu yang terkait urusan duniawi berakar dari pengaruh pendidikan barat. Pengaruh cara pandang barat dalam pendidikan ini yang ditolak oleh Tjokroaminoto. Menurutnya, “Pengadjaran kita tidak boleh menerima pertjampuran dan pengaruh dari luar jang tidak Muslim.”

Rumusan pendidikan itu menurut Tjokroaminoto diterapkan disekolah-sekolah. Sekolah-sekolah selain mengajarkan ‘kepandaian aqal’ juga harus menanam benih kemerdekaan dan benih demokrasi yang menurutnya menjadi ciri khas umat Islam. Selain itu pengajaran di sekolah harus menanam benih keberanian yang luhur, keikhlasan dan kecintaan kepada yang benar. Akhlak yang halus juga harus ditanamkan dalam pengajaran di sekolah. Terakhir sekolah juga harus menanamkan kehidupan yang saleh dan sederhana. Semua hal tadi tak bisa diterapkan kecuali dengan mengajarkan agama Islam yang sebenar-benarnya.

BACA JUGA  Viral Azan "Hayya 'alal-jihad", Wamenag Minta Tokoh Islam Beri Pencerahan

Ideologi Pendidikan Islam

Persoalan mendasar dalam melihat pendidikan juga dituangkan dalam gagasan tokoh Islam generasi setelah Haji Agus Salim dan Tjokroaminoto, salah satunya oleh Muhammad Natsir. Salah satu gagasan Natsir tentang pendidikan dapat dilihat pada karyanya, Ideologi Didikan Islam yang disampaikan pada tahun 1934. Natsir sejak muda telah bergelut dalam perjuangan mendidik masyarakat lewat organisasi Pendidikan Islam (Pendis) di Jawa Barat. Hal itu tidak mengherankan sebab Natsir melihat, bangkit dan runtuhnya bangsa-bangsa berdiri di atas pendidikan bangsa tersebut.

Ia memberi contoh bagaimana kala itu, pada tahun 1930-an, bangsa Spanyol menjadi bangsa yang mengalami kemunduran. Sedangkan bangsa Jepang mulai menanjak menjadi bangsa yang disegani. Oleh sebab itu kemajuan dan kemunduran bukan dipengaruhi bangsa timur atau barat. Melainkan kepada kesanggupan untuk mendidik rohani dan jasmaninya.

Natsir mengingatkan umat Islam untuk berhenti terjebak sekedar bernostalgia kejayaan pendidkan di masa lampau. Sebab itu adalah hasil jerih payah generasi masa lalu. Sebaliknya, menjadi pertanyaan penting bagi umat Islam untuk mengurus pendidikan mereka di masa kini. Untuk mencapai itu pertanyaan penting pertama-tama harus dijawab oleh umat Islam, apakah tujuan pendidikan Islam itu?

Menurut Natsir, tujuan pendidkan dan tujuan hidup di dunia tak dapat dipisahkan. Menyitir ayat Al-Qur’an surat Adz-Dzariyat ayat 56, Natsir mengatakan bahwa tujuan hidup dan pendidikan adalah untuk menghamba atau menyembah Allah. Maksud ‘menghamba’ tak bisa dilihat secara sempit.

“Menjembah Allah” itu melengkapi semua ketaatan dan ketundukan kepada semua perintah Ilahi jg membawa kepada kebesaran dunia dan kemenangan achirat, serta medjauhkan diri dari segala larangan2 jang meng-alang2-i (menghalang-halangi, pen.) tertjapainja kemenangan dunia dan achirat itu.” (M. Natsir: 1952)

BACA JUGA  Yuk, Ikuti! Serial Webinar: Kiat Selamat Meski Hirup Udara Hoaks

Ayat tersebut menurut Natsir mengingatkan kita bahwa perhambaan kepada Allah bukanlah untuk menguntungkan yang disembah, tetapi perhambaan yang mendatangkan kebahagiaan bagi yang menyembah, memberi kekuatan kepada (manusia) yang memperhambakan diri tersebut.

“Akan mendjadi orang jang memperhambakan segenap ruhani dan djasmaninja kepada Allah s.w.t. untuk kemenangan dirinja dengan arti jang seluas2-nja jang dapat ditjapai oleh manusia itulah tudjuan hidup manusia di atas dunia. Dan itulah tudjuan didikan jang harus kita berikan kepada anak kita2 kaum Muslimin.” (M. Natsir: 1952)

Apakah pendidikan Islam artinya semacam pendidkan ketimuran atau kebaratan? Bagi Natsir, timur dan barat adalah kepunyaan Allah. Keduanya terdapat kelebihan dan kekurangan. Umat Islam tak perlu mempertentangkan keduanya, sebab dalam Islam pertentangan hanya antara yang hak dan yang batil.

Sistem pendidikan barat yang efisien, yang mendorong jiwa kompetitif tidak akan ditolak. Sebab manusia juga dituntut untuk mencari penghidupan di dunia. Di saat yang sama Pendidikan timur yang menekankan aspek rohani juga diterima, sebab jasmani dan rohani tak dapat dipisahkan. Baik timur dan barat dapat saling melengkapi.

Baik Haji Agus Salim, H.O.S. Tjokroaminoto dan M. Natsir telah memberikan landasan bagi pendidikan di Indonesia yang kemudian diserap dalam undang-undang. Ketiganya tidak memisahkan agama dari pendidikan. Hasil didikan berupa manusia yang bertakwa seperti tercantum dalam Undang-Undang dinegara kita akan tercipta jika pengurus dalam hal ini Menteri Pendidikan meresapi tujuan pendidikan tersebut.

Di saat yang sama, pemerintah juga harus menyadari untuk tidak terjebak pada aspek duniawi semata dalam mengurus soal Pendidikan. Menciptakan anak didik yang hanya menghamba pada industri tak ada bedanya dengan output yang dikehendaki pendidikan ala pemerintah kolonial. Di sinilah pentingnya para pejabat negara menelusuri kembali gagasan para pendiri bangsa agar tak terperosok dalam pragmatisme Belaka. Inilah yang menjadi tantangan bagi Menteri Pendidikan di Indonesia.

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat