Pelemparan Kotoran Manusia ke Masjid Palembang Bentuk Penghinaan Simbol Agama

KIBLAT.NET, Jakarta – Pakar Hukum Pidana, Suparji Ahmad menyayangkan peristiwa pelemparan kotoran manusia ke Masjid Jami’ di Gandus, Palembang. Menurutnya, peristiwa tersebut harus diperjelas.

“Ini termasuk fenomena yang menyedihkan. Harus diperjelas apakah karena trauma terhadap peran masjid untuk bisa membangkitkan gairah umat dalam konteks berbangsa dan bernegara,” katanya saat dihubungi Kiblat.net pada Selasa (29/09/2019).

“Harus ada sebuah penjelasan komprehensif, kenapa muncul fenomena seperti ini terhadap masjid. Karena kalau tidak akan muncul praduga di kalangan masyarakat,” sambungnya.

Ia juga menilai bahwa pelaku sulit dijerat dengan pasal penodaan agama yaitu 156a. Meski demikian, Suparji menekankan bahwa tindakan pelaku termasuk penghinaan terhadap simbol agama.

“Memang kalau pakai 156a masih belum terpenuhi secara gampang unsur itu. Karena 156a berisi barang siapa menyebarkan kebencian suatu agama di depan umum, sementara dia tidak menyiarkan, menyebarkan sebuah informasi. Tapi dia melakukan penghinaan simbol agama,” tuturnya.

Maka, ia menekankan pentingnya penegak hukum untuk mencari motif pelaku. Sebab, motif inilah yang nanti menentukan pasal apa yang bisa menjerat pelaku.

“Yang terpenting adalah mengetahui motif dulu. Karena selain perbuatan orang juga dilihat karena niat,” tukasnya.

Reporter: Taufiq Ishaq
Editor: Izhar Zulfikar

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat