... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Jerami Terakhir di Punggung Keledai

Foto: Kerusuhan massa.

Oleh: Ray Adi Basri, pengamat politik

KIBLAT.NET – Santiago, Chile, 27 Juni 1973. Demonstrasi dan pembangkangan sipil tengah marak di negeri itu. Baik yang menentang maupun mendukung Presiden Salvador Allende, politisi sosialis yang memenangi pemilu dengan tipis.

Sekira pukul 3 sore, Jenderal Carlos Prats, panglima tentara merangkap menteri dalam negeri Chile, sedang menuju kantornya dengan kendaraan dinas. Ia tokoh penting dalam kabinet Allende. Prats adalah pendukung Doktrin Schneider, pendahulunya, yang mengharamkan tentara terlibat dalam politik praktis.

Prats menjadi bumper bagi Allende dari gerakan oposisi. Sekaligus jadi perisai dari ancaman para perwira militer yang mendukung oposisi. Ia menutup rapat peluang kudeta militer menumpangi gerakan oposisi yang mengkritik pemerintah.

Di sebuah persimpangan, mobil Prats berhenti. Sebuah sedan Renault merah berhenti di sebelah mobil sang panglima. Dua orang penumpang Renault merah itu tertawa-tawa. Merasa diejek, Prats yang sensitif karena sering jadi sasaran bully oposisi pun marah. Ia meminta pistol sopirnya, menurunkan kaca jendela dan menyuruh sopir Renault turun dengan todongan senjata.

Mungkin takut karena ditodong pistol, sopir Renault malah tancap gas. Prats yang murka menembak mobil merah itu. Peluru menembus fender kiri depan mobil. Kedua mobil pun berhenti, sopirnya keluar semua.

Naas bagi Prats, ternyata sopir mobil yang ditembaknya adalah seorang wanita berambut pendek. Bernama Alejandrina Cox, wanita itu seorang ibu rumah tangga dari kalangan menengah. Dus, sang jenderal ngamuk dan menembaki mobil emak-emak.

Massa segera berkerumun melihat kejadian yang tak pantas itu. Emosi mereka meledak, mudah ditebak, melihat seorang pejabat menembaki mobil seorang perempuan. Mobil sang jenderal pun dikepung, protes, makian dan ejekan menghujani Prats.

Massa tak terkendali, pistol dan seragam Prats dan pengawalnya tak memebuat mereka takut. Prats sendiri mati kutu, malu luar biasa karena berlaku sok jago pada seorang wanita. Massa mencoret-coret mobil dinas sang menteri. Bahkan bannya mereka gembosi sehingga Prats tak bisa lari.

Prats akhirnya kabur mencegat sebuah taksi. Kepada sopirnya ia minta diantar ke Istana La Moneda. Di sana ia menghadap Presiden Allende dan menyampaikan pengunduran diri dari jabatannya.

Presiden menolak permintaan Prats. Ia diminta tetap menjabat dan menjaga stabilitas pemerintahan yang sedang diguncang demonstrasi. Namun kabar Mendagri Prats menembak mobil seorang wanita pun diendus wartawan. Semua surat kabar oposisi memuatnya sebagai berita utama. Viral dengan segera!

Pers pendukung pemerintah membela sang mendagri. Mereka beralasan, wajar sang menteri mencabut pistol, ia mengaku diprovokasi. Ia juga menyangka mobil Renault merah itu pemrotes yang akan menyerang dan membahayakan jiwanya. Publik semakin riuh mengejek.

Militer juga tak tinggal diam, membela sang panglima. Namun muka Prats terlanjur hancur. Akhirnya ia tetap mundur dari jabatannya sebagai perisai utama rejim Allende. Posisinya kemudian digantikan Jenderal Augusto Pinochet.

Pengganti Allende ternyata berbeda madzhab politik. Pada tanggal 11 September 1973, terjadi kudeta militer yang menggulingkan Presiden Salvador Allende dari kursinya. Padahal Allende adalah presiden yang terpilih secara demokratis.

“The last straw that broke the donkey’s back.” Rupanya blunder Prats yang gagal mengendalikan emosi di jalan raya menjadi jerami terakhir yang mematahkan punggung keledai.

BACA JUGA  Majelis Keluarga Ponpes Sidogiri Minta Gus Muwafiq Taubat

Keledai adalah hewan kuat dan bandel. Kuat membawa beban berat di punggungnya. Bandel dalam dua makna sekaligus, tak mudah ambruk kala menanggung muatan sebanyak apapun, juga susah diatur dan keras kepala. Namun, sekuat dan sebandel apapun keledai, tetap ada batasnya.

Rejim Allende berusaha keras untuk bertahan dari serangan oposisi maupun ancaman kudeta militer. Beragam demonstrasi dan aksi politik berhasil dibendung dan digagalkan. Namun, tulang punggung rejim ternyata patah karena perkara yang seharusnya bisa diabaikan.

Kemenangan Kaum Kiri

Sebelum kudeta terjadi, selama beberapa dekade Chile menjadi pilar demokrasi dan stabilitas politik saat seluruh Amerika Selatan dikuasai oleh rejim-rejim junta militer. Chile telah menggelar pemilu demokratis sejak tahun 1932.

Sebelum Allende dikudeta, telah terjadi ketegangan berkepanjangan antara pemerintahannya yang berhaluan kiri sosialis dengan parlemen yang dikuasai sayap kanan. Kebijakan-kebijakan Allende banyak dipengaruhi oleh saran Fidel Castro dari Kuba. Castro dan sistem komunis di Kuba memang menjadi kiblat politik kaum kiri di Amerika Latin.

Allende menang dalam pemilu presiden tahun 1970, ia meraih kemenangan tipis atas lawan politiknya dari Partai Nasional dan Kristen. Maka, meskipun ia seorang Marxis, ia berhasil menduduki kursi kepresidenan Chile.

Kebijakan rejim Allende yang sosialis ternyata memicu blunder ekonomi. Pada tahun 1972, Menteri Ekonomi Pedro Vuskovic mengeluarkan kebijakan moneter yang meningkatkan jumlah uang yang beredar. Hal ini membuat Escudo mengalami devaluasi dan melejitkan inflasi hingga 140 persen. Ekonomi Chile pun rusak dengan merebaknya pasar gelap.

Pada bulan Oktober 1972, Chile mengalami gelombang pemogokan. Mereka yang mogok adalah pengusaha kecil, serikat profesi dan mahasiswa. Pemogokan 24 hari yang berusaha menggoyang kekuasaan presiden Allende itu berbuah kompromi dengan sayap kanan.

Allende mengangkat Jendral Carlos Prats, dari Angkatan Darat, sebagai Menteri Dalam Negeri. Sebuah upaya untuk menarik dukungan sayap kanan pada pemrintah. Prats adalah seorang jendral yang legalis. Ia menolak setiap upaya keterlibatan militer dalam upaya mengkudeta Allende.

Terlepas dari kemunduran ekonomi yang dialami Chile, koalisi Persatuan Populer (PP) meraih peningkatan suara menjadi 43,2 persen dalam pemilu legislatif Maret 1972. Namun setelahnya, aliansi tidak resmi antara PP dengan Demokrat Kristen (DK) berakhir. Partai DK kemudian beraliansi dengan Partai Nasional yang berhaluan kanan dan menjadi oposisi rejim Allende. Kedua partai sayap kanan itu membentuk Konfederasi Demokrasi.

Konflik terus-menerus di parlemen, antara legislatif dan eksekutif melumpuhkan pemerintahan. Kondisi ini dimanfaatkan oleh CIA Amerika yang menggelontorkan sekitar 6 sampai 8 juta dolar pada kelompok oposisi kanan untuk menciptakan tekanan, mengeksploitasi kelemahan dan membesar-besarkan kemandegan yang dialami rejim Allende.

Di sektor politik luar negeri, Chile semakin mendekat kepada Kuba yang sosialis. Segera setelah terpilih menjadi presiden, Allende memperbarui hubungan dengan Kuba. Ia kemudian menasionalisasi tiga perusahaan manufaktur asing, dua di antaranya milik Amerika.

Pada saat itu, rakyat Chile mengkhawatirkan lembaga keuangan mereka dan ramai-ramai menarik uang dari bank. Untuk menghindarkan kebangkrutan bank, Allende kemudian menjamin dana simpanan perbankan.

BACA JUGA  Peserta Reuni 212 Ini Keluhkan Ghirah Persatuan Menurun

Semakin banyak musuh membuat Allende takut dibunuh. Ia mengutus putrinya kepada Castro untuk meminta nasihat politik. Dari Kuba, Allende mendapatkan empat saran kebijakan. Pertama meyakinkan para pakar teknik untuk tetap tinggal di Chile. Kedua, hanya menjual tembaga dengan pembayaran dolar AS.

Ketiga, Castro menasehati agar Allende menghindari langkah yang terlalu revolusioner. Dan keempat agar ia menjaga hubungan baik dengan militer Chile sampai berhasil membangun milisi lokal yang setia. Allende berusaha mengikuti saran-saran Castro namun dua yang terakhir ternyata sulit ia lakukan.

Kudeta Militer

Kegagalan ekonomi dan politik yang dilakukan Allende membuat lawan-lawannya mendorong militer untuk menjatuhkan sang presiden. Namun hal itu selalu dicegah oleh Jendral Prats  yang loyal, sampai ia mengundurkan diri karena insiden jalanan yang membuat Prats dibully media massa.

Pergeseran posisi panglima angkatan darat dari Jendral Prats yang loyalis kepada Jenderal Pinochet yang dikira loyal juga menjadi salah langkah bagi Allende. Pada tanggal 11 September 1973, setelah suara dari partai oposisi di parlemen, demonstrasi dan pemogokan, kudeta terjadi juga akhirnya.

Istana dikepung tentara, pertempuran berkecamuk antara pasukan Pinochet dengan pasukan pengawal Allende, Grup Kawan Dekat (GPA), yang dilatih dan dipersenjatai oleh Kuba. Perlawanan GPA berhasil dipatahkan setelah pesawat AU Chile mengebom istana.

Allende yang terjepit akhirnya ditemukan tewas bunuh diri di istananya sendiri. Maka berakhirlah kekuasaan presiden kiri yang meraih kekuasaan melalui pemilu demokratis itu. Chile kemudian dikuasai junta militer yang dipimpin oleh Pinochet sampai tahun 1988.

Kudeta 11 September dan peristiwa-peristiwa yang mengawalinya menunjukkan bahwa penguasa hasil pemilu demokrasi tak selalu kuat posisinya. Jika gagal melakukan komunikasi politik dengan oposisi dan publik, apalagi kebijakan ekonominya blunder, peluang people power maupun kudeta selalu terbuka.

Kasus Chile ini menjadi pelajaran yang berharga bagi pemerintahan Jokowi di Indonesia hari ini. Kesan bahwa rejim sekarang menguatkan kaum kiri dikeluhkan banyak pihak, terutama kelompok Islamis. Aneka protes dan perlawanan politik muncul secara sporadis.

Sayang, sepertinya rejim Jokowi sangat percaya diri sebagai pemenang pemilu. Koreksi oposisi direspon dengan negatif. Yang paling mencolok adalah upaya membenturkan Islam dengan negara. Tuduhan makar dan radikal menjadi represi bagi oposisi, terutama dari kelompok kanan.

Dukungan kelompok kiri yang kerap mengklaim rakyat kecil, dipadu dana taipan dan media arus utama seolah menjadi jaminan. Gerakan oposisi yang datang bergelombang selalu bisa dipukul mundur, terutama dengan dukungan Kapolri dan Panglima TNI.

Namun, kasus Chile, blunder Jenderal Prats dan kudeta Jenderal Pinochet menunjukkan, kekuatan keledai ada batasnya. Sebatang jerami terakhir yang sepele bisa mematahkan tulang punggungnya.

Buat umat Islam, hal itu sangat mudah dipahami. Jika Allah berkehendak, kun fayakun. Kalau Allah berkehendak menjatuhkan maka siapapun akan segera jatuh. Pertanyaannya, andai sejarah Chile bisa terulang di sini, apa jeraminya? Siapa yang jadi Prats dan Pinochet-nya?

Daftar pertanyaan itu sangat menarik dipikirkan oleh rejim, oposisi maupun umat Islam. Selamat berpikir.

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Rusia

Rusia Bikin Bom Nuklir Terbesar Sepanjang Sejarah, Fakta atau Bualan?

Andrei Sakharov, salah seorang fisikawan yang membantu mendesainnya, menyebutnya "Bom Besar."

Jum'at, 25/10/2019 14:44 0

Indonesia

Mendagri Tito Ingin Menjaga Stabilitas Politik

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian ingin menjaga stabilitas politik dalam negeri.

Jum'at, 25/10/2019 13:00 0

Indonesia

Waketum MUI Zainut Tauhid Diangkat Jadi Wakil Menag

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Zainut Tauhid Sa'adi diangkat menjadi Wakil Menteri Agama (Menag).

Jum'at, 25/10/2019 12:49 0

Turki

Pria Ini Klaim Torehkan Rekor Dunia Donorkan Darah

Şahin telah menerima 17 penghargaan untuk rekor sumbangan darah di Turki.

Jum'at, 25/10/2019 12:40 0

Indonesia

YLBHI Anggap Sulit Mengadili Pelanggar HAM Berat di Era Jokowi

YLBHI Anggap Sulit Mengadili Pelanggar HAM Berat di Era Jokowi

Jum'at, 25/10/2019 12:38 1

Indonesia

One Care Resmi Jadi Anggota Forum Zakat

Lembaga kemanusiaan One Care resmi bergabung menjadi anggota Forum Zakat (FOZ)

Jum'at, 25/10/2019 12:30 0

Palestina

Media Israel Ungkap Jaringan Spionase Yahudi di Mesir

Pemimpinnya adalah Marcel Nino, seorang mata-mata yang meninggal beberapa waktu lalu.

Jum'at, 25/10/2019 11:22 0

Indonesia

KontraS Kritik Pengangkatan Prabowo Jadi Menhan

penunjukkan Prabowo menjadi Menhan mengindikasikan lemahnya keberpihakan pemerintahan Joko Widodo terhadap isu Hak Asasi Manusia.

Kamis, 24/10/2019 19:29 0

Indonesia

Kemenag Salurkan Bantuan 3 Milyar ke Pesantren se Aceh

Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh menyalurkan bantuan senilai Rp3,075 miliar untuk Pondok Pesantren dan lembaga pendidikan Islam se Aceh tahun 2019.

Kamis, 24/10/2019 19:05 0

Indonesia

Angkat Prabowo Jadi Menhan, KontraS Nilai Presiden Tak Serius Lindungi HAM

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mengecam keras keputusan Joko Widodo melibatkan terduga pelanggar Hak Asasi Manusia

Kamis, 24/10/2019 18:45 0

Close