Tekan Turki, DPR AS Loloskan Resolusi Kesultanan Ottoman Bantai Armenia

KIBLAT.NET, Washington – Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat baru-baru ini meloloskan sebuah resolusi yang secara resmi menyebut Kesultanan Ottoman atau Turki Utsmani melakukan “genosida” terhadap sekitar satu setengah juta orang Armenia pada Perang Dunia I.

Masalah ini sangat sensitif, mengingat DPR AS melakukan pemungutan suara di saat hubungan AS-Turki memburuk menyusul operasi militer Turki di wilayah Kurdi Suriah, yang merupakan sekutu utama AS.

Dilansir dari BBC Arabic pada Rabu (30/10/2019), sebanyak 405 anggota parlemen memberikan suara mendukung resolusi tersebut. Sementara suara yang menolak hanya 11 anggota.

Calon presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden, mengatakan keputusan itu “menghormati kenangan para korban”.

“Dengan mengakui genosida ini, kami menghormati ingatan para korbannya dan berjanji bahwa itu tidak akan pernah diulang,” tulisnya di Twitter.

Ketua DPR Nancy Pelosi turut memberikan suara mendukung. Ia bergembira lolosnya resolusi yang dapat menekan Turki ini.

Anggota parlemen juga memberikan suara sangat besar untuk menyeru Presiden Donald Trump menjatuhkan sanksi pada Turki dan beberapa pejabatnya atas kampanye militer di Suriah utara.

Reaksi Ankara

Dalam reaksi pertama Ankara, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavosuglu menganggap keputusan itu “tak bernilai”.

Dia menulis di akun Twitternya bahwa Turki telah menggagalkan “konspirasi besar” melalui kampanye militer di Suriah timur laut. Ia menyebut langkah DPR AS tersebut bertujuan “membalas operasi militer Turki itu”.

“Semua orang yang konspirasinya kami rusak mengambil keputusan yang sudah ketinggalan zaman. Tetapi yang menyangka bahwa mereka membalas dendam pada kita dengan cara ini, merupakan kesalahan.. Ini adalah keputusan memalukan yang dibuat oleh orang-orang yang mengeksploitasi sejarah dalam masalah politik,” tulis Menlu Turki di Twitter.

Ketidaksepakatan Tentang “Genosida Armenia”

Ratusan ribu orang Armenia yang mayoritas non muslim tewas antara tahun 1915 dan 1917, ketika Kekaisaran Ottoman menggelar invasi ke wilayah mereka pada Perang Dunia I.

Sebagian besar korban yang tidak tewas dalam “pembantaian” adalah warga sipil yang melarikan diri ke padang pasir. Mereka meninggal karena kelaparan atau kehausan.

Orang Armenia mengatakan 1,5 juta orang Armenia mati sementara Turki mengatakan jumlahnya jauh lebih kecil.

Dua puluh negara, termasuk Prancis dan Rusia, serta organisasi internasional seperti Parlemen Eropa, mengakui itu sebagai “genosida” terhadap Armenia.

Turki menolak menggunakan istilah “genosida” untuk apa yang terjadi. Ankara mengatakan ratusan orang terbunuh dalam bentrokan selama Perang Dunia I, dan bahwa Turki sendiri sangat menderita selama era itu.

Ankara mengakui bahwa kekejaman telah terjadi saat itu. Akan tetapi, Turki menegaskan bahwa peristiwa itu terjadi dalam konteks perang. Kami tidak berniat untuk memusnahkan orang Kristen Armenia.

Sumber: BBC
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat